로그인Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.
“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.
Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.
“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan aslinya untuk membantu sang pemilik tubuh ini.
Arjuno Dergantara, selain seseorang laki-laki berusia 24 tahun yang memiliki kuasa dan kekuatan. Dia juga pandai dan pintar disegala bidang. Banyak anak muda bahkan orang dewasa yang tunduk dan percaya dengan ucapan manisnya. Bahkan dengan sangat mudah, dia mengendalikan sebuah kelompok berbahaya agar mengikuti semua keinginannya. Oleh sebab itu, dia dilirik oleh satu organisasi mafia. Organisasi itu menginginkannya menjadi ketua muda.
Oksigen yang menempel di hidungnya perlahan dilepaskannya. Dan alat-alat yang menempel ditubuhnya, satu persatu dilepaskan juga. Arjuna mencoba untuk bangkit walau rasa sakit masih dia rasakan di sekujur tubuhnya.
“Sial, kenapa tubuh ini kaku banget sih?” sungut Arjuna dengan napas tersengal-sengal.
Dia memegang kepalanya dan meraba bagian belakang. Disana terdapat benjolan yang cukup besar. Tanpa dijelaskan dia sudah tahu kalau penyebab kematian pemuda yang bernama Arjuna ini dikarenakan benturan dikepalanya.
“Pasti lo merasakan kesakitan ya Arjuna! Kasihan banget lo ya? Tapi tenang aja! Mulai sekarang gue akan menjaga tubuh lo! Bahkan gue akan buat tubuh lo menjadi kuat bahkan sangat kuaaat!”
Setelah berhasil mengatur napasnya, Arjuna kembali mencoba menggerakan tubuhnya. Dia tidak perlu khawatir ada jahitan yang terlepas, karena memang tidak ada luka yang dijahit. Tubuhnya itu hanya penuh dengan luka memar. Baik karena jatuh dari tangga, dan juga karena perbuatan keluarga oomnya.
“Kalau memang tubuh ini diserahkan sama gue, seharusnya kaki ini bisa berjalan. Mari kita coba untuk berjalan!” seru Arjuna mencoba turun dari ranjang.
Pertama kali menginjak kaki di lantai ruang ICU, Arjuna merasakan kaki tersebut terasa kaku dan kebas. Bukan Arjuno namanya jika mudah meneyerah. Dia mencoba menggerakkan kaki Arjuna.
“Berhasil! Ternyata kaki ini tidak lumpuh lagi! Senang kan lo diatas sana Arjuna? Tapi sayangnya, kaki lo belum bisa digunakan untuk lari. Gue harus melatih kaki ini!” seru Arjuno dengan perasaan senang.
Saat ingin mencoba kembali melangkah, seorang dokter laki-laki masuk hendak memeriksa keadaan Arjuna. Namun, melihat Arjuna sudah berdiri, clipboard yang tengah dia pegang jatuh begitu saja.
“A-arjuna, ka-kamu…!”
Arjuna yang terkejut langsung menoleh keasal suara. Awalnya dia merasa panik, namun setelah melihat dokter laki-laki itu, Arjuna merasa tenang.
“Hai, om! Apa kabar?” sapa Arjuna dengan senyum manisnya.
Dokter laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Sekian lama tidak bertemu dengan Arjuna, akhirnya dia kembali melihat pemuda itu berserta senyumnya.
“Ju-juna, ka-kamu…”
“Aku sudah bisa berdiri, om. Aku sudah lumpuh lagi. Mungkin ini keajaiban karena jatuh dari tangga,” ujar Arjuna.
“Juna!!!”
Dokter laki-laki yang bernama Reyhan itu memeluk tubuh Arjuna dengan erat. Berulangkali dia mengucapkan rasa syukur. Akhirnya, anak dari sahabatnya bisa berdiri lagi. Setelah beberapa tahun selalu mengandalkan kursi roda tua.
“Juna, maafkan oom yang tidak bisa bantu dan mengobati kamu. Mereka sudah menggunakan kekuasaan papa kamu, Juna!”
“Tidak apa-apa, om. Aku paham kok!”
“Tapi kalau kamu mau, oom bisa bawa kamu kabur sekarang Juna. Oom bisa pindahkan kamu ke rumah sakit lain. Kamu mau kan? Nanti kamu bisa menjalani pengobatan lebih lagi. Bahkan kamu bisa melanjutkan sekolah kamu!”
Arjuna melepaskan pelukan dokter Reyhan. Kepalanya menggeleng, menolak tawaran dari dokter tersebut.
“Maaf, om. Sekarang aku sudah tidak mau kemana-mana. Aku mau kembali ke rumah, menjaga rumah peninggalan papa dan juga mencoba untuk merebut semuanya.”
Dokter Reyhan menarik napas panjang, “kamu sama kerasnya dengan papa kamu! Oom sangat ingin mencegah kamu, tapi sepertinya percuma. Kamu tidak akan mendengarnya! Sekarang, ayoo balik lagi ke ranjang. Oom akan periksa kamu! Jika membaik, kita pindah ke ruangan rawat biasa!”
Dokter Reyhan hanya tahu jika Arjuna seperti sahabatnya. Tanpa dia tahu sebenarnya Arjuna memiliki sifat yang sangat mirip dengan mamanya. Yang lembut dan sangat sukar untuk melawan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Ruangan VVIP menjadi tempat Arjuna dirawat setelah keluar dari ruangan ICU. Arjuna meminta kepada dokter Reyhan dan pihak rumah sakit untuk tidak mengabari keluarga oomnya dahulu mengenai kepindahannya ke ruang rawat biasa. Selain itu juga, dia juga meminta dokter Reyhan merahasiakan jika dirinya sudah bisa berdiri dan berjalan kembali.
Permintaan itu diterima oleh dokter Reyhan. Dia juga tidak ada niatan untuk mengabari Joni. Karena Joni, sang oom Arjuna pasti akan melakukan hal yang licik lagi demi membuat Arjuna tidak berdaya.
Satu minggu dirawat, keluarga oomnya sama sekali tidak ada yang datang menjenguknya. Tetapi biaya perawatan tetap dibayarkan. Mereka masih mengira jika Arjuna masih dirawat diruang ICU. Jadi, mereka merasa tenang sambil menyiapkan berkas-berkas untuk mengalihkan semua harta kekayaan orangtua Arjuna ke tangan om Joni.
Tetapi siang ini, mimpi-mimpi buruk akan mulai berdatangan di keluarga Om Joni. Arjuna yang sudah sepenuhnya sembuh, dan kakinya yang sudah bisa bergerak lagi, siap menghadapi dan membalas semua perbuatan keluarga oomnya. Selain itu juga, dengan kemampuan Arjuno yang sekarang menguasai tubuh Arjuna, maka sangatlah mudah untuk mengambil alih kembali perusahaan papanya.
Masih dengan menggunakan kursi Roda, Arjuna masuk ke dalam rumah peninggalan kedua orangtuanya. Dia menahan diri untuk tidak menunjukkan jika dirinya telah sembuh dan bisa berjalan kembali.
“Om, tante, aku pulang!”
Om Joni dan tante Marisa yang tengah duduk di sofa ruang tamu, langsung tersentak. Berkas-berkas yang berada di depannya, langsung dibereskan cepat.
“Ka-kamu sudah pulang, Juna? Memangnya kamu sudah sembuh? Ke-kenapa tidak ngabarin oom, biar oom jemput kamu!”
Dua sudut bibir Arjuna tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman tipis. Kepalanya menggeleng, “aku tidak mau merepotkan oom. Sekarang, apakah aku boleh masuk ke kamar aku, om?”
“Bo-boleh.”
“Terimakasih, om!”
‘Shiit, susah banget buat gue ngomong manis di depan mereka. Andai saja Arjuna kagak minta hal yang lebih, mungkin sudah gue bunuh dua orang tidak tahu diri itu!’ batin Arjuno yang berada diri Arjuna.
“Mas, itu benaran Arjuna kan? Kok aku merasa dia berbeda. Tatapannya seperti bukan Arjuna. Aku kayak gak asing sama tatapan itu!”
“Sssst, udah ma! Saat ini kita harus baikin dia dulu! Jangan sampai dia mati, berkas-berkas belum selesai. Yang ada nanti semua kekayaan ini milik panti asuhan, bukan milik kita!” timpal om Joni. Walau dia merasa ada yang berbeda dengan keponakannya, tetapi dia tidak mau banyak bicara terlebih dahulu. Pulang dari rumah sakit sendirian pun, sudah terasa aneh baginya. Apalagi dengan sikapnya yang terkesan cuek dan tidak punya rasa takut itu.
Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan
Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men
Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak
Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny
“ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h
Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.“Tapi, ma…”Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.“Juna, senang sayang? Mau k







