Mag-log in18+ Lunala adalah putri dari seorang tukang pijat plus-plus. Tiba-tiba dijodohkan dengan putra dari seorang konglomerat, Arshaka Gibran, pengusaha muda workaholic dan berhati dingin. "Pernikahan ini hanya untuk status saja bagiku. Tidak boleh ada cinta di antara kita, dan setelah kesepakatan kita selesai, kau bukan lagi istriku," tegas Arshaka tanpa perasaan. Lunala yang sempat berharap pernikahannya akan baik-baik saja meski harus menikah dengan orang yang baru dikenalnya, hanya bisa menerima dan mengikuti jalan takdirnya. "Saya juga akan berterus terang, kalau saya mau menikah dengan Anda hanya demi uang," balasnya. Namun takdir berkata lain. Di tengah kesepakatan itu cinta hadir di antara mereka. Lantas kesepakatan seperti apa sebenarnya yang telah mereka buat? Bagaimana pula saat Alex Gibran, adiknya Arshaka, hadir menawarkan cinta yang hangat untuk Nala? Dan saat Serena Williams, cinta pertama Arshaka yang dulunya bertepuk sebelah tangan tiba-tiba kembali mengharapkan cintanya? Akankah kesepakatan mereka tetap berlaku?
view more"Dasar mantu tidak berguna! Mokondo! Nyesel saya nikahin kamu sama Hanum," maki seorang wanita tua kepada lelaki yang baru saja keluar dari rumahnya.
"Ada apa sih, Bu, marah-marah terus?" tanya seorang wanita yang keluar dari kamar."Suami kamu tuh ngeselin banget. Tiap dimintain uang, bilangnya gak punya melulu," keluh wanita yang dipanggil Ibu."Ya wajar, Bu. Mas Alvandra kan cuma supir angkot. Penghasilannya pas-pasan untuk kebutuhan kita sehari-hari," bela istri Alvan."Kamu juga, Num, kenapa harus nikah sama laki kere? Kayak gak ada yang lain aja." Kini cacian beralih ke anak perempuannya."Bu, kalo Ibu mau punya mantu kaya, Ibu harus modalin aku. Minimal beliin aku baju, sepatu sama tas ber-merk.""Kenapa Ibu harus modalin kamu? Mending uangnya Ibu pake buat usaha minjemin duit, pasti cepet balik modal," ucap Ibu Hanum sarkas."Dih ... mending kalo bayarnya pada bener. Orang tiap ditagih pasti jawabnya 'tar ... sok ... tar ... sok' terus, kayak Ibu," cibir Hanum."Emang bener nggak ada duitnya, apa yang mau dikasih? Emangnya kamu mau, jadi jaminan utang?""Ih ... ogah." Hanum bergidik ngeri."Makanya suruh suami kamu cari uang yang banyak, biar bisa bayarin utang rumah ini yang sudah numpuk di warung," ujar Ibu Hanum seraya meninggalkan anaknya keluar rumah.Hanum menggelengkan kepala melihat kepergian ibunya. Jika boleh jujur, sebenarnya dia pun sudah bosan hidup susah. Alvan - suaminya hanya bekerja sebagai supir angkot. Ingin bekerja, tetapi belum ada lowongan."Dek, ini uang hasil narik hari ini." Alvandra menyerahkan lembaran uang kertas lusuh kepada Hanum di sore hari saat dia baru pulang.Hanum menerima kemudian menghitungnya. "Cuma segini, Mas? Buat bayar hutang ke warung aja masih kurang.""Mau gimana lagi, Dek? Hari ini tarikan sepi. Apalagi sejak ada ojek online, orang-orang jadi pada males naik angkot," papar Alvan dengan wajah lelah."Makanya Mas itu cari kerjaan lain, jangan cuma narik angkot aja," ujar Hanum memberi saran."Iya, nanti Mas coba tanya-tanya ke teman." Alvandra memasuki kamar diikuti Hanum."Num, mana uang buat belanja?" seru Ibu Hanum dari luar kamar menadahkan tangan.Hanum menyerahkan uang yang tadi dipegang kepada ibu kandungnya. Mata ibu Hanum seketika membola saat sudah menghitung jumlah uang ditangannya."Apa-apaan ini? Cuma tiga puluh ribu? Buat jajan dua adik kamu saja kurang. Kamu pikir beras sama teman-temannya itu gratis?" makian kembali terdengar di rumah itu.Alvandra menunduk dalam. Dia tidak menjawab pertanyaan ibu mertua, karena jika dijawab pun percuma. Apa yang keluar dari mulutnya selalu salah. Setiap hari pasti ada saja makian, cacian serta hinaan yang dilontarkan ibu Hanum kepada dirinya."Enggak ada lagi, Bu. Mas Alvandra cuma dapat uang segitu" timpal Hanum."Halah ... banyak alasan. Bilang aja suami kamu itu malas. Mokondo emang!" Ibu Hanum mengeluarkan caciannya kembali."Pokoknya