Home / Fantasi / I am The Real King / Chapter 22 - Sebuah Batu Yang Menarik Perhatian

Share

Chapter 22 - Sebuah Batu Yang Menarik Perhatian

Author: Niche al
last update publish date: 2022-10-30 02:00:05

Tap, tap, tap.

Semua orang yang berada di sana seketika tergopoh-gopoh menyambut kedatangan seorang gadis muda berusia 13 tahun yang baru saja turun dari kereta kudanya. Rambut panjang merah muda keperakannya tersebut seolah bersinar di bawah cahaya matahari. Gadis itu tersenyum lembut menatap semua orang yang kini menundukkan kepalanya. Kedua manik hijau pudarnya itu menyorot teduh.

"Paman paman dan para bibi, berdirilah. Kalian tidak perlu bersikap seperti ini, tidak masalah untukku. Bangunla
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • I am The Real King   Chapter 52 — Retakan Putih

    Aeralis tidak pernah benar-benar tidur.Di balik barier sihir putih yang berkilau tenang, menara-menara kristal kuil terapung itu bergetar pelan, seolah merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ada. Cahaya bulan memantul di lantai marmer udara, dan lonceng-lonceng sihir yang biasanya senyap kini berdenting lirih, peringatan awal yang hanya dipahami oleh penyihir tingkat tinggi.Evangeline berdiri di balkon tertinggi Kuil Astraea. Jubah putih-peraknya berkibar tanpa angin, rambut merah mudanya jatuh lurus di punggung. Mata hijau zamrudnya menatap ke arah utara, ke tempat di mana barier sempat bergetar.“Energi itu…” gumamnya pelan.Bersih namun tercemar.Bukan iblis murni. Bukan manusia biasa.Tangannya terangkat, menyentuh simbol bulan di keningnya. Cahaya hijau menyebar, menyusuri jalur sihir Aeralis, membaca denyut yang tertinggal.“Red Gloire,” bisiknya akhirnya, suara itu dingin. “Mustahil…”Seorang penyihir barisan tertinggi mendekat, berlutut. “Yang Mulia, apakah kita perlu menai

  • I am The Real King   Chapter 51 — Infiltrasi Pertama ke Aeralis

    Langit malam di timur memerah samar. Aeralis, kuil terapung bangsa penyihir langit, terlihat menjulang di antara awan, barier sihir putihnya berpendar, seolah menolak setiap energi gelap yang mendekat. Salju di wilayah perbatasan utara dan timur bergetar, menandakan kekuatan Red Gloire yang kini bersatu dalam tubuh Arion.Arion berdiri di tebing tinggi, menatap barier yang memantulkan cahaya merah dari Red Gloire di keningnya. Di bahunya, Seon masih dalam wujud kucing abu gendut. Ekornya mengibas, mata coklat gelap yang lucu tapi waspada. Devian, wujud iblis dalam benaknya, menyeringai dengan nada pedas. “Ah, akhirnya kita sampai di bagian favoritku. Kau ingin langsung menyerang? Hah, jangan sok pahlawan dulu, Tuan. Lihat dulu pertahanan mereka.”Seon mengeong panjang, menekankan ekornya di pundak Arion. “Pertahanan? Aku setuju! Tapi kalau kau salah langkah, aku akan cakar kau, Yang Mulia. Jangan kira aku cuma kucing lucu.”Arion menghela napas. Ia menutup mata, merasakan getaran ene

  • I am The Real King   Chapter 50 — Persiapan Menuju Aeralis

    Angin dingin malam menyapu perjalanan Arion. Salju yang menempel di mantelnya bergetar ringan, seperti merasakan energi jauh di atas, Aeralis. Potongan Red Gloire keempat kini berada di dalam darahnya, dan getaran yang ia rasakan jauh lebih kuat dari sebelumnya.Seon, masih dalam wujud kucing abu gendut yang menyebalkan, duduk di bahu Arion sambil menjulur-julurkan ekor. Matanya coklat tua normal, namun kilatan merah darah sesekali muncul ketika ia mendengar nama bangsa penyihir putih, musuh Klan Demonia sepanjang sejarah.Seon menggerutu pelan. “Kau serius, Yang Mulia? Barier langit Timur…? Ini akan lebih merepotkan daripada aku dipaksa makan ikan mentah.”Arion menatap langit malam, napasnya tenang tapi matanya berkilat hitam dan emas setiap kali ia menyebut Aeralis.“Bukan hanya merepotkan… tapi itu salah satu lokasi potongan Red Gloire selanjutnya. Dan… aku bisa merasakannya. Mereka tahu… mereka tahu energi itu sudah bergerak.”Devian mendesah panjang, nada sinis tapi penuh kepuas

  • I am The Real King   Chapter 49 — Getaran di Aeralis

    Di langit utara Valeoryea, Aeralis, kuil terapung bangsa penyihir putih, bergetar keras. Kilatan energi yang tak biasa menembus kabut magis, membuat batu terapung berderak. Semua pengawal dan penyihir muda yang sedang meditasi terbangun, panik.Di aula utama, Ratu Evangeline Quentin berdiri tegak. Rambut pinknya berkibar lembut, mata hijau zamrudnya bersinar tajam. Tubuhnya tetap tenang, namun setiap gerakannya menyiratkan waspada tinggi. Lambang bulan di keningnya berdenyut terang, sinyal sihir dari inti kuil yang memperingatkan bahaya besar.“Getaran ini… bukan gangguan biasa. Seseorang, atau sesuatu, mendekat. Energi ini… berbahaya, liar, tapi terkendali.”Di sisinya, adik perempuannya Khaleesi Quentin, seusia Arion, memerhatikan dengan mata perak redup. Rambutnya sama pink, namun sorot matanya berbeda, tenang tapi waspada, menandakan intuisi kuatnya menangkap gelombang iblis yang tersembunyi di balik energi itu.“Aku merasakan… kekuatan yang bukan dari dunia biasa. Ini bukan sekad

  • I am The Real King   Chapter 48 - Sinyal yang Tak Terucap

    Di kaki Gunung Gleighmor, malam turun perlahan. Api kecil menyala di antara batu-batu es, nyaris tak memberi kehangatan. Arion duduk diam, punggungnya bersandar pada batu besar, sementara Seon, dalam wujud kucing abu gendut melingkar di sampingnya, setengah terlelap.Arion memejamkan mata.Ia tidak membuka jalur telepati sepenuhnya. Hanya sinyal.Getaran energi singkat, terkontrol, nyaris seperti denyut jantung yang dikirim melintasi jarak dan dunia.Di ruang kerjanya, Kenio terhenti di tengah kerjanya. Tangannya refleks menekan dada, napasnya tercekat.Sinyal dari Arion. Hidup. Selamat. Lulus ujian petualangan pertama.Itu saja. Tak ada suara. Tak ada wajah.Namun Kenio tahu. Ia tersenyum tipis, lega yang nyaris membuatnya runtuh.Di sampingnya, Deanna ikut membeku. Ia tidak mendengar apa pun, tapi hatinya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca, seolah naluri seorang ibu menangkap pesan yang tak diucapkan.Lucy juga merasakan getaran itu. Ia menoleh liar, senyum gilanya merekah.“Dia…

  • I am The Real King   Chapter 47 - Rencana ke Aeralis, Kuil Terapung Bangsa Penyihir Langit

    Cahaya merah dari potongan Red Gloire perlahan meredup, menyisakan kehangatan samar di udara. Arion menatap batu itu lama, sebelum memasukkannya ke dalam kantong kulit di sabuknya. Seon meregangkan tubuhnya, masih dalam wujud kucing gendut. Memanjat naik ke bahu Arion, mengibaskan ekor.“Kalau begitu, tinggal mencari potongan berikutnya. Sekitar tiga atau empat lagi, kan?”Arion mengangguk pelan. "Mungkin saja." Ia menyandarkan kepalanya pada batang pohon, menghembuskan napas panjang.“Dua peti runtuh sudah… berarti sisa potongan berikutnya pasti ada di Aeralis.” Ia menggumam. “Kuil terapung penyihir langit…”Seon mengerutkan hidungnya kesal.“Yang tempat masuknya dijaga ketat, dan satu-satunya jalan adalah gerbang sihir yang cuma terbuka untuk penduduk asli? Yang itu?”Arion menutup mata. “Hmm.”Suara Devian terdengar lagi. Dingin, menilai, masih memendam kekesalan yang tebal.“Kalian berdua benar-benar punya hobi menghancurkan diri sendiri.”Arion membuka mata setengah. “Kupikir kau

  • I am The Real King   Chapter 44 - Raja yang Diam & Pertarungan Pertama

    Di tengah hiruk pikuk dewan kerajaan, teriakan, tuduhan, dan suara kursi bergeser kasar hanya satu sosok yang tetap tidak bergerak sedikitpun.Kendrick BathoryRaja Klan Vampir.Pria berambut perak bagai logam, duduk tegak dengan tangan terlipat, mata merah gelap mengamati semuanya tanpa nada emosi

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • I am The Real King   Chapter 4 - Arion Giovarskèè Alexius Vhrizt?

    Pukul 15.15 p.m. cewek berambut brunette ikal yang sedari tadi diikuti oleh Erry kini keluar dari ruang ganti. Pergi ke toilet untuk merias wajahnya. Cewek itu bernama Adele, salah satu anggota PMR di Hillary High School.Saat ia keluar dari toilet, Erry tiba-tiba membekapnya dan menyeretny

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • I am The Real King   Chapter 5 - Sedikit Kejadian Yang Mirip Dengan Insiden 27 Tahun Lalu

    BRUKBibi Erry meletakkan kayu-kayu yang dibawanya ke tanah bersama kayu-kayu yang sudah dikumpulkan oleh buruh pencari kayu yang lain. Satu tangannya menyeka dahinya, menyeka keringatnya. Entah kenapa sejak anak asuhnya pergi ke sekolah perasaannya tidak nyaman sama sekali. Ia merasa ada y

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • I am The Real King   Chapter 3 - Seon Si Kucing Ajaib

    Tangan yang menari dengan tangkas. Untai demi untaian kata yang terjejer rapi namun terkesan unik. Tulisan yang membuat siapapun yang membacanya akan terasa enak dibaca. Mata abu gelapnya menyorot tajam bergantian antara papan tulis dan buku catatannya. Ia terlihat fokus, tak tergoyahkan. Membuat

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status