LOGINRumah keluarga Jano dan keluargaku bersebelahan persis. Kami tinggal bukan di kompleks perumahan modern yang luas tanah dan bentuk rumahnya mirip satu dengan yang lain. Perumahan kami adalah hunian lama tapi sudah mengalami modernisasi dan dirapikan. Tiap rumah memiliki pagar dan bak sampah rapi di depan pagar, gang atau jalanan di depan rumah pun sudah diaspal bagus, bukan cuma dari konblok. Selayaknya perumahan lama yang bukan dibangun pihak pengembang properti atau real estate, rumah-rumah di kompleks kami bukan bangunan yang seragam, karenanya jangan heran jika luas tanah dan model bangunan rumah yang ada sangat beragam dan variatif. Sebagian masih mempertahankan bangunan lama [penghuni asli yang sudah tinggal puluhan tahun], tapi sebagian sudah banyak yang mengalami renovasi, sebagian lagi adalah bangunan rumah yang betul-betul baru karena yang lama sudah dirobohkan. Kelompok ke tiga ini biasanya warga baru pendatang. Karena itu jangan heran jika perbedaan rumah orangtuaku dan rumah orangtua Jano sangat mencolok. Rumah orangtua Jano termasuk yang terbesar dan megah di area kompleks kami.
Ayahku hanya pegawai di satu kantor pemerintah, sementara Ayah Jano seorang pelaut kawakan yang cukup sukses. Halaman rumah mereka jauh lebih luas dibanding milik kami, rumahnya tentu saja jauh lebih besar dan indah dibanding rumah orangtuaku.
Mereka punya kolam renang segala di halaman belakang rumah. Tamannya, baik yang di depan maupun yang di belakang rumah amat sangat indah dan menyejukkan sejauh mata memandang. Kami semua [yang pernah melihat] tentu sangat mengaguminya. Taman belakang dilengkapi pohon-pohon palem yang tinggi menjulang, rumputnya yang selalu terpotong rapi seperti karpet tebal, nyaman untuk tidur-tiduran. Belum lagi bunga-bunga yang ditanam di sana beraneka jenis dan warna-warni, indah sekali. Ada satu petak yang berwarna ungu, ada segerombolan berwarna pink, oranye, merah, putih, kuning. Tentu saja aku kerasan sekali bermain di sana. Karena banyak bunga dan tanaman, selalu ada kupu-kupu dan capung yang berdatangan. Sewaktu kecil, aku sering mengejar serangga-serangga cantik itu ke sana-ke mari tanpa lelah.
"Tammy, lagi banyak kupu-kupu di belakang, kamu nggak main ke sini?" begitu kata Mama Jano via telepon ke Mamaku, jika di taman belakang rumahnya sedang banyak kupu-kupu dan capung. Dan aku, tanpa diminta dua kali, akan segera lari ke sana.
Meski rumah kami berbeda seperti bumi dengan langit, tapi itu tidak menghalangi orangtua kami berteman dekat. Saking akrabnya sudah seperti saudara sendiri. Bahkan di antara rumah kami dibuat khusus pintu pagar penghubung kecil, jadi saat kami atau mereka mau ke rumah sebelah, tak perlu repot-repot memutar lewat pagar depan seperti tamu atau tetangga lain saat datang berkunjung.
Jika Jano tiga bersaudara, dia paling tua, adiknya Karel dan Josh, maka aku berempat bersaudara. Kakak tertuaku bernama Bari, dia lah yang sering main dengan Jano karena mereka seumuran. Kakakku yang nomer dua dan tiga, Rachel dan Alena, yang suka jahat ke aku itu, mereka berdua jika di rumah [nggak sedang sekolah] selalu main bareng dengan Karel dan Josh. Maklum, usia mereka memang berdekatan semua, hanya berselisih sekian bulan, satu dengan lainnya. Umur Rachel berdekatan dengan Karel, Alena dengan Josh. Sementara aku?! Hmm, aku selalu dianggap anak kecil, terlalu kecil untuk bisa main bareng bersama mereka. Memang sih, kehadiranku membuat jumlah kami jadi ganjil. Bari dengan Jano. Rachel dan Alena sudah pasti berpasangan dengan Karel dan Josh. Maka kehadiranku ini hanya jadi pengganggu buat mereka! Nyebelin banget, kan? Coba orangtua Jano mau nambah satu orang anak lagi, aku kan jadi punya teman main sendiri.
"Kenapa Tante nggak punya adik lagi biar aku bisa punya teman main sendiri?" suatu ketika aku pernah bertanya ke Mama Jano. Perempuan itu hanya mengulum senyumnya. Sepasang tangannya meraihku ke pelukannya.
"Nggak usah kuatir, kamu bisa main sama Jano atau Tante, Tammy." Begitu selalu jawabnya. Perempuan itu mana ngerti kesedihan dan kerinduanku untuk bisa main bareng anak-anak sebayaku?
