ホーム / Urban / Hestia / Chapter 15 - Moodbreaker

共有

Chapter 15 - Moodbreaker

作者: Dyara
last update 公開日: 2026-02-27 15:25:05

Lusa setelah informasi cabang baru Hestia Salon, Patra benar-benar diajak ke rumah Artemis. Begitu mulai bergulat di dunia pekerjaan masing-masing, Patra tidak pernah bertemu adik perempuan tirinya. Terakhir kali waktu pernikahan kedua sahabat mereka, Boris dan Tashi.

Mengunjungi dan melihat-lihat salon baru Tante Tiara tidak memakan waktu lama. Gedung berlantai tiga yang warnanya masih kelabu, kalau kata Hesti belum ditouch up, terlihat sama seperti cabang lama. Akan tetapi, memang lebih luas
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Hestia   Chapter 33 - pink and white daisies

    Patra tidak percaya ia menghabiskan sisa jam kerja–sepanjang petang–bersama orang yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Talia. ‘Apa anak-anak muda jaman sekarang emang seliar itu?’ batin Patra tentu berasumsi negatif karena memang ada alasan yang mengganggu. Selama Patra berceletuk ria, atau membalas pertanyaan basa-basi Nero—mantan kekasih Talia itu tidak pernah fokus balas menatap manik matanya. Melainkan kepala Patra, puncak kepala Patra. Sepertinya Nero berpikir semakin lama da intens matanya menelisik setiap sudut bentuk kepala dan gaya rambut Patra, ia bisa menyaksikan fetish terpendamnya. Benak dan hati Patra bertekad, ia tidak menjadikan kesenangan birahi atau antusias fisikal menjadi tema utama hubungannya dan Talia. Baru saja Patra bisa bernapas lega, ketika pintu lift terbuka, karena ia bisa melempar tubuhnya ke kasur ternyaman di kamar apartemen—seseorang berdiri, bersandar di pintu. Talia, yang mengenakan kaos oversized oranye, manset lengan hijau terhubung deng

  • Hestia   Chapter 32 - Anxious x Avoidant

    Sisa jam makan malam itu dihabiskan Talia yang melahap sisa bebek dan sopnya, tanpa menawari Patra. Biasanya mereka saling berbagi dan mencicipi. Patra berusaha berpikir positif, toh, miliknya juga sudah habis. “Kamu kalau udah selesai pulang aja,” tutur Talia memecah keheningan yang selama beberapa belas menit menyelubungi keduanya. “Udah malem, dan aku juga mau pulang cepet, istirahat. Kamu juga perlu istirahat, kan. Besok masih kerja.” Patra makin terperangah dengan sikap Talia. Walaupun sekedar mereka makan mie instan di toserba dekat apartemen Patra, perempuan itu selalu menyuruhnya naik ke motor dan diantar. Sedekat atau sejauh apapun itu. ‘Kenapa jadi begini….’ Sembari bangun dari kursi plastik, Patra membayar pesanan miliknya dan juga Talia. Ia mengusap pundak Talia, lalu berucap ‘see you’ dan berbalik pulang—jalan kaki ke apartemennya. Baru sekitar satu menit, Patra menjauhi tempatnya makan malam itu, sebuah notifikasi masuk ke aplikasi bank di ponselnya. Transaksi terba

  • Hestia   Chapter 31 - I DID NOT OVERREACT

    Kali ini atensi Patra benar-benar teralihkan. “Gue … nggak sepinter itu buat berkata-kata manis, gue lebih baik disuruh jemput, diajak main, nonton, atau tidur bareng daripada buang-buang waktu ngasih pujian yang—yah, tanpa pujian dari gue, Shannon juga tau lah dia cantik, dia juga pernah cerita banyak temen kerja atau seniornya ngegodain.” Patra bergumam ‘oh’ pelan. Rupanya mantan Talia ini tidak percaya dengan hubungan platonik. Hubungan Patra dengan Talia pun tidak bisa dikatakan setenang itu, mengingat Patra yang mudah antusias jika kekasihnya sengaja menyisir rambutnya dengan jemari perempuan itu, entah iseng ataupun tidak. Patra tidak ingin ada ketidaknyamanan yang Talia sembunyikan. “Mungkin, lo bisa minta Shannon mulai muji duluan? Jadi, lo perlahan-lahan belajar, terus niruin cara dia apresiasi apa aja yang lo kerjain sehari-hari….” Hembusan napas kasar menjawab usulan Patra. Nero hanya merespons seperti tadi, sehingga Patra berakhir memusatkan perhatian ke makanannya. P

  • Hestia   Chapter 30 - Words of Affirmation

    Patra mengecek ulang titik-titik biru penanda kegiatan selain bekerja di kalender pada layar ponselnya. Malam ini, ia ingin makan nasi pecel pinggir jalan dekat apartemennya. Dikarenakan Talia harus menghitung pemasukan dan memberi arah tambahan ke dua karyawan lain di salon, Patra memperkirakan ia akan tiba lebih dulu. Jam dinding divisinya menunjukkan pukul lima sore kurang dua menit. Aplikasi absen kantor sudah terbuka dan Patra segera membiarkan fitur scan menangkap sisi depan wajahnya. Kedua tangan Patra gesit memasukkan buku memo, iPad, ponsel, ear buds ke kotaknya, dan satu map berisi materi pitching decks yang akan ia kirimkan ke calon-calon klien baru. Sebuah notifikasi dari Talia masuk. Pesan singkat itu berisi pacarnya yang minta dipesankan sop kambing dan bebek bakar. Lengkap dengan stiker Bubu-Dudu yang saling berpelukan—yang Patra balas dengan stiker sepasang kucing berciuman. Walaupun Talia bisa selalu bertemu dengannya setiap hari mengendarai motor perempuan itu, Pat

  • Hestia   Chapter 29 - Cloudy Thoughts

    Dua hari setelah makan malam ulang tahunnya di rumah, Patra kembali ke apartemen dan rutinitas kerja di kantor agensi digital. Ia tidak sabar ingin segera pulang karena malam itu ada janji menonton film Mother Mary bersama Talia. Kekasih perempuannya juga ingin bercerita tentang pengalaman pertama kalinya ke psikolog. “Pat, lo ikut, kan?” Wajah Hardi menongol dari celah pintu kubikal divisi PR Patra yang dibuka pria itu. Patra yang baru saja mematikan google meet dengan klien baru sontak berdecak, takut suara Hardi terdengar. “Ikut apaan? Sekarang masih Senin, ya!” balas Patra sensitif. Jelas saja, ia tidak ingin ada halangan yang menghambat quality timenya dengan Talia. “Yeu, kok, lo malah marah-marah ke gue? Minggu lalu si Pak Agus, kan, emang ngajak Pak Fahri dan kalian makan-makan bareng kita!” Gantian Hardi yang menatap Patra jengkel karena saat ajakan itu dilontarkan Pak Agus, kepala divisinya, Patra yang mengusulkan tempat makannya. “Gue udah ada janji…,” keluh Patra menyor

  • Hestia   Chapter 28 - Visit Matching Wound (2)

    “Hai, Lace! Gue kira kita cuma bakal ketemu pas lo pulang ke US nanti!” Lacy yang datang dalam balutan blus lengan panjang dan jins abu-abu hanya terkekeh seadanya seraya menyambut pelukan bersahabat Patra. Ia memberikan sebuah tas karton berisi kado yang ia persiapkan untuk salah satu teman, sekaligus saudara tiri mantan pacarnya. “Kangeeeennn!” tutur Lacy sendu di tengah senyum terharunya kembali bertemu Patra. “Temen-temen kita udah pada berkeluargaaaa! Hueeee jangan tinggalin gue sendiri, Pat!!” “Iya, iya! Ayo masuk, kita lanjutin ngobrol di dalem!” Patra tertawa kecil sambil mundur membiarkan Lacy masuk lebih dulu. Lacy satu-satunya yang bersikap normal, tidak seperti yang lainnya—Patra bisa merasakan rasa prihatin dan kasihan Charlie, Charissa, Tashi, dan Boris. Jujur, Patra berterima kasih, tetapi kekhawatiran berlebihan itu justru semakin mencekik kebebasannya. *** “Sisa tiga hari lagi, gue pulang. Tapi, gue udah terlalu attach sama Athe,” ucap Lacy memecah keheningan d

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status