Home / Romansa / I Hate My CEO / Bab 4 Dijatuhkan di Hadapan Semua Orang

Share

Bab 4 Dijatuhkan di Hadapan Semua Orang

Author: Fajar
last update Last Updated: 2025-09-07 06:10:01

Beberapa menit kemudian, setelah semua wawancara selesai, Fajar membuka berkas yang ada di depannya. Ia menatap para kandidat dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada tegas,

“Baik. Berdasarkan hasil wawancara, saya sudah menentukan bidang kerja masing-masing. Beberapa dari kalian akan langsung ditempatkan di posisi yang sesuai, namun ada dua kandidat yang sayangnya belum bisa bekerja di PT Elfano.”

Fajar membuka berkas di depannya. Suasana ruangan hening, semua kandidat menunggu dengan penuh harap. Dengan suara tegas dan wibawa, Fajar mulai menyebutkan satu per satu.

“Rangga, kamu akan ditempatkan di bagian Administrasi.”

Rangga menghela napas lega sambil tersenyum kecil.

“Sinta, kamu masuk ke bagian Public Relation.”

Sinta tampak girang dan langsung menunduk hormat.

“Davin, bagian Keuangan.”

Davin tersenyum puas sambil mengangguk.

Fajar terus melanjutkan hingga menyebut sebagian besar kandidat dengan bidang mereka masing-masing. Namun ketika tersisa beberapa nama, Fajar berhenti sejenak. Wajah dua kandidat tampak tegang.

“Untuk Clara dan Bayu,” suara Fajar terdengar datar, “maaf, kalian belum bisa bergabung dengan PT Elfano.”

Kedua kandidat itu terlihat kecewa, sementara suasana ruangan makin penuh ketegangan.

Tinggal satu posisi yang belum disebutkan—sekretaris CEO.

Dalam hati Lily berdebar kencang, “Demi apa… gue jadi sekretarisnya dia?” Sebuah perasaan antara gugup dan tak percaya sempat singgah di benaknya.

Namun tiba-tiba Fajar membuka suara dengan nada datar, “Untuk saudari Lily, kamu akan saya tempatkan di bagian cleaning service.”

Lily sontak sedikit terkejut. Alisnya berkerut, ia mengangkat kepala pelan, lalu dengan suara tenang namun terdengar getir ia berkata, “Maaf, Pak… tapi itu tidak ada dalam pilihan lowongan yang ditawarkan.”

Fajar menatapnya tajam. “Kalau kamu menolak, kamu bisa keluar sekarang.”

Beberapa kandidat lain tak kuasa menahan tawa kecil, membicarakan Lily dengan bisik-bisik. Namun seketika Fajar menoleh ke arah mereka, nadanya dingin menusuk, “Jika kalian masih berani menertawakan, saya tidak akan segan-segan menolak kalian jadi karyawan di sini.”

Suasana hening. Tawa yang tadi sempat terdengar lenyap begitu saja.

Lily menunduk sejenak, menimbang kata-kata, lalu dengan suara pelan tapi tegas ia berkata, “Maaf, Pak… apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?”

Tatapan Fajar tak berubah, dingin dan tanpa ekspresi. “Sudah jelas. Kalau kamu menolak, kamu bisa keluar.”

Saat itu Martha, yang berdiri di sisi ruangan, memberanikan diri angkat bicara. “Maaf, Pak Fajar… bagaimana dengan posisi sekretaris Anda?”

Fajar menoleh sekilas, lalu berkata dengan nada singkat namun penuh makna, “Untuk posisi itu… belum ada yang pantas.” Ucapannya disertai lirikan singkat ke arah Lily.

Kemudian Fajar menatap seluruh ruangan. “Dan kalian semua… akan mulai bekerja besok.”

Tanpa menunggu respon lebih jauh, Fajar berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan yang mencekam.

Sore itu, suasana warung makan sederhana di pinggir jalan cukup ramai. Bau gorengan baru diangkat dari wajan bercampur dengan aroma kopi hitam yang mengepul. Lily duduk di kursi kayu, berhadapan dengan seorang pria berpenampilan sederhana.

Dialah Rian, pacar Lily. Rambutnya agak acak-acakan seperti habis naik motor tanpa helm terlalu lama, kaos oblong polos warna abu-abu yang sudah agak pudar, serta celana jeans lusuh yang terlihat sering dipakai. Sandal jepitnya sederhana, menambah kesan kalau Rian memang orang yang apa adanya.

Di depannya sudah tersaji sepiring nasi goreng dengan potongan ayam, sementara Lily hanya menunduk sambil mengaduk-aduk es teh di gelasnya. Wajahnya masih menyimpan raut letih bercampur kecewa.

“Aku masih nggak percaya, sayang…” Lily akhirnya membuka suara, napasnya berat. “Tadi pas interview, aku… aku malah dijatuhkan di depan banyak orang. Sama CEO-nya langsung.”

Rian menaruh sendoknya, lalu menatap Lily dengan wajah polos dan penuh perhatian. “Kenapa? Emangnya dia bilang apa?”

Lily menatap meja, suaranya pelan, penuh kesal. “Awalnya aku kira aku bakal dapat posisi sekretarisnya. Tapi tahu nggak? Dia malah bilang aku ditempatkan di cleaning service. Padahal jelas-jelas itu nggak ada di pilihan lowongan.”

Rian terdiam sejenak, menimbang kata-kata Lily.

“Terus… aku bilang dengan sopan, coba dipertimbangkan lagi. Tapi dia dingin banget. Kayak… aku tuh bukan siapa-siapa. Bahkan sempat bikin orang-orang ketawa ngeliat aku.”

Lily menghela napas, lalu menatap Rian dengan mata berkaca-kaca. “Aku malu banget. Rasanya kayak diremehkan di depan semua orang.”

Rian mengerutkan dahi, jelas terlihat rasa tidak terima di wajahnya. Ia mengepalkan tangan di atas meja. “Kurang ajar banget itu CEO. Siapa pun dia, nggak pantas ngerendahin kamu kayak gitu.”

Lily tersenyum tipis, mencoba menenangkan suasana. “Tapi… aku juga salah. Tadi pagi aku sempat nuduh dia jambret… dan ternyata dia CEO di perusahaan itu. Mungkin… dia sengaja balas dendam.”

Rian langsung terbelalak, tak percaya dengan ceritanya. “Kamu nuduh dia jambret? Ya ampun, sayang…”

Lily menggaruk kepalanya, wajahnya memerah. “Iya… aku bodoh banget. Dan sekarang aku malah jadi menerima akibatnya."

Rian menghela napas panjang sambil mengaduk sisa nasinya. Ia menatap Lily sebentar lalu berkata dengan nada datar,

“Kenapa nggak kamu tolak aja, Sayang? Kalau emang bikin sakit hati, buat apa diterusin?”

Lily mengangkat wajahnya pelan, matanya terlihat lelah tapi penuh keteguhan. “Nggak bisa, Sayang… sekarang nyari kerjaan susah. Apalagi ditambah ekonomi keluarga aku yang lagi turun. Aku juga harus ngebantu biayain sekolah adikku. Aku nggak boleh egois, aku harus kuat.”

Rian terdiam. Ia tidak langsung membalas. Hanya memainkan sendok di tangannya, seolah-olah berpikir. Suasana warung kembali dipenuhi suara pelanggan lain yang bercengkerama.

Beberapa menit kemudian, setelah mereka selesai makan, Lily merogoh tasnya untuk mengambil tisu. Tiba-tiba Rian menggaruk kepalanya dengan canggung dan berkata,

“Aduh… Sayang, aku lupa bawa dompet. Bisa kamu yang bayarin dulu?”

Lily sempat terdiam. Wajahnya sedikit kebingungan, bahkan sempat melirik Rian dengan raut heran. Tapi ia mencoba berpikir positif. Mungkin benar-benar lupa, batinnya.

Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Lily akhirnya merogoh dompetnya dan membayar makanan mereka.

“Yaudah gak apa-apa, biar aku aja yang bayar,” kata Lily lirih sambil menyerahkan uang ke kasir.

Rian hanya menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tersenyum puas melihat Lily yang menanggung semuanya. Senyuman itu bukan senyum lega, melainkan seperti orang yang merasa diuntungkan.

Sementara itu, di ruangannya sendiri, Fajar sedang membereskan dokumen-dokumen hasil wawancara kandidat hari itu. Ia menyusun berkas satu per satu, menandai beberapa hal penting, sambil tetap menatap daftar kandidat dengan ekspresi datar.

Saat memeriksa tumpukan dokumen Lily, matanya berhenti sejenak pada satu lembar ijazah. Tak sengaja, Fajar membaca informasi yang tertera: Lily lulusan kesekretariatan dan juga memiliki gelar Sastra Inggris, dengan IPK yang lumayan.

Ia menatap foto Lily di ijazah itu, wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Fajar kembali menata dokumen itu dengan rapi

Malam harinya di kamar kostnya, Lily sudah bersiap untuk tidur. Ia mengenakan setelan santai: tanktop putih dan celana pendek hitam. Tubuhnya sedikit lelah setelah hari yang panjang, tangannya menata bantal sementara kakinya menapaki lantai kayu dingin.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Layar menampilkan panggilan video dari Bundanya. Lily cepat-cepat mengangkatnya, sedikit kaget tapi tersenyum.

“Halo, Bun,” sapanya pelan.

“Halo, Nak. Gimana hari ini?” tanya Bundanya dengan nada lembut tapi penuh perhatian.

Lily menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan semua yang terjadi hari itu. “Bun… tadi pagi aku ada kesalahpahaman sama seseorang. Aku kira dia jambret, tapi ternyata… dia CEO dari perusahaan yang aku interview,” katanya sambil tersenyum kecut.

Bundanya mengerutkan keningnya di layar.

“Terus… pas interview, aku ditanya banyak pertanyaan sulit banget. Dan… aku dapat posisi yang tidak sesuai harapanku. Aku ditempatkan di bagian cleaning service, Bun.”

Bundanya menatapnya penuh perhatian, lalu berkata lembut, “Nak, meskipun posisinya nggak seperti yang kamu harapkan, yang penting kamu dapat pengalaman. Jangan sampai itu bikin kamu down. Tetap semangat ya.”

Lily mengangguk sambil menatap layar. “Iya, Bun… aku akan coba jalani. Bun… Raffi gimana? Dia baik baik aja kan? Dia udah tidur belum?”

Bundanya menatap layar sebentar, lalu tersenyum. “Sudah tidur, Nak. Jangan khawatir. Kamu juga jaga kesehatanmu ya. Jangan telat makan, jangan makan sembarangan, selalu makan sayur dan buah.”

Lily mengangguk. “Iya, Bun.”

Bundanya menegaskan, “Sekarang tidur cepat ya, Nak. Istirahat yang cukup.”

Lily tersenyum kecil. “Iya, Bun. Selamat malam.”

Bundanya menutup panggilan video, dan layar ponsel Lily kembali gelap. Lily menarik selimut, menatap langit-langit kamar sambil menenangkan pikirannya, lalu memejamkan mata, mencoba melupakan kepenatan hari itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status