Tapi seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya aku paham alasan kenapa Rachel dan Alena suka meninggalkanku sendirian di rumah. Mereka itu malu punya adik sepertiku. Penampilanku berbeda banget dengan dua kakak cewekku itu. Wajahku tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan mereka. Aku sendiri juga heran, bingung, dan sedih, kok bisa-bisanya aku beda dengan Rachel dan Alena, bahkan sama Bari juga. Bari cakep, berkulit terang bersih. Dia jelas kebanggaan Mama-Papa sebagai anak cowok satu-satunya. Rachel dan Alena tentu mirip dengan Bari: berkulit putih bening, wajah mereka cantik dan keren dengan rambut tebal, hitam, lurus berkilau, yang nggak bakal rusak meski terkena serangan angin puting beliung.
Sementara aku? Huh, tubuhku kurus ceking [ini gambaranku sampai aku kelas dua SMA], kulitku gelap kusam, butek deh pokoknya. Rambutku keriting keriwil, cenderung melawan gravitasi bumi jika dipotong pendek, terlebih saat tertiup angin, selalu berantakan dan susah diatur. Rambutku itu nggak cuma keriting tapi juga mengikal seperti ular yang lagi berantem berebut mangsa! Mirip tokoh Medusa itu lho, tahu, kan? Dengan tipe rambut seperti itu, aku hanya tahu satu-satunya model yang pas buatku: biarkan tetap panjang dan ikat kencang-kencang agar angin nggak bikin masalah!
Perbedaan antara aku dan ketiga kakakku tentu terasa menyakitkan bagiku. Para saudara, tetangga, dan sebagian besar orang-orang yang mengenal kami begitu melihatku di antara kakak-kakakku pasti segera mengernyitkan alis dan menatap heran [ke arahku, tentu saja]. Dengan cepat bisa kutangkap pertanyaan: "kok bisa, ya?" yang terlolos dari mata mereka. Kalimat itu nggak pernah diucapkan keras-keras sih, tapi dari ekspresi wajah mereka, manusia idiot pun akan langsung paham.
Aku sering bertanya-tanya dalam hatiku, "Mengapa aku berbeda sekali dan nggak punya kemiripan dengan tiga kakakku?"
Pernah terbersit untuk menulis surat ke Tuhan: "Lelucon apa ini, Tuhan? Kamu sedang bercanda denganku, kah? Apa salahku sampai aku 'dihukum' dengan kejam seperti ini? Atau, jangan-jangan aku ini bukan anak orangtuaku? Apa aku hasil selingkuh Mama?" Begitu tulisku di dalam satu lembar kertas. Tapi kemudian aku kebingungan, surat ini mesti kukirim ke mana?
Pertanyaan "mengapa" itu tetap tersimpan rapi di dalam hatiku. Ketika akhirnya aku nyerah dengan sikap Rachel dan Alena yang nggak mau ngajak aku main bareng, aku jadi tahu diri kalau keberadaanku di antara mereka sepertinya merusak gambaran keluarga yang sempurna. Aku ini hanya corengan arang dalam lukisan indah yang tidak pernah diharapkan. Fakta itu pelan-pelan memunculkan perasaan minderku saat berada di tengah-tengah keluargaku. Aku juga jadi rendah diri di depan orang lain.
Jangan heran kalau aku tumbuh jadi anak introvert yang suka menyendiri, sulit berteman, dan... sensian! Nggak banyak teman yang kumiliki [teman terdekatku adalah buku-buku komikku, itu jauh sebelum aku bertemu dengan Yossi dan Ella]. Praktis, aku juga tidak bisa bergaul dengan anak-anak cowok. Jangan salah ya, cowok-cowok pun bisa pilih-pilih juga saat berteman dengan para cewek. Mereka tentu akan memilih cewek-cewek yang cakep atau yang pandai bergaul untuk didekati dan diajak main.
Cowok yang kukenal dan mau mengenalku tentu saja tiga cowok tetangga sebelah rumah. Dengan mereka aku tidak takut dicemooh atau ditolak, khususnya Jano. Meski dua adik Jano pun lebih memilih main dengan dua kakakku dibanding denganku [tentu dengan alasan kedekatan umur]. Karena orangtua kami berteman karib, maka sudah seharusnya kami, anak-anaknya, berteman juga. Titik.
Buat Rachel dan Alena yang punya penampilan sempurna sebagai cewek, tentunya sangat gampang mendapatkan teman dan diterima siapa saja. Orang gila mana yang akan menolak cewek-cewek secakep mereka? Para cowok sibuk nempel di dekat mereka, kaya lalat dengan kertas lem perangkap itu [contohnya: Karel dan Josh!]. Cewek-cewek bangga punya temen sekeren mereka. Sementara aku? Menyendiri adalah pilihan tepat. Yap, kesukaanku itu muncul bersamaan dengan lenyapnya keinginanku untuk bisa diajak main bareng Rachel dan Alena.
Saat merasa tersisihkan, sendiri, tak punya teman untuk diajak bermain, selain komik-komikku, Jano lah yang mengisi hari dan hatiku. Jano memahamiku. Dia sahabatku. Pahlawanku. Kakakku. Dan cinta dalam hidupku.
^^^^^
"Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu
[2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga
[NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk
[NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi
[NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak
[2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub







