Share

Merindukanmu

Author: Eve Seraphine
last update publish date: 2026-10-29 21:13:24

“Mas, kenapa hari ini pulangnya cepat sekali?”

Mentari menoleh dari sofa ruang keluarga ketika Gavin masuk ke rumah. Perempuan itu sempat melirik jam dinding. Belum pukul lima sore, padahal pagi tadi suaminya mengatakan akan menghadiri rapat sampai malam.

Gavin meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu melonggarkan dasi.

“Aku bosnya. Aku bebas menentukan jam pulang.”

Mentari mengangguk kecil. “Bukannya tadi pagi Mas bilang ada rapat sampai malam?”

“Rapatnya selesai.”

“Katanya masih ada tiga ag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Gavin Penuh Persiapan

    “Mas, kita mau foto prewedding atau membuat album bukti kalau aku sudah resmi menjadi milik Mas?”Gavin mengangkat wajah dari katalog dekorasi yang sedang diperiksanya. Mentari duduk di sebelahnya sambil menahan tawa. Sejak mereka bertemu wedding organizer pagi itu, Gavin terus ikut campur dalam setiap keputusan.“Apa salahnya memastikan semua orang tahu kamu istriku?”“Enggak salah. Tapi Mas sudah memilih dekorasi, bunga, warna meja, bahkan bentuk undangan.”“Karena pilihannya kurang sesuai.”Mentari menunjuk salah satu halaman katalog. “Yang ini bagus. Dekorasinya sederhana, warnanya lembut.”Gavin melirik gambar tersebut. “Terlalu sederhana.”“Mas, kita mau resepsi, bukan mengadakan pesta kenegaraan.”“Aku ingin semuanya terlihat pantas untuk istriku.”Mentari tersenyum. “Kalau begitu, biar aku yang memilih. Mas cukup duduk manis.”Gavin menatapnya datar. “Aku tidak bisa duduk manis.”“Memangnya kenapa?”“Karena aku ingin memastikan kamu mendapatkan yang terbaik.”Mentari tertawa k

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Rencana Yang Tertunda

    “Kalau kamu mau pergi, bilang kepadaku. Jangan sampai aku harus mencari istriku sendiri di tengah keramaian.”Mentari menoleh ke arah Gavin yang berdiri di samping troli belanja. Sejak tadi, lelaki itu terus mengikutinya dari satu lorong ke lorong lain. Bahkan, Gavin sudah membatalkan beberapa jadwal rapat agar bisa menemani istrinya berbelanja.“Mas, aku cuma mau beli beberapa kebutuhan rumah. Bukan mau menghilang,” jawab Mentari sambil tersenyum geli.“Aku tahu.”“Lalu kenapa dari tadi Mas mengikuti aku terus?”“Karena aku suamimu.”Mentari menggeleng kecil. Ia kembali memilih beberapa barang, sementara Gavin mendorong troli di belakangnya.Saat melewati lorong perlengkapan rumah tangga, seseorang menyapa Mentari.“Mentari?”Mentari menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan keterkejutan.“Revan? Astaga, sudah lama sekali!”Seorang lelaki seusianya tersenyum lebar. Mereka kemudian berbincang tentang masa kuliah dan beberapa teman lama yang sudah jarang ditemui.Gavin berdiri di samping

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Merindukanmu

    “Mas, kenapa hari ini pulangnya cepat sekali?”Mentari menoleh dari sofa ruang keluarga ketika Gavin masuk ke rumah. Perempuan itu sempat melirik jam dinding. Belum pukul lima sore, padahal pagi tadi suaminya mengatakan akan menghadiri rapat sampai malam.Gavin meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu melonggarkan dasi.“Aku bosnya. Aku bebas menentukan jam pulang.”Mentari mengangguk kecil. “Bukannya tadi pagi Mas bilang ada rapat sampai malam?”“Rapatnya selesai.”“Katanya masih ada tiga agenda?”“Dibatalkan.”“Semuanya?”Gavin menoleh. Tatapannya yang biasanya membuat para karyawan buru-buru memeriksa kesalahan mereka kini justru membuat Mentari semakin penasaran.“Mentari, kamu sedang menginterogasiku?”Mentari menggeleng polos.“Enggak. Aku cuma penasaran.” Dia memiringkan kepala, lalu tersenyum jahil. “Apa Mas kangen sama aku?”Gavin terdiam.Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Mentari untuk menangkap perubahan ekspresi suaminya.“Jangan terlalu percaya diri,” jawab Gavin akhirnya

