Mag-log in18+ Lunala adalah putri dari seorang tukang pijat plus-plus. Tiba-tiba dijodohkan dengan putra dari seorang konglomerat, Arshaka Gibran, pengusaha muda workaholic dan berhati dingin. "Pernikahan ini hanya untuk status saja bagiku. Tidak boleh ada cinta di antara kita, dan setelah kesepakatan kita selesai, kau bukan lagi istriku," tegas Arshaka tanpa perasaan. Lunala yang sempat berharap pernikahannya akan baik-baik saja meski harus menikah dengan orang yang baru dikenalnya, hanya bisa menerima dan mengikuti jalan takdirnya. "Saya juga akan berterus terang, kalau saya mau menikah dengan Anda hanya demi uang," balasnya. Namun takdir berkata lain. Di tengah kesepakatan itu cinta hadir di antara mereka. Lantas kesepakatan seperti apa sebenarnya yang telah mereka buat? Bagaimana pula saat Alex Gibran, adiknya Arshaka, hadir menawarkan cinta yang hangat untuk Nala? Dan saat Serena Williams, cinta pertama Arshaka yang dulunya bertepuk sebelah tangan tiba-tiba kembali mengharapkan cintanya? Akankah kesepakatan mereka tetap berlaku?
view moreELOWEN WHITLOCK POV
"The magic paper shows you have a wolf baby growing inside you," Osric Fenwick says. He passes the white sheet across the heavy stone table.
"That is impossible," I say. My hands shake hard. I look down at my big belly. I am a plus-size human girl in a world of tall, lean wolves. "We only did it one single time."
"The pack magic does not lie, Elowen," Osric says. He sighs and shakes his head. "You are pregnant with the Alpha's child."
"What am I going to do now?" I ask. My voice sounds very small.
"You must tell Alpha Caelan Thorncroft," Osric says. "He is the father."
"No, he wants to divorce me," I say. "He wants me gone from the Thorncroft Alpha Dominion. If I tell him, he will think I am a bad human. He will say I am using this baby to keep his power."
"He has a right to know," Osric says.
"I cannot tell him," I say.
I grab the paper and stuff it deep inside my bag. I walk out of the Silvermoon Grand Healing Temple. My heart goes fast. I am so scared.
Outside the temple, a huge black truck waits by the stone steps. The window rolls down a little bit. Caelan sits in the driver seat. He looks very handsome and very cold. He is a great Alpha wolf, and everyone looks at him. I am used to the looks. People always wonder why a big human girl like me is next to him.
I slide into the front seat. The truck smells like pine trees and rain.
"Is the healing pact signed?" Caelan asks. He does not open his eyes. His face looks like ice.
"Yes," I say. "Osric says hello to you."
"Good," Caelan says. He does not look at the papers. "You will manage the trade with the Silvermoon Healing Council from now on."
"I will do it," I say.
"Do not make a mistake," he says. He starts the truck engine. It makes a loud roar.
I just nod my head. I stay very quiet. I always obey his orders. That is my only job in this pack.
The truck moves fast toward the Alpha Dominion District. The sun goes down. The sky turns black. We are not going back to the pack lodge. I feel confused, but I do not ask questions. I never ask him anything.
I look at my bag. The baby paper is inside. My stomach feels funny. I want to tell him, but the words stick in my throat. I look at his face from the side. He looks straight ahead with mean, sharp eyes.
"Caelan," I say.
"Speak," he says. His voice is short and loud.
My hands get very sweaty. I squeeze my bag tight. I take a deep breath.
"I am contracted to tell you," I say. "I am..."
"Stop talking," he says.
His phone makes a loud ringing sound. He grabs it fast. He looks at the screen, and his face suddenly changes. The ice melts.
"Isolde, what is wrong?" Caelan asks. His voice is so soft and gentle. He never speaks to me like that. He only loves Isolde Ashbourne.
"Caelan, I need you," Isolde says through the phone. She sounds like she is crying. "The rogue wolves are near the border. I am scared."
