MasukHazel menoleh secara perlahan. Kedua matanya membelalak, bibirnya terbuka. Pria dengan tinggi 185 cm itu berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya sangat tampan, alisnya tebal, rahangnya tegas.
Tatapan Hazel tanpa sadar menyusuri penampilan pria itu. Kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya itu tampak sempurna. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari Hazel. “Selena?” Suara berat itu membuat Hazel tersentak. Ia berdiri dengan canggung. “Ah, ya?" jawabnya gugup. Lucian berhenti tepat di hadapannya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Hazel dalam diam. “Bagaimana kabarmu, Selena?" tanya Lucian dengan suara beratnya. Hazel menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin kencang. “B-baik, sangat baik," jawabnya terbata-bata. Hazel tidak berani menatap Lucian. Hazel menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia takut jika terlalu lama menatap Lucian, pria itu akan menyadari sesuatu yang aneh dari dirinya. Lucian justru memperhatikannya dalam diam, seolah sedang mengingat wajah gadis yang pernah dikenalnya bertahun-tahun lalu. “Calvin," panggil Lucian mengalihkan pandangannya pada asistennya. “Ya, Tuan?” “Pergilah. Aku ingin berbicara dengan Selena berdua." Calvin mengangguk sopan. “Baik, Tuan.” Pria itu segera meninggalkan ruangan, membuat suasana menjadi jauh lebih sunyi. Hazel semakin canggung ketika menyadari bahwa kini hanya ada dirinya dan Lucian di ruang tengah yang luas itu. Lucian berjalan menuju sofa, kemudian duduk dengan tenang. Ia menunjuk sofa di hadapannya meminta gadis itu untuk duduk. “Duduklah, Selena.” Hazel mengangguk kecil. “Baik.” Ia berjalan mendekat, lalu duduk dengan posisi tubuh yang kaku. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi keberadaan Lucian di hadapannya membuat Hazel merasa ruangan luas ini tampak sempit. Sehingga membuat dirinya kesulitan bernapas. Lucian menyandarkan tubuhnya dengan santai. Tatapannya masih tertuju kepada Hazel yang terlihat tegang. Tanpa sadar membuat dirinya tersenyum kecil. Lucian mencondongkan tubuhnya seraya berbisik pelan. "Rileks Selena." Hazel tercengang, ia refleks mengangkat wajahnya. Ia menghembuskan napas secara perlahan. “Kau banyak berubah, Selena." Hazel terdiam sejenak. “Berubah?” ulangnya pelan. “Ya.” Lucian menatap wajahnya lebih lama. “Dulu, kau jauh lebih kecil.” Hazel tersenyum canggung. “Itu sudah bertahun-tahun lalu." “Benar.” Lucian mengangguk pelan. “Aku bahkan hampir tidak mengenalimu.” Hazel menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan. Dalam hati ia merasa lega, setidaknya ini awal yang baik. Lucian tidak menyadari penyamarannya. Lucian masih menatap Selena dengan tenang. Alih-alih langsung membicarakan perjodohan mereka, pria itu justru mulai menanyakan hal-hal sederhana tentang kehidupan Selena selama beberapa tahun terakhir. “Selama tinggal di luar negeri, apa yang paling kau rindukan dari kota ini?” tanya Lucian. Hazel terdiam sejenak. Pertanyaan itu membuatnya berpikir keras. “Mungkin keluarga,” jawabnya akhirnya. “Aku merindukan suasana rumah.” Hazel tampak bingung ingin memanggil Lucian langsung dengan nama, atau Tuan. Atau mungkin Selena memiliki panggilan khusus untuk Lucian, seperti yang sering ia temukan di dalam novel maupun film. Selena tidak memberitahu soal ini padanya, dan ia tidak sempat bertanya. Lucian mengangguk pelan. “Kau masih mengingat masa kecil kita?” “Tentu saja,” jawab Hazel cepat, kemudian tersenyum kecil. “Meskipun sudah sangat lama.” “Kalau begitu, kau masih ingat aku?” Hazel kembali terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu bagaimana Selena memandang Lucian ketika mereka masih kecil. Sial, ia salah menjawab. “Aku ingat,” jawabnya hati-hati. Lucian tersenyum tipis. “Syukurlah. Aku sempat berpikir kau sudah melupakanku.” Hazel hanya membalas senyum itu. Percakapan sederhana tersebut justru membuatnya semakin gugup. Ia harus terus berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menundukkan kepala dengan sopan. “Tuan Lucian, makan malam sudah siap.” Lucian mengangguk. Ia kemudian kembali menatap Selena. "Kita makan terlebih dahulu, Selena. Setelah itu kita lanjut mengobrol." Lucian mengajak Hazel ke ruang makan. Hazel mengangguk. Ia berdiri dengan canggung, dan mengikuti langkah Lucian dari belakang. Ia masih setia menunduk, dengan kedua tangan saling bertaut. "Selena?" Lucian menghentikan langkahnya, membuat Hazel yang berjalan di belakangnya menabrak dada bidang pria itu. "Aduh!" Hazel mengaduh kesakitan. Ia menyentuh dahinya yang terasa nyeri. "Tuan, kenapa kau berhenti mendadak?" omel Hazel dengan kesal. Sedetik kemudian ia tersadar, dan mendongakkan wajahnya. Sehingga mata cokelat Hazel bertemu dengan manik gelap milik Lucian. "Maaf, ak—" "Tuan?" ulang Lucian dengan bingung. 'Bodoh sekali kau, Hazel. Lihat sekarang, kau ingin menjawab apa?' Hazel merutuki kebodohannya sendiri. Kebiasaannya setiap kesal selalu mengomel tanpa tahu tempat, dan siapa yang sedang ia hadapi. "Selena, kau memanggilku Tuan?" Lucian kembali bertanya saat tak kunjung mendapati jawaban.“Sekarang Ibu di mana? Biar Hazel jemput Ibu.”Di seberang sana, Ayunda tidak langsung menjawab. Sampai akhirnya Hazel mendengar suara bentakan seorang pria yang membuat tubuhnya seketika menegang.“Ibu, jawab Hazel. Ibu di mana? Ibu baik-baik saja, bukan?”Hazel kembali berbicara dengan bibir bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat panik. Bayangan tentang Rodric yang kembali menyakiti ibunya langsung memenuhi pikirannya.“Ha-Hazel, Ibu di Jalan Verdantia ....”“Ibu tunggu di sana. Aku tidak jauh dari tempat Ibu. Tolong tunggu sampai aku datang.”Setelah itu, panggilan terputus. Hazel dengan cepat menyimpan ponselnya dan berlari keluar dari tempat itu. Di dalam kepalanya, segala hal buruk tentang ibunya terus berputar.Ia bahkan tidak sempat memikirkan Lucian yang masih menunggunya di dalam akuarium. Saat ini, satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya hanyalah Ayunda.Hazel terus berjalan cepat hingga akhirnya keluar dari gedung akuarium. Ia segera menghentikan taksi yang ke
Hazel terdiam cukup lama. Pertanyaan Lucian membuat pikirannya bekerja keras. Ia sama sekali tidak tahu tempat apa yang selalu mereka datangi dahulu. Bahkan kenangan masa kecil Selena yang seharusnya sederhana terasa seperti teka-teki yang sulit ia pecahkan.Ia menatap ke dalam akuarium yang begitu luas. Berbagai jenis ikan terlihat berenang di balik dinding kaca, sementara cahaya kebiruan membuat suasana di dalam gedung terasa tenang. Hazel mencoba mengingat percakapan Selena sebelumnya, tetapi tidak ada satu pun petunjuk yang bisa membantunya. Selena tidak memberikan ingatan masa kecilnya dengan Lucian, bahkan kebiasaan kecil Lucian saja Selena tidak memberi tahu kepadanya.“Aku ....” Hazel menggigit bibirnya pelan. “Aku tidak tahu.”Lucian justru tertawa kecil. “Kau benar-benar lupa?”Hazel langsung menoleh. “Mungkin karena sudah terlalu lama.”Lucian mengangguk maklum. “Masuk akal. Kita terakhir kali datang ke sini bertahun-tahun lalu.”Hazel mengembuskan napas lega. Setidaknya Lu
“Apa yang ingin kau tanyakan, Lucian?” tanya Hazel hati-hati. Lucian menatapnya beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan apakah pertanyaan itu perlu ia lontarkan sekarang. Namun, pada akhirnya ia menggeleng pelan. “Nanti saja, Selena. Kita harus pergi sekarang.” Hazel terdiam. Rasa lega bercampur gugup memenuhi dadanya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ditanyakan Lucian, tetapi menundanya justru membuat pikirannya semakin dipenuhi kemungkinan buruk. Lucian kemudian berjalan mendekati ranjang Raiden. “Rai, Papi pergi sebentar bersama Tante Selena.” Raiden langsung mengerucutkan bibir. “Tante Selena ingin pergi?” Hazel merasa tidak tega melihat ekspresi bocah itu. Ia mendekat dan tersenyum lembut. “Tante harus pergi sebentar, Rai.” “Tapi aku ingin ikut bersama kalian.” Victoria yang sejak tadi memperhatikan mereka segera menghampiri Raiden. “Sayang, Tante Selena memiliki urusan penting bersama Papimu. Nanti kalau kau sudah sembuh, kau bisa bertemu dengannya lagi.”
“Mama sangat ingin bertemu denganmu, Selena."Hazel langsung terdiam. Matanya membesar mendengar jawaban Lucian. Untuk sesaat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ibu kandung Lucian, terlebih sekarang ia sedang menyamar sebagai Selena. Bagaimana jika wanita itu mengetahui bahwa dirinya bukanlah Selena? Bagaimana jika beliau mengajukan pertanyaan tentang masa lalu yang tidak dapat ia jawab?“Ma-mamamu?” tanya Hazel memastikan.Lucian mengangguk santai. “Ya. Mama sedang berada di dalam bersama Raiden. Sejak pagi, beliau yang menjaganya.”Hazel menelan ludah. Ia hanya bisa mengangguk kecil sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tak lama kemudian, Lucian mematikan mesin mobil dan keluar lebih dahulu. Ia berjalan ke sisi Hazel, lalu membukakan pintu untuknya seperti sebelumnya. Hazel turun dengan langkah hati-hati, kemudian mengikuti Lucian memasuki gedung rumah sakit.Mereka berjalan melewati lorong yang cukup tenang
Mobil hitam milik keluarga Griffin terparkir rapi di halaman kediaman Morcant. Hazel yang sejak tadi berdiri di teras langsung menegakkan tubuh ketika melihat sosok Lucian keluar dari dalam mobil. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Hari ini ia harus kembali menjadi Selena, sementara pria yang akan menjemputnya adalah orang yang paling membuatnya takut melakukan kesalahan. Diana segera menghampiri Hazel dengan senyum hangat yang terlihat begitu meyakinkan. “Selena, bersikaplah baik. Jangan terlalu merepotkan calon suamimu.” Hazel mengangguk kecil. “B-baik, Mami.” Mengikuti sandiwara yang dilakukan oleh Diana, membuat Hazel kikuk. Ia belum terbiasa, dan mungkin tidak akan terbiasa. Pasalnya ia hanyalah seorang anak pelayan, meskipun dirinya sedang bersandiwara menjadi Selena ia tidak bisa berakting dengan lancar. Dan ia harus terus mengingat bahwa untuk sementara waktu, dirinya bukanlah Hazel Lunara, melainkan Selena Morcant. Diana mengantar Hazel hingga ke depan pintu. Ketika
Selena terdiam cukup lama. Pelukannya perlahan terlepas, tetapi kedua tangannya masih berada di bahu Hazel. Wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya.“Aku juga tidak tahu, Hazel,” ucap Selena lirih. “Tapi aku akan berusaha mencari jalan keluar.”Hazel menatapnya penuh harap. “Jalan keluar seperti apa?”Selena mengalihkan pandangan ke taman. “Aku akan membantu Ibu mencari uang. Kalau kita bisa membayar denda yang harus ditanggung keluarga Morcant, mungkin perjodohan ini bisa dibatalkan tanpa menghancurkan keluargaku.”Hazel terdiam. Ia baru menyadari bahwa masalah yang dihadapi Selena jauh lebih besar daripada sekadar tidak ingin menikah dengan Lucian. Perjodohan itu bukan keputusan sederhana yang bisa dibatalkan sesuka hati. Ada kerja sama bisnis antara keluarga Morcant dan keluarga Griffin yang ikut dipertaruhkan.“Berapa besar dendanya?” tanya Hazel hati-hati.Selena menggeleng. “Aku tidak tahu jumlah







