Share

Bab 33

Penulis: Vanta Black
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 10:00:11

"Bagaimana Nyonya Vela bisa tahu Anda dirawat juga?" tanya Rolan, alisnya terangkat tipis.

Aveline menggeleng lemah. "Saya juga kurang tahu."

Aveline menarik napas pendek, mencengkeram kain celana rumah sakitnya dengan erat. "Tapi... aku bingung kenapa Vela marah karena uang sepuluh miliar? Bukannya perjanjian awalnya, pilihan? Kalau aku tidak bisa bayar sepuluh miliar, Papa tetap bebas tapi dengan syarat aku harus jadi budak Aeron selama tiga tahun?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 44

    "Apa-apaan ini?" Diana menyentak lembaran kertas dari tangan Rolan dengan sekali gerakan kasar. Matanya yang dilapisi perona tebal membelalak, memindai deretan angka dan stempel basah di atas dokumen tersebut. "Apalagi yang kamu lakukan?!" tuduh Diana, Dia membalikkan tubuh dan menunjuk wajah Aveline dengan telunjuknya. Aveline membelalakkan mata di balik masker oksigennya, mencoba menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. "Ini... ini pasti salah paham, Bibi. Siapa yang sengaja memalsukan tanda tanganku?" Rolan membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari. "Seluruh dana segar dari agensi ini dicairkan secara tunai siang tadi, Nona Aveline. Dan pihak agensi hanya memegang surat kuasa dengan tanda tangan atas nama Anda." Diana mendengus pendek, melempar kertas-kertas itu ke atas meja nakas hingga vas bunga kecil di atasnya bergeser. "Jangan berakting polos, Velin! Utang keluarga kita belum lunas, lalu sekarang kamu malah menarik pinjaman baru lagi?" "Bukan aku,

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 43

    "Siapa dia, Nona?" Suara Rolan mengalir begitu rendah, memotong bunyi dari monitor jantung yang mendadak beritme cepat. Sepasang matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata tidak berkedip, mengunci seluruh fokus pada wajah pias di atas bantal. Aveline tidak langsung menyahut. Tenggorokannya naik-turun menahan kering, jemarinya semakin erat meremas kain seprai rumah sakit yang kasar. "Aku... aku tidak ingat wajahnya," bisik Aveline, suaranya parau beradu dengan embusan oksigen. "Tapi, postur tubuhnya... cara dia berdiri sebelum menusukku ...." Rolan perlahan mencondongkan tubuhnya sedikit, membiarkan wajahnya tertimpa temaram lampu ruangan. "Ada detail spesifik yang Anda lihat dari gerak-geriknya?" Aveline memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kerutan di dahinya semakin dalam akibat paksaan memori. "Tangan kirinya... saat dia bergerak, ada gestur y

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 42

    "Tuan Rolan, tolong jelaskan ini! Saya sama sekali tidak tahu tentang nomor itu!" Victor berteriak panik, kedua tangannya gemetar hebat hingga map dokumen yang ia pegang terjatuh ke lantai. Rolan tidak memberikan jawaban. Dia hanya menatap Victor dengan pandangan datar dari balik kacamatanya yang sedikit miring. Sementara sapu tangannya kembali ditekan ke hidung yang masih meneteskan darah segar. Vela yang berdiri di samping Victor langsung melangkah mundur, menjauhkan dirinya seolah pria paruh baya itu adalah wabah penyakit. "Amankan Pengacara Victor sekarang. Serahkan ke pihak kepolisian beserta bukti ponsel ini!" "Nyonya Vela! Tolong saya! Anda tahu saya tidak—" Kalimat Victor terputus saat petugas keamanan mengunci lengannya dan menyeretnya paksa menuju lift darurat. Vela menatap Rolan dengan napas yang memburu, jemarinya yang mengenakan cincin berlian mence

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 41

    "Tahan tubuhnya! Jahitannya bisa lepas semua!"Suara lengkingan histeris dari ruang isolasi membuat lorong lantai lima kembali mencekam. Pekikan perawat itu disusul suara benda logam yang terseret kasar di atas pualam.Pintu kayu ruang isolasi terbuka lebar dari dalam, menghantam pembatas dinding dengan keras. Sosok Aeron muncul di ambang pintu dengan kondisi yang mengerikan.Kemeja hijau rumah sakitnya sudah berubah warna menjadi merah pekat di bagian perut kanan dan dada kiri. Selang keteter dan sisa kabel elektroda menjuntai di sekitar kakinya, terseret di atas lantai yang basah oleh ceceran darah segar."Aeron! Kamu sudah gila?!" Vero berlari kencang dari arah ICU, mengabaikan fakta bahwa dirinya sendiri tidak memakai alas kaki.Aeron tidak menjawab, napasnya terdengar putus-putus seolah paru-parunya terisi oleh cairan.Kedua lututnya gemetar sebelum akhirnya ambruk, membuat tubuh tingginya terje

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 40

    "Ada apa dengan monitornya?" Perawat jaga yang berada di meja administrasi langsung menegakkan punggung, menatap deretan layar pemantau yang mendadak berkedip merah. Rolan yang sedang bersandar di dekat pilar koridor langsung menegakkan tubuh. Pandangannya terkunci pada pintu kaca ruang ICU Aveline yang berjarak sepuluh meter dari posisinya. Pria berbaju perawat senior yang baru saja keluar dari dalam ruangan itu tampak berjalan cepat berlawanan arah. Langkahnya tergesa, dengan kepala yang menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajah di balik kerah masker. "Hei, tunggu sebentar!" panggil Rolan, melangkah lebar memotong jalur pria itu. Pria berbaju perawat itu tidak berhenti, dia justru mempercepat langkahnya menuju tangga darurat di ujung lorong. Rolan mengepalkan tangannya, merasakan ada yang tidak beres dari gerak-gerik asing tersebut. Dua

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 39

    "Dia tidak boleh mati di sini," desis Vero, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol tegang. Pria itu berbalik dengan sentakan kasar, menerobos kembali pintu besi yang belum sempat menutup sempurna. Sepasang tangannya yang gemetar langsung menyambar gagang pisau bedah nomor empat dari meja instrumen. Asisten dokter dan para perawat di dalam ruangan seketika mematung menatap tindakan nekat itu. Mereka tahu rongga dada yang dibuka paksa dalam kondisi henti jantung hampir mustahil menyelamatkan nyawa. "Dokter Vero, ini sudah di luar batas aman!" seru asisten dokter dengan suara yang melengking panik. "Persetan! Bantu aku buka sela iganya!" bentak Vero tanpa menoleh sedikit pun. Ujung pisau bedah di tangannya langsung menoreh kulit dada kiri Aeron, meninggalkan garis lurus yang mengeluarkan rembesan merah pekat. D

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 38

    "Satu ampul epinefrin, sekarang! Lanjutkan kompresi!" Vero berteriak sepanjang koridor, kedua telapak tangannya menekan dada Aeron dengan ritme cepat dan konstan. Seorang perawat wanita dengan cekatan memotong sisa kemeja rumah sakit Aeron yang basah oleh peluh dingin.

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 37

    "Kamu mau bawa dia ke mana, Aeron?" Vela berteriak sambil melangkah maju. Aeron tidak berhenti. Dia membetulkan posisi gendongannya agar luka di perut Aveline tidak makin tertekan. "Bukan urusanmu," jawab Aeron tanpa menoleh. "Minggir." Vela memberi isyarat dengan ta

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 36

    Vero terengah-engah, mencoba melepaskan cengkeraman Aeron pada bajunya. "Jangan Tuan! Luka Anda bisa robek!" Aeron tidak memedulikan pekikan Vero dan menghempaskan tangan pria itu ke samping. Dia menurunkan kakinya ke lantai, tetapi tubuhnya sempat limbung. Rolan

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 35

    "Masuk, Nona. Jangan membuat Nyonya Vela menunggu lebih lama," ucap pria berjas abu-abu yang turun dari kursi kemudi. Aveline menarik napas panjang, menahan rasa ngilu yang menyerang perut kanannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia bangkit dari kursi roda dan melangkah masuk ke dalam kabin m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status