ログインDi atas awan, Juanyi menahan napas. Matanya yang sedingin es kini berkilat amarah melihat ketiga tetua Klan Hun yang tubuhnya penuh luka, terkepung oleh selusin Tetua Aula Surgawi dan beberapa prajurit bayaran Klan Xiao yang licik. "Guru, mereka akan musnah dalam hitungan napas. Biarkan aku menembus formasi itu!" Juanyi melangkah maju, aura perak di sekelilingnya mulai beresonansi dengan ruang, siap untuk melakukan teleportasi jarak jauh guna memberikan bantuan instan. Namun, sebuah tangan yang kokoh dan dingin menahan pundaknya. Alex mungkin tidak bergerak, matanya yang tajam menatap formasi musuh dengan kalkulasi yang dingin. "Jangan bodoh, Juanyi. Jumlah mereka terlalu banyak. Jika kau masuk sekarang, kau hanya akan membuat dirimu terkepung dalam formasi perang yang mereka susun. Mereka memang sudah bersiap sejak awal." Juanyi tertegun, meski tangannya masih mengepal erat di gagang pedang. "Tapi jika kita diam saja, kita sama saja mengkhianati persekutuan anda dengan klan Hun
Mendengar jawaban dingin Juanyi, tawa gila Xiao Ding mendadak tercekik di tenggorokannya. Ia menatap mata gadis itu—bukan rasa takut yang ia temukan, melainkan jurang kehampaan yang lebih dalam dari kematian itu sendiri. "Kau... kau sudah gila!" teriak Xiao Ding. Wuuuuush! Tanpa membuang waktu sedetik pun, Juanyi menghilang. Ia tidak menggunakan teknik pergerakan yang mencolok, ia hanya melangkah, namun setiap pijakannya di udara membuat ruang di sekitar Xiao Ding terlipat. KRAK! "Apa...?!" Sebelum Xiao Ding sempat mengangkat pedang emasnya, sayangnya Juanyi sudah berada tepat di depan wajahnya. Bahkan Tangan kiri Juanyi telah bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Xiao Ding dengan kekuatan yang menghancurkan tulang. KRAAAACK! Terdengar suara retakan tulang yang memuakkan saat cengkeraman Juanyi meremukkan lengan pria itu. "Ini untuk kesombongan klanmu," desis Juanyi. SLASH! Pedang ganda perak di tangan kanan Juanyi terayun membentuk busur sempur
Melihat kepalan tangan mereka yang masih ragu, kultivator tua yang sejak awal mengekor di belakang Alex tidak bisa lagi menahan diri. Dengan wajah panik dan napas memburu, ia berteriak setengah histeris dari belakang punggung Alex ke arah kerumunan sekte Tangan Iblis di bawah. "Hei! Apa yang kalian tunggu, Bodoh?!" raung kultivator tua itu, tangannya yang bersimbah darah menunjuk ke arah tumpukan mayat di sekitar mereka. "Kalian pikir bisa mempertahankan harta itu di hadapan Klan Xiao?! Pemuda di atas kalian ini baru saja membantai tiga Tetua Dewa Awal Puncak dalam satu tarikan napas! Serahkan cincin ruang kalian sekarang jika masih ingin melihat matahari esok hari! Kehilangan harta bisa dicari lagi, tapi jika jiwa kalian terserap formasi, kalian akan musnah selamanya!" Mendengar kesaksian mengerikan itu, kilat ketakutan instan mendominasi mata para anggota sekte Tangan Iblis. Tanpa berpikir dua kali, sang pemimpin rombongan itu langsung merenggut cincin ruang dari jarinya, bert
"Sesuai perintah, Guru! Rampas semuanya!" Juanyi menyahut lantang, sepasang matanya berbinar penuh gairah bertempur yang haus akan darah dan harta. Mendengar deklarasi gila dari Alex, para kultivator pelarian yang berlutut di tanah itu saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Jiwa mereka terguncang hebat. Di satu sisi, mereka ngeri melihat watak asli pemuda di hadapan mereka yang ternyata jauh lebih iblis daripada Aula Surgawi. Namun di sisi lain, tidak bisa dimungkiri bahwa kekuatan mengerikan yang ditunjukkan muridnya tadi adalah satu-satunya tiket emas mereka untuk bertahan hidup. Alex mengalihkan pandangannya yang tajam laksana elang ke arah rombongan kultivator tua tersebut. Tekanan auranya melunak, namun bobot kata-katanya masih terasa menindas jiwa. "Kalian semua, berdiri," perintah Alex dingin, jubah api hitam-putih murninya berkibar pelan menantang angin lembah. "Ikuti di belakangku. Sesuai kesepakatan dan janji yang telah kubuat setelah menerima cincin ruang
Mendengar pertanyaan terakhir dari Alex, kultivator tua yang memimpin rombongan pelarian itu menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik puluhan anggota Aula Surgawi yang menatap mereka laksana singa kelaparan, lalu beralih menatap sepasang mata sedingin bintang mati milik Alex. Di ambang kematian seperti ini, harta setinggi gunung pun tidak akan ada gunanya jika jiwa mereka terikat dan dijadikan nutrisi formasi kutukan. "Kami setuju! Kami setuju, Senior! Ini... ambil semuanya!" seru kultivator tua itu dengan tangan bergetar, segera melepas cincin ruang dari jarinya dan melemparkannya ke udara. Langkah itu langsung diikuti oleh belasan kultivator terluka di belakangnya. Tanpa membuang waktu lagi, mereka mencopot seluruh cincin penyimpanan dan kantong spasial yang mereka miliki, melemparkannya ke arah Alex seolah-olah benda-benda berharga itu adalah racun yang menjijikkan. Karena Bagi mereka saat ini, kehilangan harta jauh lebih baik daripada kehilangan eksistensi jiwa untuk
Melihat sekilas, lalu... KRAAAACK! Dengan sekali sentakan indra spiritualnya yang kini telah berada di ranah Dewa Awal Bintang Menengah, Alex dengan mudah menghancurkan segel jiwa Tetua Feng yang tersisa di cincin tersebut. Begitu segel itu jebol, kilatan ribuan batu spiritual tingkat tinggi, botol-botol obat pil suci, hingga gulungan teknik kuno terpantul di pupil matanya. Tanpa membuang waktu, Alex memasukkan seluruh jarahan berharga itu ke dalam penyimpanan didalam dunia jiwanya. "Ayo pergi. Tempat ini sudah tidak memiliki nilai lagi bagi kita," ujar Alex dingin. Wuuuush! Kedua sosok itu berubah menjadi dua berkas cahaya hitam-putih dan perak melesat naik menembus celah-celah langit-langit gua bawah tanah, bergerak lurus menuju permukaan dengan kecepatan yang ekstrem. Ketika mereka akhirnya keluar dari dalam perut tanah Lembah Setan, pemandangan yang menyambut mereka sama sekali tidak seindah namanya. Langit di atas lembah tampak temaram, tertutup oleh kabut tebal berwar







