LOGIN[2009]
Kami punya pohon yang besar di belakang rumah. Entah pohon apa namanya, aku nggak tahu, yang jelas pohon itu berbatang besar sekali dengan cabang-cabangnya yang besar kokoh. Aku pernah melihat sebuah rumah pohon di salah satu buku yang kubaca dan aku ingin sekali punya. Pasti menyenangkan main di atas pohon sana, pikirku saat itu. Setahun yang lalu, aku minta ke Papa untuk membuatkanku rumah pohon di pohon belakang rumah kami itu.
Kata Mama, aku ini bocah dengan imajinasi yang luar biasa. Mungkin karena hobiku suka baca buku dan komik yang membuatku sangat imajinatif?
Papa tadinya menolak keinginanku, "Ada-ada saja sih permintaanmu, Tamara. Mending juga main di kamar, lebih enak," begitu gerutunya.
Tapi setelah merengek, memohon, menangis, dan akhirnya mengancam mogok makan dan sekolah, akhirnya kudapatkan rumah pohon itu. Horeeeee!
Meski bentuknya sangat sederhana, mirip kotak kardus berukuran besar [bisa memuat beberapa tubuh orang dewasa], aku bahagia banget dengan hadiah itu. Dan... yap, bisa ditebak, tempat itu jadi ruang pelarianku saat aku merasa kesepian, sedih, atau sedang ingin menyendiri. [Sekedar info, Jano nggak setiap saat ada untukku dan bisa menemaniku, dia juga punya teman-teman dan kegiatannya sendiri, terlebih saat dia mulai punya pacar. Uuh, sebel].
Siang itu aku tertidur di rumah pohonku di hari ulangtahunku yang ke tujuh. Siang hari setelah pulang sekolah aku bergegas lari ke rumah pohonku. Tak kuhiraukan panggilan Mama untuk makan siang. Goldie, anjing retrieverku yang mengajak main, sukses kucuekin. Nafsu makan dan keinginan bermainku lenyap karena hatiku yang mendidih marah gara-gara kelakuan beberapa anak berandalan di ujung gang yang mengolokku sewaktu aku pulang dari sekolah dan melewati mereka tadi.
"Tammy item, Tammy kribo, Tammy kaya negro." Kalimat itu dinyanyikan berulang-ulang membuat telinga, hati, dan mataku panasss.
Dasar anak-anak setaaaannn! Kalian pikir aku pernah minta untuk dilahirkan dengan kondisi seperti ini di tengah saudara-saudaraku yang cakep-cakep? Rasanya aku ingin sekali membalas ucapan ejekan mereka. Tanganku gatal, ingin sekali menggampar mulut jahat mereka satu persatu. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah jalan cepat-cepat, setengah berlari dengan mata mulai basah karena airmata.
Menyinggung keadaan fisikku membuatku gampang ngambek. Ejekan itu bagai menyulut segalon bensin. Emosiku meledak. Tanpa mengganti baju seragam sekolah, kulempar tas dan sepatuku begitu saja di lantai kamar. Setelah menyambar setumpuk buku komikku aku langsung naik ke rumah pohon. Angin sepoi-sepoi yang berembus di antara rimbunnya daun-daun membuatku terkantuk. Tak lama kemudian aku terlelap.
"Ssstt, Tammy... Tammy."
Entah berapa lama aku tertidur, suara orang memanggil-manggil namaku membuat mataku terbuka seketika. Telingaku ini sangat peka. Suara sepelan apapun bisa membuatku terbangun. Begitu kubuka mataku, kulihat sepiring makanan di dekat ujung tangga rumah pohonku, kemudian muncul wajah Jano.
"Makan siangmu, tuh. Kamu belum makan siang, kan?"
Saat Jano merangkak ke dalam rumah pohon, mataku melihat benda lain yang dibawa di tangannya. Seketika aku bangun dan duduk. Bukan makanan yang membuatku semangat, melainkan wadah yang dikeluarkan Jano dari tas yang dibawanya.
"Makan dulu, baru es krim." Jano menepuk wadah es krim sambil menyeringai.
