Share

BAB 3

Penulis: Rhiana
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 21:36:31

“ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.

“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”

Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.

“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”

“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.

“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.

Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam hatinya, dia terus berdoa semoga keponakannya tidak mendapatkan luka serius. Semoga saja keponakannya hanya shock karena luka benturan akibat berguling.

Ketika Arjuna sudah dibawa masuk ke dalam IGD. Bertepatan saat itu juga, sebuah ambulans berhenti. Dari dalam ambulans sebuah brankar di turunkan. Diatasnya tergeletak seseorang laki-laki tampan dengan wajah penuh dengan cairan merah. Dia bawa masuk, dan diletakkan di sebelah brankar Arjuna.

Para dokter dan tenaga medis lainnya pun mulai sibuk menangangi dua laki-laki yang sama-sama terluka di bagian kepala.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Gue kenapa terbaring di sana ya? Perasaan tadi gue pengen buang air besar, kenapa jadi terbaring di sana?” gumam laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan laki-laki yang dibawa dengan menggunakan ambulans. “Eh, bentar! Kalau tubuh gue terbaring di sana, terus ini apa? Gue jadi arwah gitu? Gue mati dong! Arwah gue jadi penasaran dong!” sambungnya.

Laki-laki itu menangis sambil terus merengek tidak jelas. “Gue belum mau mati! Masih banyak yang belum gue selesaikan! Gue belum pelantikan! Gue gak mau mati! Tuhan, hidupkan hamba mu ini lagi. Kalau kembali hidup, hamba berjanji tidak aka nakal lagi. Hamba akan membela yang lemah dan tertindas. Hidupkan hamba, Tuhan!”

“Bang, benaran kalau lo hidup bakal bela yang lemah?” celetuk seseroang pemuda yang berada satu langkah di belakang laki-laki itu.

Sontak saja, laki-laki itu menoleh ke belakang. Dia tersentak kaget melihat seorang remaja laki-laki berdiri di belakangnya dengan wajah dan tatapan penuh kesedihan, kekecewan dan kesakitan.

“Lah lo siapa? Kok bisa lihat gue? Lo hantu juga? Waaah, berarti benar ya, kalau di rumah sakit banyak hantu yang bergentayangan!”

Pemuda itu tidak menjawab. Tangannya terangkat menunjuk tubuh yang terbaring di sebelah tubuh laki-laki itu. Penasaran, arwah laki-laki itu pun mengikuti arah tangan pemuda itu.

“Lah, senasib dong kita? Ternyata lo sama kayak gue? Berarti kita udah mati ya? Kira-kira kita bisa hidup lagi gak ya? Oh ya, nama lo siapa? Gue Arjuno,” seru laki-laki itu mengulurkan tangannya kearah pemuda itu.

“Arjuna!”

“Hah??? Takdir apa nih? Kok nama kita mirip, Cuma beda ujungnya doang!”

Arjuna hanya tersenyum tipis, “bang, waktu gue gak banyak lagi. Gue hanya minta tolong, balaskan dendam gue! Balaskan semua perbuatan mereka! Ambil dan rebut lagi semua harta dan perusahaan milik papa gue. Hanya lo yang bisa, bang! Gue mohon!”

“Eh, maksudnya apa nih? Gue gak ngerti Arjuna!”

“Lihat itu, bang!” tunjuk Arjuna lurus ke depan. Secara otomatis di depan mereka seperti ada sebuah layar yang menampilkan apa saja yang Arjuna alami selama ini. “Itu hanya sebagian, bang. Masih banyak lagi yang terjadi sama gue. Bukannya lo mau membela orang yang lemah dan tertindas, bang? Jadi, lo pasti bisa lakukan yang gue minta!”

“Lo di siksa sama mereka?”

Kepala Arjuna mengangguk. “Tolong gue, bang Arjuno. Gue serahkan semuanya pada lo! Gue serahkan dan percayakan tubuh gue sama lo!”

“Hah? Apa? Tubuh lo???”

Lagi dan lagi, tangan Arjuna terangkat menunjuk kearah tubuh Arjuno yang sudah tertutup kain putih.

“Lah, gue mati dong!!!”

“Pakai tubuh gue, bang! Gunakan tubuh gue, bang! Balaskan dendam gue!” ujar Arjuna.

Perlahan tubuh Arjuna memundar, membuat Arjuno menjadi semakin bingung. “Woi! Jangan kabur dulu! Jelasin semuanya dulu! Gue belum paham!”

“Pakai tubuh gue, bang! Balaskan dendam gue! Ambil semuanya yang menjadi hak gue, bang!”

“Pakai tubuh gue, bang! Balaskan dendam gue! Ambil semuanya yang menjadi hak gue, bang!”

Walau sosok Arjuna sudah mulai hilang, kata-kata Arjuna masih terus menggema di telinga Arjuno. Membuat laki-laki itu menutup kedua telinga.

“Woii! Apaan sih? Jangan buat gue takuttt!!!” teriak Arjuno seraya memejamkan matanya. Dan ketika matanya terbuka, bukan sosok Arjuna lagi yang dia lihat. Melainkan sosok laki-laki tua dengan  jenggot panjang hampir menyentuh dadanya.

“Aduuuh, apa lagi ini?” sungut Arjuno.

“Cu, kamu pasti bisa! Lakukan apa yang diminta anak laki-laki tadi. Tubuhnya yang akan membawa kamu kepada kejayaan. Mungkin sekarang posisi kamu di ganti sama orang lain. Tapi, nanti kamu akan mendapatkan tahta yang lebih tinggi lagi. Dan perusahaan besar pun menanti kamu! Gunakan ini, jika kamu merasakan kesulitan!” ujar kakek itu sambil menunjukkan sebuah celengan ayam.

“Kek, kakek siapa? Maksudnya apa?”

“Kamu tidak perlu tahu siapa saya, karena nanti kamu akan tahu sendirinya. Lakukan saja yang diminta anak laki-laki tadi. Gunakan kemampuan kamu untuk melakukan kebaikan. Bela yang lemah dan yang tertindas! Gunakan celengan ini jika kamu kesulitan! Ingat selalu kata-kata saya!”

Kepala Arjuno mendadak terasa sangat sakit. Kata-kata Arjuna dan kakek itu terus menggema dan terngiang-ngiang dalam telinga. Tidak sanggup menahan semuanya, Arjuno jatuh terduduk sambil memeluk kepalanya yang semakin terasa sakit.

“Aaaaarkh, Tolooong!!!” teriaknya ketika sebuah sinar menarik tubuhnya dan di hempaskan dengan sangat keras.

“To-tolong…!” lirihnya pelan.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Arjuna dinyatakan koma oleh dokter dan harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU. Sedangkan laki-laki yang bernama Arjuno dinyatakan meninggal dunia dan tubuhnya langsung di bawa menuju ke ruang jenazah.

Orang-orang yang ikut mengantar Arjuno tadi  sangat terkejut dengan meninggalnya Arjuno. Namun, ada sebagian kecil yang merasa senang dengan meninggalnya Arjuno. Yang artinya, posisi yang akan di tempati oleh Arjuno bisa ditempati oleh dirinya.

Arjuno bukan laki-laki biasa. Dia adalah anak orang kaya yang memiliki sifat layaknya seperti laki-laki yang tinggal di ibu kota. Jabatan yang dimaksud oleh orang-orang itu adalah jabatan ketua geng motor yang sangat disegani di ibu kota. Namun, jabatan yang Arjuno dapat secara muntlak, tidak bisa dia duduki. Karena keburu ajal menjemputnya.

Sementara itu, keluarga om Joni menatap Arjuna dari balik kaca. Mereka cukup lega, Arjuna mengalami koma. Setidaknya pemuda itu masih hidup, tangannya masih berguna untuk tanda tangan atau memberikan sidik jari.

“PA… PA… ITU!!!”  tunjuk Cantika melihat Arjuna sebelah matanya kearah dirinya.

“Apa, Tika?”

“I-itu tadi, bang Juna kedipkan matanya ke aku?”

“Kedipkan mata? Halu lo dek! Dah lah, ayoo kita balik!” timpal Dimas merangkul pundak adeknya.

Papa dan mamanya sudah berjalan terlebih dahulu, sedangkan dirinya dan abangnya berjalan di belakang. Masih penasaran, Cantika kembali menoleh ke belakang. Kali ini bukan melihat kedipan mata saja. Dia melihat Arjuna melambaikan sebelah tangan dengan mulut yang mengucapkan sesuatu.

“Bye, Cantika!”

“Aaaaah! Ayoo, bang kita baliik!” seru Cantika menarik tangan Dimas dari bahunya. Dia merasa ketakutan dengan apa yang dia lihat barusan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 7

    Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 6

    Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 5

    Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 4

    Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 3

    “ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 2

    Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.“Tapi, ma…”Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.“Juna, senang sayang? Mau k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status