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Teguran Sang CEO

    “Mas, kalau Mas terlambat masuk kantor gara-gara gak mau melepaskan pelukan ini, siapa yang harus bertanggung jawab?”“Perusahaan itu milikku. Aku yang menentukan kapan harus datang.”Mentari mendongak, menatap Gavin yang masih merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan. Sejak tadi, lelaki itu sama sekali gak menunjukkan tanda-tanda ingin bangun, padahal pagi sudah semakin larut.“Kalau begitu, aku mandi duluan.”“Lima menit lagi.”“Mas sudah bilang begitu tiga kali.”“Berarti kau tahu aku masih butuh lima menit.”Mentari menahan tawa. Gavin memang bisa bersikap dingin kepada seluruh dunia, tetapi ketika berdua dengannya, lelaki itu sering bertingkah seperti anak kecil yang enggan ditinggal.“Kalau Mas terus begini, kita bisa terlambat.”“Ya sudah, kita mandi sekarang.”Gavin akhirnya melepaskan pelukannya, tetapi hanya untuk menggenggam tangan Mentari dan mengajaknya ke kamar mandi.“Mas, aku bisa mandi sendiri.”“Aku tahu.”“Terus, kenapa harus bareng?”“Karena aku mau.”Jawaban datar itu

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Melepas Penat

    “Mas, kalau semua orang menuntut Mas untuk selalu kuat, apa Mas masih punya tempat untuk bersandar?”Gavin yang baru melepas jam tangannya berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah Mentari yang berdiri di dekat sofa sambil membawa segelas air hangat. Perempuan itu memperhatikannya sejak tadi, mulai dari langkahnya yang berat hingga wajahnya yang tampak lebih lelah daripada biasanya.“Aku kelihatan selemah itu?” tanya Gavin.“Bukan lemah. Mas cuma kelihatan capek.”Gavin menerima gelas dari tangan istrinya, lalu duduk di sofa. “Pertemuan hari ini cukup melelahkan. Banyak orang merasa berhak mengatur keputusan yang seharusnya menjadi urusanku.”Mentari duduk di sampingnya. Ia tidak langsung bertanya lebih jauh karena tahu Gavin tidak selalu nyaman menceritakan masalah pekerjaannya.“Kalau Mas belum mau cerita, gak apa-apa,” katanya. “Aku cuma gak mau Mas pulang ke rumah masih merasa harus menghadapi semuanya sendirian.”Gavin menatap istrinya. Sejak pagi, ia harus menghadapi berbagai tuntut

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Jangan Merasa Bersalah

    “Kalau gara-gara aku keluarga kalian sampai memutuskan kerja sama bisnis, apa aku harus meminta maaf kepada Papa dan Mama?”Gavin menghentikan gerakan tangannya saat mendengar pertanyaan Mentari. Mereka sedang berada di ruang keluarga rumah baru mereka. Gavin baru saja selesai menerima telepon dari direktur keuangan yang memberitahukan perkembangan terbaru mengenai kerja sama antara keluarga Pradipta dan keluarga Felisha.Mentari yang semula sibuk merapikan buku di rak langsung terdiam ketika mendengar percakapan itu. Ia tidak berniat menguping, tetapi nama keluarganya dan Felisha yang disebut berulang kali membuatnya sulit mengabaikan pembicaraan tersebut.Gavin meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap istrinya.“Kenapa kamu harus meminta maaf?”“Karena semua ini bermula dari pernikahan kita.” Mentari menunduk, meremas ujung lengan bajunya. “Kalau aku gak menikah denganmu, mungkin keluarga Felisha gak akan mempermasalahkan hubungan kalian. Papa dan Mama juga gak perlu menghada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status