Share

Bab 4

last update publish date: 2026-09-04 13:58:56

[2009] 

Di akhir pekan, jika sedang tidak ada dinas ke luar kota, Papa membaca koran, buku, atau majalah setelah sarapan pagi atau menjelang sore hari. Biasanya ditemani segelas kopi hitam dan cemilan yang disediakan Mama. Sore hari Minggu itu kulihat Papa sedang bersantai di ruang depan dengan koran terbentang, ada segelas kopi yang masih mengepulkan uap dan sepiring singkong rebus ada di meja samping kursi yang diduduki Papa. Aku berjalan mendekatinya dengan takut-takut. 

"Pa..." 

"Hmm," jawaban Papa hanya gumaman pelan dari balik halaman koran yang membentang, menghalangi pandangan kami. Jelas perhatiannya tercurah pada apa yang sedang dibacanya. 

"Kenapa aku beda dengan Rachel dan Alena? Kenapa aku item, keriting, jelek?! Apa aku bukan anak Mama dan Papa?" tanyaku lirih.

Koran di tangan Papa turun dalam kecepatan super. Sepasang matanya di balik kacamata terbelalak lebar menatapku.

"APA? Kamu barusan omong apa?" 

"Kenapa aku jelek, nggak kaya Bari, Rachel, dan Lena?" ucapku dengan menunduk. Tanganku sibuk memilin-milin baju kausku. 

Meski kemarin Jano sudah menghiburku dengan penjelasannya bahwa aku mirip dengan Papa, hati kecilku tetap tidak puas jika tidak mengungkap 'misteri' besar "kenapa aku sangat berbeda dengan kakak-kakakku" ke Papa. Ejekan anak-anak gang depan sana masih terngiang di kepalaku. Aku masih menyimpan kegalauan hatiku. Dan aku butuh jawaban yang lebih pasti dari orangtuaku. 

Papaku, laki-laki yang menurut Jano mewariskan wajahnya padaku itu, akhirnya meletakkan korannya ke samping. Dia menatapku sambil melambaikan tangannya menyuruhku mendekat sambil berkata, "Sini." 

Aku menghampirinya. Tangan Papa meraih tubuhku dan meletakkanku di atas pangkuannya. Diam-diam hatiku senang sekali karena bisa mendapatkan perhatiannya. Jarang sekali aku bisa bermanja-manja dengan Papa karena kesibukan kerjaannya selama ini. 

"Tamara," katanya dengan sabar. Oh ya, Papa satu-satunya orang di rumah yang selalu memanggilku dengan nama asliku, bukan Tammy. "Manusia itu ciptaan yang hebat, rumit, sekaligus unik. Tubuh kita ini terdiri dari unsur kimia, molekul, yang membentuk organ-organ tubuh. Di dalam diri kita ini membawa gen, DNA, kromosom, dan sebagainya. Dan itu yang memberikan atau menurunkan sifat atau karakter khas yang sama atau mirip di dalam sebuah keluarga. Dari para pendahulu kita, itu bisa nenek, kakek, buyut, dan mungkin angkatan sebelum-sebelumnya yang ada jauh sebelum kita, menurun terus sampai ke kamu saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah kita akan mewarisi gen dari siapa di antara mereka itu. Kamu beruntung sekali mewarisi gen terbesar dari keluarga Papa. Sementara Bari, Rachel, dan Alena membawa gen terbesar dari keluarga Mama kalian." 

Aku yang masih kelas dua SD tentu saja bingung dengan penjelasan Papa. Namun satu hal yang menghiburku: Jano benar. Aku bukan anak angkat atau korban salah ambil bayi waktu di rumah sakit.

"Benarkah itu, Pa?"

"Tentu saja. Kamu anak Papa. Jangan mikir macam-macam, bahwa kamu anak pungut atau apa!" kata Papa sambil tertawa dan memencet hidungku. Aku ikut tertawa. Kupeluk Papa erat-erat. 

"Coba kamu ambil album foto yang besar di dalam lemari itu, bawa ke sini," lanjut Papa. Jarinya menunjuk lemari besar di ruang tengah, di mana Mama menyimpan album-album foto keluarga. Aku menuruti apa yang disuruh Papa. Setelah menemukan album yang dimaksud, kubawa benda itu padanya. 

Papa membuka album itu di pangkuannya, membalik-balik lembaran yang berisi foto-foto lama dari orang-orang yang tak kukenal. Saat ketemu dengan yang dicarinya, Ia menunjukkan padaku sebuah foto yang sudah agak menguning, pinggiran fotonya berlekuk-lekuk, bukan lurus. 

"Lihat, kamu tahu siapa perempuan yang duduk di tengah-tengah ini, Tamara?" tanyanya padaku, yang tentu saja kujawab dengan gelengan kepala. "Beliau ini Nenek Papa, berarti dia Nenek Buyutmu. Perhatikan fotonya baik-baik, Tamara." 

Mata bocahku meneliti sosok yang dimaksud Papa. Seorang perempuan berambut ikal panjang duduk dengan tegap, ada sehelai kain polkadot yang menghiasi puncak kepalanya yang berfungsi sebagai bando. Bibir perempuan itu tersenyum kecil, tapi ekspresi wajahnya seperti menyimpan misteri. Di sebelahnya duduk seorang lelaki gagah dan tampan. Mereka berdua bak raja dan ratu yang dikelilingi anak-anaknya yang berdiri di samping dan belakang kursi. 

Aku menoleh ke Papa. "Dia mirip Papa!" kataku sambil menunjuk ke foto lelaki yang duduk di kursi. 

Papa tertawa. "Kebalik, Papa yang mirip Kakek Papa. Kamu sudah lihat, kan, kamu sangat mirip Nenek Papa, atau Nenek Buyutmu, Tamara." 

"Ttapii... Nenek Papa seperti seorang ratu," bisikku. Saat itu aku belum paham dengan istilah anggun dan elegan, jadi aku sulit mengatakan apa yang ada di pikiranku. Tapi pose Nenek Buyutku mirip dengan ilustrasi ratu yang pernah kulihat dari salah satu buku yang pernah kubaca. 

Papa tersenyum. Dielusnya rambut keriwilku. 

"Kata Kakek, keanggunan Nenek yang membuatnya jatuh hati padanya, selain wajahnya yang unik dan manis. Nenek Buyutmu bertubuh jangkung, Tamara." 

"Setinggi Papa?" tanyaku polos. 

"Mungkin. Saat tinggi Papa sudah berhenti bertumbuh, Nenek sudah nggak muda lagi, hidupnya sebagian besar dihabiskan di kursi atau kasur. Jadi Papa nggak sempat membandingkan tinggi badan kami," jelas Papa. "Kakek bilang Nenek termasuk gadis yang jangkung." 

Perbedaan fisik ini jadi sumber masalah yang mengendap di dalam hatiku. Meski Papa sudah meyakinkanku kalau aku bukan anak pungut, namun perbedaan ini masih membuatku sensi dan risih, tiap melihat ekspresi orang yang heran & bingung saat melihat kami berempat. Itu juga yang membuatku berpikir: "kok Tuhan memiliki selera humor yang aneh saat merilisku ke dunia ini?" 

Tiga anak rupawan dengan satu badut di tengahnya. Apa Dia sedang bercanda saat mendesainku di tengah keluargaku? Tentu saja perbedaan ini membuatku tak mudah menjalani hidupku. Contohnya udah jelas: 

"Tammy item, Tammy kribo, Tammy kaya negro." 

^^^^^

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I Need To Be Next To You   Bab 23

    "Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu

  • I Need To Be Next To You   Bab 22

    [2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga

  • I Need To Be Next To You   Bab 21

    [NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk

  • I Need To Be Next To You   Bab 20

    [NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi

  • I Need To Be Next To You   Bab 19

    [NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak

  • I Need To Be Next To You   Bab 18

    [2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status