Accueil / Romansa / I Hate My CEO / Bab 5 Hari Pertama dan Tatapan Pertama

Share

Bab 5 Hari Pertama dan Tatapan Pertama

Auteur: Fajar
last update Dernière mise à jour: 2025-09-07 06:15:17

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamar kost Lily. Ia sudah bangun lebih awal, mandi, dan mengenakan pakaian rapi untuk hari pertamanya di PT Elfano. Kemeja putihnya disetrika rapi, rok hitamnya terpasang sempurna, dan rambutnya diikat sederhana agar terlihat rapi.

Lily berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Matanya masih menyimpan bekas kantuk, tapi ada tekad yang terlihat jelas.

“Harus tetap semangat… hari ini gue nggak boleh mengecewakan diri sendiri. Walaupun posisinya cleaning service," ucapnya dalam hati sambil mengatur posisi kemeja dan rok agar rapi.

Ia menarik napas panjang, tersenyum tipis pada cermin, lalu menatap jam di dinding. Waktu menunjukkan sudah hampir jam masuk kerja. Lily mengambil tasnya, lalu melangkah keluar kamar kost dengan langkah mantap.

Sesampainya di kantor, Lily menatap sekeliling dengan kagum sekaligus gugup. Gedung modern dengan lantai marmer dan jendela besar membuatnya merasa kecil di antara hiruk-pikuk karyawan yang lalu-lalang.

Tak lama, Martha muncul di depannya dan berkata tegas, “Lily, ikut saya. Saya akan tunjukkan tempat kamu bekerja.”

Lily mengikuti Martha melewati koridor hingga tiba di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk karyawan cleaning service. Di sana sudah tersedia beberapa loker dengan pakaian kerja yang rapi tergantung di gantungan.

Martha mengambil satu setelan baju cleaning service berwarna biru tua, lalu menyerahkannya kepada Lily. “Ini baju kerjamu. Segera kenakan,” ujar Martha singkat.

Lily menatap baju itu sebentar, menghela napas, lalu mulai mengganti pakaiannya di ruang ganti kecil.

Setelah Lily selesai, Martha sedikit menjelaskan tugas-tugas yang harus dijalani. “Kamu akan bertanggung jawab membersihkan ruang kerja, area umum, dan pastikan semuanya rapi sebelum jam kerja dimulai. Pekerjaan ini penting agar suasana kantor tetap nyaman bagi semua karyawan,” jelasnya.

Lily mengangguk, mencoba menyerap semua informasi itu. “Iya, Bu. Saya mengerti.”

Martha menepuk bahu Lily sebentar, lalu berkata, “Kalau begitu, mulai saja kerjamu sekarang. Nanti saya akan memeriksa dan memberi instruksi tambahan bila diperlukan.”

Dengan itu, Martha meninggalkan Lily sendirian di ruang cleaning service, meninggalkannya dengan perasaan campur aduk: gugup, sedikit kecewa, tapi tetap bertekad untuk menjalani hari pertamanya dengan baik.

Lily menaruh kemeja putih dan rok hitamnya ke dalam loker kecil, memastikan semuanya rapi sebelum menutupnya. Saat menatap sekeliling, matanya tertumbuk pada sosok yang familiar—pria tua yang ia temui kemarin di lift.

Pria itu mendekat dengan langkah perlahan dan ramah. “Kamu gadis yang kemarin kan? Apa yang kamu lakukan di ruang karyawan cleaning service ini?” tanyanya, nada suaranya penuh ingin tahu.

Lily sedikit tersenyum, lalu menjawab, “Iya pak… saya sekarang bagian cleaning service di sini, Pak.”

Pria tua itu tampak terkejut. Matanya menatap Lily penuh kebingungan. “Masa sih, gadis cantik seperti kamu? Harus bekerja sebagai cleaning service? Setahu saya untuk posisi ini sudah cukup orang?”

Lily menunduk sebentar, kemudian menjawab dengan nada tenang, “Saya… tidak tahu, Pak. Ini arahan dari CEO.”

Pria tua itu mengangguk perlahan, mencoba mencerna penjelasan Lily. “Oh… begitu ya. Perkenalkan, saya Edi."

Lily tersenyum tipis, lalu memperkenalkan dirinya, “Senang bertemu dengan Anda, Pak. Nama saya Lily.”

Edi tersenyum, meskipun wajahnya masih terlihat sedikit kebingungan melihat Lily berada di posisi itu. “Senang bertemu denganmu juga, Lily. Semoga hari pertamamu di sini lancar.”

Lily mengangguk, menarik napas dalam, lalu bersiap memulai pekerjaannya di ruang cleaning service dengan semangat yang ia coba bangkitkan.

Lily berjalan pelan sambil menyapu koridor panjang di lantai kantor. Suara sapu menyentuh lantai bergema di antara dinding kaca dan marmer. Fokusnya masih terbagi antara membersihkan dan menenangkan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan, seorang wanita muda dengan seragam cleaning service yang sama menghampirinya. Wanita itu tersenyum ramah.

“Hai, kamu baru ya?” tanya wanita itu sambil menatap Lily.

Lily tersenyum, sedikit terkejut tapi lega melihat sikap ramahnya. “Iya… nama saya Lily,” jawabnya.

Wanita itu mengangguk dan memperkenalkan dirinya. “Senang bertemu denganmu, Lily. Aku Gita. Aku sudah enam tahun bekerja di sini, jadi bisa dibilang senior. Kalau ada yang perlu ditanya atau butuh bantuan, aku bisa bantu.”

Lily menunduk sopan sambil tersenyum. “Senang bertemu denganmu juga, Kak Gita. Makasih ya… aku pasti akan banyak belajar dari Kakak.”

Gita menepuk bahu Lily sebentar dengan hangat. “Santai aja, Lily. Hari pertama memang biasanya bikin grogi. Tapi nanti kamu bakal terbiasa kok.”

Lily menarik napas panjang, merasa sedikit lebih tenang. Ia menatap koridor yang masih harus dibersihkan, lalu mulai menyapu kembali dengan semangat yang sedikit bertambah, sambil sesekali menoleh ke arah Kak Gita yang berjalan bersamanya di koridor.

Setelah beberapa menit berjalan bersama, Kak Gita menepuk bahu Lily. “Lily, aku ajak kamu berkeliling dulu, biar kamu tahu area kerja dan sedikit tugas-tugas yang harus kamu lakukan.”

Lily mengangguk, mengikuti Kak Gita dengan penuh perhatian. Mereka berjalan melewati koridor-koridor kantor, menuruni tangga dan sesekali melewati ruang-ruang kerja karyawan.

“Pertama, setiap pagi kita harus memastikan lantai koridor dan ruang kerja karyawan bersih. Kalau ada noda atau sampah, segera dibersihkan,” jelas Kak Gita sambil menunjuk beberapa area yang sudah mereka lewati.

“Selain itu, kita juga harus merapikan ruang pantry dan area umum, termasuk memastikan meja-meja rapih, gelas bersih, dan lantai tidak licin. Kalau ada karyawan yang minta tolong, kita bantu sebisa mungkin,” lanjut Kak Gita sambil berjalan ke ruang pantry yang tampak rapi.

Lily mengangguk, mencoba mengingat semua instruksi itu. “Iya, Kak. Aku akan berusaha ingat semua tugasnya.”

Kak Gita tersenyum, sedikit menepuk punggung Lily. “Santai, Lily. Kalau ada yang lupa, nanti aku ingatkan. Yang penting kamu mulai terbiasa dulu. Setelah beberapa hari, semua akan terasa lebih mudah.”

Mereka terus berjalan, Kak Gita menunjukkan letak peralatan kebersihan, area loker, dan titik-titik penting lain yang perlu diperhatikan. Lily menyimak dengan seksama, berusaha menyesuaikan diri secepat mungkin dengan rutinitas baru ini.

Beberapa saat kemudian, Lily sudah bersiap dengan perlengkapan kebersihan di tangannya. Ia masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 6, tempat ia mendapat tugas membersihkan beberapa ruangan. Lift perlahan menutup, tapi tiba-tiba berhenti di lantai 1.

Betapa terkejutnya Lily ketika pintu terbuka dan sosok Fajar melangkah masuk dengan wajah dingin khasnya. Lily spontan menundukkan kepala, pura-pura sibuk merapikan sapu di tangannya.

Fajar berdiri tegak di sampingnya, hendak menekan tombol lantai 6, namun melihat tombol itu sudah menyala. Ia mengurungkan niatnya dan hanya memasukkan tangannya ke saku jas.

Pintu lift kembali menutup, suasana di dalam ruangan sempit itu menjadi hening. Suara mesin lift yang bergerak ke atas terdengar jelas.

Di dalam hati, Lily merasa sangat canggung. "Ya ampun… kenapa harus ketemu dia di sini." pikirnya. Ia merasakan jantungnya berdebar lebih kencang, sementara tangannya menggenggam erat gagang sapu untuk menutupi kegugupannya.

Fajar sendiri tetap dengan ekspresi datarnya, menatap ke arah pintu lift tanpa sepatah kata pun. Namun sesekali matanya melirik sekilas ke arah Lily, seolah menyadari kecanggungan yang dirasakan gadis itu.

Di dalam lift yang hening itu, Lily memberanikan diri untuk membuka suara. Dengan nada canggung, ia berkata pelan,

“Selamat pagi, Pak…”

Fajar menoleh sekilas, ekspresinya tetap dingin. “Pagi,” jawabnya singkat dengan nada datar.

Detik berikutnya, bunyi ting terdengar. Pintu lift terbuka di lantai 6. Lily segera melangkah cepat keluar, ingin menghindari rasa canggung yang semakin menyesakkan. Namun, langkahnya tergesa membuat kakinya tersandung. Tubuhnya hampir terhempas ke lantai, tapi sebelum benar-benar jatuh, sebuah tangan kuat dengan sigap menangkapnya.

Lily terkejut. Saat ia mengangkat wajah, matanya bertemu dengan tatapan Fajar dari jarak hanya beberapa inci. Waktu seolah berhenti sejenak.

“Hati-hati,” ucap Fajar singkat, suaranya tetap datar, namun ada sedikit ketegasan.

Pipi Lily memanas. Ia buru-buru melepaskan diri dari pegangan itu.

“Maaf, Pak… saya permisi,” ucapnya cepat sambil menunduk, lalu segera berjalan menjauh dengan langkah kecil yang tergesa.

Fajar masih berdiri di depan lift, matanya mengikuti punggung Lily yang semakin menjauh di koridor. Tatapannya datar, namun ada sesuatu di balik sorot matanya yang sulit diartikan.

Lily berusaha fokus pada pekerjaannya. Ia menyapu koridor, mengelap kaca, dan membereskan meja-meja sesuai instruksi yang diberikan Gita. Namun, pikirannya terus melayang pada kejadian di lift tadi pagi.

Saat ia meremas kain pel yang basah, wajah Fajar saat menatapnya begitu dekat kembali terbayang jelas di benaknya. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia mengerti alasannya.

“Aneh banget…” gumamnya pelan sambil menunduk. “Kenapa gue jadi kepikiran terus?”

Tangannya sempat berhenti bergerak. Lily mengguncang kepalanya pelan, mencoba mengusir bayangan itu. Ia menepuk pipinya sendiri perlahan, berusaha menenangkan diri.

“Udah, jangan aneh-aneh. Fokus kerja, Li,” katanya kepada dirinya sendiri.

Namun, meski ia mencoba keras, rasa canggung bercampur hangat itu tetap menyelinap dalam dadanya. Seakan kejadian singkat di lift tadi meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status