"Do not move," Caelan says. He looks worried. "I am coming right now to get you. Stay inside the pack house."
He slams his foot on the brake. The huge truck stops hard on the road. The tires make a loud screaming sound. Caelan turns his head and looks at me with angry eyes.
"Get out," he says.
"We are in the middle of the road," I say.
"I said get out now," he says.
"Okay," I say.
I do not fight him. He has kicked me out of his truck many times before. I open the door and step onto the dark dirt road. I close the door, and he drives away fast. Dirt flies up into my face. He leaves me alone in the dark forest.
I start walking toward the royal alpha quarter. My feet hurt. I think about how we got married. Two years ago, his grandpa Alaric Thorncroft was very sick. Alaric loved my family from the Whitlock Moonfang Pack. He forced Caelan to marry me before he died. Caelan hated it, but he obeyed his grandpa. For two years, Caelan ignored me. Now his grandpa is dead. Caelan wants a divorce. He wants to go back to Isolde.
It is very late when I reach the big pack house. The windows are dark. The whole place looks like a scary ghost house. I am a big girl, but tonight I do not want any food. My stomach hurts from sadness. I go straight to my bedroom and wash my face. I get into bed and close my eyes.
An hour passes. Then, I hear a loud noise outside. It is the sound of a truck engine turning off in the courtyard.
"Is he back?" I whisper to the empty room.
He was supposed to stay with Isolde tonight. I get out of bed and walk to the window. The door downstairs slams open. Heavy wolf footsteps come up the stairs straight toward my room.
Nala dan Alex melangkah keluar, tepat di saat Arshaka masuk ke dalam. Mata pria itu langsung menatap tajam. "Mas kenapa?" risau Alex begitu melihat wajah lebam Arshaka. "Tidak kenapa-napa," jawabnya dingin. "Kalian mau kemana?""Mau mesan cake pengantin buat resepsi nanti," jawab Alex. Netra hitam pekat Arshaka beralih pada Nala. "Kamu tidak boleh pergi!" tegasnya. "Aku perlu bantuanmu untuk mengobati ku."Nala ingin membantah, namun ia tak mungkin pergi begitu saja disaat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu pulang dalam keadaan babak belur. Menoleh pada Alex, gadis itu tersenyum. "Kita pergi besok aja, ya."Alex mengangguk. Ia juga ingin tahu kenapa Arshaka tampak seperti orang yang baru saja berkelahi. Arshaka melangkah pergi ke kamarnya, diikuti Nala di belakang dengan wajah pasrah"Besok pergi denganku," ujar laki-laki itu begitu tiba di dalam kamar."Nala tak menjawab. Ia meletakkan tasnya di atas nakas dan keluar lagi dari kamar. Arshaka menatap kepergian gadis itu,
Tok tok. Suara ketukan terdengar di pintu. Arshaka berbalik, menatap daun pintu dengan penuh harapan. Nala kembali? Kakinya yang panjang melangkah lebar kesana. Ia harus memperbaiki semuanya. Klik. Pintu terbuka, namun yang berdiri di baliknya ternyata adalah Ratih. "Ma?" lirihnya kecewa."Ya. Mama mau kasih baju yang tidak jadi kamu coba tadi. Tapi Mama yakin, ukurannya pas. Cepat bersiap, kita berangkat untuk lamaran sebentar lagi," titah Ratih. Arshaka menggeleng. "Tidak, Ma. Aku tidak bisa. Aku sudah menikah," tolaknya. Mata Ratih langsung melotot. "Apa Mama tidak salah dengar? Arsha, pernikahan itu adalah keinginan nenekmu! Mama tau kamu tidak menginginkannya. Mama juga tau kamu menyukai Serena.""Iya, tapi aku harus bertanggung jawab atas perempuan yang aku nikahi, Ma. Ini juga tidak adil untuk Serena. Dia harus tau kalau aku sudah menikah.""Pernikahan itu hanya di atas kertas. Mama akan mengurus perceraian dan menghilangkan jejaknya. Kamu hanya perlu bersiap untuk per
Nala menatap lama ke arah pintu masuk butik, menunggu kedatangan sosok yang akan menjadi pengantin prianya."Gimana, Mami. Bagus tidak?" Alex keluar dari ruang ganti dengan jas putih yang seharusnya dicoba Arshaka. Laksmi menatap pemuda yang sangat baik padanya itu kagum. "Nak Alex gagah sekali," pujinya. "Mami sampai pangling."Alex menyengir. "Berarti Alex udah pantas dong, jadi pengantin baru?"Laksmi tersenyum. "Pantas sih pantas saja, tapi jangan dulu.""Kenapa?" "Kalau Mami punya anak laki-laki, Mami pinginnya anak laki-laki Mami mapan dan dewasa dulu baru menikah."Nala hanya mendengar sekilas percakapan Alex dengan ibunya. Ia masih menunggu kedatangan Arshaka dengan hati kesal. Tega sekali pria itu mencampakkan dirinya setelah mereguk manisnya. Kalau saja semuanya berjalan sesuai perjanjian, yakni ia tak boleh disentuh, pasti ia tak akan mengharap apa-apa. "Terus kenapa Mami izinkan Nala nikah muda?" tanya Alex. "Karena Nala perempuan. Mami tidak bisa membiarkannya bekerj
"Baru semalam aku melihat orang meninggalkan pesta lajangnya. Apa kau sudah meminta maaf pada ibu mertua?" Gama tiba-tiba muncul dan menyunggingkan senyuman lebar."Minta maaf? Aku bahkan tak tau apa kesalahanku, dan aku memang tak melakukan kesalahan apapun!"Gama mengerutkan keningnya. "Kau meminta ibu mertuamu untuk memijat para tamu di pestamu. Ya walaupun cuma nikah kontrak, tapi dia tetap seorang ibu mertua. Menurutku sikapmu keterlaluan.""Apa?!" Arshaka benar-benar terkejut. "Aku tak pernah memintanya datang, apalagi untuk memijat!" "Tapi dia mengatakan kamu yang memintanya.""Kenapa bisa begitu?" Gama mengangkat kedua bahunya. Namun kemudian laki-laki berambut cepak itu teringat sesuatu. "Ah, iya. Aku melihat Leoni yang mengantarkannya.""Leoni?" Arshaka akhirnya menyadari sesuatu, ini pasti rencana mamanya. Ia bangkit menyambar kunci mobil dari atas meja. "Handle pekerjaan hari ini kalau aku belum kembali sampai sore nanti," titahnya. Lalu bergegas keluar dan berangkat me
Nala tersentak kaget, ketika Arshaka tiba-tiba menaiki ranjang tepat di atasnya. Apalagi melihat wajah laki-laki itu berubah merah dan semakin dingin dari biasanya. "Om? Mau ngapain?""Mau tidur. Ini ranjangku." "I-iya, tapi biar Nala turun dulu. Tadi Nala cuma bercanda," panik Nala."Tidak bisa l
Setelah kejadian di roof top Rumah Sakit, ibu tiri Arsenio di tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak sambungnya itu selama bertahun-tahun. Dan otomatis, hak asuh Arsenio kini jatuh ke tangan keluarga Arshaka. "Oma berterimakasih padamu, Lunala. Berkat bantuanmu, Arsen
Nala membuka matanya perlahan, dan wajah imut seorang anak kecil yang pertama kali terlihat di matanya. "Kak? Udah bangun?" Arsenio menatapnya khawatir."Senio? Kamu nggak apa-apa?" gadis itu langsung teringat apa yang telah terjadi. Arsenio menggelengkan kepalanya. "Nggak, kakak kan udah selama
Ruangan Arsenio telah kosong! Anak kecil itu tak ada lagi di ranjangnya. Begitu juga dengan si ibu sambung. Wajah Nala seketika pucat pasi. Kemana Arsenio? Ia berbalik keluar kembali. Memeriksa ke kanan dan kiri lorong. Namun tak ada yang terlihat menggendong Arsenio. Cepat sekali menghilangnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu