LOGINRailo melapor singkat, tapi Alexander bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari lembaran berkas keuangan di tangannya. Wajahnya begitu dingin bagaikan ukiran es. "Usir dia. Katakan padanya aku tidak memiliki waktu untuk hal-hal tidak berguna."
"Baik, Tuan."Railo keluar dan kembali menemui Giselle yang sedang menghentakkan kakinya di ruang tunggu. "Nona, Tuan CEO meminta Anda untuk segera meninggalkan gedung ini. Beliau sangat sibuk dan tidak menerima tamu tanpa janji."Udara pagi di halaman belakang kediaman utama Sterling terasa begitu sejuk, membawa aroma basah dedaunan dan harum bunga mawar putih yang mekar sempurna di bawah hangatnya mentari. Tiga hari lalu, pusara Xavier Frozz telah ditutup dengan taburan bunga mawar merah di perbukitan sunyi Silvercrest. Luka kehilangan itu masih menyisakan legam yang dalam di relung hati setiap orang, namun waktu tidak pernah berhenti berputar—dan di atas tanah yang pernah disiram air mata itu, kehidupan baru kini merajut asa.9 Bulan kemudian…Di atas kursi taman rotan berukuran besar, Scarlett atau Evelyn Ashford bagi dunia yang kini mengenalnya, duduk bersandar dengan senyum paling tulus yang pernah terukir di wajahnya. Perutnya yang membuncit sempurna sembilan bulan kemudian menandakan detik-detik kehadiran malaikat kecil mereka.Langkah kaki tegap mendekat dari arah teras. Alexander Sterling, dengan kemeja putih berlengan digulung rapi dan sorot mata yang memancarkan kelembutan tulus, berlutut di hadapan
Alexander merangsek paling depan, menerjang jarak di antara mereka dan menangkap tubuh Scarlett yang mulai lemas sebelum wanita itu ambruk ke lantai. Jemari Alexander yang gemetaran mengusap pipi Scarlett yang pucat, sementara tangannya yang lain menekan kuat-kuat luka tembak di bahu kiri istrinya untuk menahan aliran darah yang terus merembes."Buka matamu, Evelyn! Tetap tatap aku!" suara Alexander bergetar hebat, kepanikan yang tak pernah ia tunjukkan seumur hidup kini meluap tanpa kendali. "Kau akan selamat! Dengar aku, kau tidak boleh memejamkan mata!"“Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil.”Xavier berlutut tepat di samping mereka, wajahnya yang penuh luka memucat hebat. Tangannya ikut terulur menahan lengan Scarlett yang dingin. "Scarlett, bertahanlah... Anak-anak menunggu di bawah. Kita sudah menang, Scarlett... Tolong jangan tutup matamu!" panggil Xavier dengan napas memburu dan dada yang sesak oleh rasa khawatir yang menghancurkan jiwanya.Scarlett menyunggingkan senyum ti
Lantai dua bangunan pabrik tua Silvercrest berubah menjadi lorong jagal yang gulita. Udara lembap bercampur bau hanyir darah dan bubuk mesiu yang menyengat hidung. Suara tembakan melengking bersahut-sahutan di tengah reruntuhan beton, memecahkan keheningan malam yang makin mencekam.Scarlett Voss, Alexander Sterling, dan Xavier Frozz menyisir lantai dua dengan taktik bergerak terpisah. Ketiganya bergerak bagaikan bayangan pencabut nyawa—membabi buta memburu dua nama yang tersisa. Setiap kali sosok anak buah Darius muncul dari balik pilar atau kegelapan sudut ruangan, timah panas menyambar tanpa ampun. Kepala dan dada para penjaga itu bolong seketika, menghentak lantai semen dengan dentum berat yang singkat. Tak ada komunikasi terucap di antara Scarlett, Alexander, dan Xavier. Yang nyata, hanya ada insting membunuh yang menyatu tajam dalam satu tujuan mutlak.Scarlett bergerak cepat menyusuri lorong sayap timur. Sepatunya menginjak genangan darah tebal Tuan Wood yang merembet keluar d
"Itu pasti Mama!" teriak Ethan dan Xander bersamaan di tengah gemuruh dentuman yang menggetarkan lantai semen pabrik.Kedua penjaga berbadan kekar yang baru saja selesai mengikat ulang kedua bocah itu tersontak kaget. Belum sempat salah satu dari mereka mengokang senapan, dinding beton di sisi timur gudang mendadak hancur berkeping-keping. Sebuah mobil taktis berlapis baja menghantam dinding itu hingga runtuh, menyemburkan serpihan batu dan debu tebal yang membumbung tinggi.Dari balik kepulan debu, sesosok bayangan melompat keluar dengan kecepatan yang hampir tak terkejar oleh mata telanjang. Scarlett Voss—Ratu Noctis—menerobos masuk bagaikan iblis pencabut nyawa yang lepas dari belenggu neraka.Tak ada kata-kata. Tak ada peringatan.Duar! Duar!Dua tembakan kustom berkaliber besar bergema memecah udara. Peluru Scarlett menembus tepat di antara kedua mata penjaga pertama bahkan sebelum pria itu sempat mengangkat senjatanya. Kepala penjaga itu pecah, merobohkan tubuh tambunnya secara
Kenyataan bahwa Darius Vane masih bernapas dan menjadi dalang di balik semua mimpi buruk ini menyulut api kemusnahan yang sama sekali tidak bisa lagi dibendung. Tidak ada lagi waktu untuk meratap di hadapan tiga jasad yang terbaring kaku. Setiap detik yang terbuang sia-sia berarti nyawa Ethan dan Xander yang menjadi taruhannya di sarang iblis bermata satu itu.Dalam waktu singkat, halaman luas kediaman Sterling berubah menjadi pangkalan tempur yang mencekam. Tidak ada suara sirene yang meraung gaduh, yang terdengar hanyalah deru mesin berat berlapis baja dan atmosfer maut yang membuat udara malam terasa membeku.Scarlett Voss melangkah keluar dari mansion dengan pakaian tempur serba hitam. Dua pistol custom terselip rapi di pinggangnya, sementara belati tajam tersarung erat di pahanya. Sorot matanya memancarkan kedalaman dendam Ratu Noctis yang telah bangun dari tidur panjangnya."Kumpulkan seluruh orang kita di Silvercrest!" perintah Scarlett dengan suara dingin tanpa ampun kepada Ai
Aroma amis darah di aula utama kediaman Sterling seolah menolak untuk menguap. Suasana ruangan itu begitu menyesakkan, membuat siapa pun yang bernapas merasakan beban berat yang menghujam dada. Di tengah serpihan kaca dan puing-puing pertempuran, tiga jasad terbujur kaku di bawah kain putih… Tuan Richard Sterling, Nyonya Victoria Sterling, dan Railo.Alexander Sterling berdiri terpaku di hadapan jasad kedua orang tuanya. Matanya yang dingin kini memerah, menyiratkan kepedihan dan amarah yang siap meledak kapan saja. Di sisi lain, Evelyn Ashford—sang Ratu Noctis yang telah kembali sepenuhnya sebagai Scarlett Voss—berdiri dengan rahang mengeras. Aura dingin dan mematikan mengelilingi setiap gerakannya.Tak jauh dari mereka, Xavier Frozz mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga darah segar menetes dari sela-sela kukunya. Di belakang Xavier, Sky berdiri menahan sakit dengan tubuh bersimbah darah. Aiden dan Damien baru saja menyusul masuk dengan napas memburu, menyadari bahwa seranga







