Share

Chapter 9

Penulis: Tianife
last update Terakhir Diperbarui: 2022-01-20 19:03:08

Nadya menatap dirinya di cermin toilet, wajahnya basah karena dibasuh beberapa kali untuk menghilangkan amarah yang masih menguasainya. Kamu sudah siap Nad, bertemu lagi dengan Dimas, setidaknya Dimas mendapatkan pembalasannya meski berupa injakan kaki, tarik napas dan tenangkan diri. Nadya mengingatkan dirinya sendiri. Ia menarik napas berulang kali sehingga dirinya tenang.

Setelah merasakan ketenangan pada dirinya, kekuatan untuk menghadapi Dimas muncul kembali. Nadya menarik napasnya lagi dan mengangguk kepada dirinya sendiri di cermin kalau dirinya sudah siap. Ia mengambil tissue di atas wastafel dan menghapus air dari wajahnya. Sekali lagi ia melihat cermin untuk memastikan kalau wajahnya sudah tidak basah. Ia membuang tissue itu ke dalam tempat sampah dan mengambil kacamata yang ia taruh di atas wastafel, ia keluar tanpa memakai kacamatanya.

Di tengah jalan menuju meja cafe di mana teman temannya berkumpul Nadya melihat Dimas tertawa dan kelihatan bahagia. Tiba tiba amarahnya muncul lagi, ia menghentikan langkahnya dan duduk di kursi cafe yang kosong untuk menenangkan diri. Ia menaruh kacamatanya di atas meja dan mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya berharap dengan begitu amarahnya hilang dengan cepat.

Nadya memutar tubuhnya untuk menumpukan kedua tangannya di atas meja cafe namun sikunya menyenggol benda keras sehingga mengagetkannya. Nadya menurunkan kedua tangannya untuk melihat benda keras yang disenggolnya. Buku. Secara spontan ia menggeser buku itu sehingga berhadapan dengannya. Buku siapa ini. Philosophy. Apakah ini buku Filosofi? Meski matanya minus tapi ia bisa membaca judul buku itu karena matanya masih melihat benda benda dengan jelas jika dari dekat, hanya dari jauh saja yang kurang jelas.

Buku ini sangat tebal, covernya berwarna biru, tulisan di depannya berwarna emas. Buku seperti ini pasti sangat mahal di pasaran, bahkan orang harus pesan terlebih dulu untuk mendapatkan buku seperti ini. Nadya tahu karena dari covernya saja bahannya berbeda dengan buku buku lain, dan hanya beberapa buku yang memakai cover seperti ini, dan buku buku itu harganya semua mahal.

Sebelum Nadya mengikuti rasa ingin tahunya mengenai buku yang ia temukan, ia membaca dulu pengarang buku itu. E.S.Eyed. Tiba tiba Nadya mengangkat sebelah alisnya, sederhana sekali nama pengarangnya. Tidak sabar untuk mengetahui isinya Nadya membuka buku itu.

Belum saja dua lembar kepala Nadya sudah pusing. Buku itu bahasa Inggris semua dan Nadya angkat tangan kalau sudah berhubungan dengan bahasa Inggris. Meski begitu Nadya masih membukanya lembar demi lembar karena penasaran, siapa tahu menjadi inspirasi novelnya. Tiba tiba Nadya tertawa dengan ucapannya.

“Mencari inspirasi di buku seperti ini, kamu pasti tidak waras.” Gumam Nadya berbicara sendiri.

Nadya begitu serius membaca seakan berusaha memahami tulisan bahasa Inggris itu yang tidak dimengertinya sama sekali sehingga ia tidak menyadari kalau seseorang sudah duduk di seberang meja cafe memperhatikan dirinya.

Merasa ada yang memperhatikan dirinya, Nadya tahu ia tidak duduk sendirian lagi. Nadya mendongak dari buku itu ingin tahu siapa yang tidak sopan duduk satu meja bersamanya. Tiba tiba matanya terbelalak dan tanpa sengaja bibirnya terbuka karena terkejut.

Orang asing itu sangat tampan, pakaiannya rapi, jas hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya sengaja dibuka. Sepertinya orang asing itu sedang istirahat dari pekerjaan kantornya. Orang asing itu memakai kacamata hitam sehingga Nadya tidak bisa melihat matanya namun hidung mancung, kulit putih dan perawakannya yang tinggi dengan tubuh atletis membuat semua orang yang melihat akan terpesona, dan wangi parfume orang asing itu sangat enak di hidungnya seakan memancarkan aura jantan yang terpancar dari tubuh orang asing itu.

Jantung Nadya tiba tiba berdetak cepat, ia seakan bingung antara pergi begitu saja dari orang asing itu atau duduk diam dan mengajaknya mengobrol, tapi itu tidak mungkin. Pertama ia tidak bisa bahasa Inggris dan kedua pengaruh orang asing itu yang membuat jantungnya berdetak cepat. Nadya tidak bisa melakukan apapun, ia hanya terdiam sambil membelalakkan matanya pada orang asing itu, dalam hati ia berharap orang asing itu tidak berbicara padanya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • I Stuck On You   Chapter 122

    Setelah istrinya meninggalkan ruangan, Mr. Alfred membuka suara."Miss Nadya, saya mohon izin untuk membawa anak saya dulu sebentar." "Silakan," sahut Nadya.Mr. Alfred berdiri seraya menatap Adel untuk mengajak Adel ikut bersamanya. Ia tidak mau memberitahu berita yang pasti akan membuat anaknya senang di depan calon istrinya Mr. Ethan. Ia tidak enak pada calon istrinya Mr. Ethan karena tidak tahu apa-apa, jadi ia mengajak anaknya ke ruang kantornya.Adel berdiri mengikuti ayahnya. Entah mengapa kakinya tidak terasa lemas lagi dan seolah mendapatkan kekuatan ia berjalan mengikuti ayahnya. Ia tahu kenapa tubuhnya serasa ada kekuatan karena beban kecemasan dan ketakutan telah terangkat dari dirinya apalagi sekarang Mita menyetujui huhungannya dengan Panji. Hanya satu lagi yang harus ia lakukan yaitu meminta maaf pada Ethan. Semoga kali ini Tuhan menolongnya lagi."Katakan padaku darimana kamu belajar sopan santun?" tanya Mita ingin tahu ketika di ruangan itu hanya ada ia dan Nadya, na

  • I Stuck On You   Chapter 121

    Mita terkejut, ia tidak menyangka Adel akan berkata seperti itu, kata-kata yang ia inginkan dari Adel, namun itu beberapa jam yang lalu, tidak setelah ia mengetahui ketulusan hati Adel. Adel sungguh berubah."Apa yang kamu katakan!" Seru Mita, ia bergerak sehingga berdiri tepat di depan Adel.Adel melirik ke arah Mita namun ia sudah tidak ada tenaga untuk mengulangi ucapannya, ia hanya terdiam dengan sayu membiarkan Mita membombardir dirinya dengan kata-kata kasar, ia hanya pasrah.Mita melihat Adel begitu rapuh, dan itu karena perbuatannya. Mita berdecak dalam hati."Ok, sejam yang lalu aku sungguh membencimu, aku ingin kamu merasakan apa yang Nadya rasakan, aku juga tidak mau punya Kakak ipar seperti dirimu, namun aku bukan orang jahat." Mita berhenti melihat kedua bola mata Adel membesar ketika mendengar Kakak ipar dari ucapannya. Mita lalu duduk di samping Adel seraya meraih kedua tangan Adel yang terasa dingin, ia tahu apa yang dipikirkan Adel."Itu benar, aku belum menerimamu se

  • I Stuck On You   Chapter 120

    Adel terjatuh di atas lantai rumahnya. Pandangannya tidak fokus. Baik Mita maupun Nadya terkejut. Nadya segera memegang pundak Adel. Namun Mita hanya terdiam, ia tidak percaya Adel begitu shock mendengar ucapannya. Kali ini ia menyadari sesuatu, namun sikap keras kepalanya berusaha tidak menerima perasaan yang tiba tiba muncul. Air mata turun ke pipi Adel. Apakah semua orang sudah tidak percaya padanya. Ayah ibunya, dan sekarang Mita. Apa begitu jahatnya ia selama ini. Sungguh ia hanya ingin bahagia. Ia memang salah dengan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sehingga terkadang ia tidak memikirkan perasaan orang lain. "Mita, aku tidak pantas untuk Panji." Adel menghapus air matanya seraya berpaling ketika pelayannya datang membawa minuman dan makanan untuk Mita dan Nadya, namun ia masih duduk di lantai. Sungguh lututnya terasa lemas, ia tidak mampu berdiri. Pelayannya sekilas melirik Adel sebelum meletakkan minuman dan makanan itu di atas meja, tampak kelihat

  • I Stuck On You   Chapter 119

    Mita menghentikan mobilnya ketika mobil Panji masuk ke sebuah gerbang tinggi, tampak terlihat rumah Adel yang besar dan mewah. Ada beberapa pohon di depannya. Mita dan Nadya menunggu Panji keluar. Entah sampai jam berapa Panji di rumah Adel. Mita dan Nadya tidak mengobrol sepatah kata pun, bahkan tatapan Mita tidak berkedip melihat ke arah gerbang rumah Adel. Namun Nadya berusaha mengajak Mita untuk mengobrol, dari pada hanya berdiam diri sambil mengawasi pagar rumah Adel. Mita akhirnya mau mengobrol, ia terlihat santai. Mereka menertawakan perut mereka yang bersamaan berbunyi keroncongan. Saat keluar tadi mereka belum sarapan bahkan mengunyah sebuah makanan saja tidak. Hampir satu jam mereka mengobrol, tiba tiba pagar Adel terbuka, mobil Panji keluar dengan mulus dan menuju arah yang tadi dilaluinya sehingga melewati mobil yang dinaiki Mita dan Nadya. Kedua mata Mita langsung sigap, ia segera menghidupkan mobil dan dengan cepat menuju pagar yang masih terbuka itu. Mita berniat untuk

  • I Stuck On You   Chapter 118

    Mita berpacu dengan kecepatan tinggi, ia melewati gerbang tinggi lalu belok dengan mulus ke arah jalan tanpa menghentikan kecepatannya. Nadya berpaling ke belakang. Gerbang tinggi rumah Ethan menutup secara otomatis. Dalam hati ia tahu ia mengingkari janjinya untuk kembali sebelum pelayan rumah Ethan datang ke kamarnya. Nadya berpaling ke arah Mita. Mita belum mengatakan sepatah katapun, ia tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi."Apakah Ethan tahu?" tanya Nadya mengabaikan ucapan Mita tadi."Tidak," jawab Mita singkat, pandangannya tetap lurus ke depan. Dari kejauhan Mita melihat mobil yang dikendarai Kakaknya, ia segera mengurangi kecepatannya."Tapi Ethan tahu kemana Kakakku pergi."Nadya tampak terkejut, ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebelum ia bertanya, Mita lebih dulu bertanya padanya."Apa yang kamu lakukan di luar pagi pagi, Nad?" Nadya tidak langsung menjawab, ia tahu Mita pasti menanyakan soal itu, namun ia akan terus terang. Nadya berpaling ke arah jalan

  • I Stuck On You   Chapter 117

    Nadya terbangun jam 5 pagi, tenggorokkannya terasa kering. Ia terbatuk seraya membuka bedcover dan melangkah ke arah sofa. Ia duduk di atas sofa lalu menuangkan air mineral ke dalam gelas berkaki, bekas tadi malam ia minum bersama Ethan. Air mineral itu sangat segar melewati tenggorokkannya. Nadya meneguk air itu hingga habis, kedua matanya melirik ke arah kaca lebar yang menuju balkon. Kaca itu tidak ditutup gorden karena terbuat dari kaca riben hingga suasana malam tampak terlihat jelas dari dalam. Ethan yang memberitahu bahwa semua kaca di sini tidak memakai gorden ketika Nadya akan menutup jendela. Jam segini di Brisbane masih gelap, sama seperti di Indonesia. Waktu di Brisbane sama seperti waktu di Indonesia. Nadya tahu karena melihat jam ketika di pesawat, dan jam di samping tempat tidurnya. Nadya menaruh gelas itu kembali di atas meja, ia melihat gelas Ethan di sana. Di atas meja itu masih ada gelas Ethan dan gelasnya, juga teko bening berisi air yang sengaja ditaruh untuk keb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status