Share

Hot Deal (Perjanjian Menarik dengan Mr. Kaku)
Hot Deal (Perjanjian Menarik dengan Mr. Kaku)
Penulis: Rara Arrazaq

Debat

Seorang gadis berpenampilan menor mencoba tersenyum pada laki-laki yang duduk di hadapannya. Mata cemerlangnya menatap ramah, meski laki-laki itu tampak tak bersahabat.

"Hobi Anda apa?" tanyanya.

Laki-laki bersetelan jas itu menaikkan sebelah alis, menunjukkan bahwa pertanyaan itu aneh menurutnya.

Si gadis tak peduli, ini kesempatannya untuk mengenal dan memperkenalkan dirinya. "Kalau saya sukanya ...."

"Aku tidak menikah untuk mengurus hobi seorang wanita!" potong laki-laki itu dingin.

Lunala, gadis bermata cemerlang itu tersentak mendengarnya. Alisnya yang rapi tampak bertaut.

"Maksudnya?"

"Aku menikah hanya untuk mendapatkan hak asuh keponakanku."

Nala menelan saliva mendengarnya. Meski hanya sebuah perjodohan, ia sempat berharap pernikahan dadakannya ini nanti akan baik-baik saja. Tapi laki-laki itu jelas hanya ingin memanfaatkannya.

"Dengan syarat, kau tak boleh mengganggu waktuku," sambung laki-laki itu.

Arshaka Gibran, laki-laki berusia 32 tahun yang merupakan seorang pengusaha muda berwajah tampan dengan tubuh atletis. Workaholic, kaku, dan berhati dingin.

Meski ribuan gadis cantik berusaha memikat hatinya, tak akan ada yang mampu mengalihkan fokusnya dari pekerjaan.

Namun kali ini ia terpaksa menerima perjodohan yang diatur neneknya dengan gadis berpenampilan menor yang katanya masih berusia 18 tahun di hadapannya itu.

Karena untuk mendapatkan hak asuh atas keponakannya, tentu ia harus sudah menikah.

Nala menarik napas dalam-dalam. Menyesal ia telah mau menuruti ibunya untuk dijodohkan dan didandani seperti itu.

Dengan pasti ia bangkit dari sofa mewah milik Arshaka.

"Kalo gitu saya menolak perjodohan ini," tegasnya.

Gadis itu berbalik dan meninggalkan ruang duduk yang berada di bagian tengah rumah megah sang konglomerat. Melangkah yakin di atas lantai mahal yang mengkilap dengan sepatu hak tingginya yang murahan.

Meski Nala mengakui dirinya beruntung bisa dijodohkan dengan seorang pria idaman setiap wanita seperti Arshaka Gibran, tapi jika hanya untuk dimanfaatkan, Nala tak mau. Konglomerat itu pasti akan membuangnya setelah mencapai tujuan.

"Lunala!" Seorang wanita tiba-tiba memanggil, saat si gadis melewati ruang utama. "Kamu mau kemana?"

Gadis yang biasa menyebut dirinya Nala itu menoleh. "Nala mau pulang, Mi."

Wanita paruh baya yang berpenampilan sama menornya dengan Nala tergopoh-gopoh menghampiri.

"Kamu udah ngobrol sama Den Arshaka?"

"Udah."

"Gimana hasilnya? Kapan kalian akan menikah?" Laksmi, ibunya Nala, begitu antusias menanti hasil perundingan putrinya dengan putra seorang konglomerat.

"Nala menolak perjodohan ini, Mami!"

"Apa?!" Wajah antusias Laksmi langsung berubah pias.

"Iya, Nala nggak mau menikah dengan om-om songong itu!"

"Nala!" tegur Laksmi dengan mata melotot. Lalu melirik tak enak hati pada seorang wanita tua yang duduk di salah satu sofa di belakangnya.

Wanita tua yang tak lain adalah neneknya Arshaka itu tertawa lembut.

"Tidak apa. Wajar anak-anak muda ini terkejut, Laksmi. Jangan dimarahi. Biarkan putrimu berpikir dulu."

Laksmi langsung meminta maaf atas kelancangan Nala.

Dan akhirnya dengan wajah masam wanita itu terpaksa pulang sambil menyeret tangan putrinya.

Menghentikan sebuah mikrolet dan naik ke dalamnya tanpa berkata apa-apa.

"Mami," panggil Nala pelan. "Masa mami nggak curiga sih, keluarga konglomerat kayak mereka tiba-tiba mau berhubungan dengan orang kayak kita?"

Wanita itu tak menjawabnya. Mengacuhkan putrinya dengan raut kecewa.

"Mi, ternyata cucunya nenek itu setuju nikah sama Nala cuma buat status aja. Dia nyari istri biar bisa mendapatkan hak asuh keponakannya," lapor Nala, berharap ibunya akan mentolelir penolakannya.

Tapi nyatanya, ibunya masih tak mau menanggapi hingga mereka tiba di tempat tujuan dan turun kembali dari mikrolet.

"Mami, jangan marah, dong?" rayu Nala lagi.

Kakinya berusaha mengejar langkah sang ibu. Berjalan kesusahan dengan sepatu hak tinggi milik ibunya. Menyusuri jalanan setapak menuju pemukiman kumuh tempat tinggal mereka.

Laksmi akhirnya berbalik menghadap putrinya dengan rahang yang mengeras.

"Gimana Mami nggak marah?! Oma Erni menjodohkan cucunya denganmu karena jasa mendiang ayahmu terhadap keluarganya. Apapun alasan Den Arshaka menerima perjodohan ini, itu bukan urusan kita. Orang miskin seperti kita nggak punya hak untuk milih-milih. Kamu menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Nala. Kamu pikir bakalan ada laki kaya lain yang mau melamar mu?"

Laksmi kembali berbalik dan meninggalkan putrinya.

"Mi, kita nggak butuh laki-laki kaya untuk menyambung hidup. Nala bisa narik odong-odong lebih jauh lagi kalo Mami izinkan," kejar Nala.

"Nggak butuh kamu bilang?" Wajah Laksmi semakin memerah. "Mami mencari uang untuk kita makan selama ini dengan cara memijat badan laki-laki kaya berhidung belang! Apa kamu nggak mikir?!"

Nala terdiam. Menatap kerikil yang tertendang ujung sepatu dengan hati perih. Kerikil itu menggelinding ke samping dan kembali tertendang sepatu ibunya. Seperti kerikil itulah hidup mereka. Ditendang kesana kemari oleh dunia yang kejam.

Tiba di sebuah rumah susun kumuh, Nala kembali hanya bisa mengikuti ibunya naik ke lantai empat melalui tangga, meski tumitnya terasa perih karena tergesek tumit sepatu.

Hingga tiba di hadapan sebuah pintu. Matanya seketika nanar melihat barang-barang mereka telah tertumpuk di luar.

"Lihatlah, Nala. Sekarang apa kamu masih berpikir kita nggak butuh laki-laki kaya? Atau kamu mau Mami memberikan servis lebih, untuk pelanggan Mami yang mata keranjang biar kita bisa mendapatkan tempat tinggal lagi?" lirih Laksmi.

"Nggak!" sambut Nala dengan wajah pucat.

Selama ini ibunya telah dikenal sebagai tukang pijat plus-plus. Ia tak ingin satu-satunya orang ia miliki itu terpaksa semakin terperosok ke dalam dunia yang diharamkan Allah.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status