Chapter: 5. Lisbon, Pertemuan PertamaAku tiba di Lisbon dengan satu koper, dua lembar alamat yang aku print di bandara, dan kepala yang masih belum sepenuhnya percaya bahwa aku benar-benar di sini.‘Kau berani, Mia. Tetaplah seberani ini untuk dirimu sendiri!’Perjalanan ini tergolong nekat untukku yang tidak terbiasa pergi ke luar negeri sendirian dan hanya menguasai bahasa Inggris.Bagaimanapun itu, rasanya begitu lega sudah menginjakkan kaki di tempat impianku selama ini. Lisbon selalu jadi destinasi yang ingin ku kunjungi sejak dulu bahkan sebelum menikah dengan Seno.Aku pernah punya keinginan mengajak Seno ke sini dan menikmati waktu kami bersama.Namun kenyataannya justru selama tiga tahun pernikahan, tidak pernah ada kesempatan bagiku untuk pergi kemanapun. Aku bagai burung yang lupa caranya terbang.Setelah melewati beberapa jalan sempit yang menanjak khas Lisbon, aku akhirnya sampai di tempat tujuan.Sebuah shared house. Aku menemukan tempat ini dari iklan di aplikasi online.Alasanku memilih shared house seder
Terakhir Diperbarui: 2026-06-22
Chapter: 4. Rencana PelarianTidur di samping Seno terasa sangat mencekam hingga rasanya aku harus belajar tidur dengan satu mata terbuka. Tubuhku menolak bekerja sama meski sudah kuajak negosiasi berkali-kali.Setiap menutup mata dan mulai terlelap, kejadian di hari kematianku akan kembali terputar otomatis seperti kaset film rusak. Dan karenanya, aku akan terjaga semalaman.Lingkar hitam di bawah mataku juga semakin dalam setiap harinya. Wajahku pucat, bahkan kehilangan nafsu makan.“Mia, aku lihat akhir-akhir ini kamu beda banget. Kamu sakit?” tanya suamiku itu dengan tatapan khawatir.Aku menggeleng. “Aku cuma kurang tidur.”“Kalau gitu.…” Dia mendekat, berusaha menempelkan tubuh padaku. “Ayo bermain malam ini sampai capek agar kamu bisa tidur.”Seno mulai menyentuhku pelan, mendaratkan ciuman di pipi dan beberapa titik lainnya di wajahku.Saat ini dia bukan suami yang jahat. Lebih tepatnya belum. Saat ini dia hanya suami normal yang ingin bercumbu dengan istrinya dan karena itulah aku tidak punya alasan untu
Terakhir Diperbarui: 2026-06-22
Chapter: 3. Akhir Sekaligus AwalSetelah hari itu, Seno berubah menjadi sosok yang sepenuhnya berbeda.Banyak hal-hal kecil yang mulai dia lakukan. Ciuman saat bangun tidur, sarapan hangat sambil berbincang, kegiatan yang hampir tidak pernah kami lakukan karena dia selalu fokus pada ponselnya.“Tidur kamu nyenyak?” tanyanya suatu pagi sambil mengusap rambutku.“Lumayan, Mas.” Aku menjawab ragu, masih belum terbiasa dengan sikapnya yang tiba-tiba lembut itu.“Baguslah.” Dia tersenyum. “Yuk turun, kita sarapan dulu.”Baju baru dan hiasan rambut lucu juga selalu berdatangan setiap hari memenuhi isi lemari.“Ini buat kamu,” katanya sambil menyerahkan paper bag berhias pita. “Aku liat tadi pas nemenin Ibu belanja, kayaknya cocok sama kamu.”Aku bergantian menatap antara kotak itu dan Seno.“Mas nggak perlu repot-repot beliin aku barang-barang ini,” ucapku canggung.“Aku mau kok.” Dia duduk di sampingku. “Aku kan suami kamu, wajar lah kasih hadiah sesekali.”Seno nampak bangga sekali dengan hal kecil yang berikannya, sedan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-22
Chapter: 2. Ancaman Yang Menyiksa“Aku mau cerai, Mas Seno,” ulangku lebih pelan tapi lebih tegas.“Lagipula memang itu yang diinginkan keluargamu selama ini kan? Jadi kalian nggak perlu menunggu lebih lama karena aku yang minta duluan.”Aku menghela nafas agar suaraku tidak bergetar, sebelum melanjutkan kalimatku.“Kemarin aku dengar obrolan Mas sama ibu soal kamu yang harus cepat-cepat ceraikan aku karena sudah tiga tahun gagal. Bahkan ibumu sudah mencari penggantiku sejak jauh hari. Putri anak pak Wirawan kan, Mas?”Bisa kudengar dengus nafas tidak suka dari Seno.“Kamu nggak seharusnya menguping pembicaraan orang lain,” ucapnya tegas.“Oh ya? Lalu kalau aku nggak tahu, akan jadi gimana akhirnya? Kamu bakal jadikan dia istri kedua di tengah ketidakmampuan kamu itu? Harus berapa banyak wanita jadi korban cuma karena harga dirimu?” jawabku dengan suara sedikit meninggi.“Kamu mulai keterlaluan Mia.” Suaranya datar tapi bisa kurasakan amarah dalam mata Seno.“Aku nggak mau diduakan, Mas. Lebih baik kamu lepaskan aku d
Terakhir Diperbarui: 2026-06-22
Chapter: 1. Awal Mula BencanaHari ini, dengan satu ucapan saja aku akan menghancurkan suamiku dan ibu mertuaku yang angkuh. Aku akan membuat mereka bersujud padaku dengan seluruh penyesalan dan keputusasaan yang tersisa di hidup mereka.Semua bencana dalam pernikahanku berawal dari malam pertama kami.Bukan hal besar jika dilihat dari kacamata orang awam. Bahkan mungkin aku sendiri tidak menyadarinya saat itu.Aku menganggap hal tersebut bisa saja dialami setiap orang di malam pengantin mereka, entah karena gugup atau kelelahan. Tapi jujur, terlalu banyak membaca novel romantis yang sedikit vulgar membuatku mengharapkan sesuatu yang mungkin sedikit tidak realistis.Tapi malam kedua, sama.Seno, suamiku memulai dengan ciuman yang kering, sedikit tergesa-gesa, sedikit mencumbu kemudian saat aku mulai berusaha menikmati, dia berhenti.“Selamat malam, Mia.”Seno mengecup pucuk kepalaku, menarik selimutnya dan membalik badan meninggalkanku yang menatap langit-langit kamar dengan tubuh setengah telanjang.Kami baru men
Terakhir Diperbarui: 2026-06-22