Tanpa disuruh lagi aku langsung makan dengan ngebut.
"Hei, pelan-pelan. Kunyah dulu makanannya, Tam, biar perutmu nggak sakit," ucap Jano yang tengah menyaksikanku.
"Nanti es krimnya keburu cair," kilahku ngeles, membela diri atas aksiku.
Kuhabiskan lauk dan menyisakan sebagian nasi dan sayur, selain karena aku nggak terlalu suka sayuran, aku mau segera merasakan es krim yang dibawa Jano!
Selesai aku makan, kami berdua duduk bersebelahan di pinggiran rumah pohon, dengan kaki kami menjuntai ke bawah. Sendok kami bergantian masuk ke wadah es krim.
"Enak?" tanya Jano ditengah-tengah lahapnya aku menguras es krim bawaannya. Jano tahu aku suka sekali es krim, tapi dia selalu nanya. Dan aku juga selalu menjawabnya. Selalu begitu. Jano seakan lupa kalau dari dia lah aku mengenal es krim.
"Mmm. Enak." Kujilati sendokku. Kepalaku mengangguk-angguk. "Ini es krim terenak yang pernah kumakan."
Jano tersenyum mendengar ucapanku.
"Happy birthday, Tammy," ucap Jano sambil memelukku dari samping untuk beberapa saat.
"Makasih, Jano. Ini kado ultahku paling enak," kataku sambil mengusap perutku yang penuh dan gembung. Jano tertawa.
Hari sudah menuju sore. Sorot matahari tak lagi sepanas waktu aku naik tadi. Angin sepoi sesekali menerpa wajah dan rambut kami. Pantes aku kelaperan banget.
"Makan siangnya, kan, dari Mamamu, aku cuma bawain. Mamamu bilang, sejak pulang sekolah kamu langsung ngilang ke sini." Jano melirik seragamku yang kusut.
"Makasih es krimnya, kalau gitu," kataku sambil mengangkat wadah yang sudah kosong.
Jano mengangkat bahu. "Cuma es krim ini."
"Tapi ini es krim terenak. Aku belum pernah beli. Ini namanya apa? Haaaggghhhh.. bacanya gimana ini?" tanyaku ke Jano.
"Häagen Dazs." Jano memberi contoh padaku. Aku menirukannya.
Kami tak langsung turun meski es krim sudah ludes. Untuk beberapa saat kami menikmati semilir angin dan nuansa sore.
"Jano, apa aku ini anak pungut ya? Atau aku tertukar saat diambil orangtuaku?"
Jano menatapku kaget. "Hah? Ngaco, ah. Kenapa kamu mikir kaya gitu?"
Bibirku cemberut, teringat ejekan tadi siang.
"Aku beda sendiri, nggak kaya kakak-kakakku," kataku dengan tertunduk. "Orang-orang selalu melihatku dengan aneh. Anak-anak ujung gang tadi siang mengolokku jahat sekali. Tammy item, Tammy kribo, Tammy kaya negro."
Kepala Jano menggeleng-geleng. "Nggak usah didengar olokan mereka. Lagian buat apa orangtuamu mungut anak cewek lagi, mereka sudah punya Rachel dan Alena, kan?"
Betul juga ucapan Jano. Seketika aku terdiam.
Jano menoleh. Dia meneliti wajahku sesaat sebelum berkata lagi, "Kamu mirip Papamu."
Bibirku makin cemberut. "Rachel dan Alena cantik, putih, kaya Mama. Bari juga. Kenapa mesti aku mirip Papa? Kulitku item!"
Hatiku selalu murung mengingat perbedaan fisikku dengan tiga kakakku.
Jano mengalungkan lengannya ke bahuku sambil berkata, "Kulitmu nggak item, tapi sawo matang. Kalo pun item, juga nggak masalah."
"Aku item dibanding Bari, Rachel dan Alena. Lihat, kulitmu aja lebih putih dariku!" Kutunjuk kulit lengannya dan membandingkannya dengan kulit lenganku.
"Penduduk asli Afrika tuh item!" ucap Jano padaku sambil meleletkan lidah.
Aku masih merengut.
"Tahu nggak, orang-orang barat yang berkulit putih banyak yang ingin punya kulit sepertimu, Tammy. Mereka sampai panas-panasan berjemur biar kulitnya gelap. Mestinya kamu bangga dengan kulitmu tanpa perlu susah-susah."
"Benarkah itu?" kutatap Jano dengan sepasang mata terbelalak. Dia masih kelas dua SMP tapi pengetahuannya sangat luas. Jano-ku memang jenius! Dan dia selalu pandai menghiburku.
Jano menatapku sambil mengangguk mantap. "Bener, dong. Kulit orang Indonesia itu keren-keren, semua warna ada."
Kuhela nafas lega. Untuk sementara. Jano selalu bisa mencerahkan hariku. Dia tak pernah kehabisan jawaban untuk membesarkan hatiku. Dia mampu membuat suasana hatiku yang tadinya segelap malam tanpa rembulan jadi terang benderang secerah siang!
"Tadi Mama yang suruh bawain makanan, ya?" tanyaku sambil mengorek-korek dasar wadah es krim lagi. Mencoba mencari segumpal es krim yang mungkin masih nyelip.
Jano menggeleng. "Nggak. Aku tadi ketemu Bari, sekalian bawain es krim buatmu. Mamamu lihat, dan bilang kalau kamu belum makan dari sepulang sekolah. Setelah ketemu Bari, aku bawain sekalian makan siangmu."
"Kenapa kamu baik sekali padaku, Jano? Kakak-kakakku nggak ada yang peduliin aku. Ultah ataupun nggak," kataku sambil menunduk. Tanganku memainkan sendok di wadah es krim.
"Hei, tahu nggak?" Jano memegang bahuku sehingga aku mendongak padanya. "Aku ingin punya adik cewek karena bosan sama Karel dan Josh. Kamu mau jadi adikku?"
Seketika mataku terbelalak. "Kamu nggak malu punya adik kayak aku?" kutatap Jano dengan heran.
Jano menggeleng dengan cepat. "Kenapa malu? Aku senang sekali punya adik sepertimu."
"Kata Lena aku cengeng, jelek, rewel, nakal."
"Nggak masalah." Jano menatapku sambil tersenyum geli. "Kita selama ini bisa main bareng, kan? Kamu dan aku tim. Oke?"
Kutatap Jano dengan perasaan bahagia. "Oke. Aku mau kamu jadi kakakku, Jano." Aku memeluknya erat.
"Jadi kita kakak-adik sekarang?" katanya sambil mengangsurkan jari kelingkingnya padaku. Akupun mengaitkan kelingkingku dengan segera.
Gonggongan Goldie dari bawah pohon menerpa telinga kami. Di bawah sorot matahari yang makin condong ke Barat, ikrar yang terucap di atas tautan kelingking kami seakan disahkan oleh gonggongan Goldie.
"Lihat, Goldie juga setuju," ucap Jano sambil menunjuk Goldie yang melihat ke kami sambil mengibaskan ekornya dan tersenyum lebar. Lidahnya yang berwarna pink itu melelet ke luar. Aku tertawa mendengar ucapan Jano dan melihat anjing kesayanganku.
Saat itu, di usiaku yang masih dini, tentu saja aku belum tahu apa itu cinta dalam makna romantis. Tentu saja uluran tangan persahabatan [jari kelingking, tepatnya] Jano kusambut dengan hati berbunga dan hangat. Siapa yang tak mau punya kakak sebaik Jano? Dia selalu perhatian, paham mood hatiku, peduli padaku. Dan yang penting aku bahagia di dekatnya. Satu hal yang jarang kualami dan kudapatkan saat bersama dua kakak cewekku, atau dengan Bari. Bahkan orangtuaku saja nggak kaya Jano saat menghadapi kenakalan atau suasana moodku yang lagi buruk.
^^^^^
"Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu
[2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga
[NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk
[NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi
[NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak
[2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub







