LOGINArion Giovarskèè Alexius Vhrizt, seorang pangeran yang terlahir sempurna namun memiliki kekuatan terkutuk. Hingga kerajaannya dan klannya dihancurkan oleh kerajaan dan klan lainnya. Bahkan kedua orang tuanya tewas mengenaskan saat kejadian itu membuat dirinya harus tumbuh di dunia fana, dunia manusia. Dan tumbuh dengan semua keanehan yang seringkali membuatnya frustasi. Saat ia akhirnya bertemu dengan seorang pria bermanik sehitam jelaga, yang akhirnya memberikannya petunjuk. Saat ia tahu siapa dirinya sebenarnya, bukannya tenang, justru membuatnya kian gila. Saking gilanya hingga jiwa iblisnya berhasil keluar dan mengacaukan alam imortal, Valeoryea. Arion Vhrizt, seorang remaja laki-laki yang akhirnya menemukan jati dirinya. Seorang pangeran yang akhirnya kembali. Tujuannya hanya satu, balas dendam. Demi kematian orang tuanya, demi kerajaannya, demi klannya, demi bangsanya, demi rakyatnya. Dan yang lebih penting, demi diri dan harga dirinya sebagai putera mahkota bangsa iblis. Dia, dan sisi lain lain dirinya, adalah seorang psikopat gila dengan kesan yang berbeda. Arion yang tenang dan hangat namun manipulatif, Devian si penggoda yang suka bersenang-senang. Akankah mereka mampu menuntaskan hasrat dendam mereka lalu mengambil alih semuanya? Yeah, karena aku adalah raja para raja, The Real King!
View MoreAeralis tidak pernah benar-benar tidur.Di balik barier sihir putih yang berkilau tenang, menara-menara kristal kuil terapung itu bergetar pelan, seolah merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ada. Cahaya bulan memantul di lantai marmer udara, dan lonceng-lonceng sihir yang biasanya senyap kini berdenting lirih, peringatan awal yang hanya dipahami oleh penyihir tingkat tinggi.Evangeline berdiri di balkon tertinggi Kuil Astraea. Jubah putih-peraknya berkibar tanpa angin, rambut merah mudanya jatuh lurus di punggung. Mata hijau zamrudnya menatap ke arah utara, ke tempat di mana barier sempat bergetar.“Energi itu…” gumamnya pelan.Bersih namun tercemar.Bukan iblis murni. Bukan manusia biasa.Tangannya terangkat, menyentuh simbol bulan di keningnya. Cahaya hijau menyebar, menyusuri jalur sihir Aeralis, membaca denyut yang tertinggal.“Red Gloire,” bisiknya akhirnya, suara itu dingin. “Mustahil…”Seorang penyihir barisan tertinggi mendekat, berlutut. “Yang Mulia, apakah kita perlu menai
Langit malam di timur memerah samar. Aeralis, kuil terapung bangsa penyihir langit, terlihat menjulang di antara awan, barier sihir putihnya berpendar, seolah menolak setiap energi gelap yang mendekat. Salju di wilayah perbatasan utara dan timur bergetar, menandakan kekuatan Red Gloire yang kini bersatu dalam tubuh Arion.Arion berdiri di tebing tinggi, menatap barier yang memantulkan cahaya merah dari Red Gloire di keningnya. Di bahunya, Seon masih dalam wujud kucing abu gendut. Ekornya mengibas, mata coklat gelap yang lucu tapi waspada. Devian, wujud iblis dalam benaknya, menyeringai dengan nada pedas. “Ah, akhirnya kita sampai di bagian favoritku. Kau ingin langsung menyerang? Hah, jangan sok pahlawan dulu, Tuan. Lihat dulu pertahanan mereka.”Seon mengeong panjang, menekankan ekornya di pundak Arion. “Pertahanan? Aku setuju! Tapi kalau kau salah langkah, aku akan cakar kau, Yang Mulia. Jangan kira aku cuma kucing lucu.”Arion menghela napas. Ia menutup mata, merasakan getaran ene
Angin dingin malam menyapu perjalanan Arion. Salju yang menempel di mantelnya bergetar ringan, seperti merasakan energi jauh di atas, Aeralis. Potongan Red Gloire keempat kini berada di dalam darahnya, dan getaran yang ia rasakan jauh lebih kuat dari sebelumnya.Seon, masih dalam wujud kucing abu gendut yang menyebalkan, duduk di bahu Arion sambil menjulur-julurkan ekor. Matanya coklat tua normal, namun kilatan merah darah sesekali muncul ketika ia mendengar nama bangsa penyihir putih, musuh Klan Demonia sepanjang sejarah.Seon menggerutu pelan. “Kau serius, Yang Mulia? Barier langit Timur…? Ini akan lebih merepotkan daripada aku dipaksa makan ikan mentah.”Arion menatap langit malam, napasnya tenang tapi matanya berkilat hitam dan emas setiap kali ia menyebut Aeralis.“Bukan hanya merepotkan… tapi itu salah satu lokasi potongan Red Gloire selanjutnya. Dan… aku bisa merasakannya. Mereka tahu… mereka tahu energi itu sudah bergerak.”Devian mendesah panjang, nada sinis tapi penuh kepuas
Di langit utara Valeoryea, Aeralis, kuil terapung bangsa penyihir putih, bergetar keras. Kilatan energi yang tak biasa menembus kabut magis, membuat batu terapung berderak. Semua pengawal dan penyihir muda yang sedang meditasi terbangun, panik.Di aula utama, Ratu Evangeline Quentin berdiri tegak. Rambut pinknya berkibar lembut, mata hijau zamrudnya bersinar tajam. Tubuhnya tetap tenang, namun setiap gerakannya menyiratkan waspada tinggi. Lambang bulan di keningnya berdenyut terang, sinyal sihir dari inti kuil yang memperingatkan bahaya besar.“Getaran ini… bukan gangguan biasa. Seseorang, atau sesuatu, mendekat. Energi ini… berbahaya, liar, tapi terkendali.”Di sisinya, adik perempuannya Khaleesi Quentin, seusia Arion, memerhatikan dengan mata perak redup. Rambutnya sama pink, namun sorot matanya berbeda, tenang tapi waspada, menandakan intuisi kuatnya menangkap gelombang iblis yang tersembunyi di balik energi itu.“Aku merasakan… kekuatan yang bukan dari dunia biasa. Ini bukan sekad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews