تسجيل الدخول“Mama sangat ingin bertemu denganmu, Selena."Hazel langsung terdiam. Matanya membesar mendengar jawaban Lucian. Untuk sesaat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ibu kandung Lucian, terlebih sekarang ia sedang menyamar sebagai Selena. Bagaimana jika wanita itu mengetahui bahwa dirinya bukanlah Selena? Bagaimana jika beliau mengajukan pertanyaan tentang masa lalu yang tidak dapat ia jawab?“Ma-mamamu?” tanya Hazel memastikan.Lucian mengangguk santai. “Ya. Mama sedang berada di dalam bersama Raiden. Sejak pagi, beliau yang menjaganya.”Hazel menelan ludah. Ia hanya bisa mengangguk kecil sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tak lama kemudian, Lucian mematikan mesin mobil dan keluar lebih dahulu. Ia berjalan ke sisi Hazel, lalu membukakan pintu untuknya seperti sebelumnya. Hazel turun dengan langkah hati-hati, kemudian mengikuti Lucian memasuki gedung rumah sakit.Mereka berjalan melewati lorong yang cukup tenang
Selena terdiam cukup lama. Pelukannya perlahan terlepas, tetapi kedua tangannya masih berada di bahu Hazel. Wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya.“Aku juga tidak tahu, Hazel,” ucap Selena lirih. “Tapi aku akan berusaha mencari jalan keluar.”Hazel menatapnya penuh harap. “Jalan keluar seperti apa?”Selena mengalihkan pandangan ke taman. “Aku akan membantu Ibu mencari uang. Kalau kita bisa membayar denda yang harus ditanggung keluarga Morcant, mungkin perjodohan ini bisa dibatalkan tanpa menghancurkan keluargaku.”Hazel terdiam. Ia baru menyadari bahwa masalah yang dihadapi Selena jauh lebih besar daripada sekadar tidak ingin menikah dengan Lucian. Perjodohan itu bukan keputusan sederhana yang bisa dibatalkan sesuka hati. Ada kerja sama bisnis antara keluarga Morcant dan keluarga Griffin yang ikut dipertaruhkan.“Berapa besar dendanya?” tanya Hazel hati-hati.Selena menggeleng. “Aku tidak tahu jumlah
“Hazel, potong wortelnya lebih tipis. Nyonya Diana tidak suka kalau ukurannya terlalu besar.”“Baik, Ibu.”Hazel berdiri di dapur kediaman Morcant bersama ibunya, Ayunda Lunara. Tangannya sibuk mengiris wortel di atas talenan, sementara aroma masakan memenuhi ruangan.Semalam rasanya waktu berjalan lambat. Pertanyaan Lucian tentang pekerjaannya tidak sempat ia jawab. Raiden tiba-tiba mengalami demam yang semakin tinggi sehingga Lucian harus membawanya ke rumah sakit. Hazel sempat menawarkan diri untuk ikut, tetapi Lucian justru meminta Calvin mengantarnya pulang. Beruntung, perhatian Lucian sepenuhnya tertuju pada putranya sehingga Hazel berhasil menghindari pertanyaan yang mungkin saja semakin menyulitkan penyamarannya.Kini, setelah kembali ke kediaman Morcant, Hazel berusaha menganggap semuanya telah berlalu. Namun, pikirannya masih tertuju pada Raiden.“Menurutmu, demam anak itu sudah turun?” tanya Ayunda sambil mengaduk masakan di atas kompor.Hazel menghentikan gerakan tangannya
Raiden mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang masih terlihat sayu menatap Hazel dengan rasa penasaran. Tubuh kecilnya tampak lemas, bahkan pipinya sedikit pucat. Namun, ia tetap berusaha duduk tegak di kursinya.“Halo,” ucap Raiden pelan.Hazel tersenyum lembut. Entah mengapa, melihat anak kecil itu membuat rasa gugupnya sedikit menghilang. “Halo, Raiden. Senang bertemu denganmu.”Raiden hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih tertuju pada Hazel, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari wajah wanita di hadapannya. Setelah beberapa saat, ia justru bertanya dengan suara polos, “Tante Selena teman Papi?”“Benar.” Hazel mengangguk. “Kami sudah saling mengenal sejak kecil.”Raiden kembali mengangguk. Kemudian, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi karena terlihat semakin lemas. Hazel yang memperhatikannya langsung merasa khawatir.“Raiden sakit?” tanyanya spontan.Lucian menoleh kepadanya. “Sejak tadi siang demamnya cukup tinggi. Kondisinya sempat membaik, tetapi menjelang sore kemb
Hazel terdiam selama beberapa saat. Ia menatap Lucian dengan wajah panik, berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk menjelaskan kesalahannya. Dalam situasi seperti ini, ia tidak boleh sampai membuat Lucian curiga. Namun, semakin lama ia diam, semakin jelas pula kebingungan di wajah pria itu.“Maaf,” jawab Hazel akhirnya. “Aku hanya terlalu gugup.”Lucian mengangkat sebelah alisnya. “Gugup?”Hazel mengangguk cepat. “Ya. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapanmu.”Ekspresi Lucian perlahan melunak. “Kau tidak perlu bersikap terlalu formal padaku, Selena.”Hazel menghela napas lega. Setidaknya, alasan itu berhasil membuat Lucian berhenti bertanya.“Baik, aku coba bersikap santai di hadapanmu,” jawabnya pelan.“Kalau begitu, panggil aku Lucian.”Hazel membeku sesaat. Panggilan itu terdengar sederhana, tetapi baginya terasa sangat sulit. Selama ini, ia hanya mengenal pria itu dari cerita Selena. Sekarang, ia harus berpura-pura menjad
Hazel menoleh secara perlahan. Kedua matanya membelalak, bibirnya terbuka. Pria dengan tinggi 185 cm itu berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya sangat tampan, alisnya tebal, rahangnya tegas.Tatapan Hazel tanpa sadar menyusuri penampilan pria itu. Kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya itu tampak sempurna. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari Hazel.“Selena?”Suara berat itu membuat Hazel tersentak. Ia berdiri dengan canggung.“Ah, ya?" jawabnya gugup.Lucian berhenti tepat di hadapannya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Hazel dalam diam.“Bagaimana kabarmu, Selena?" tanya Lucian dengan suara beratnya.Hazel menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin kencang.“B-baik, sangat baik," jawabnya terbata-bata.Hazel tidak berani menatap Lucian. Hazel menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia takut jika terlalu lama menatap Lucian, pria itu akan menyadari sesuatu yang aneh dari dirinya. Lucian justru memp