Ibu enggak mau tahu, kekurangan hari ini harus diganti dua kali lipat selain jatah biasanya," pungkas ibu Hanum.Hanum memandang iba kepada suaminya yang masih menunduk. Ingin membela, tetapi dia tidak punya daya.Hari-hari pun berlalu.Alvandra pulang ke rumah dengan langkah ringan. Dia membawa kabar gembira untuk istri dan juga keluarganya."Dek, ada yang nawarin Mas kerja. Gajinya besar," kata Alvandra dengan senyuman terkembang. Wajah tampannya semakin terlihat mempersona.Bola mata Hanum berbinar, senyum lebar tercipta di bibir tipisnya. "Benarkah, Mas? Kerja apa? Dimana?" Cecar Hanum penasaran."Jadi supir, Dek. Di negeri Jiran, Malaysia," jawab Alvan.Senyum di bibir Hanum seketika memudar. Sudah terbayang hari-harinya akan terasa sepi tanpa kehadiran Alvan. "Jauh amat, Mas.""Iya, Dek. Mas terpaksa terima tawaran itu karena cari kerja di sini susah. Kalo Mas udah kerja, kamu enggak akan denger lagi Ibu marah-marah. Dia pasti senang mendengar berita ini," ungkap Alvan antusias.Mau tak mau Hanum menerima keputusan Alvandra. Dan benar saja, ibu Hanum langsung bersorak gembira ketika mendapat kabar itu.Beberapa hari setelahnya, Alvan pun berangkat mengadu nasib di negara tetangga selepas semua urusan administrasi selesai.***Dua tahun sudah Alvanxra di negara yang terkenal menara kembarnya. Dan, kini saatnya pulang ke kampung halaman karena rasa rindu yang sudah menggebu terpaksa Alvan meminta cuti untuk beberapa waktu.Selama ini, Alvandra hanya berkirim uang serta berkirim pesan saja melalu benda pintarnya saja. Namun ada saja masalah yang memancing emosi Alvan ketika sang istri menuduhnya macam-macam.Hati Alvandra berbunga ketika kakinya menginjak tanah Indonesia. Negeri yang selalu dia rindukan setiap saat, terlebih kepada seseorang yang selalu mengisi relung hatinya. Dua tahun sudah Alvan mengais rejeki di negeri tetangga, kini dia memiliki kesempatan untuk pulang ke tanah air.Setelah turun dari taksi yang membawanya dari bandara ke rumah, Alvan memandangi bangunan sederhana di depannya. Masih sama seperti saat dia berangkat dahulu.Alvandra membuka pintu yang tidak terkunci lalu masuk ke dalam. Tak ada satupun orang dia jumpai di dalam rumah. Selain istrinya, ibu dan bapak mertua serta dua adik dari istrinya pun tinggal di sana."Kok sepi, ya? Kemana perginya orang-orang?" gumam Alvan dengan pandangan mengedar.Alvandra kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya. Ia masih ingat di mana letak area pribadinya dengan sang Istri. Semakin mendekati kamar, sayup-sayup Alvan mendengar ada suara-suara yang dia hafal bukan suara orang yang sedang bercakap-cakap."Sshh ... aahh ...." "Lagi, Mas ... uhh ... lebih cepat ... aahh ...."Suara desahan dan erangan dari laki-laki dan perempuan yang saling bersahutan, terdengar jelas oleh Alvan saat sudah menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Antara penasaran dan gusar, lelaki rupawan itu mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.Darahnya seketika mendidih saat disuguhi pemandangan yang sangat menjijikkan. Istri yang dirindukan sedang berada dibawah kungkungan seorang laki-laki. Dia bisa melihat bagaimana bernafsunya kedua manusia berlainan jenis itu dalam mengejar kenikmatan dan kepuasan."Aargh ...."Erangan dari kedua manusia yang sudah mencapai klimaks itu terdengar begitu menyakitkan di telinga Alvan. Hatinya bagai teriris sembilu.Dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, Alvan segera menghampiri dua manusia laknat yang sudah menorehkan luka mendalam di hati.Bugh! bugh!Alvandra pun mendaratkan beberapa pukulan di wajah dan perut lelaki yang sedang berada di atas tubuh Hanum - istrinya. Mendapat serangan dadakan dari Alvan, membuat lelaki itu tak mampu melawan, ditambah lagi dia baru saja mengeluarkan banyak tenaga demi mendapatkan kepuasan.Sang wanita hanya bisa menjerit, melihat lelaki yang sudah menggagahinya dihajar habis-habisan oleh Alvandra."Jahanam ... !! Dasar manusia - manusia sampah, laknat!" maki Alvandra murka. Matanya merah menyala. Kobaran amarah seakan sudah membakar hatinya."Tutup mulutmu, Mas!" pekik Hanum.Wanita itu meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya lalu ia turun dari ranjang, kemudian menghampiri lelaki yang sudah tergeletak dan babak belur di sisi ranjang.Alvandra melihat bagaimana perhatiannya sang Istri kepada lelaki itu. Tanpa rasa bersalah kepada suaminya, wanita itu mengelus juga meniup luka-luka yang disebabkan oleh Alvan."Aku mencintainya. Dia lebih segalanya dibandingkan kamu. Kamu hanya lelaki kere dan tak mampu membuat aku puas dalam urusan ranjang," sambung Hanum membela lelaki yang sudah berhasil memberikan kepuasan di atas ranjang di mana ranjang itu dulu menjadi saksi percintaan antara Alvandra dan Hanum. Tetapi kali ini, ranjang itu menjadi saksi pengkhiantan sang istri kepadanya.Alvandra menggelengkan kepala tak percaya atas perkataan wanitanya. Ia kecewa, ternyata Hanum tak sebaik yang ia kira. Hanum ternyata tak setia seperti harapan Alvan sebelumnya.Alvandra menggerakkan bola matanya mengitari ruangan yang pernah menjadi tempat terhangat dan terindah kala dia belum merantau. Kini kamar itu menjadi tempat pertama yang ingin segera dilupakan.Mata Alvandra membola ketika melihat baju yang teronggok di lantai. Baju itu merupakan seragam dari salah satu institusi sipil. Ternyata selingkuhan Hanum adalah anggota kepolisian, pikir Alvandra.Alvandra Zayn Malik menikahi gadis bernama Hanum Attabina. Pernikahan mereka sudah berjalan 3 tahun lamanya. Tetapi belum juga diberi momongan. Menyadari mencari pekerjaan di negara sendiri amatlah susah, terpaksa Alvan merantau ke negara tetangga.Memang Alvandra akui, komunikasi saat dirinya di perantauan dengan sang istri kurang baik. Sering kali Hanum menuduh Alvandra yang bukan-bukan. Entah dari mana asalnya, ada gosip yang beredar mengatakan jika Alvan di negara sana sudah menikah lagi dan punya anak.Padahal Alvandra bekerja di sana pun tidak sendiri, ada tetangga dari Hanum yang ikut serta. Tentu saja tetangganya itu bisa menjadi saksi bahwa gosip itu tidaklah benar alias fitnah semata.Berulang kali Alvandra menjelaskan kepada Hanum juga keluarganya, tetapi tak seorang pun yang percaya akan ucapan Alvandra. Bahkan Alvandra pun sebelum kerja jauh sempat dikucilkan dan tidak dipedulikan oleh istri dan juga keluarga mertua.Sungguh, fitnah itu amatlah kejam Alvandra rasakan. Betapapun ia berusaha meyakinkan sang istri, tetapi sepertinya hati Hanum sudah membatu. Entah dengan cara apa lagi Alvandra membuktikan bahwa apa yang Hanum dengar itu hanyalah gosip murahan saja. Besambung ...Nala dan Alex melangkah keluar, tepat di saat Arshaka masuk ke dalam. Mata pria itu langsung menatap tajam. "Mas kenapa?" risau Alex begitu melihat wajah lebam Arshaka. "Tidak kenapa-napa," jawabnya dingin. "Kalian mau kemana?""Mau mesan cake pengantin buat resepsi nanti," jawab Alex. Netra hitam pekat Arshaka beralih pada Nala. "Kamu tidak boleh pergi!" tegasnya. "Aku perlu bantuanmu untuk mengobati ku."Nala ingin membantah, namun ia tak mungkin pergi begitu saja disaat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu pulang dalam keadaan babak belur. Menoleh pada Alex, gadis itu tersenyum. "Kita pergi besok aja, ya."Alex mengangguk. Ia juga ingin tahu kenapa Arshaka tampak seperti orang yang baru saja berkelahi. Arshaka melangkah pergi ke kamarnya, diikuti Nala di belakang dengan wajah pasrah"Besok pergi denganku," ujar laki-laki itu begitu tiba di dalam kamar."Nala tak menjawab. Ia meletakkan tasnya di atas nakas dan keluar lagi dari kamar. Arshaka menatap kepergian gadis itu,
Tok tok. Suara ketukan terdengar di pintu. Arshaka berbalik, menatap daun pintu dengan penuh harapan. Nala kembali? Kakinya yang panjang melangkah lebar kesana. Ia harus memperbaiki semuanya. Klik. Pintu terbuka, namun yang berdiri di baliknya ternyata adalah Ratih. "Ma?" lirihnya kecewa."Ya. Mama mau kasih baju yang tidak jadi kamu coba tadi. Tapi Mama yakin, ukurannya pas. Cepat bersiap, kita berangkat untuk lamaran sebentar lagi," titah Ratih. Arshaka menggeleng. "Tidak, Ma. Aku tidak bisa. Aku sudah menikah," tolaknya. Mata Ratih langsung melotot. "Apa Mama tidak salah dengar? Arsha, pernikahan itu adalah keinginan nenekmu! Mama tau kamu tidak menginginkannya. Mama juga tau kamu menyukai Serena.""Iya, tapi aku harus bertanggung jawab atas perempuan yang aku nikahi, Ma. Ini juga tidak adil untuk Serena. Dia harus tau kalau aku sudah menikah.""Pernikahan itu hanya di atas kertas. Mama akan mengurus perceraian dan menghilangkan jejaknya. Kamu hanya perlu bersiap untuk per
Nala menatap lama ke arah pintu masuk butik, menunggu kedatangan sosok yang akan menjadi pengantin prianya."Gimana, Mami. Bagus tidak?" Alex keluar dari ruang ganti dengan jas putih yang seharusnya dicoba Arshaka. Laksmi menatap pemuda yang sangat baik padanya itu kagum. "Nak Alex gagah sekali," pujinya. "Mami sampai pangling."Alex menyengir. "Berarti Alex udah pantas dong, jadi pengantin baru?"Laksmi tersenyum. "Pantas sih pantas saja, tapi jangan dulu.""Kenapa?" "Kalau Mami punya anak laki-laki, Mami pinginnya anak laki-laki Mami mapan dan dewasa dulu baru menikah."Nala hanya mendengar sekilas percakapan Alex dengan ibunya. Ia masih menunggu kedatangan Arshaka dengan hati kesal. Tega sekali pria itu mencampakkan dirinya setelah mereguk manisnya. Kalau saja semuanya berjalan sesuai perjanjian, yakni ia tak boleh disentuh, pasti ia tak akan mengharap apa-apa. "Terus kenapa Mami izinkan Nala nikah muda?" tanya Alex. "Karena Nala perempuan. Mami tidak bisa membiarkannya bekerj
"Baru semalam aku melihat orang meninggalkan pesta lajangnya. Apa kau sudah meminta maaf pada ibu mertua?" Gama tiba-tiba muncul dan menyunggingkan senyuman lebar."Minta maaf? Aku bahkan tak tau apa kesalahanku, dan aku memang tak melakukan kesalahan apapun!"Gama mengerutkan keningnya. "Kau meminta ibu mertuamu untuk memijat para tamu di pestamu. Ya walaupun cuma nikah kontrak, tapi dia tetap seorang ibu mertua. Menurutku sikapmu keterlaluan.""Apa?!" Arshaka benar-benar terkejut. "Aku tak pernah memintanya datang, apalagi untuk memijat!" "Tapi dia mengatakan kamu yang memintanya.""Kenapa bisa begitu?" Gama mengangkat kedua bahunya. Namun kemudian laki-laki berambut cepak itu teringat sesuatu. "Ah, iya. Aku melihat Leoni yang mengantarkannya.""Leoni?" Arshaka akhirnya menyadari sesuatu, ini pasti rencana mamanya. Ia bangkit menyambar kunci mobil dari atas meja. "Handle pekerjaan hari ini kalau aku belum kembali sampai sore nanti," titahnya. Lalu bergegas keluar dan berangkat me
Nala tersentak kaget, ketika Arshaka tiba-tiba menaiki ranjang tepat di atasnya. Apalagi melihat wajah laki-laki itu berubah merah dan semakin dingin dari biasanya. "Om? Mau ngapain?""Mau tidur. Ini ranjangku." "I-iya, tapi biar Nala turun dulu. Tadi Nala cuma bercanda," panik Nala."Tidak bisa l
Setelah kejadian di roof top Rumah Sakit, ibu tiri Arsenio di tahan atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak sambungnya itu selama bertahun-tahun. Dan otomatis, hak asuh Arsenio kini jatuh ke tangan keluarga Arshaka. "Oma berterimakasih padamu, Lunala. Berkat bantuanmu, Arsen
Nala membuka matanya perlahan, dan wajah imut seorang anak kecil yang pertama kali terlihat di matanya. "Kak? Udah bangun?" Arsenio menatapnya khawatir."Senio? Kamu nggak apa-apa?" gadis itu langsung teringat apa yang telah terjadi. Arsenio menggelengkan kepalanya. "Nggak, kakak kan udah selama
Ruangan Arsenio telah kosong! Anak kecil itu tak ada lagi di ranjangnya. Begitu juga dengan si ibu sambung. Wajah Nala seketika pucat pasi. Kemana Arsenio? Ia berbalik keluar kembali. Memeriksa ke kanan dan kiri lorong. Namun tak ada yang terlihat menggendong Arsenio. Cepat sekali menghilangnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu