LOGINArkhana putra Jason, presiden direktur Grup Jason yang terkenal di Singapura, setelah ulang tahun perusahaannya, pamannya Wira mencoba membunuhnya dengan memakai pembunuh bayaran. dia mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke tebing di bawah sungai, tkemudian seorang gadis memberi pertolongan dan dibantu para warga. Setelah dibawa ke klinik ternyata dia mengalami amnesia. Ayah dan gadis itu setuju untuk menampungnya sampai mendapatkan kembali ingatannya. Setelah hampir sebulan, Arkha dan Nina salaing mencintai dan menikah. Setelah sah Arkha mengingat semua tapi ia menyembunyikannya dulu demi mencari tahu siapa yang berusaha ingin menyingkirkannya. Arkha menghubungi Mario dan Virgo untuk mengerahkan anak buah untuk mencari pelaku tak lama Ia mengetahui semua dan memberikan sedikit pelajaran kepada saudara laki-laki ayahnya yang serakah hingga misteri hilangnya kedua orang tua juga ulah Wira. Arkha mengutuk dirinya sendiri, tidak dapat melindungi. Arkha semakin kejam untuk memberi pelajaran pada keluarga Wira. Virgo dan Mario melihat kondisi sudah agak tenang, mereka pun mempertemukan orangtua pada Arkha. Pertemuan mengharukan itu membuat William Jason kembali ke perusahaan dengan serius semua, Arkha senang Ketika masalahnya di kota telah selesai, dia memutuskan kembali ke istri di desa, Arkha juga menceritakan pada orangtuanya jika sudah menikah orangtuanya ternyata merestui. Saat sampai di depan rumah istrinya desa itu terkejut mendapati rumah mertuanya dalam kondisi rusak parah, rupanya perbuatan istri pamannya itu tidak terima perlakuan oleh Arkha. Arkha marah dan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari istri dan mertuanya sementara yang lain mencari wanita sialan itu. 3 hari kemudian, Arkha menemukan Nina baik-baik saja, pertemuan di rumah saudara laki-laki ayah Firman, pertemuan dua orang itu sungguh mengharukan. Arkha akhirnya memberi tahu Nina dan ayah mertuanya siapa dia sebenarnya. Ayah Nina terkejut bahwa Arkha pria miliarder. Setelah pengakuan Arkha, mereka diboyong ke kota dan tinggal di sana. Sebulan kemudian Wira akhirnya divonis hukuman mati sedangkan istrinya divonis 20 tahun penjara
View MoreClaire's POV
They said it was normal to get pre-wedding jitters just before the wedding. You start to doubt everything and question everyone. Was this really the dress for me? Did I look fat in it? Are those the right flowers for me? And…. Was he the right one for me? I'm one of the few who didn't go through all that. It was happening, I was getting married! Mother patted down on my arm as we walked down the aisle, trying to ease my nerves but it did her more good than it did me. She took a deep breath, controlling her breathing. She looked stunning in her ash, plunging neck-sleeve sequin dress. With a small smile her way, I stood in front of him. I had the widest grin on as I looked over at my father wiping off a stray tear with his handkerchief. I was used to it, I'd seen a lot of stray tears and worn-out kerchiefs as he had always been proud of me. "By the power vested in me by the goddess herself, I give to you this drink that your bond may form and you shall become true mates." He took a dark bowl from the ancient box, the markings were falling off and difficult to read. "The she-wolf goes first." He passed me the mate potion, the potion that made all this real. I'd be mated to Jayden, the pack's beta, and my best friend. We'd rule the pack together and together break the curse. One quick look at him and I was enchanted, he looked as good as he did yesterday. I might even say better, his usual messy blond strands and his always-covered masculine physique in wore-out tee-shirts and boxers were looking tidy for a change. Covered in a dark suit and his strands over his eyes, I was tempted to push them away so I could stare at those emerald orbs I'd grown to love. He had the same look I have on, at least I thought so. He choked on a sob, his fist to his mouth as he tried to contain himself. My eyes dropped to my shaky hands, it suddenly felt real. I drank this and there was no going back whatsoever. I could never go looking for my real mate, never know what he looked like or if he even wanted me. I could never get to know him, get that rush that all she-wolves get when they come in contact with their mate for the first time. I shook my head, trying to clear the sad thoughts and thought about the positives. I was saving the werewolf world as I knew it. I did this and everyone would be safe and happy and that would make me happy…. I hope. Bringing the bowl to my lips, I saw my reflection. My face was adorned in the lightest shades of colors to go with my pale skin, a contrast to my full lips coated in a red shade of lipstick. I was as pale in human form as my wolf, Kira. Kira was nowhere to be found. She was there, just not…. There. She was sad, wailing, and begging to stop this as she wanted her true mate. I was practically forcing the mate bond on her but I needed to do this. I needed to make Father proud, always. Father nudged me, urging me to hurry. "Go on." One last look at the crowd and I saw the scared, eager faces. Everyone was here, even the alpha king. It was of one-of-a-kind ceremony, it only made sense that he'd be here to witness it. All alphas from the eleven packs sat in the front row, all except one, alpha of the Red Moon Pack. It's understandable as he was never at events like this. A figure moved around the corner and my eyes followed instantly. Craning my neck past Jayden I saw nothing but the white curtains, it might have been nothing. Maybe it was nothing and I was just looking for something, anything to stop all that was happening. Murmurs echoed from within the crowd, the anxiety, and fear eating everyone. Yells and screams came from the middle of the room. "Drink it already!" "What are you waiting for?!" "Do you want us all dead?!" Fear built up in me suddenly. A warm hand took mine and I trailed it to his eyes, Jayden's eyes. He tried to reassure me with them, they spoke words to me. On a regular day, they'd warm up my inside but today was not the day. I was giving up my life, and my youth to save everyone. I was suddenly not so sure it was what I wanted. Thin lips met my full ones in an intimate kiss. The crowd had gone silent now as they watched our tongues intertwine in a sweet, divine battle. It wasn't my first time kissing him but it felt different. I didn't feel giddy like I usually did and I suddenly didn't like his hands on my lower back tracing the line of my corset. Why was this happening? Was it because I'd finally come of age? Because I turned eighteen today? He broke away from the kiss, my hand still in his. He brought mine to his chest and I could feel it beating really fast. I knew I affected him but not that much. "We'll be fine," he flashed me a smile, his pearly white teeth showing themselves to me. I nodded. Taking a deep breath, the cold bowl touched my lips. My eyes fell close and just as the drink was about to touch my lips, it fell from my hands. I heard gasps around me. I turned to find angry black orbs glaring at me. His jaw clenched and unclenched as he steamed like a get pot on a stove. He looked about ready to throw a punch at my father when he tried intervening. I needed to step in and I did. "What do you think you are doing, you are ruining my wedding?!" I walked close to him, almost closing the distance between us. He was only a hair breath away from me now. The response I got was a smirk that annoyed me even further. "That's not any way to treat your mate."Raka berjalan menyenggol lengan Alden yang tertawa namun tak berlangsung lama, karena Yasmine menjewernya agar tak iseng. Sedangkan Raka memilih tidur di sofa ruang tamu. Nina dan yang lain menghela nafas berat melihat kelakuan Hilda mengusir suaminya sendiri.......Pagi nya, Hilda bangun pagi sekali dan membangunkan suamnya"Kak, bangun.""Emmm, astaga," ucap Raka terkejut ada Hilda di depannya"Kamu pikir aku hantu, ayo bangun.""Ada apa sayang.""Ayo mandi, aku mau kerumah Bunda Sarah. Ayo.""Hah, tumben.""Udah ah, ayo buruan. Awas aja uler keket ikut lagi.""I-iya, nih bangun."Raka pun mengikuti istrinya menuju kamar membersihkan diri segera. Selesai ritual mandinya mereka bersiap untuk ke rumah Bunda Sarah."Udah semua, sayang.""Udah kak."Mereka keluar, Hilda menggendong Berlian yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Saat sampai di ruang makan, Raka dan Hilda menitip pesan karena Mami da Daddy belum bangun."Bik, kita titip pesen Mami dan Daddy jika ke rumah Bunda Sarah,
"Sayang, udah dunk. Capek nih. Nih," Alden memelas pada istrinya"Hahhahaaha, kau lucu sekali sayang. Aduh perutku sakit.""Ih nyebelin deh."Saat ini Alden di dandani seperti cewek memakai pink polkadot dress serta higtheels pink. Sungguh menggemaskan sekali, jika orangtuanya tahu mungkin diketawain dua hari dua malam."Sini, aku bersihin. Kacian amat."Yasmine pun dengan telaten membersihkan wajah Alden, setelah bersih ia memberi kecupan hangat di seluruh wajah suaminya. Alden mengulas senyuman lalu mencari kesempatan dan menarik dagunya memperdalam pagutannya. Namun, saat dia merasa ingin lebih, Yasmine mencegahnya"Puasa dulu, hahahhaha."Alden mendengus kesal karena hasratnya tak tertuntaskan, dan ia memilih untuk bersolo karier di kamar mandi. Setelah hampir satu jam lamanya, Alden keluar dengan wajah ceria kembali. Ia mendekati istrinya yang mulai gemar nonton drakor dilaptopnya."Sayang, kok nonton drakor mulu.""Seneng aja, romantis sayang. Oh ya kita ke rumah Mami yuk. Aku
"Uda ayo buruan anter aku pergi.""Yas tunggu, sebenarnya kamu kenapa dengan Alden.""Aku hamil, La. Hiks ... hiks. Tapi Alden nggak mau," ucapnya sesegukanLala heran kenapa dengan Alden hingga nggak mau menerima kehadiran buah hati mereka."Kenapa dia nggak mau, itu buah hati kalian, Yas.""Dia trauma dulu pas aku ngelahirin sudah kayak orang gila, saat aku berjuang melawan maut.""Astaga, Alden kau gila.""Lalu, aku mau anter kamu kemana Yas," tambahnya"Kita cari tempat yang nggak mungkin di jangkau Alden."Yasmine berfikir ia akan ke New york menemui Bu Rose. Pasti dia akan di tampung lagi pikirnya."Aku ke Bu Rose aja, La.""Hah, New york.""Hem.""Tapi Yas, kalau mertua mu tahu gimana kalian ini.""Tolong jaga rahasia ini, dari semua La."Lala dan Yasmine masuk ke dalam mobil menuju bandara. Sepanjang perjalanan perasaan Yasmine campur aduk. Tiba-tiba, ada dering ponselnya terlihat panggilan dari Alden. Namun ia tak menggubrisnya.Alden baru saja di telpon oleh suster jika Yas
Nina melihat raut wajah Yasmine pucat segera menghampiri menantunya."Yas, kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat.""Kepala Yasmine pusing Mi.""Mana Alden?""Aku usir Mi.""Hah, kenapa sayang. Tumben biasanya kalian kayak perangko.""Pengen sendiri aja Mi.""Mami anter ya ke kamar hotel, ya.""Nggak usah Mi, Yasmine hanya lelah aja kok.""Ya udah kalau butuh Mami, panggil ya. Mami sama Daddy ada di sebelah sana ada Papa Mama mu juga.""Baik Mi."Nina pun berpamitan gabung dengan para sahabat lain, sedangkan Yasmine memijat pelipisnya mersakan kepalanya berdenyut kembali."Kenapa kepalaku pusing banget sih."Tak lama twins dan Babaysitter datang mendekatinya."Mami, kita foto sama aunti dan Om yuk," ajak Sha"Boleh, ayo."Yasmine berjalan bersama kedua buah hatinya menuju pelaminan, Alden melihat istri serta anaknya naik kepelaminan tanpa mengajaknya, merasa diacuhkan ia pun segera mengikuti."Mau kemana kak," tanya Dira"Mau ngejar kakakmu itu."Willi, Revan, Lala dan Dira melihat Yasmin
"Sayang, kau kenapa?"Alden membopong tubuh istrinya berjalan keluar, Yamsine panik dan berpura-pura lemas"Al,mau kemana," ucap Yasmine lirih"Mau bawa kamu ke dokter sayang, masak mau ke club.""Ih kamu ya, aku minta ke rumah aja.""Kamu kan sakit ngapain ke rumah, sayang. Udah mending nurut.""Aku ngga
"Sayang, kenapa teriak.""Kami merindukan Mommy, hiks ... hiks."Cup ... cup"Jangan nangis dunk, sayang. Mommy nggak akan pergi lagi."Yasmine menenangkan kedua buah hatinya yang memang merindukannya selama dua tahun ini."Udah ya, nggak boleh nangis dunk," ucap Alden membelai keduanya"Ada permintaan n
Alden berjalan mendekati salah satu petugas keamanan untuk menanyakan ada acara apa itu."Maaf permisi pak. Sebenarnya ada acara apa ya ini.""Ini acara pernikahan ceo store YA, tuan.""Apa!""Nggak ... nggak mungkin. Pak bisa saya bertemu dengan ceo nya," ucap Alden panik"Maaf tuan, anda harus ada unda
sebuah sinar mentari pagi membuat si cantik terbangun dari mimpi indahnya, ia membuka mata seakan terlahir kembali. Ia menengok ke kanan karena merasa tangannya susah di gerakkan ternyata ada seseorang yang rela menunggunya sampai tertidur di sebelahnya.Yasmine atau Alexa meneteskan air mata saat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.