LOGINMy eyes fell upon a woman curled up on the cold floor, her face hidden behind a curtain of tangled hair. She looked broken, as though life had taken everything from her. I rushed to her side and gently brushed the hair away from her face. Fear, pain, and exhaustion lingered in her eyes, making my chest tighten. "Hey... I'm here now," I murmured. "You're safe. No one is going to hurt you anymore." I wrapped my coat around her shoulders and moved to lift her into my arms when Max stepped forward and placed a hand on my shoulder. "Don't forget what Ella told you," he warned quietly. "Get the car ready," I ordered, ignoring him. "You're saving her today," Max said grimly, "but one day, this woman will be the reason for your downfall. Remember Ella's warning." "I don't know what the future holds," I replied coldly, "but I'm not leaving her here." Ignoring him, I lifted her into my arms. She trembled before burying her face against my chest, clinging to me as if I were her last hope. Mate. The word echoed through my mind, stealing the air from my lungs. No. Horror washed over me. Richard's wife... The woman whose husband I had killed... She was my mate.
View More“Kasian sekali, masih muda sudah kehilangan kedua orang tuanya.”
“Dia tidak punya siapa-siapa. Tidak ada kerabat yang mau mengurusnya.”
“Kau adalah kerabatnya, mengapa tidak memberi sedikit biaya agar dia bisa makan.”
“Anak itu sudah besar dan sudah lulus SMA. Dia bisa mengurus dirinya sendiri atau bekerja.”
“Setidaknya kasih uang kek buat biaya hidup.”
“Hidup keluargaku sudah sulit. Bagaimana bisa nambah orang untuk diberi makan.”
“Aku tidak bisa mengambil tanggung jawab anak itu. Dan lagi Pak Dody memiliki banyak utang yang menumpuk. Siapa yang mau mengambil tanggung jawab utang-utang itu.”
“Ini salah Pak Dody, sudah tidak punya istri yang bertanggung jawab untuk anak itu, masa ninggalin banyak utang.”
“Anak itu kasihan sekali.”
“Sudah ibunya melarikan diri dengan alasan merantau sekaliannya tidak pernah pulang selama sepuluh tahun.”
Banyak tetangga maupun kerabat yang datang melayat di pemakaman berbisik-bisik sembari memandang gadis belia yang berdiri diam dengan kepala menunduk memandang gundukan tanah merah.
Dia bisa mendengar semua bisik-bisik yang tertuju padanya. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Rambut hitam panjangnya terurai menutupi seluruh wajahnya. Tanpa ada orang yang menyadari, air matanya terus mengalir di pipinya tanpa mengeluarkan suara isakan. Tidak ada orang yang menghibur gadis yang baru saja ditinggalkan mati oleh ayahnya.
Para tetangga maupun kerabatnya hanya mengucapkan belasungkawa untuknya tetapi berbisik-bisik menggunjing kondisi hidup keluarganya.
Ayahnya hanya seorang petani miskin yang hidup kesusahan dengan tumpukkan utang yang ditinggalkannya untuk anak gadisnya yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas.
Sementara ibunya yang entah ke mana tidak pernah pulang selama sepuluh tahun dengan alasan pergi kerja ke luar negeri demi keluarga.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan isakkannya keluar. Bisik-bisik tetangga tidak pernah berhenti. Dia hanya seorang gadis belia yang baru SMA dan tidak memiliki pengalaman hidup di masyarakat. Tidak ada satu pun kerabat yang mengulurkan tangan untuk membantunya.
Begitu para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, meninggalkan gadis itu sendirian. Dia tidak bisa tangisannya tumpah. Isakkannya semakin bertambah keras di pemakaman yang sepi itu. Dia terduduk sambil tersedu-sedu di samping makam ayahnya.
Entah berapa lama dia menangis, sampai suara berat seorang pria tiba-tiba masuk dalam pendengarannya.
“Apa kau Raelina Yuswandari, Putri bapak Dody Gustiwana?”
Gadis itu tersentak dan menghentikan tangisannya. Dia tidak mengangkat kepalanya untuk memandang orang yang berbicara padanya. Dia diam membisu. Gadis itu takut begitu dia mengangkat kepalanya, wajah yang penuh dengan air mata dan kesedihan akan mendapat tatapan penuh kasihan dari para tetangga atau kerabat yang datang untuk melihatnya.
Dia tidak membutuhkan rasa kasihan mereka. Sekalipun mereka kasihan, tidak ada yang akan mengulurkan tangan padanya. Orang hanya peduli pada hidup mereka masing-masing, mana punya waktu untuk mengurus anak yatim sudah tidak punya apa-apa dan utang menumpuk.
Laki-laki yang berbicara padanya terdiam melihat gadis itu tidak merespons dan hanya menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Jangan khawatir, aku akan menjagamu.”
Gadis langsung mendongakkan kepalanya memandang laki-laki yang baru saja mengatakan hal itu.
Berbeda dengan tetangga dan kerabat yang mengenakan baju melayat, hanya laki-laki itu yang memakai seragam tentara lengkap. Dia tinggi dan masih muda. Kira-kira berusia dua puluhan dan memiliki wajah tampan yang membuat orang tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Postur tubuhnya tegap khas tentara dan tatapannya menatap gadis belia itu lurus dengan mata segelas malam. Ada senyum tipis di bibirnya di wajahnya yang pucat dan tanpa ekspresi kala dia mengulurkan tangannya pada gadis itu.
“Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan menjagamu.”
Dia mengulang kalimatnya seperti sudah melafalkannya berulang kali.
Air mata gadis luruh makin deras tanpa mengeluarkan suara isakan. Dia menggigit bibir bawahnya menahan isakkannya. Hanya laki-laki itu yang mengulurkan tangan padanya di saat terpuruknya.
Dengan satu kata 'Aku akan menjagamu' meruntuhkan benteng pertahanan yang dia buat untuk tidak bergantung pada belas kasihan orang lain.
“Nona!”
Seorang wanita berusia 26 tahun itu tersentak dan membuka matanya merasakan guncangan di tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya menatap seorang wanita berseragam pramugari yang memandang sambil mengulurkan sebuah tisu padanya.
“Ah, terima kasih,” ucap wanita itu bingung menerima tisu dari pramugari dan hanya menggenggam tisu itu dengan linglung. Dia belum mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya usai bangun tidur.
Pramugari itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya menunjukkan pipinya pada wanita itu dengan tatapan simpati.
Raelina, nama wanita itu meraba wajahnya dan menyadari pipinya basah oleh air mata. Dia merasa malu dan menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan oleh pramugari itu.
“Terima kasih.” Dia bergumam pelan sembari menundukkan kepalanya untuk menghapus air matanya.
Tanpa sadar dia tertidur sambil menangis.
Apa karena mimpi itu? Pikirnya.
Sudah lima tahun berlalu dan dia sudah melupakan mimpi pertemuan pertanya dengan ‘pria itu'. Tetapi dia memimpikan mimpi itu lagi setelah bertahun-tahun melupakannya.
Pramugari itu tersenyum dan berujar ramah. “Anda sebaiknya bersiap-siap, sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara.”
“Ah, terima kasih,” ucap Raelina tersenyum pada pramugari itu sebelum pramugari itu pergi dan memeriksa penumpang lainnya.
Raelina menghela napas memandang keluar jendela pesawat. Hari masih siang dan pemandangan awan terlihat dari balik jendela pesawat.
Raelina tersenyum samar dan memejamkan matanya.
Tidak lama kemudian pesawat yang ditumpangi Raelina mendarat di tempat tujuan.
Raelina membawa kopernya dan mengikuti kerumunan orang yang keluar dari pintu kedatangan. Dia berhenti sejenak dan memandang ke sekeliling bandara yang ramai oleh lalu lalang orang-orang yang memiliki tujuan datang dan pergi.
Sudah lima tahun dia meninggalkan tempat ini dan belajar ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.
Siapa yang mengira seorang anak petani miskin bisa kuliah di luar negeri dan kembali membawa gelar dokter dari universitas ternama ke kampung halamannya.
Raelina tersenyum pahit. Semua yang dia capai berkat ‘pria itu’ yang sekarang sudah menjadi mantan suaminya.
Ya, di umurnya yang ke dua enam tahun dia pernah menikah sekali dan bercerai di usia belia.
Semua pencapaiannya saat ini sebanding dengan penderitaan yang dialaminya di masa lalu. Sekarang dia kembali bukan melihat ke belakang, tetapi untuk menata masa depannya.
Raelina sudah bertekad kembali setelah lima tahun meninggalkan tempat kelahiran dan mengatur masa depannya yang cerah. Kembalinya dia ke kampung halamannya, tidak ada hubungannya dengan masa lalunya.
Raelina mengalihkan pandangannya ke sekeliling bandara mencari salah satu teman terbaiknya yang sudah duluan kembali ke negara ini. Alasannya kembali juga karena teman yang mengundangnya untuk magang bersamanya setelah beberapa bulan Raelina belum juga mendapat pekerjaan di Inggris.
Raelina celingukan mencari keberadaan teman satu-satunya di kerumunan orang di bandara. Tetapi dia tidak menemukan temannya dan ponsel di tangan Raelina bergetar. Melihat itu temannya yang meneleponnya, dia mengangkat panggilan itu.
“Lina, apa kau sudah tiba di bandara?” Suara seorang wanita terdengar lelah dari seberang telepon.
Raelina mengerutkan dahinya dan berujar dengan khawatir. “Iya, kamu ada di mana, aku tidak melihatmu di mana pun? Apa sesuatu terjadi padamu?”
“Ya, aku baik-baik saja. Tapi maaf ya Lina, kayaknya aku tidak bisa menjemput hari ini di bandara. Rumah sakit tampak penuh, ada banyak pasien harus ditangani. Tidak apa-apa ‘kan kau pergi sendiri. Aku akan mengirimkan alamat apartemenku padamu.”
Raelina menghela napas dan tersenyum membalas temannya yang bernama Stella Marissa, teman satu jurusannya di Inggris.
“Iya, tidak apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu. Jangan khawatirkan aku.”
“Ok, maaf banget ya.”
Terdengar suara bercakap-cakap dengan Stella di seberang telepon sebelum dia menjawab Raelina dengan terburu-buru. “Aku tutup dulu ya. Aku akan bertemu denganmu nanti malam, sampai jumpa.”
Setelah itu sambungan telepon di tutup Stella.
Alex Pov's.After 1.1 month.Sana and I were sitting on a bed, looking at my album which is filled with photos of beautiful memories of my life. She looked at my college photo in which I was standing with Max and one of my close friends, Aaron."Who is he?" She asked, pointing towards Aaron."He is one of my closest friends and his name is the same as Dad" I mumbled."Aaron?" She asked. I nodded my head."Hmm… That's why he is your close friend""Indeed you know me very well" She chuckled upon hearing my words."You won't believe it, his mate's name is Aana. " She looked at me shockingly. I nodded my head."Wow…What a coincidence" I chuckled at her reaction. "I wish his luck was as good as my dad but his mate was a cheater," I mumbled. "Cheater?" She repeated my words."Yes... Aaron was an urban werewolf, he left the pack after his mom-dad died in a car accident and handled his dad's business at the age of seventeen. He lost his smile after his parent's death then Aana came into h
Alex Pov's.I picked her up in my arms while kissing and took her towards the dining area then mindlink one of the servants to bring food for us. When the food arrived, I made her feed with my hand while she fed me.After having dinner together, I took her towards our room where we make love like crazy people who get along after a long time but at the same time I was careful and handled her gently."Only I know, how I kept my hands away from you in the last seven days" I muttered, pounding my manhood in her crave gently."Alex" She moaned and dug her nails into my back as a mind-blowing organism passed through her body resulting in her pussy clenched around my cock. I was about to cum but held my check and took myself out of her then shook it to have my organism.After having a few rounds and cleaning our bodies, we both lay down on the bed. I was staring at my beauty who slept as soon as we hit the bed, because of tiredness. I smiled and kissed her forehead. She smiled back in her s
Dominic Pov's.I was sitting on the bench in the park, near the fountain, and thinking about Jenny who is now a witch. I still can't believe that she turned herself into a witch for me. Tears rolled from my eyes seeing her craziness towards me. She loves me more than her life and it hurts that I couldn't love her back. I was lost in my thoughts when I felt a hand on my shoulder. Sensing Sana's presence I quickly wiped my tears and turned my face toward her. She gave me a half smile and then came in front of me."I was just" Before I could make any excuse, she put her middle finger on my lips and then hugged me while standing. I hid my face in her stomach and encircled my hand around her waist. Tears started forming in my eyes which fell from my eyes without my permission. I badly wanted to let it out and her hug gave me the most peaceful place to cry. She moved her hand in my hair lovingly then parted away from me when I cooled down. She cupped my face and lovingly sucked my tears
Alex Pov's . Maya grabs Ella's neck, choking her to death. Ella was trying to fight back but Maya dodged her every move. I immediately went near Maya. "Leave her, Maya," I said in a low tone. I also wanted to kill Ella for what she did but at the same time, I can't forget the promise I made to her mother to forgive her for whatever mistake she made. "Her mother got badly injured while trying to save my mother and in her last time, I promised her that I will always forgive Ella by giving her small punishment but will never take her life." Maya loosens her grip on Ella's neck upon hearing me. She turned her head towards me. I nod my head telling her that she heard me right. Finding Maya distracted, Ella tried to attack Maya but I pulled Maya away from her on time and growled at her angrily using my Alpha aura. She flinched but didn't give up. She was about to attack Maya again but this time instead of Maya, I dodged Ella and attacked her with my paw. She fell to the ground. She got
Dominic Pov's . Sana was about to go outside the room but I held her hand. "I'm sorry… Please don't leave me" I mumbled. She turned towards me and kept her hand on my cheek. "I'm not leaving you nor I can think about it. I will prefer to die rather than move away from you" she said and kissed my che
Dominic Pov's . "Would you please give control to Maya? I wanted to spend some time with her." I asked Sana directly. I was waiting for this moment to come for a long time. I wanted to talk to her, touch her, feel her and hold her in my arms. She died in my arms with tears in her eyes and in this li
Alex Pov's.I opened my eyes when the sun's rays fell on my face. I looked at my girl who was sleeping peacefully in my arms. After she confessed her love to me. we went a little intimate and had oral sex... I made her cum again and she gave me a mindblowing blowjob and made me cum inside her mouth.
Sana POV's . When Max told us that Irene went unconscious, Alex ran towards the guest room. I, Emily, and Max followed him and there we came to know Irene is pregnant. I was so happy for her and seeing Alex's smiling face, my happiness doubled. We all were congratulating them when suddenly Max sta






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore