LOGIN18+ Lunala adalah putri dari seorang tukang pijat plus-plus. Tiba-tiba dijodohkan dengan putra dari seorang konglomerat, Arshaka Gibran, pengusaha muda workaholic dan berhati dingin. "Pernikahan ini hanya untuk status saja bagiku. Tidak boleh ada cinta di antara kita, dan setelah kesepakatan kita selesai, kau bukan lagi istriku," tegas Arshaka tanpa perasaan. Lunala yang sempat berharap pernikahannya akan baik-baik saja meski harus menikah dengan orang yang baru dikenalnya, hanya bisa menerima dan mengikuti jalan takdirnya. "Saya juga akan berterus terang, kalau saya mau menikah dengan Anda hanya demi uang," balasnya. Namun takdir berkata lain. Di tengah kesepakatan itu cinta hadir di antara mereka. Lantas kesepakatan seperti apa sebenarnya yang telah mereka buat? Bagaimana pula saat Alex Gibran, adiknya Arshaka, hadir menawarkan cinta yang hangat untuk Nala? Dan saat Serena Williams, cinta pertama Arshaka yang dulunya bertepuk sebelah tangan tiba-tiba kembali mengharapkan cintanya? Akankah kesepakatan mereka tetap berlaku?
View More"Semoga Mbak tetap tabah ya, Mbak. Nur sangat sedih, Mbak. Nur baru saja menikah belum satu bulan, tapi Mbak malah bercerai dari Mas Aryo. Benar-benar nyesek hati Nur, Mbak."
Kuseka bulir bening yang sudah berjatuhan sejak setengah jam yang lalu. Mendadak dada sesak dan ikut iba karena kakak kandungku Mbak Widya baru saja diceraikan oleh suaminya, Mas Aryo. Tak ada penjelasan detail dari kakak ipar, dia hanya langsung pergi dengan membawa tas hitam berukuran agak besar. Yang sakunya sudah butut sebelah.
"Hiks, Mbak akan menjanda, Nur, Mbak akan menjanda. Hiks." Lagi isakan tangis dan ingus ibaratnya naik turun dari hidung Mbak Widya. Kakak kandungku satu-satunya, dan kami memang hanya hidup berdua setelah orang tua meninggal. Aku dan Mbak Widya masih tinggal satu atap. Karena aku baru saja menikah, Bang Panjul sang suami belum bisa membelikanku hunian. Tapi tidak apa-apa, semoga kedepannya usaha Bang Panjul makin melejit dan legit seperti lapis.
"Rujuk, Mbak, gimana? Kan belum talak tiga. Baru keluar dari mulut saja." Aku berusaha menyarankan walaupun tak tahu badai apa yang sedang mereka hadapi.
"Gak bisa, Nur, rujuk gimana? Mas Aryo sudah pergi!" tangis Mbak Widya lagi. Suaranya itu menimbulkan sayatan tajam di hati yang melekat dengan empedu ini.
Mas Aryo orang Jawa Tengah. Dia bekerja di sana sebagai tukang las gergaji. Aku tidak begitu faham, tapi Mas Aryo sudah menikah dengan Mbak Widya sejak dua tahun yang lalu. Sayang, mereka belum diberikan keturunan oleh Sang Maha Agung.
Selama ini rumah tangga mereka Kupikir baik-baik saja. Mas Aryo pulang sebulan bahkan dua bulan sekali, dan nafkah lahir ia kirimkan lewat no rekening. Mbak Widya punya rekening, sedangkan aku belum punya. Jadi, dia gampang soal transfer-transferan.
Entah mengapa, kali ini Mas Aryo pulang, namun langsung mengucap kata talak. Aku saja tidak tahu ada angin apa, tahu-tahu sudah ambruk bak diterpa puting beliung.
Namaku Nurul Wiranti. Putri bungsu pasangan almarhum orang tua yang nyawanyanya telah terenggut di saat perjalanan menuju tempat ziarah. Innalilahi, Yang Maha Agung menginginkan mereka lebih dini. Sungguh bagiku seperti mimpi. Tapi seiring berjalannya waktu, aku dan Mbak Widya harus menerimanya dengan ikhlas. Tepat hari kemarin, kepergian Ibu dan Bapak sudah genap lima tahun.
Usiaku saat ini 26 tahun. Dipersunting Bang Panjul yang usianya 28 tahun, karena saat itu dia terpincut olehku saat aku sering jualan rempeyek keliling komplek. Dia orang sini, masih satu kecamatan, namun bekerja di luar kota ikut proyek bangunan yang Alhamdulillah dia sudah jadi pemborong kecil-kecilan. Sebenarnya bukan pemborong, hanya saja dia sekarang sedikit demi sedikit telah bekerjasama dengan pabrik kayu di daerah kami untuk suplai barang. Jadi, Bang Panjul sekarang ada penghasilan sampingan sebagai penyedia barang. Kuharap nanti dia bisa jadi pemborong yang sukses.
"Hiks, Nur, Mbak mau ke kamar dulu. Mbak mau coba telepon Mas Aryo. Mbak harap dia bisa tarik kata talaknya tadi." Tangisan Mbak Widya belum berhenti. Aku menanyakan asal mula mereka bertengkar pun, belum berani. Takutnya Mbak Widya depresi. Karena setahuku, dia begitu mencintai Mas Aryo. Sampai-sampai Mbak Widya selalu berdandan super seksi saat Mas Aryo pulang. Ah, entahlah, semoga nanti aku bisa tahu alasan mereka jadi begini. Bagai petir menyambar saja diterimanya di hatiku.
Lekas kupersilahkan Mbak Widya untuk ke kamarnya yang berseberangan dengan kamarku dengan Bang Panjul. Untungnya pintu kamar sudah dibuat pintu, tidak gorden Seperti dulu. Jadi, kalau ada kegiatan wajib malam dengan para suami, kami bisa lebih rapi.
Mas Panjul pergi pagi pulang larut. Kadang, bila harus lembur, dia pulang tiga hari sekali. Selebihnya belum tahu, karena kami baru menikah selama tiga minggu. Tragedi talak ini belum diketahui oleh Mas Panjul, mungkin nanti saja aku ceritakan setelah dia pulang. Karena nanti sore, dia akan segera tiba. Sudah lembur kemarin, dan tidak pulang. Tadi hape layar sentuh milikku namun bukan apel tergigit memberitahukan kalau sang pujaan akan pulang hari ini. Ya, hari ini hari Sabtu, kalau hari Minggu, biasanya memang libur.
Aku diberi nafkah seminggu tiga ratus ribu. Untuk beli beras dan juga kebutuhan sehari-hari. Karena belum ada anak, aku rasa masih cukup. Apalagi makan kami tidak begitu mewah. Sesekali ingin makan daging sapi, paling akan diberi uang lebih oleh Bang Panjul. Aku juga tahu seberapa gajinya sebagai tukang. Aku faham.
Akhirnya kepulangan suami pun sudah pada waktunya. Aku menyambut dia di teras, karena detik-detik kepulangan sudah kuketahui. Motor matic pabrikan Honda itu pun kini sudah terparkir di halaman sempit rumah ini.
"Assalamualaikum, Dek," sapanya manis sembari melepas helm. Dia memanggilku dengan sebutan adik kalau di umum seperti ini, tapi kalau di kamar, dia menyebutku dengan sebutan sayang. Romantis, tapi kalau terdengar orang jadi malu. Makanya kami sepakat, panggil saja abang dan adek saat di luar.
Kulandaskan kecupan dari bibir bergincu merah dari sebuah liptint bau chery yang harganya hanya 20 ribuan, tapi nyaman dipakai. Kalau mahal-mahal seperti merek-merek yang dipakai Mbak Widya, aku belum mampu beli. Maksudnya bukan belum mampu, tapi belum sampai hati. Kebeli lipstik 80 ribu, tapi makan pasti tiga hari hanya dengan kepala ikan asin. Tidak bisa begitu. Andai diberi uang lebih, baru akan membelinya.
"Ayok, Bang, kita makan. Eh, tapi Abang mandi dulu, ya. Nanti Nur siapin makannya." Aku berkata lagi.
"Iya, iya. Mas Aryo di mana, kok sepi? Bukannya hari ini pulang, ya?" tanya Bang Panjul sembari membuka kaos kaki. Lalu tasnya kuraih, sedangkan sepatu sudah dilepas sejak tadi. Bukan gaya-gayaan setelan sepatu pantofel, tapi sepatu sneaker dan kaos kaki ini supaya tidak kedinginan saat berkendara membelah jalan raya.
Aku sempat tersendat saat pertanyaan itu terlontar. Ada irisan luka yang kurasa akan Mbak Widya, namun belum bisa aku jelaskan sekarang. "Nanti aku jawab ya, Bang. Ayok Abang mandi dulu."
Mungkin Bang Panjul heran dengan ekspresi wajahku. "Loh, kok jadi asem?" protesnya.
"Gak apa-apa, Bang, ini sedikit sakit perut. Tadi makan seblak," jawabku konyol. Memang tadi makan seblak Teh Ayu, tapi tidak sakit perut. Hihi.
Hingga pada akhirnya sampailah di momen penjelasan. Bang Panjul sempat heran, kenapa kami makan hanya berdua. Dan kini akan aku jelaskan.
Aku juga tak berani membangunkan Mbak Widya yang tadi sedang lelap. Dia pasti masih sedih, jadi tak tega membuyarkan istirahatnya.
"Bang, jadi … jadi Mas Aryo tadi pulang, tapi … tapi dia langsung jatuhkan talak ke Mbak Widya. Dan Mas Aryo sudah bawa pakaiannya semua."
Bang Panjul yang baru saja meneguk sedikit teh hangat pun kini tersentak kaget. "Apa? Talak?" Bola matanya seperti akan loncat memakan bola mataku.
"Heem." Kujawab dengan bibir merapat diiringi anggukkan kepala.
"Astaga."
"Iya, Bang. Kasihan Mbak Widya. Nur juga gak tahu, apa alasan Mas Aryo sampai langsung berkata talak. Bingung," lanjutku dengan tatapan beralih ke dasar lantai bertehel. Bukan keramik, karena masih peninggalan Ibu dan Bapak dulu.
"Hemh?" Lagi Bang Panjul kaget. Tapi, bola matanya kini gerak-gerak seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Ada rona wajah sedikit memerah juga di pipinya seperti dibubuhi blush on kalau bahasa kerennya.
"Kok merah pipi Abang, Bang?"
Setelah jatuh pertanyaan barusan, sontak Bang Panjul tergesa-gesa meraih gagang gelas tinggi hadiah dari sebuah minuman suplemen penyegar tubuh berwarna ungu yang ada gambar kukunya. Singkat Bang Panjul menghabiskan teh hangat tersebut.
Aku pun heran. Tapi berpikir kalau dia pasti kehausan. Menyusuri jalan, dari Bandung kota ke sini itu lama.
"Abang cari angin dulu ya, Dek. Dan lagi butuh pekerja juga nih, Abang, mau cari orang," pamitnya setelah makan.
"Oh, iya, siap, Bang." Aku ikut beranjak.
"Oiya, nanti pakai parfum yang Abang belikan tadi, ya. Ini 'kan malam Minggu. Hihi," pesannya sebelum pergi. Aku pun hanya tersenyum malu. Tadi dia membelikanku parfum kecil nan wanginya semerbak, dan khusus untuk bertempur di ranjang. Ih, aku jadi malu.
"Ehem." Aku pun manggut, karena dia belum pergi dan masih menatap parasku. Akhirnya dia pun kini sudah meninggalkan meja makan jadul ini untuk segera mencari orang yang akan ikut bekerja dengannya.
Soal parfum, katanya itu memang khusus dan ia beli saat lewat di beranda tiktok. Hadeuh, dia memang sering buka-buka aplikasi seperti itu. Sedangkan ku tidak punya, karena memori sudah full. Bagaimana tidak, hanya RAM 1 GB saja.
Semakin hari, rasa cintaku semakin berlebih pada Bang Panjul. Dia itu tinggi, meski hitam tapi manis. Ya, manis-manis gurih. Apalagi membayangkan malam bercandu. Aw, aku suka geli sendiri.
***
Nala dan Alex melangkah keluar, tepat di saat Arshaka masuk ke dalam. Mata pria itu langsung menatap tajam. "Mas kenapa?" risau Alex begitu melihat wajah lebam Arshaka. "Tidak kenapa-napa," jawabnya dingin. "Kalian mau kemana?""Mau mesan cake pengantin buat resepsi nanti," jawab Alex. Netra hitam pekat Arshaka beralih pada Nala. "Kamu tidak boleh pergi!" tegasnya. "Aku perlu bantuanmu untuk mengobati ku."Nala ingin membantah, namun ia tak mungkin pergi begitu saja disaat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu pulang dalam keadaan babak belur. Menoleh pada Alex, gadis itu tersenyum. "Kita pergi besok aja, ya."Alex mengangguk. Ia juga ingin tahu kenapa Arshaka tampak seperti orang yang baru saja berkelahi. Arshaka melangkah pergi ke kamarnya, diikuti Nala di belakang dengan wajah pasrah"Besok pergi denganku," ujar laki-laki itu begitu tiba di dalam kamar."Nala tak menjawab. Ia meletakkan tasnya di atas nakas dan keluar lagi dari kamar. Arshaka menatap kepergian gadis itu,
Tok tok. Suara ketukan terdengar di pintu. Arshaka berbalik, menatap daun pintu dengan penuh harapan. Nala kembali? Kakinya yang panjang melangkah lebar kesana. Ia harus memperbaiki semuanya. Klik. Pintu terbuka, namun yang berdiri di baliknya ternyata adalah Ratih. "Ma?" lirihnya kecewa."Ya. Mama mau kasih baju yang tidak jadi kamu coba tadi. Tapi Mama yakin, ukurannya pas. Cepat bersiap, kita berangkat untuk lamaran sebentar lagi," titah Ratih. Arshaka menggeleng. "Tidak, Ma. Aku tidak bisa. Aku sudah menikah," tolaknya. Mata Ratih langsung melotot. "Apa Mama tidak salah dengar? Arsha, pernikahan itu adalah keinginan nenekmu! Mama tau kamu tidak menginginkannya. Mama juga tau kamu menyukai Serena.""Iya, tapi aku harus bertanggung jawab atas perempuan yang aku nikahi, Ma. Ini juga tidak adil untuk Serena. Dia harus tau kalau aku sudah menikah.""Pernikahan itu hanya di atas kertas. Mama akan mengurus perceraian dan menghilangkan jejaknya. Kamu hanya perlu bersiap untuk per
Nala menatap lama ke arah pintu masuk butik, menunggu kedatangan sosok yang akan menjadi pengantin prianya."Gimana, Mami. Bagus tidak?" Alex keluar dari ruang ganti dengan jas putih yang seharusnya dicoba Arshaka. Laksmi menatap pemuda yang sangat baik padanya itu kagum. "Nak Alex gagah sekali," pujinya. "Mami sampai pangling."Alex menyengir. "Berarti Alex udah pantas dong, jadi pengantin baru?"Laksmi tersenyum. "Pantas sih pantas saja, tapi jangan dulu.""Kenapa?" "Kalau Mami punya anak laki-laki, Mami pinginnya anak laki-laki Mami mapan dan dewasa dulu baru menikah."Nala hanya mendengar sekilas percakapan Alex dengan ibunya. Ia masih menunggu kedatangan Arshaka dengan hati kesal. Tega sekali pria itu mencampakkan dirinya setelah mereguk manisnya. Kalau saja semuanya berjalan sesuai perjanjian, yakni ia tak boleh disentuh, pasti ia tak akan mengharap apa-apa. "Terus kenapa Mami izinkan Nala nikah muda?" tanya Alex. "Karena Nala perempuan. Mami tidak bisa membiarkannya bekerj
"Baru semalam aku melihat orang meninggalkan pesta lajangnya. Apa kau sudah meminta maaf pada ibu mertua?" Gama tiba-tiba muncul dan menyunggingkan senyuman lebar."Minta maaf? Aku bahkan tak tau apa kesalahanku, dan aku memang tak melakukan kesalahan apapun!"Gama mengerutkan keningnya. "Kau meminta ibu mertuamu untuk memijat para tamu di pestamu. Ya walaupun cuma nikah kontrak, tapi dia tetap seorang ibu mertua. Menurutku sikapmu keterlaluan.""Apa?!" Arshaka benar-benar terkejut. "Aku tak pernah memintanya datang, apalagi untuk memijat!" "Tapi dia mengatakan kamu yang memintanya.""Kenapa bisa begitu?" Gama mengangkat kedua bahunya. Namun kemudian laki-laki berambut cepak itu teringat sesuatu. "Ah, iya. Aku melihat Leoni yang mengantarkannya.""Leoni?" Arshaka akhirnya menyadari sesuatu, ini pasti rencana mamanya. Ia bangkit menyambar kunci mobil dari atas meja. "Handle pekerjaan hari ini kalau aku belum kembali sampai sore nanti," titahnya. Lalu bergegas keluar dan berangkat me
Nala tersentak kaget, ketika Arshaka tiba-tiba menaiki ranjang tepat di atasnya. Apalagi melihat wajah laki-laki itu berubah merah dan semakin dingin dari biasanya. "Om? Mau ngapain?""Mau tidur. Ini ranjangku." "I-iya, tapi biar Nala turun dulu. Tadi Nala cuma bercanda," panik Nala."Tidak bisa l
Setelah kejadian di roof top Rumah Sakit, ibu tiri Arsenio di tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak sambungnya itu selama bertahun-tahun. Dan otomatis, hak asuh Arsenio kini jatuh ke tangan keluarga Arshaka. "Oma berterimakasih padamu, Lunala. Berkat bantuanmu, Arsen
Nala membuka matanya perlahan, dan wajah imut seorang anak kecil yang pertama kali terlihat di matanya. "Kak? Udah bangun?" Arsenio menatapnya khawatir."Senio? Kamu nggak apa-apa?" gadis itu langsung teringat apa yang telah terjadi. Arsenio menggelengkan kepalanya. "Nggak, kakak kan udah selama
Ruangan Arsenio telah kosong! Anak kecil itu tak ada lagi di ranjangnya. Begitu juga dengan si ibu sambung. Wajah Nala seketika pucat pasi. Kemana Arsenio? Ia berbalik keluar kembali. Memeriksa ke kanan dan kiri lorong. Namun tak ada yang terlihat menggendong Arsenio. Cepat sekali menghilangnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews