LOGIN"LIVING A DREAM THAT'S NOT MINE"[NOW] Awal bulan April aku mendapat kabar [yang bikin aku sangat syok] dari Mas Ronald. Dia adalah salah satu owner model agency aku bernaung [khusus untuk job fashion, baik fashion show maupun pemotretan]. Sudah beberapa tahun aku join dengan management Mas Ronald. Dia salah satu owner, satunya lagi aku nggak terlalu kenal, karena kami nggak pernah ketemu. Kata rumor, partner usaha Mas Ronald orang luar, beda benua dengan kita. Mungkin dia investornya. Hari itu aku ke kantor atas permintaan Mas Ronald. Lelaki itu sudah berpesan, jam berapa pun aku bisa datang, dia akan menunggu. Malam sekalipun. Dengan asumsi jika hari itu aku ada jadwal kerjaan lain. Emang ada urusan sepenting apa sih?! Begitu masuk ke kantornya, kulihat Mas Ronald hanya berdua dengan Personal Assistantnya. Dua menit aku di ruangan itu, Mas Ronald tanpa basa-basi langsung masuk ke intinya: "IMG/WME sedang open casting di empat kota serentak: LA, Miami, Houston, dan Chicago, untu
"KAPOK PACARAN LAGI"[NOW]Jadwalku bersama Dazzling disibukkan dengan promo koleksi warna terbaru yang akan jadi tren Dazzling di tahun depan. Omong-omong tentang Dazzling, Marvin ternyata sudah pindah ke tim lain, yang tidak mengharuskan kami bertemu, berhubungan dan kerja bareng. Aku nggak tahu apa alasan yang dia ajukan ke menejemen kantor atau bossnya. Tapi aku yakin Marvin pasti karyawan yang dianggap penting buat Dazzling, sampai dia bisa melalui proses itu. Kenapa dia nggak resign saja sekalian, sih? Apa Marvin menunggu sampai kontrakku berakhir, hilang dari Dazzling selamanya, baru dia akan balik lagi ke posisinya semula? Karena aku tahu, dia sudah empat tahun di tim itu. Empat tahun yang membuatnya nyaman dan mencintai karirnya. Apapun itu. Ternyata dia masih punya hati untuk menjaga perasaanku dan nggak mau mengganggu hubungan professional yang sudah terjalin baik antara aku dengan pihak Dazzling.Jujur, deep down in my heart, aku masih suka sedih jika teringat kembali
"CLOSED THE CHAPTER" [NOW]Senin pukul 6 pagi, aku sudah mandi dan duduk di meja makan rumah Jano. Di depanku ada secangkir kopi yang masih mengepul. Rumah Jano masih sepi. Hanya Bibik yang udah sibuk di belakang. Mungkin sedang menyiapkan sarapan pagi. Kompleks perumahan Jano tinggal masih terhitung baru. Sekelilingnya belum terlalu rame. Beda dengan rumah orangtuaku. Jadi sepagi ini, suasana masih sepi, begitu damai. Aku sedang mengaplikasikan make-up dengan hati-hati, saat Jano keluar dari kamar dengan kaos oblong dan celana piyamanya. Dia terlihat kaget melihatku sudah rapi di jam sepagi ini. Sebagai BA Dazzling walau lagi off-duty, saat aku pergi ke luar, tetap harus terlihat seperti model Dazzling. Meski tidak tertulis di kontrak, tapi mereka mengingatkanku tentang hal ini. "Mau kemana, Tam, pagi-pagi udah dandan rapi?" tanya Jano sambil menuju ke meja pantry dan membuat secangkir kopi dari mesin espresso maker miliknya yang masih terlihat mengkilap. "Kerja. Ada campaign
“Aku lihat dulu, bajuku sudah kering dan disetrika Bibik belum.” Kami akhirnya main bowling di Artha Gading. Setelah itu tadinya kami mau nonton film tapi ternyata jam main film yang ingin kami tonton ternyata nggak ada yang pas, akhirnya kami keluar dari sana dan makan malam di resto yang menyediakan masakan Manado. Kami makan sambil asyik ngobrol tentang apa saja. Kerjaan Jano di perusahaan minyak, yang ternyata penuh dengan resiko begitu tinggi dan jam kerja yang tanpa kenal lelah. Apalagi jika mereka sedang menemukan lokasi tambang baru. Tidak mudah untuk bisa melakukan penelitian. Begitu banyak hal yang harus mereka hadapi. “Salah satu kesulitannya adalah menghadapi masyarakat setempat. Hal paling susah di dunia ini kan saat ngadepin karakter manusia yang punya kepentingan dan tujuan yang berbeda-beda. Belum lagi pihak-pihak yang berkepentingan tiba-tiba merasa harus terlibat dalam pekerjaan kita. Tahu sendiri lah kualitas mental para pejabat negara kita.” “Perusahaanmu punya
"ME & JANO versus THE WORLD"[NOW]“Pagiii...” sapaku ceria sambil menuju meja makan. Wajah Jano muncul dari koran yang terbentang. “Pagi? Nggak lihat jam berapa sekarang?” Aku menengok jam di dinding. Astaga! Hampir setengah sebelas? “Oh!” Kututup bibirku dengan tangan. “Untung aku sudah sarapan. Nungguin kamu bangun bisa-bisa aku pingsan.” Kuabaikan sindirannya. Aku duduk di seberang Jano dan menuang teh. Masih hangat. Syukurlah. Tak ada yang lebih mengesalkan dari minum teh yang sudah dingin.“Kamu ada acara nggak hari ini?” tanyaku sambil menghirup tehku. Jano menutup koran dengan suara gemerisik. “Nggak. Ada ide?” Jano menatapku sambil tersenyum. “Aku akan masak makan siang.” “Kalau itu aku setuju banget. Gimana dengan bahan-bahannya?” Mataku menatapnya terbeliak. “Ya belanja lah. Mau gimana lagi?” Senyum Jano semakin lebar. “Ayo, aku temani. Sudah mandi belum?” Aku menggeleng sambil menyeringai. “Beri aku sepuluh menit.” Kami belanja ke mal yang kemarin aku beli b
"RUNAWAY"[NOW]Untung aku masih punya backup ponsel iPhone. Nomornya nggak aku share selain dengan orang-orang tertentu, yang kuanggap paling dekat dan bisa kupercayai dan orang-orang yang penting buat pekerjaanku. Dengan memakai iPhone, saat di dalam taxi aku kirim W******p ke Yossi dan Ella. Aku tidak berani telepon, takutnya mereka sedang sibuk, lagi di ruang meeting atau ada boss di dekat mereka."Mereka memang jalan berdua. Marvin dan Lena. Aku sudah memergokinya. Dan banyak bukti yang kulihat. Lena bahkan nggak menyangkalnya. Aku benci Lena. Sungguh-sungguh benci. Aku nggak habis pikir, bisa-bisanya aku punya kakak sejahat itu? Bagaimana mungkin orangtuaku bisa melahirkan anak seperti itu? Kupikir-pikir, bukan aku yang anak pungut dalam keluargaku, tapi Lena. Dan jika membunuh legal dan nggak dosa, sudah kubantai dan kumutilasi Lena sampai tidak bersisa lagi!" begitu tulisku ke dua sahabatku. Entah berapa banyak kami obrol lewat WA. Akhirnya Yossi dan Ella tanya, “Di mana kamu







