Home / Urban / Hestia / Chapter 16 - Started with Fanfiction 18+

Share

Chapter 16 - Started with Fanfiction 18+

Author: Dyara
last update publish date: 2026-02-28 12:44:09
Selesai makan siang, Archie sudah ingin mengajak Patra yang sedang mencuci piring bermain di kamarnya. “Main sama Aunty Talia dulu, ya! Mama-bunda mau ngobrol sama Kak Patra,” ujar Cassandra menarik Archie agar anak laki-laki semata wayangnya itu melepaskan pelukannya di kaki Patra.

Wajah mungil Archie memberengut. “Mau ngobrolin aku, ya?” Dahi Archie disentil Talia.

“Nggak usah kepedean!” Bibinya berkomentar pedas sambil melahap ludes sisa yogurt yang sudah ia buka sebelum makan siang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 34 - Love Thru Trust

    “Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Perempuan itu sedang menemani Patra yang bertamu ke rumah Artemis dan diajak bermain oleh Archie.Patra memutuskan menceritakan pertengkaran pertamanya dengan Talia ke sahabat perempuannya itu. Boris sedang sibuk memasak dengan Cassandra, sedangkan Talia dan Artemis berbelanja bahan mentah makanan, termasuk stok untuk kekasihnya yang akan segera pindahan. “Tapi, sebelum bersyukur, lo ngerasa aman nggak?” bisik Tashi setelah celingak-celinguk. Memastikan tidak ada orang yang tiba-tiba muncul di tengah percakapan mereka. Termasuk Archie dan Cherry. Melihat tatapan Patra yang entah apa benar tidak mengerti, atau memang dungu, Tashi lanjut bertanya, “Enak-enak aja nggak pas dipegang-pegang sama Tal

  • Hestia   Chapter 33 - pink and white daisies

    Patra tidak percaya ia menghabiskan sisa jam kerja–sepanjang petang–bersama orang yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Talia. ‘Apa anak-anak muda jaman sekarang emang seliar itu?’ batin Patra tentu berasumsi negatif karena memang ada alasan yang mengganggu. Selama Patra berceletuk ria, atau membalas pertanyaan basa-basi Nero—mantan kekasih Talia itu tidak pernah fokus balas menatap manik matanya. Melainkan kepala Patra, puncak kepala Patra. Sepertinya Nero berpikir semakin lama da intens matanya menelisik setiap sudut bentuk kepala dan gaya rambut Patra, ia bisa menyaksikan fetish terpendamnya. Benak dan hati Patra bertekad, ia tidak menjadikan kesenangan birahi atau antusias fisikal menjadi tema utama hubungannya dan Talia. Baru saja Patra bisa bernapas lega, ketika pintu lift terbuka, karena ia bisa melempar tubuhnya ke kasur ternyaman di kamar apartemen—seseorang berdiri, bersandar di pintu. Talia, yang mengenakan kaos oversized oranye, manset lengan hijau terhubung deng

  • Hestia   Chapter 32 - Anxious x Avoidant

    Sisa jam makan malam itu dihabiskan Talia yang melahap sisa bebek dan sopnya, tanpa menawari Patra. Biasanya mereka saling berbagi dan mencicipi. Patra berusaha berpikir positif, toh, miliknya juga sudah habis. “Kamu kalau udah selesai pulang aja,” tutur Talia memecah keheningan yang selama beberapa belas menit menyelubungi keduanya. “Udah malem, dan aku juga mau pulang cepet, istirahat. Kamu juga perlu istirahat, kan. Besok masih kerja.” Patra makin terperangah dengan sikap Talia. Walaupun sekedar mereka makan mie instan di toserba dekat apartemen Patra, perempuan itu selalu menyuruhnya naik ke motor dan diantar. Sedekat atau sejauh apapun itu. ‘Kenapa jadi begini….’ Sembari bangun dari kursi plastik, Patra membayar pesanan miliknya dan juga Talia. Ia mengusap pundak Talia, lalu berucap ‘see you’ dan berbalik pulang—jalan kaki ke apartemennya. Baru sekitar satu menit, Patra menjauhi tempatnya makan malam itu, sebuah notifikasi masuk ke aplikasi bank di ponselnya. Transaksi terba

  • Hestia   Chapter 31 - I DID NOT OVERREACT

    Kali ini atensi Patra benar-benar teralihkan. “Gue … nggak sepinter itu buat berkata-kata manis, gue lebih baik disuruh jemput, diajak main, nonton, atau tidur bareng daripada buang-buang waktu ngasih pujian yang—yah, tanpa pujian dari gue, Shannon juga tau lah dia cantik, dia juga pernah cerita banyak temen kerja atau seniornya ngegodain.” Patra bergumam ‘oh’ pelan. Rupanya mantan Talia ini tidak percaya dengan hubungan platonik. Hubungan Patra dengan Talia pun tidak bisa dikatakan setenang itu, mengingat Patra yang mudah antusias jika kekasihnya sengaja menyisir rambutnya dengan jemari perempuan itu, entah iseng ataupun tidak. Patra tidak ingin ada ketidaknyamanan yang Talia sembunyikan. “Mungkin, lo bisa minta Shannon mulai muji duluan? Jadi, lo perlahan-lahan belajar, terus niruin cara dia apresiasi apa aja yang lo kerjain sehari-hari….” Hembusan napas kasar menjawab usulan Patra. Nero hanya merespons seperti tadi, sehingga Patra berakhir memusatkan perhatian ke makanannya. P

  • Hestia   Chapter 30 - Words of Affirmation

    Patra mengecek ulang titik-titik biru penanda kegiatan selain bekerja di kalender pada layar ponselnya. Malam ini, ia ingin makan nasi pecel pinggir jalan dekat apartemennya. Dikarenakan Talia harus menghitung pemasukan dan memberi arah tambahan ke dua karyawan lain di salon, Patra memperkirakan ia akan tiba lebih dulu. Jam dinding divisinya menunjukkan pukul lima sore kurang dua menit. Aplikasi absen kantor sudah terbuka dan Patra segera membiarkan fitur scan menangkap sisi depan wajahnya. Kedua tangan Patra gesit memasukkan buku memo, iPad, ponsel, ear buds ke kotaknya, dan satu map berisi materi pitching decks yang akan ia kirimkan ke calon-calon klien baru. Sebuah notifikasi dari Talia masuk. Pesan singkat itu berisi pacarnya yang minta dipesankan sop kambing dan bebek bakar. Lengkap dengan stiker Bubu-Dudu yang saling berpelukan—yang Patra balas dengan stiker sepasang kucing berciuman. Walaupun Talia bisa selalu bertemu dengannya setiap hari mengendarai motor perempuan itu, Pat

  • Hestia   Chapter 29 - Cloudy Thoughts

    Dua hari setelah makan malam ulang tahunnya di rumah, Patra kembali ke apartemen dan rutinitas kerja di kantor agensi digital. Ia tidak sabar ingin segera pulang karena malam itu ada janji menonton film Mother Mary bersama Talia. Kekasih perempuannya juga ingin bercerita tentang pengalaman pertama kalinya ke psikolog. “Pat, lo ikut, kan?” Wajah Hardi menongol dari celah pintu kubikal divisi PR Patra yang dibuka pria itu. Patra yang baru saja mematikan google meet dengan klien baru sontak berdecak, takut suara Hardi terdengar. “Ikut apaan? Sekarang masih Senin, ya!” balas Patra sensitif. Jelas saja, ia tidak ingin ada halangan yang menghambat quality timenya dengan Talia. “Yeu, kok, lo malah marah-marah ke gue? Minggu lalu si Pak Agus, kan, emang ngajak Pak Fahri dan kalian makan-makan bareng kita!” Gantian Hardi yang menatap Patra jengkel karena saat ajakan itu dilontarkan Pak Agus, kepala divisinya, Patra yang mengusulkan tempat makannya. “Gue udah ada janji…,” keluh Patra menyor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status