ログインKalila yang tidak bisa menyelam tampak sedikit kelabakan, degup jantung yang semakin berantakan membuat suasana hatinya tidak karuan, ada apa dengan dirinya yang justru malah tampak kebingungan. "Tolong jangan macam-macam, atau aku akan berteriak dan mengadukan semuanya pada papi, dan dia akan menendangmu dari sini." Ancaman gadis itu menggelitik perasaan Erik, pria itu tertawa kecil. "Mengadukan apa, Kalila?" pria itu bertanya dengan nada menggoda, mengikis jarak tubuh mereka yang tersisa beberapa jengkal saja. "Aku masuk ke kamar ini bahkan atas perintah papimu sendiri," imbuh pria itu lagi. "Kau bohong!" tukas Kalila yang semakin merasakan dingin pada telapak tangannya, mungkin terlalu lama berendam membuatnya sedikit demam. "Aku akan tetap mengadukan pada papi tentang kelancanganmu memeriksa isi kamar ini," ancam Kalila lagi. Erik tampak menyeringai, yang justru membuat ketampanan di wajahnya itu bertambah berkali lipat dari sebelumnya. Dan Kalila teramat benci untuk mengakuin
"Berani-beraninya kau melakukan ini padaku." Saking kesalnya, Kalila memukul air di dalam bathtub, dan malah terciprat pada wajahnya, gadis itu semakin murka.Erik berjengit mundur saat air sabun itu nyaris mengenai wajahnya, pria itu beranjak berdiri. "Aku tunggu di luar, atau mau sekalian aku mandikan?" goda pria itu lagi. "Dasar Brengsek!" geram Kalila, tatapan tajam penuh dendam ia hujamkan pada pria di hadapannya. Erik terkekeh pelan, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan Sorot matanya tidak pernah lepas dari tubuh Kalila. Tatapan teduh pria itu membuat Kalila menyadari sesuatu, kemudian menunduk pada baju putih yang ia kenakan, terlihat basah dan transparan. "Sialaaan!" teriaknya dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada, dalaman warna hitam tampak tercetak jelas di sana. "Kau benar-benar pengawal yang kurang ajar, aku akan mengadukan pada papi, agar segera memecatmu sekarang juga," ancam gadis itu. Erik terkekeh lagi. "Untuk apa kau tutupi, Kalila, aku
"Bagaimana dengan kamarnya, kamu suka?" tanya pria itu lagi. Erik mengangguk. "Terima kasih, Paman," ucapnya yang kembali membuat Kalingga menepuk pundaknya lagi, kemudian pamit undur diri dan beranjak pergi. Roy masih berada satu ruangan dengan Erik, pria itu seperti ingin mengutarakan sesuatu, dan Erik menatapnya dengan ekspresi menunggu. "Kau senang sudah sejauh ini?" Roy bertanya ambigu, dan Erik pura-pura tidak mengerti dengan maksud pria di hadapannya itu. "Apa maksudmu, Roy?" Erik bertanya, tanpa rasa kebingungan yang seharusnya terpancar dari wajahnya, karena justru raut menjengkelkan yang terlihat begitu kentara. Roy melangkahkan kakinya semakin dalam, sebagai pria yang paling dekat dengan Kalila selama tiga tahun ini, dia merasa derajatnya lebih tinggi dibanding pemuda itu. "Kau mengharapkan Kalilamu kembali, Erik?" Roy tertawa mendengus, "itu tidak akan pernah terjadi," imbuh pria itu lagi. Erik terdiam, menoleh ke arah lain saat tatapan Roy tampak mengintimidasi, dia
Erik tidak menyangka dirinya akan kena tipu juga, dia mungkin sering mendengar tentang kejahilan gadis itu, tapi berhadapan secara langsung dengannya tentu saja dia tidak pernah menduga, bahwa gadis yang dulu amat penurut bisa bersikap begitu tega.Dulu Kalila bahkan akan menangis jika melihat orang lain dalam kesulitan, dan sosoknya yang sekarang justru malah menjadi pusat dari kesulitan itu sendiri.Erik menoleh sekeliling, mengamati ruangan pengap itu dan mencari jendela untuk dirinya keluar, namun suara anak kunci diputar membuat pria itu menoleh ke arah pintu, dan kemudian membuka benda itu. Seorang wanita berseragam pelayan sedikit terkejut melihat sosoknya, dan kemudian menunduk. "Maaf, Tuan. Saya mendengar suara ketukan dari dalam jadi saya membukanya," ucap wanita itu. Erik justru berterima kasih, jika tidak ada wanita itu entah kapan dirinya berada di ruangan ini. "Apa Kalila yang menyuruhmu membukanya?" pria itu bertanya. Pelayan yang Erik tahu bernama Lusi itu kemudia
Kalingga beranjak berdiri. "Aku ingin bicara denganmu, Roy," ucapnya yang membuat Roy menoleh dan ikut berdiri, keduanya melangkah menuju ruangan pribadi pria itu. "Sebenarnya ini tugas ayahmu, hanya saja sulit sekali aku menemuinya." Samar-samar Erik masih dapat menangkap obrolan keduanya, setelah pandangannya mengikuti arah langkah kedua pria itu, dia kemudian menoleh pada Kalila yang ternyata tengah menatap wajahnya. Sedetik dua detik waktu terlewati, namun Erik tampak diam saja, dan Kalila lebih dulu memutus pandangan mereka dengan beranjak berdiri dari duduknya. "Biar kutunjukkan kamarmu," ucap gadis itu. Perlahan Erik pun ikut berdiri, mengikuti gadis yang berjalan pelan di hadapannya, sesekali rok a-lina selutut yang ia kenakan ikut bergerak seiring langkah yang ia ayunkan. Jujur, Erik sangat-sangat merindukan gadis dibhadapannya, jika boleh, ia ingin memeluknya dengan erat dan menyalurkan rasa itu, namun sekali lagi yang wajib diingat oleh dirinya, bahwa kini di mata Kalil
"Pengawal baru?" Kalila mengulang kalimat sang papa, saat pria paruh baya itu mengenalkan tamunya yang mengaku bernama Erik itu sebagai bodyguard baru untuk dirinya. "Jeff kemana? Apa dia sudah menyerah sebelum berperang?" gadis itu menekankan kata terakhir dan melirikkan ekor matanya pada Erik, memberitahu pria tampan itu bahwa menjadi pengawal untuknya tidaklah mudah."Kalila," ucap sang papa mengingatkan putrinya, sesaat pria paruh baya itu ragu apakah Erik bisa bertahan. Karena sejauh ini, banyak sekali anak buahnya yang kewalahan. Dia tidak yakin Erik bisa menaklukkan anak gadisnya.Roy yang diam-diam menyimak obrolan mereka tampak terkekeh pelan, sedikit mencondongkan duduknya. "Kalila sudah tidak butuh pengawal, Paman. Dia sudah dewasa." Pembelaan itu membuat Kalila yang duduk di sebelahnya menoleh simpati, mengacungkan ibu jarinya pada pria itu."Nah benar yang Kak Roy katakan, aku sudah tidak butuh pengawal lagi, Papi. Aku bisa menjaga diriku sendiri," imbuh gadis itu, meyaki







