Accueil / Romansa / I Hate My CEO / Bab 6 Hari Pertama, Ujian Pertama

Share

Bab 6 Hari Pertama, Ujian Pertama

Auteur: Fajar
last update Dernière mise à jour: 2025-09-07 06:18:54

Jam istirahat siang tiba. Para karyawan cleaning service beramai-ramai menuju sebuah warteg sederhana tak jauh dari kantor. Lily ikut bersama mereka, duduk di kursi panjang berhadapan dengan Gita dan beberapa karyawan lain.

Namun, saat yang lain sibuk memesan lauk, Lily hanya diam menatap meja, pikirannya masih dipenuhi kejadian di lift pagi tadi.

“Li, kamu nggak mesen apa-apa?” tanya Gita sambil melirik heran.

Lily tidak merespons, tatapannya kosong. Ia masih larut dalam lamunannya.

“Li!” panggil Gita lagi sambil menepuk lengan Lily pelan.

Lily tersentak kecil, lalu tersenyum kikuk. “Iya… iya, Kak.”

Gita mengernyit. “Kamu kenapa, kok melamun aja dari tadi?”

Lily buru-buru menggeleng, mencoba menutupi kegugupannya. “Gak apa-apa, Kak. Hehehe…” ucapnya sambil memaksakan senyum.

Gita hanya menatapnya sejenak, masih curiga, namun akhirnya membiarkannya. “Ya sudah, pesan makan sana! Kerja bakal berat kalau perut kosong.”

Lily mengangguk kecil, lalu mulai mengambil nasi meski di dalam hatinya masih kacau, mengingat sorot mata Fajar yang terasa begitu dekat pagi tadi.

Setelah selesai makan siang, Lily kembali ke kantor bersama Gita dan karyawan cleaning service lainnya. Ia segera mengambil alat kebersihannya lalu menuju ke main hall untuk melanjutkan pekerjaannya.

Suasana hall cukup sepi, hanya terdengar langkah kaki orang lalu lalang. Lily fokus menyapu, sesekali melirik kaca besar yang memantulkan bayangan dirinya.

Tiba-tiba, Martha menghampirinya.

“Lily,” panggil Martha dengan nada tegas namun ramah.

Lily menoleh cepat. “Iya, Bu?”

“Tolong kamu bersihkan ruangan Pak Fajar ya, habis ini,” ucap Martha singkat.

Sekejap wajah Lily berubah terkejut. Jantungnya berdetak lebih cepat, ingatannya langsung kembali pada kejadian pagi tadi di dalam lift. Ia sempat ragu, lalu memberanikan diri bertanya dengan nada hati-hati.

“Maaf, Bu… ruangan Pak Fajar ada di mana, ya?”

Martha menjawab singkat sambil melirik jam tangannya. “Di lantai 6. Kamu nanti langsung saja naik lift ke sana.”

Lily mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan kegugupannya. “Baik, Bu…”

Martha tersenyum tipis, lalu meninggalkannya untuk melanjutkan pekerjaannya.

Setelah Martha pergi, Lily berdiri mematung sejenak, tangannya masih menggenggam gagang sapu dengan erat. Dalam hati ia berbisik, Ya ampun… kenapa harus gue yang bersih-bersih di ruangannya?

Sesampainya di lantai 6, Lily berdiri di depan sebuah pintu besar dengan nameplate bertuliskan “CEO”. Tangannya sedikit bergetar saat ia mengangkat gagang pintu untuk mengetuk.

Tok tok tok.

Tak ada jawaban. Ia menunggu beberapa detik, lalu mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras.

Tok tok tok.

Masih tetap hening.

Dengan hati-hati, Lily meraih gagang pintu. Ternyata tidak terkunci. Ia mendorong perlahan hingga pintu berderit pelan, lalu menyelipkan kepalanya ke dalam.

“Permisi…” ucapnya dengan suara lembut.

Namun, ruangan itu kosong. Tak ada siapa pun di dalamnya. Lily menarik napas lega, lalu tersenyum kecil.

"Baguslah… setidaknya aku bisa bekerja tanpa harus bertemu Pak Fajar lagi."

Ia pun masuk, menutup pintu perlahan, dan mulai bekerja.

Ruangan itu luas dan elegan, dengan aroma kayu yang menenangkan. Lily kagum melihat kaca besar menjulang tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota dari lantai 6. Gedung-gedung berjejer, jalanan tampak sibuk, dan langit biru terlihat begitu indah dari balik kaca itu.

Sambil menyapu perlahan, matanya tertuju pada meja kerja besar dari kayu hitam yang tampak rapi dan berwibawa. Di atas meja itu, terdapat beberapa dokumen, laptop, serta sebuah bingkai foto keluarga.

Rasa penasarannya mendorong langkah Lily semakin dekat. Begitu melihat lebih jelas, ternyata itu adalah foto saat wisuda Fajar. Di sana tampak seorang pria paruh baya berwajah tegas berdiri di sisi kanan—papahnya Fajar. Di sisi kiri, seorang wanita anggun—mamahnya Fajar. Dan tepat di tengah mereka, Fajar mengenakan toga, tersenyum lebar. Senyum yang begitu berbeda dengan wajah dingin yang selalu ia perlihatkan.

"Jadi ini… keluarga Pak Fajar?" pikirnya dalam hati, sedikit takjub.

Lily terdiam beberapa saat, matanya tak lepas dari senyum itu.

"Kayak gini ternyata kalau dia senyum…" batinnya, sedikit terpesona.

Perasaan aneh muncul dalam dirinya, seolah melihat sisi lain dari Fajar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setelah selesai membersihkan, Lily merapikan meja, menyapu lantai hingga bersih, dan memastikan tidak ada debu tertinggal. Ia lalu menggulung kain pelnya, memasukkan botol pembersih ke dalam ember kecil, dan menggenggam gagang sapu serta kemocengnya.

Dengan napas lega, ia melangkah menuju pintu sambil membawa semua alat kebersihan itu. Tepat ketika tangannya hendak meraih gagang pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari luar.

Sosok Fajar masuk, membuat Lily terlonjak kaget.

Mata mereka saling bertemu sejenak.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara Fajar datar, nadanya terdengar seperti interogasi.

Lily buru-buru menunduk, suaranya agak gemetar.

“Maaf, Pak… saya lancang. Tapi tadi saya disuruh Bu Martha untuk membersihkan ruangan Bapak.”

Fajar terdiam, matanya menatap Lily lama seolah ingin memastikan ucapannya. Tak ada kata keluar dari bibirnya, hanya keheningan yang terasa semakin berat.

Lily menelan ludah, lalu sedikit membungkuk.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.”

Tanpa berani menatap lebih lama, Lily melangkah keluar melewati sisi Fajar, jantungnya berdegup cepat. Begitu pintu menutup di belakangnya, meninggalkan Fajar yang kini berdiri sendiri di ruangannya, masih menatap pintu dengan ekspresi sulit ditebak.

Malam itu, setelah pekerjaan selesai, Lily melangkah ke ruang loker dengan tubuh terasa letih. Ia membuka pintu loker kecilnya, lalu mengambil kemeja putih dan rok hitam yang tadi ia simpan.

Saat ia hendak merapikan barang, tiba-tiba suara familiar terdengar.

“Gimana hari pertama bekerja?” tanya Edi sambil menepuk pintu loker pelan.

Lily menoleh dan tersenyum sopan.

“Lumayan capek sih, Pak…” jawabnya sambil terkekeh kecil.

Edi tertawa pendek. “Nanti lama-lama juga terbiasa. Namanya juga awal-awal.”

“Hmm… iya, Pak,” sahut Lily.

Setelah itu, Edi meraih tasnya. “Kalau gitu saya duluan ya, Lily.”

“Iya, Pak. Hati-hati di jalan,” balas Lily.

Tak lama setelah Edi pergi, Gita masuk ke ruang loker dengan wajah segar.

“Lily, aku pulang dulu ya.”

Lily tersenyum, “Iya, Kak. Hati-hati di jalan.”

Kini, hanya Lily seorang diri di ruang loker. Ia sedang melipat kemejanya ketika tiba-tiba pintu terbuka lagi. Sosok Martha masuk dengan ekspresi sedikit tergesa.

“Oh, Lily, kebetulan kamu masih ada,” katanya.

Lily menoleh sopan, “Iya, Bu?”

Martha mendekat, suaranya tenang tapi tegas.

“Maaf, sebelum kamu pulang, tolong buatkan beberapa kopi untuk karyawan yang lembur malam ini, ya.”

Lily sempat terdiam. Dalam hatinya, ia ingin menolak karena tubuhnya sudah sangat lelah. Namun ia sadar, ini hari pertamanya bekerja—ia harus profesional.

Dengan senyum kecil, Lily mengangguk.

“Baik, Bu.”

“Bagus. Terima kasih ya,” kata Martha sebelum berbalik meninggalkan ruang loker.

Lily menarik napas panjang, lalu menutup kembali pintu lokernya.

“Ya sudahlah… demi kerjaan,” gumamnya pelan sambil mengambil langkah keluar untuk segera membuat kopi.

Lily berjalan menuju lift dengan nampan kosong di tangan. Ia naik ke beberapa lantai, lalu mendatangi ruangan-ruangan yang masih menyala terang. Beberapa karyawan tampak sibuk di depan komputer, sebagian lagi berdiskusi sambil menumpuk berkas di meja.

“Permisi,” Lily memberanikan diri menyapa dengan sopan, “apakah ada yang ingin pesan kopi atau minuman lain?”

Beberapa kepala langsung menoleh. Seorang pria muda melepas kacamatanya dan tersenyum lelah.

“Wah, pas banget. Saya kopi hitam, jangan terlalu manis ya.”

“Baik, Pak,” jawab Lily sambil mencatat di buku kecilnya.

Seorang karyawan perempuan yang duduk di sudut ikut bersuara. “Kalau aku cappuccino ya, Mbak. Sama camilan kecil kalau ada.”

“Siap, Bu.” Lily menulis cepat.

Tak lama, beberapa karyawan lain juga mulai memesan: ada yang minta teh hangat, ada yang minta kopi susu, bahkan ada yang bercanda, “Kalau bisa, sekalian energi tambahan deh, Mbak.”

Lily hanya tersenyum mendengar gurauan itu. Ia mencatat satu per satu pesanan dengan rapi.

Di salah satu lantai, Lily masuk membawa buku catatannya. Beberapa karyawan menoleh sekilas, lalu kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. Saat ia hendak bertanya pesanan, seorang pria tua dengan rambut sedikit memutih dan wajah berkerut menatapnya heran.

“Kamu cleaning service, ya?” tanyanya sambil menyipitkan mata. “Kok saya baru pertama kali lihat kamu di sini? Biasanya Edi yang selalu buat kopi untuk kita.”

Lily tersenyum sopan. “Iya, Pak. Saya baru kerja… hari ini malah hari pertama.”

“Oh begitu.” Pria tua itu mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba berkata sambil menatap Lily dari ujung kepala sampai kaki, “Cantik-cantik gini masa jadi cleaning service…”

Lily hanya tersenyum tipis, senyuman hampa yang tidak bisa menyembunyikan perasaan aneh di dadanya.

Pria itu kembali mengernyit. “Setahu saya bukannya bagian cleaning service sudah cukup orang ya?”

Lily menarik napas pelan sebelum menjawab. “Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya mengikuti arahan dari Pak Fajar.”

“Oh iya, iya…” pria tua itu mengangguk-angguk lagi, seolah mengerti.

Sementara Lily dalam hati langsung bergumam, “Tadi Pak Edi juga bilang gini… emang bener sih. Gue yakin banget pasti Pak Fajar pengen bales dendam sama gue, makanya gue ditaruh di posisi ini.”

Pria tua itu kemudian berkata, “Kalau gitu, saya pesan kopi pahit ya.”

“Baik, Pak.” Lily segera mencatat pesanan itu di bukunya.

Saat keluar dari ruangan, ia menatap catatan di tangannya yang penuh coretan. Dalam hati ia bergumam, “Multitalent banget gue… bersih-bersih iya, jadi barista juga iya.”

Ia terkekeh kecil sendirian, lalu melangkah ke pantry untuk menyiapkan semua pesanan itu dengan hati-hati.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status