LOGINSi Mark San Andres. Seryosong tao, workaholic at tila hindi alam ang salitang pahinga. Isang magaling na Bodyguard si Mark, magaling sa lahat nang bagay pero walang oras sa pakikipag-relasyon Ngunit nang dahil sa isang text message, Nagbago ang lahat. pati ang kanyang puso. matatanggap ka
View More“Arrrghhh! Ada mayat!”
Malam itu, suasana yang sunyi dan sepi mendadak pecah karena jeritan seorang wanita. Wanita itu bekerja di toko yang ada di pusat perbelanjaan. Seperti biasa, wanita yang bernama Minah itu setiap malam harus membuang sampah di tempat pembuangan yang ada di samping toko bir setelah toko tutup
Gang sempit itu menghubungkan pusat perbelanjaan ke pasar besar. Tetapi, jika malam hari tentu saja sepi. Daru yang kebetulan sedang dinas malam langsung menuju ke TKP setelah menerima laporan penemuan mayat. Gang sempit yang biasanya sepi jika malam hari itu mendadak ramai dengan kerumunan orang-orang dan juga polisi. Tim INAFIS sudah datang dan sedang memeriksa korban saat Daru turun dari mobilnya.
Saat melihat kedatangan Daru, salah seorang anak buahnya langsung mendekat.
“Pak, saya sarankan lebih baik Anda tidak melihat jenazahnya.”
Daru mengerutkan dahi. Sebagai kepala polisi yang sudah hampir 10 tahun menangani kasus kriminal tentu melihat mayat adalah hal yang biasa bagi Daru.
“Memangnya ada apa?”
“Itu, ma …Pak Daru … Pak!”
Tanpa bisa dicegah lagi, Daru pun mendorong tubuh anak buahnya sehingga ia bisa melangkah lebih dekat. Dari jarak yang lebih dekat, dia melihat mayat itu tampak sangat mengenaskan. Banyak bekas tusuk di tubuh, sobekan di perutnya bahkan membuat jeroannya keluar. Dan saat ia melihat kepala mayat yang terlepas itu, Daru pun spontan berteriak.
“Anwar!”
Teriakan Daru membuat salah satu anggota INAFIS menoleh dan langsung menghampiri.
“Malam Komandan!”
“I-itu AIPTU Anwar?” tanya Daru memastikan.
“Siap betul, Dan. Itu adalah jenazah AIPTU Anwar.”
Melihat mata Anwar yang masih melotot itu, membuat Daru yakin jika temannya pasti mengalami sesuatu yang membuatnya sangat ketakutan.
“A-apa yang sudah kalian temukan?” tanya Daru.
“Sejauh ini kami tidak menemukan sidik jari atau jejak kaki yang bisa dijadikan petunjuk. Anak buah saya hanya menemukan beberapa helai benang berwarna putih, hitam dan pink di TKP. Itulah sebabnya, kami butuh banyak keterangan dan saksi, Dan. Mayat AIPTU Anwar akan segera kami autopsi.”
“Kalian pikir pelakunya bisa melayang di udara? Tanpa sidik jari saya masih bisa terima. Tapi, jejak kaki? Periksa lagi dengan lebih teliti!” seru Daru kesal.
“Siap Komandan.”
“Laporkan pada saya perkembangannya. Jika ada yang mencurigakan cepat diselidiki!”
“Siap Komandan!”
Daru menoleh kepada anak buahnya yang tadi sempat menghalangi langkahnya.
“Orang yang pertama kali menemukan jenazah sudah dimintai keterangan?” tanya Daru.
“Sudah, Dan. Bahkan kami juga sudah meminta keterangan dari beberapa pemilik toko di sekitar sini. Katanya mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Bahkan tidak ada yang mendengar perkelahian atau teriakan.”
Daru menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, “Itu berarti ada kemungkinan jika korban dibunuh di tempat lain, baru mayatnya dibawa ke sini. Tapi, jika begitu seharusnya ada jejak kendaraan,” ujarnya.
“Kami sudah memeriksanya juga Komandan, gang kecil itu memang menghubungkan pusat pertokoan dengan pasar induk. Tetapi, gang ini tidak bisa dilalui mobil. Jadi, jika jenazah dibawa dari tempat lain, seharusnya ada saksi mata yang melihat orang membawa jenazah pak Anwar dan membuangnya di sana.”
Daru mengepalkan tangannya dengan kesal. Tidak lama kemudian ambulance pun sudah membawa kantong jenazah menuju rumah sakit. TKP juga sudah dipasangi garis kepolisian. Dan, Daru pun kembali ke kantornya dengan perasaan yang masih emosi.
Paginya, Daru pulang dengan perasaan kesal. Ia masih mengingat mayat Anwar yang mati menggenaskan itu. Kembali terbayang di dalam benaknya bagaimana tusukkan di tubuh Anwar yang mengeluarkan darah merah segar dan merah gelap di sekitar perut. Jeroannya yang berhamburan di tanah, seperti usus besar dan usus halus yang berserakan dan terlihat menjijikan.
Rasa mual mulai ia rasakan di perutnya. Daru pun menepikan mobilnya di tepi jalan dan memuntahkan isi perutnya. Setelah merasa sedikit lega, lelaki itu masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia meraih botol air mineral yang selalu ada di dalam mobil dan meminumnya untuk menghilangkan rasa pahit yang tertinggal di mulut.
Daru menyandarkan tubuhnya dan menarik napas panjang berulang-ulang. Lelaki berusia 35 tahun itu mencoba untuk menenangkan diri. Ia tidak mau keluarganya cemas. Tidak seharusnya ia memikirkan soal pekerjaan. Semua urusan kantor harus ditinggalkan di kantor. Saat berada di rumah dia bukanlah IPTU Daru Setiawan. Tetapi, Daru … seorang suami dan ayah.
Merasa jauh lebih tenang, Daru pun kembali menyalakan mesin mobilnya dan ia meneruskan perjalanan pulang. Di jalan, lelaki itu mampir ke sebuah kedai sarapan untuk membeli beberapa kue tradisional kesukaan anak istrinya untuk dibawa pulang.
Suasana di rumah kepala polisi itu dari luar tampak sepi. Mbok Inah asisten rumah tangganya sedang sibuk menyapu halaman dan mengangguk sopan saat melihat kedatangan Daru.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Mbok Inah.
“Pagi Mbok. Istri saya mana?” tanya Daru.
“Ibu tadi di dapur sedang mencuci piring sambil memasak, Pak.”
Daru mengangguk kemudian meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah. Lelaki itu langsung menuju ke dapur. Dan ketika melihat sang istri sedang asik mencuci piring, ia pun memeluk wanita itu dari belakang.
“Mas, kamu itu kebiasaan ah. Untung aku ga kaget, kalo ga piring ini bisa jatuh dan pecah.”
Kalina sang istri membalikkan tubuh dan tersenyum pada Daru. Ah, senyuman wanita yang sudah memberinya seorang anak perempuan itu memang selalu menenangkan.
“Mana Soraya?” tanya Daru menanyakan putri mereka yang berusia 4 tahun.
“Itu, dia sedang main sambil menonton kartun.”
Daru pun mengecup kening sang istri lalu melangkah menuju ke ruang televisi untuk menemui si kecil.
“Duh, anak papa lagi main apa?”
Gadis kecil yang tadinya sedang asik menonton itu pun menoleh dan langsung memeluk Daru.
“Papa pulaaang! Papa liat deh, Aya punya boneka baru.”
Daru tersenyum melihat boneka anak perempuan di tangan anaknya itu.
“Mama beliin kamu boneka baru?”
“Nggak, aku nemu boneka ini di depan pintu. Karena bonekanya bagus dan cantik, ya aku bawa.”
“WAKE UP HONEY, your dad's waiting for you” wika ni joan sa anak na si harvey. “Mom, how many times that i told you, dont just come in here in my room. your invading my privacy.” wika nito sa kanyang anak. “sorry, im just excited. sige na mag-asikaso ka na at maaga kayong pupunta sa HQ ngayon” pilit niyang itinayo ang anak upang bumangon na ito. “Do you really have to do this mom, i can get up on my own. mabuti pa bumalik ka na kay dad. sige na mag aasikaso na ako.” bumangon na siya at dumeretso na sa banyo. “Hurry up son, you know your dad, he hates waiting.” paalala ulit niya sa anak. “I know, paki sabi na lang kay dad na nag-a-asikaso na ako.” wika niya sa ina. kaya lumabas na si joan sa kuwarto nang anak at dumeretso na sa dining area. inabutan niyang nagbabasa nang diyaryo ang asawa. paglapit niya dito ay humalik siya sa mga labi at naupo sa katabing
"WHAT! pwede ba Joan, linawin mo Yung mga sinasabi mo. Nalilito Ako eh." Wika ni glaze kay Joan. "Azey, sorry kung hindi namin sinabi sayo kaagad ni mark. Yung mga panahon na iyon nasa delikadong sitwasyon pa kami, pero ngayon na maayos na ang lahat. Maaari na naming sabihin sa iyo." "Okay, fine. Gusto kong ipaliwanag ninyo sa akin lahat. Walang labis, walang kulang. alam niyo ugali ko." Medyo galit na wika niya sa kaibigan.Kaya ikinuwento ni joan lahat nang nangyari. Kung paano naging sila ni mark at kung ano ang naging sitwasyon nila. "So, that's it. End of story. Naging kayo na pala at kinasal kayo sa argentina nang hindi manlang ako sinabihan!" Nagkakandahaba ang nguso nito sa pagsabi. "Sorry na azey, wag ka na magalit. Kaya namin nagawa iyon kasi ayaw ka naming mapahamak." Paliwanag ni mark kay glaze. "
"MOMMY!, daddy and lolo are here!" sigaw ni Harvey sa ina, mabilis itong tumakbo palapit sa ama. "Daddy, your back! how was your trip with lolo?" tanong nito sa ama. "Maayos naman ang biyahe namin, ikaw nagpakabait ka ba kay mommy habang wala kami ni lolo mo? binantayan at prinotektahan mo ba siya?" tanong ni Mark sa anak. "Yes, dad!" masiglang sagot nito sa ama. "Very good, dahil naging good boy ka, may pasalubong kami nang lolo mo sa iyo." At inabot ang hawak nitong malaking paper bag. Isang malapad na ngiti ang sumilay sa mga labi nang kaniyang anak. "Thank you po, daddy , lolo." at saka lumapit ito para bigyan nang matamis na halik sa pisngi ang kaniyang ama, matapos nuon ay nagpaalam ito. "Pupunta po ako kay mommy ipapakita ko po ito sa kaniya." at agad itong nanakbo patungo sa ina. "parang ang bilis nang panahon, he's five y
"DO you think, kaya ninyong gawin 'yan sa 'kin? you can't kill me that easily, hindi niyo ako kilala." wika ni Mark sa mga lalaking kumidnap sa kanya. Lumapit sa kanya ang isang lalaki at malakas na sinuntok ang kanyang mukha, sa lakas nuon ay dumugo ang bibig ni Mark. Natawa lang si Mark sa ginawa nito, tawa na tila nakakainsulto. "You fuckers, hindi niyo alam ang ginagawa niyo, bibigyan ko pa kayo nang pagkakataon, pakawalan ninyo ako at bubuhayin ko pa kayo." nakangiting wika ni Mark. Ngunit nagtawanan lang ang mga lalaking nakapaligid sa kaniya. "Hindi puwede, may gustong pang makipag usap sa'yo at parating na siya." pagkawika nuon, biglang may pumasok na sasakyan sa loob nang warehouse kung saan siya dinala. Nang tumigil ito isang lalaki ang lumabas at kasunod ang isang pamilyar na babae. Matamis itong ngumiti sa kaniya at nagwika. "Wow, so
BREATH in, breath out...Again, she breath in, and breath out, until she gets her body relax. She stance prior to shooting the bow, stand upright with feet shoulder width apart and feet at ninety degrees to the target.She keep a relaxed grip on the bow handle,she place the arrow on the bow and turn
DAHIL gabi na nang makarating sila ni Joan sa mansyon at pagod ang kanyang katawan at sa dami nang mga naging trabaho niya kahapon, napasarap ang kanyang tulog. Naramdaman niyang may humaplos sa kanyang buhok, tila napakasarap sa pakiramdam ang ginagawa nang kung sino man ang gumagawa nun sa ka
THE CLOCK strikes at five pm. Nagmadali si Mark na makabalik ng office ni Joan. "Shit! I'm late." mabilis siyang tumayo sa kanyang swivel chair at in-off ang computer at agad na naglakad palabas ng kaniyang opisina. "Kailangang masundo ko si Joan," kinuha niya ang cp sa bulsa at k
"MARK, maasahan ba kita?" mataman na nakatitig si Mr. Ronaldo Leviste kay Mark. "Don't worry, ako na po ang bahala sa lahat Mr. Leviste, I'll take care of your daugther," wika ni Mark habang nakikipagkamay dito. "Just make sure that she's always safe Mark," bilin nito. "Yes, sir!" sagot






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore