เข้าสู่ระบบ
"Sepuluh miliar, Aveline. Atau saksikan ayahmu membusuk di sel Eldrith besok pagi."
Aeron Devere berdiri membelakangi jendela besar kantor Devere Crown. Cahaya remang kota Eldrith membingkai siluet tubuh tegapnya yang dibalut kemeja hitam mahal. Ia menyesap wiskinya perlahan. Tangannya yang berurat memutar gelas kristal itu hingga es di dalamnya berdenting pelan. Sorot mata tajam Aveline mengarah ke pantulan wajah Aeron di kaca. Napasnya memburu, menahan sesak yang menghimpit jantungnya. "Kau keterlaluan, Aeron! Kau tau hartaku sudah kau sita habis," desis Aveline. Aveline melangkah maju. Lengkuk tubuhnya tampak jelas dari pantulan kaca. Ia berdiri tepat di belakang Aeron dengan kepalan tangan yang mengeras. "Rumahku, mobilku, bahkan perhiasan peninggalan ibuku! Apa lagi yang kau inginkan, iblis?" Aeron membalikkan badan. Ia menatap Aveline datar sambil meletakkan gelasnya di atas meja marmer. "Aku tidak lagi tertarik dengan sisa hartamu." Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Aveline terdesak ke tepian meja. Aeron merunduk sedikit, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Lalu apa? Kau ingin nyawaku?" Dulu, Valmont adalah penguasa bisnis di Eldrith. Kini, di bawah firma Devere Crown, Aveline hanya memiliki harga diri yang tersisa. Aeron mengulas senyum sinis. Jemarinya terangkat, mencengkeram rahang Aveline hingga gadis itu mendongak paksa. "Aku hanya ingin tubuhmu. Jadilah milikku selama tiga tahun." Aveline tersentak. Ia segera menepis tangan kasar pria itu dengan sisa tenaganya. "Aku bukan pelacur yang bisa kau beli dengan ancaman, Aeron!" Aeron meraih dokumen resmi dari meja dan melemparkannya tepat di wajah Aveline. "Ini bukan tawaran, tapi perintah hukum yang sah!" Aveline mengerjap, lalu membaca isi dokumen. Matanya membelalak, pada poin penyerahan diri secara total. "Ini manipulasi! Kau menggunakan hukum untuk menjeratku!" Aeron merapikan letak jam tangannya dengan tenang. Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh ledakan emosi Aveline. "Pilihannya tetap sama, Aveline. Kamu di ranjangku, atau ayahmu mati di penjara." Aveline mengepalkan tangan, ia ingin sekali meninju pria tinggi di depannya. Ia menatap kosong lantai marmer yang dingin. Desir darahnya meluap penuh kebencian. "Kenapa kau begitu membenciku?" tanya Aveline lirih. Aeron menarik pinggang Aveline hingga tubuh mereka merapat tanpa celah. Ia bisa merasakan detak jantung Aveline yang liar karena takut. "Aku butuh hiburan, dan bisa terwujud dengan tubuhmu." Pria itu melepaskan dekapannya dengan sentakan kasar. Ia meraih kembali gelas wiskinya dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan besar. "Malam ini, datanglah ke penthouse Velaris Crown." Jari telunjuk Aeron mengarah ke kunci emas di atas meja. "Jangan buat aku harus menyeretmu dalam keadaan telanjang." Brak! Pintu dibanting keras. Aveline berdiri mematung sendirian di ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa. "Argh! Orang gila!" teriak Aveline sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Tangannya meremas kuat kunci akses emas di atas meja hingga telapak tangannya perih "Nikmati kemenanganmu malam ini, Aeron Devere!" Aveline menyandarkan tubuhnya di balik pintu, membiarkan tubuhnya merosot perlahan. Sorot matanya memerah, air matanya menggenang. "Aku benci dia!" pekiknya sambil meneteskan air mata Sementara di dalam mobil, Aeron memantau melalui cctv, ia tersenyum puas melihat Aveline tersiksa. "Aku tidak sabar menunggunya di penthouse. "Tuan, Nyonya Velaris menyuruh Tuan segera kembali ke paviliun. Tuan Muda demam tinggi." Rolan menatap Aeron dari kaca spion mobil. Senyum di wajah Aeron seketika lenyap, digantikan oleh gurat kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia segera mematikan layar tablet yang menampilkan wajah Aveline. "Putar balik sekarang!" Aeron melirik cincin pernikahan yang ia sembunyikan di dalam saku jasnya. Di mata publik Kota Eldrith, ia adalah pengacara lajang yang dingin dan tak tersentuh. "Kabari Vela," bisik Aeron pada asistennya. "Katakan pada wanita itu untuk tetap menunggu di sana sampai aku datang. Berapa pun lamanya." Mobil Aeron melenggang pergi dengan cepat, meninggalkan, Aveline yang kini melangkah masuk ke dalam lobi mewah yang sudah disiapkan Aeron, tanpa tahu bahwa pria yang ia benci sedang memeluk seorang anak di tempat lain. Saat ia membuka pintu penthouse dan menemukan pakaian transparan yang sudah disiapkan Aeron, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Aeron : Aku akan terlambat. Tunggu di atas ranjang."Dengar rekaman ini, Tuan." Rolan meletakkan ponselnya di atas meja nakas, memutar rekaman singkat tentang rencana pembobolan brankas mansion. Suara di dalamnya terdengar samar, namun cukup untuk mengidentifikasi ancaman nyata bagi aset keluarga Devere. Aeron mendengarkan dengan rahang mengeras, sementara Aveline di ranjang sebelah hanya bisa terdiam menahan sesak. Setelah rekaman berakhir, Aeron menatap Aveline dengan sorot mata yang melunak. "Rumah sakit ini nggak aman. Kita harus pindah ke mansion malam ini juga," ucap Aeron. Aveline memalingkan wajah, menatap Valmont yang sedang tertidur di kursi tunggu. "Aku mau ikut, tapi Ayah harus ikut juga. Rumahku udah disita bank, Ayah nggak ada tempat tinggal." Aeron mendengus kasar. "Kalau aku nolak gimana?" "Kalau gitu aku juga nggak akan ikut," sahut Aveline tegas. "Kamu bisa pilih, bawa kami berdua atau biarkan aku di sini dengan risikonya." Rolan berdeham pelan, memecah ketegangan. "Maaf, Tuan, tapi kalian baru saja
"Rolan..." panggil Aeron dengan suara yang sangat serak dan habis. "Saya di sini, Tuan," sahut Rolan sembari mendorong pintu kaca tanpa menimbulkan suara berisik. Aeron mencoba menegakkan punggung, tapi ringisan pendek lolos dari bibirnya saat perban di perutnya menegang. "Aveline... gimana dia? Bibinya masih bikin ribut?" "Nona Aveline aman di kamar sebelah, Tuan. Dua pengawal sudah berjaga di depan pintu," jawab Rolan tenang sembari menyodorkan secangkir air hangat. Aeron meneguk air itu cepat-cepat untuk membasahi tenggorokannya yang sekering gurun. "Terus keparat yang nyerang kami malam itu? Tim kita udah nemu orangnya?" "Belum ada info baru, Tuan. Orang itu tahu banget titik buta semua kamera pengawas di laboratorium," lapor Rolan. Aeron mendengus miring, sepasang matanya yang merah menatap tajam ke arah langit-langit plafon. "Dia bukan orang luar, Rolan. Gerakannya terlalu bersih buat uku
"Kita harus pergi dari sini sekarang."Rolan memasukkan kembali pecahan perangkat perak yang sudah hancur itu ke dalam saku jasnya, lalu melangkah mendekati istri Aeron.Vela tidak bergeming dari tempatnya berdiri, kedua lututnya tampak lemas hingga tubuhnya perlahan merosot ke atas lantai semen yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke arah ponselnya yang layarnya kini retak akibat terlempar tadi."Buktiknya... benar-benar tidak bisa diselamatkan, Rolan?" tanya Vela, suaranya parau berbaur dengan isak tangis yang mulai tertahan di tenggorokan."Komponen utamanya tergilas roda rantai generator, Nona. Air limbah di bawah sana juga sudah merendam papan sirkuitnya hingga korsleting," jawab Rolan sembari membungkuk untuk memungut ponsel milik Vela.Dia menyeka permukaan layar ponsel yang kotor itu menggunakan saputangan kain putih miliknya sebelum menyerahkannya kembali. "Kita tidak punya waktu lagi untuk meratapi benda ini, t
"Urus pemilik mobil itu sekarang." Suara Rolan mengalun rendah ke dalam mikrofon ponselnya.Sudut bibirnya mendatar tanpa riak, sementara jemarinya bergerak lincah membersihkan folder pesan masuk yang baru saja ia baca dari nomor tidak dikenal tadi. "Baik, Sir. Segera kami eksekusi sebelum faksi Vela mencium pergerakan ini," sahut sebuah suara bariton di ujung telepon sebelum sambungan terputus. Rolan mengantongi kembali gawai hitamnya tepat saat pintu lift berdenting terbuka di area basemen rumah sakit. Hawa dingin langsung menyergap permukaan kulit lehernya, membawa aroma khas semen basah dan oli mesin yang menguar dari sudut-sudut parkiran.Di atas kepalanya, deretan lampu tabung neon berkedip sesekali, memantulkan bayangan tubuh tegap sekretaris itu di atas kap mobil sedan yang berdebu."Semoga dengan ini semua, gajiku naik." Dia membuka pintu kemudi, lalu mendudukkan diri di atas jok kulit hitam yang t
"Tuan Aeron sudah menunjukkan tanda-tanda sadar?"Suara Rolan memecah keheningan koridor lantai lima rumah sakit, sesaat setelah dia menempelkan ponselnya ke telinga kanan. Langkah kakinya yang beralas pantofel mengilat terhenti tepat di depan deretan kursi tunggu yang kosong.Dari balik pengeras suara gawai, terdengar desah napas pendek dari perawat jaga yang terdengar agak gemetar. "Benar, grafik pada monitor jantungnya sempat melonjak naik beberapa menit yang lalu saat dosis obat penenangnya berkurang.""Saya segera ke sana, pastikan tidak ada orang asing yang mendekati pintu ruang observasi," perintah Rolan dengan nada sedatar pualam sebelum memutuskan sambungan telepon.Dia mengantongi ponselnya kembali ke balik saku jas abu-abu tua yang melekat pas di tubuh tegapnya.Bias cahaya bulan dari balik jendela besar memantul di atas lantai keramik, memberikan pencahayaan alami yang cukup terang tanpa bantuan lampu loron
"Apa-apaan ini?" Diana menyentak lembaran kertas dari tangan Rolan dengan sekali gerakan kasar. Matanya yang dilapisi perona tebal membelalak, memindai deretan angka dan stempel basah di atas dokumen tersebut. "Apalagi yang kamu lakukan?!" tuduh Diana, Dia membalikkan tubuh dan menunjuk wajah Aveline dengan telunjuknya. Aveline membelalakkan mata di balik masker oksigennya, mencoba menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. "Ini... ini pasti salah paham, Bibi. Siapa yang sengaja memalsukan tanda tanganku?" Rolan membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari. "Seluruh dana segar dari agensi ini dicairkan secara tunai siang tadi, Nona Aveline. Dan pihak agensi hanya memegang surat kuasa dengan tanda tangan atas nama Anda." Diana mendengus pendek, melempar kertas-kertas itu ke atas meja nakas hingga vas bunga kecil di atasnya bergeser. "Jangan berakting polos, Velin! Utang keluarga kita belum lunas, lalu sekarang kamu malah menarik pinjaman baru lagi?" "Bukan aku,
"Cih, kau gila ya! Lepaskan!" Mereka terengah-engah mencuri udara disela-sela aktivitasnya. Pria bertopeng itu mendengus sinis, sama sekali tidak berniat menghentikan pergerakannya. Jemarinya yang kasar justru semakin sengaja menekan titik sensitif Aveline, mengabaikan seluruh penolakan yang kel
"Permisi, apa di sini ada tempat untuk menginap?" Wanita paruh baya misterius muncul dari balik lubang kecil. "Harga per malam dua belas dollar." Bip! Aveline menggunakan kartu hitam yang diberikan Aeron, ia mulai menggesek kartunya dan notifikasi terkirim ke ponsel Aeron. [Peringatan Transa
Aveline membeku, layar ponsel yang masih menyala di tangannya terasa membakar telapak tangannya. "Putri Tuan Valmont ...." bisiknya dengan suara yang hampir hilang. Dunia seolah berhenti berputar. Anak kecil yang dirawat Aeron, yang diratapi oleh Vela, ternyata adalah darah daging ayahnya send
Cklek! Suara kunci yang diputar dari luar. Ia menggedor pintu kayu jati itu dengan sisa tenaganya. "Aeron! Buka pintunya! Kau tidak bisa menyekapku di sini!" teriak Aveline hingga tenggorokannya terasa panas. Aveline menyandarkan punggungnya di pintu, membiarkan tubuhnya merosot hingga terdud







