Masuk“Kamu mau kemana, Bara? Obrolan kita belum selesai,” ucapku, menahan langkahnya agar tidak kabur.Bara membuang napas pelan. “Aku akan jelasin semuanya ke kamu, tentang gelagat atau perkataan yang kamu anggap aneh selama ini, Tapi nanti, bukan sekarang.” Dia berkata dengan nada tenang yang membuatku segan hendak melontarkan protes.“Kenapa harus nanti?” tanyaku sedikit tidak sabaran.“Karena sekarang kamu harus pulih dulu. Kesehatan kamu jauh lebih penting, jangan mikirin hal-hal yang bikin kepala terbebani.” Bara menepuk pelan kepalaku penuh perhatian.“Jangan jadi Mia yang keras kepala dulu. Sekali-sekali nurut sama aku, oke?” pinta Bara dengan nada lembut yang bisa meruntuhkan egoku secepat kilat. Aku mengangguk pelan, melepaskan tangannya lalu membuka kedua tanganku lebar-lebar.“Sebelum manggil dokter, peluk aku dulu, dong,” kataku setengah berbisik dengan pipi memanas.Bara duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan hati-hati dia membungkuk dan melingkarkan lengannya di punggung
Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan dengan helaian yang jatuh menutupi sebagian dahi. Bara memandang lurus ke mataku dengan senyuman tipis dan tatapan yang sendu.“Jangan kesana, Mia,” katanya lembut, sedikit menarikku agar mendekat kepadanya.“T-tapi, di sana…” Aku menunjuk ke arah Mia versi lain yang kini hanya terlihat seperti bayangan kecil, tangisannya masih terdengar meski sangat jauh.“Dia adalah bagian dari kamu yang memang sudah seharusnya pergi,” sahut Bara, ibu jarinya mengusap pelan sisi pergelanganku. “Jadi biarkan bagian dari kehidupan masa lalu membawanya ke tempat yang seharusnya. Ini waktunya kamu melangkah ke jalan yang berbeda.”Mataku memanas, masih terbayang Mia versi lain yang menatap seolah meminta tolong padaku. “Apa artinya sisi diriku yang dibawa pergi oleh Seno, akan menderita selamanya?”“Dia akan pergi tenang nanti, asal kamu mau berjuang di kehidupan yang sekarang.” Bara menunduk, sedikit agar pandangan kami sejajar. “Jadi, kamu ikuti aku, ya.”Bara me
“Tapi, kamu yakin Rena bisa diselamatkan malam ini?” tanyaku memastikan, aku sudah bersyukur dengan kabar yang ku dengar dari Bara, tapi rasanya hatiku masih menyisakan sedikit kegelisahan.Bagaimana kalau anak buah Bara gagal menyelamatkan Rena? Apa yang akan terjadi pada gadis itu jika dia terjebak lebih lama di mansion?Ponsel Bara bergetar tepat sebelum dia hendak membuka mulut, layarnya menyala menampilkan kontak bernama Paul. Kami saling pandang sejenak sebelum Bara menekan tombol hijau di sana, mengaktifkan mode speaker.“Tuan, kami sudah menarik diri dari kediaman Handoko, ada beberapa anggota kita yang terluka tapi tidak parah,” lapor Paul di seberang telepon, suaranya terdengar tenang meski baru menghadapi situasi serius.“Segera bawa anggota yang terluka ke rumah sakit untuk di obati, sisanya boleh kembali dan beristirahat. Terima kasih untuk bantuan kalian malam ini,” sahut Bara, tegas tapi tedengar tulus.“Baik, Tuan.” Paul menjawab cepat. Aku menunggunya membahas tentang
Menit-menit pertama terasa sangat sesak dan menegangkan hingga tidak ada di antara kami yang bicara, hanya deru mesin dan deru napas yang saling berkejaran mengisi ruang kosong di dalam mobil ini.Baru setelah mobil Bara masuk ke jalan besar, ketegangan itu perlahan mulai mencair. Aku melirik Bara yang bahunya mulai turun, jari-jarinya yang sejak tadi mencengkeram setir dengan begitu kuat perlahan mengendur. Dia menghembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala sekilas ke sandaran jok sambil terus fokus mengemudi.Aku yang juga mulai tenang akhirnya bisa sedikit menggerakkan badan, memutar tubuh dan menoleh ke jendela belakang. Dari kejauhan, mansion Handoko yang megah masih berdiri terlihat, sesekali ada kilatan kecil dan gaung samar yang terdengar seperti petasan.Aku beralih menatap Bara.“Bara, orang-orang asing yang membuat keributan di gerbang depan tadi, apa mereka anak buahmu?” tanyaku jerih, menelan ludah dengan susah payah.“Iya, mereka anak buah yang diasuh langsung oleh
Pikiran itu menyeruak di kepalaku tanpa permisi hingga membuat perutku mual.Apa Bara akhirnya kehabisan kesabaran dan tidak mau menunggu hingga akhirnya mengambil tindakan nekat? Bagaimana kalau dia benar-benar menerobos masuk karena takut aku gagal melarikan diri?Tembakan tadi berasal dari siapa? Bagaimana kalau Bara sampai tertembak?Napasku memburu, tanganku mencengkeram dada kuat-kuat. Tanpa ku sadari kakiku sudah bergerak sendiri menuju arah keributan. Aku takut Bara kenapa-kenapa, jadi mau apa pun resikonya, aku harus memeriksa sendiri.Namun tepat sebelum aku melangkah lebih jauh, sebuah tangan menyambar lenganku dari samping.Aku nyaris menjerit, tapi telapak tangan orang itu langsung menutup mulutku. Tubuhku ditarik jatuh ke balik rimbun semak bunga yang tinggi. Ranting-ranting menggores lenganku, tapi rasa takut dan cemas mengalahkan segala rasa sakit yang ku rasakan saat ini.Punggungku menabrak dada yang keras dan hangat saat terduduk di rerumputan, aku mendongak.“Ssst…
Wajah pelayan laki-laki itu seketika berubah panik setelah mendengar ucapanku, “A-apa?” tanyanya dengan bergetar penuh rasa khawatir. “Lalu bagaimana kondisi Rena sekarang?”Aku menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, tapi aku berharap dia baik-baik saja.”Pelayan itu tidak langsung menjawab, genggamannya di pergelangan tanganku justru semakin erat, ujung-ujung jarinya terasa dingin dan basah oleh keringat.“Nyonya, saya tidak bisa.” Suaranya terdengar begitu pelan bagai bisikan. “Kalau Nyonya lolos, apa yang akan terjadi pada Rena nanti? Tuan Seno pasti menganggap dia seorang pengkhianat.” Mata laki-laki itu melirik sekilas pada dua penjaga yang terus mencariku di antara banyak pelayan lainnya.“Rena adalah sahabat baik saya. Saya tidak mau mengorbankan dia demi siapa pun,” lanjut pelayan laki-laki itu dengan suara tercekat, jakunnya naik-turun.“Dengar, Bagas,” sahutku yang sempat membaca nametag di dadanya. “Melepaskanku adalah satu-satunya jalan untuk menolong Rena. Saat ini dia







