Share

I Choose To Love You
I Choose To Love You
Penulis: Dia Mulandari

Chapter 1 - Awal Mula

Marissa berdiri di balik kasir, mengamati gerak-gerik seorang pria yang menutup sebagian wajahnya dengan topi. Sementara di seberang mejanya ada seorang Kakek. Memegang tongkat berlapis emas, jas dan celana berwarna senada yang rapi bersih seakan menyampaikan pada semua orang bahwa ia bukan orang biasa. Oh, jangan lupa topi fedora putih dengan garis hitam di sekelilingnya. Marissa menghela pendek. Sesekali pria bertopi itu melirik si Kakek.

Gawat jika pria itu berniat merampok atau mencelakai si Kakek. Keadaan kafe sepi, hanya ada mereka berdua di dalam sini. Oh, salah. Bertiga dengan Marissa.

Marissa bukannya takut. Ia tidak ingin terlibat dalam hal semacam ini. Marissa ingin hidup tenang tanpa musuh. Bisa saja, kan, jika Marissa ikut campur dan menggagalkan niat jahatnya. Pria itu dendam pada Marissa dan menjadikannya target selanjutnya. Itu pun kalau pria itu tak mendekam dibalik jeruji besi.

“Halo? Kenapa meneleponku?” Si Kakek berbicara dengan seseorang, melalui ponselnya.

Pria itu menoleh, menelan salivanya laku kembali menunduk.

“Anak kecil? Kau menyebut Kakekmu anak kecil? Dasar cucu kurang ajar! Berhenti menghubungiku!” teriak Si Kakek.

Kenapa Kakek itu harus berkeliaran seorang diri? Lihat, kan sekarang. Dia jadi sasaran empuk korban kejahatan. Marissa mengembuskan napas pasrah ketika pria itu perlahan berdiri dari duduknya. Pria itu melirik Marissa sekilas. Hati nuraninya tergerak, kaki Marissa melangkah keluar dari balik kasir, menghampiri pria itu.

Marissa tidak mau menjadi saksi pembantaian seorang kakek-kakek.

Pria itu mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketnya. Marissa hampir berlari, menarik tangan pria itu menjauh, memelintirnya dan pisaunya jatuh. Oh? Mudah sekali. Marissa pikir pria ini lumayan kuat. Ternyata tidak sama sekali.

Pria itu merintih kesakitan, mengundang tanya si Kakek. Marissa melempar senyum tipis pada si Kakek kemudian melanjutkan aksinya. Marissa menendang belakang lutut si pria hingga jatuh bersimpuh dilantai.

“Argh!! Sakit!”

Marissa melirik si Kakek lagi, “Kakek, bisa tolong hubungi polisi?”

Kakek itu mengangguk kaku, memandang Marissa dan si pria bergantian. Marissa masih setia memegang kedua tangan pria itu sementara si Kakek sibuk menjelaskan kronologi singkat dengan polisi.

Tidak lama, si Kakek menghubungi seseorang. Bukan polisi, Marissa juga tidak tahu.

“Terima kasih, aku berutang padamu,” ucap si Kakek melangkah bersama suara ketukan tongkatnya ke arah Marissa. Walau air mukanya menunjukkan tanda waspada.

Marissa tersenyum simpul. Kakek itu ikut tersenyum sambil sesekali menunduk, menatap si pria. Dan, oh tunggu! Sampai kapan Marissa diam dalam posisi ini?

***

Pria itu masuk ke dalam mobil bersama seorang polisi. Marissa tersenyum puas. Hari ini ia melakukan sesuatu yang baik. Pandangan kemudian beralih pada lima pria berpakaian serba hitam. Jas, celana, sepatu bahkan kacamatanya juga hitam. Mereka berlima berdiri tak jauh dari si Kakek.

Oh, iya. Para bodyguard ini datang lebih dulu daripada polisi. Sehingga si Kakek memerintah salah satu dari mereka menggantikan Marissa memegang si penjahat. Marissa semakin yakin Kakek ini bukan rakyat biasa. Tiba-tiba si Kakek menatap Marissa.

“Sekali lagi terima kasih,” katanya tulus. “Aku tidak menyangka kau hebat melawan pria dengan tubuh kecilmu.”

Kakek itu tertawa lepas. Berbeda dengan Marissa yang tersenyum terpaksa. Perkataan si Kakek barusan memang fakta. Tapi, tidak harus diperjelas juga, kan?

“Sudah seharusnya aku menolong Kakek.”

“Kau anak yang baik. Dulu, aku sangat menginginkan anak bahkan sampai cucu perempuan. Tapi, tak pernah terwujud. Aku pasti sangat beruntung jika memiliki cucu sepertimu.”

“Kakek, cucu laki-laki juga bagus. Mereka bisa menjagamu. Iya, kan?”

Si Kakek menggeleng pelan, “Kau salah besar. Mereka sama sekali tidak peduli.”

Sebuah mobil mendadak berhenti tepat di depan Marissa dan si Kakek.

“Contohnya, cucuku yang ini,” lanjut si Kakek ketika seorang pria keluar dari mobil.

“Kakek!” panggil pria itu, “Lihat, kan? Ini yang terjadi karena Kakek tidak mendengarku.”

Kakek itu mendengus, “Apa katamu? Perkataanmu yang mana yang harus aku dengarkan?”

“Kakek, berhenti bersikap keras kepala. Ayo pulang sekarang,” perintah pria itu sambil berkacak pinggang.

Kakek itu mengayunkan tongkatnya dan mendarat di kepala si pria. “Jaga bicaramu.”

Marissa sempat menatap pria itu. Tingginya menjulang dengan bahu lebar. Satu hal yang sempat membuat Marissa terhipnotis adalah mata pria itu berwarna biru. Selebihnya tidak Marissa perhatikan, takut pria itu memergokinya.

“Aku akan pulang. Jadi, tidak usah banyak bicara,” lanjut si Kakek, memperingati cucunya.

“Tunggu,” Kakek itu menoleh ke arah Marissa, “Aku belum tahu namamu.”

“Marissa,” sahut Marissa singkat.

Kakek itu mengangguk pelan lalu menatap cucunya, “Marissa yang menyelamatkanku dari penjahat tadi.”

“Terima kasih,” ucap pria itu tanpa menatap Marissa.

“Lihat, lah. Bagaimana caramu berterima kasih. Sangat tidak tulus,” tegur si Kakek.

Sebenarnya Marissa sama sekali tidak masalah. Namun pria itu menatap Marissa, sesuai perintah kakeknya. “Terima kasih banyak,” ulangnya.

Tanpa berlama-lama, pria itu melengos masuk ke dalam mobilnya. Lalu menurunkan kaca jendela dan meminta kakeknya segera naik.

Si Kakek mendengus, melirik Marissa, “Sudah kubilang, cucu laki-laki itu tidak berguna.”

Marissa hanya bisa tersenyum simpul menanggapi si Kakek.

***

“Kau menunggu siapa? David?”

Marissa mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Menatap Anna lalu mengangguk.

Perempuan berambut pirang itu mendengus sebal dari balik meja kasir, “Marissa, aku sudah bilang David itu bukan laki-laki baik. Lebih baik kau putus dengannya.”

Marissa bisa maklum mengapa temannya ini terus menyarankan agar ia putus dari David. Tetapi, Marissa tidak bisa. Marissa tidak rela jika lima tahunnya bersama David harus kandas hanya karena pria itu berlagak tak lagi mencintainya.

Ya! Marissa akui itu. Beberapa bulan ini, David seakan menjauh. Tak ada lagi David yang romantis, tak ada lagi David yang selalu mencarinya dan tak ada David yang dulu.

“Bisa-bisanya dia membiarkanmu menunggu dua jam!” Anna berkacak pinggang.

Marissa menoleh hati-hati. Takut pelanggan yang duduk santai malam ini terkejut dengan suara Anna yang cukup keras. Beberapa di antara menoleh sekilas, namun lebih banyak yang tidak terlalu peduli.

“Anna, tenang.”

“Aku tidak bisa tenang sebelum kalian putus. Aku yakin seratus persen laki-laki itu selingkuh.”

Marissa pernah punya prasangka semacam itu. Tapi, sekali lagi. Marissa berusaha mengenyahkan pikiran itu. Ini semua demi hubungannya bersama David.

“David bukan laki-laki seperti itu.”

Anna memutar bola matanya jengah, “Marissa, berhenti membela laki-laki itu.”

Baru saja Marissa ingin membalas, getar ponsel yang tergeletak di atas meja mengurungkan niatnya. Cepat-cepat Marissa mengangkat ponselnya. Pesan dari David! Ujung bibir Marissa terangkat tinggi.

“Cih! Pasti dari David,” sahut Anna.

Marissa, aku minta maaf. Rencana kita malam ini batal, aku harus lembur.

Senyum Marissa lenyap tak bersisa. David-nya membatalkan janji makan malam. Meski mencoba mengerti karena ini masalah pekerjaan. Tetap saja, ada sudut hatinya yang begitu sakit.

“Kenapa? Dia tidak bisa, kan?”

Marissa mengangguk lemah. Lagi-lagi ia tidak bisa bertemu kekasihnya.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
menarik nih ceritanya.. pengen follow akun sosmed nya tp ga ketemu :( boleh kasih tau gaa?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status