Beranda / Romansa / INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak) / Chapter 3 Janda Kembang yang Berbeda

Share

Chapter 3 Janda Kembang yang Berbeda

Penulis: Azeela Danastri
last update Tanggal publikasi: 2022-07-06 12:48:44

​"Untuk apa kamu ke sana lagi?" tegur Novita. Suaranya melengking memecah keheningan garasi, tajam seperti sembilu begitu melihat anak kesayangannya muncul dari balik pintu mobil.

Abraham tidak berhenti. Langkahnya tegap namun bahunya tampak kaku, membawa beban lelah yang nyata. "Ke sana ke mana?" tanya Abraham balik tak acuh. Ia terus melangkah, kunci mobil di tangannya berdenting pelan.

​Setelah perceraiannya yang kedua—sebuah kegagalan publik yang menjadi santapan empuk media sosial—orang tuanya bersikeras memintanya kembali ke rumah besar ini. Mereka beralasan tidak ingin putra satu-satunya itu membusuk dalam kesendirian, apalagi saudara perempuan Abraham sudah menikah semua dan memiliki kehidupan masing-masing.

​"Berhenti dulu, Bram! Mami sedang bicara!" Novita merangsek ke depan, menghalau jalan Abraham dengan raut wajah penuh tuntutan. "Mami tidak mau kamu terlihat menyedihkan dengan mengemis perhatian pada keluarga itu!"

​"Besok saja dibahas, Mam. Bram capek seharian meeting," desis Abraham, mencoba melewati ibunya.

​"Lah itu tahu capek. Ngapain kamu ke rumah Sukoco? Kamu pikir Mami tidak tahu?"

Abraham menghentikan langkah. Ia menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Mami tahu dari mana?"

​"Tahu lah, mata-mata Mami banyak. Uang bisa melakukan segalanya, Bram," jawab Novita penuh kemenangan.

Abraham tidak meragukan hal itu sedikit pun. Baginya, uang memang bisa menghapus jejak manusia, nyatanya kedua mantan istrinya menghilang setelah ia ceraikan. Terutama Intan. Walau awalnya ia menceraikan wanita itu karena alasan keturunan, pada akhirnya ego Abraham hancur saat menerima "kenyataan" bahwa Intan juga telah mengkhianatinya.

​"Keturunan Sukoco itu tidak ada yang beres!" Yakub Shelter muncul dari balik bayang-bayang ruang tengah, suaranya berat dan penuh penghakiman. "Satunya mandul, satunya lagi murahan. Lebih bego lagi anakku, sudah tahu begitu masih mau singgah ke rumah Prama!"

​"Papi dulu yang menjodohkan kami," balas Abraham pahit.

​"Iya, tapi kamu seharusnya cukup pintar untuk menolak saat masalah mulai muncul!" Yakub mendekat, menunjuk dada anaknya. "Prama dan Papi punya kandidat lain dulu. Tapi kamu? Saat melihat Intan pertama kali, kamu seperti kucing kelaparan melihat ikan segar di atas meja. Nafsu menutupi otakmu!"

​"Dan hari ini dia pulang malam karena habis singgah ke sana setelah ada info jika Intan terlihat di sana," tambah Novita, memanasi suasana.

"Ngapain kamu masih cari dia? Bukti pengkhianatan dan fakta bahwa dia mandul belum cukup untuk membuatmu sadar?"

​"Bukan begitu, Pi... Bram hanya ingin kepastian."

​"Papi tidak mau tahu! Jangan pernah lagi menemui keluarga mereka. Titik!"

Abraham tidak lagi menyahuti. Ia melangkah naik ke lantai atas, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok Dharma, sepupunya, berdiri bersandar di balkon dalam.

​"Kamu kapan datang?" tanya Abraham, suaranya sedikit melunak.

​"Belum lama." Dharma menatap Abraham dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu habis minum?"

​"Sedikit. Kamu tahu aku tidak bisa kembali ke apartemen karena Mami bisa jatuh sakit lagi.Kamu sendiri? Kenapa menginap di sini?"

​"Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan," jawab Dharma santai.

​Kedua orang tua Abraham tidak lagi merecoki mereka. Mereka sudah tahu, jika Abraham pulang dari kediaman Sukoco dalam keadaan emosi, ia pasti akan singgah di salah satu klub yang mereka kelola untuk mendinginkan kepala.

Begitu berada di dalam kamar, Abraham langsung membuka kemejanya, memperlihatkan punggung tegapnya yang tegang.

​"Kamu ngapain ke rumah Sukoco?" tanya Dharma tenang.

​"Jangan mulai deh, Dhar."

​"Aku hanya bertanya sebagai saudara. Tujuanku dan kedua orang tuamu berbeda," Dharma melangkah mendekat. "Aku tidak akan melarang dengan siapa kamu berhubungan. Tetapi... saran dariku, jangan lagi dekati Intan. Aku tahu kamu penasaran karena dia seolah menghilang ditelan bumi."

​Abraham berbalik, menatap Dharma dengan mata merah. "Aku ingin membalas dendam. Aku tidak menduga dia tak sepolos yang aku tahu. Semua yang ada padanya menipu. Berbeda dengan Melia yang sejak awal memang keras."

​"Tentu saja mereka berbeda," gumam Dharma lirih, hampir tak terdengar.

​Abraham yang hendak meraih handuk baru langsung berbalik. "Apa kamu bilang?"

​"Tidak ada," ujar Dharma seraya menggeleng tenang.

​"Sepertinya aku mendengar sesuatu?" tanya Abraham lagi, ia sangat yakin ada nada pelindung dalam gumaman Dharma.

​"Hanya pikiranmu saja. Mungkin efek alkohol."

​"Masa? Jika kamu tahu sesuatu tentang Intan, beritahu aku. Jangan ada yang disembunyikan."

​Dharma terkekeh pelan, namun matanya tetap dingin. "Bagaimana aku bisa memberitahumu? Aku saja tidak pernah punya kesempatan berbicara dengannya selama kalian menikah. Kamu posesif sekali, Bram."

​"Aku yang protektif bukan posesif! Aku membebaskannya, tapi dia yang tidak mau keluar. Lebih suka di rumah seperti babu, melayaniku sampai lupa dirinya sendiri."

​"Kalau dia seperti itu, lalu bagaimana bisa dia selingkuh di bawah hidungmu?" tanya Dharma dengan nada memancing.

​Abraham berkacak pinggang dan tersenyum masam. "Orang kalau niat selingkuh ya selingkuh saja. Bisa dengan siapa pun. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun."

​"Kamu tidak curiga dengan siapa itu orang yang disebut sebagai selingkuhannya?"

​"Si Aris. Asisten sialan itu."

​"Nah iya, dia."

​"Aku dulu sering meminta dia untuk mengambilkan dokumen di rumah. Menyesal aku memakainya sebagai asisten. Makanya aku ganti asistenku menjadi perempuan sekarang, agar tidak ada celah lagi," geram Abraham.

​Dharma melihat wajah Abraham semakin gelap. Ia tahu perdebatan ini tidak akan ada ujungnya.

"Kamu sampai kapan menginap di sini?"

"Hanya malam ini. Besok aku harus kembali ke Garut. Ada pameran furniture antik."

​"Furniture? Kamu bilang akan bekerjasama dengan temanmu yang memiliki galeri? Siapa tahu furniture mereka bagus dan bisa dipakai untuk hotelku yang baru nanti."

​"Bisa diatur," jawab Dharma sambil berjalan ke arah pintu. "Saat ini dia sedang mencari gudang dan workshop tambahan."

​"Bisa kamu kirimkan katalognya besok?"

"Aku usahakan, tapi tidak bisa janji cepat karena dia baru selesai masa pemulihan."

​"Apa yang terjadi?"

​"Kecelakaan mobil dua tahun yang lalu. Untung saja dia bisa bangkit walau sudah tersakiti sedemikian rupa, fisik maupun batin."

​Abraham tertegun sejenak. "Temanmu pasti orang yang sangat kuat."

​"Ya, dan dia seorang wanita."

​"Wow... kamu pasti sangat tertarik padanya?" goda Abraham, suasana hatinya sedikit membaik melihat sepupunya yang biasanya kaku tampak begitu peduli pada "teman" ini.

"Apa yang terjadi?"

​"Jika dia mau membuka hatinya, mungkin saja. Statusnya janda."

​Wajah Abraham langsung berubah sinis. "Jangan deh, Dhar. Lebih baik kamu cari yang masih single. Jangan cari masalah dengan membawa janda ke rumah Uwa."

​Dharma menangkap handuk yang dilemparkan Abraham dengan satu tangan. "Single rasa janda juga sudah banyak sekarang ini, Bram. Aku rasa... menikahi janda jauh lebih terhormat jika hatinya tulus."

​"Itu cuma maumu saja. Uwa bisa terkejut."

​"Kalau janda yang ini berbeda. Dia kembang desa sedari dulu. Bahkan aku yakin Ayah akan setuju jika mengenalnya."

​"Jadi dia berasal dari desa yang sama denganmu?"

​Dharma tersenyum penuh rahasia di ambang pintu. "Rahasia."

Sepeninggal Dharma, kesunyian kembali mencekik Abraham. Ia melirik pada botol Vodka yang tersisa di atas meja. Tangannya meraih botol itu, namun ia mengurungkan niatnya.

Bayangan saat ia memindai isi rumah Sukoco tadi kembali berputar di otaknya. ​Tak sekalipun ia melihat foto Intan tergantung di sana. Bahkan di kamarnya sendiri dulu, ia baru menyadari bahwa ia telah membuang semua jejak fisik wanita itu. Saat semuanya benar-benar hilang, barulah terasa ada lubang yang menganga.

"​Kenapa aku meratapi wanita pengkhianat itu?" gumamnya pada diri sendiri.

Jika Aris tidak mengaku secara terang-terangan di depan wajahnya, Abraham tidak akan pernah percaya bahwa Intan mampu melakukan itu. Namun, wajah pucat Intan saat hakim mengetuk palu... tatapan kosongnya yang hancur... terus menghantui mimpi-mimpinya.

​Ponsel di atas nakas berkedip. Abraham meraihnya dengan cepat, berharap itu dari seseorang yang ia cari.

​Ternyata pesan dari Amanda.

​Abraham menggeleng pelan. Mantan adik iparnya ini justru lebih gigih mengejarnya dibanding Intan yang seolah mati ditelan bumi. Nomor Melia sudah mati. Nomor Intan masih aktif, namun tak satu pun panggilannya diangkat, tak satu pun pesannya dibaca.

​Abraham menatap langit-langit kamar. "Aku akan menemukanmu, Intan. Bukan untuk memintamu kembali, tapi untuk membuatmu berlutut mengakui semua akting polosmu itu di depan polisi."

​Ia ingin menghancurkan kesombongan Prama Sukoco. Ia ingin membuktikan bahwa "malaikat" yang mereka agung-agungkan sebenarnya adalah pemain watak yang licik. Namun jauh di lubuk hatinya, ada satu pertanyaan yang tidak berani ia jawab: Bagaimana jika dugaanku salah?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   SEKUAT CINTA YANG MENGAKAR

    Hakim mengetuk palunya sekali, menatap Rizky dengan pandangan mengayomi. "Meskipun sempat bungkam karena ketakutan dan tekanan batin dari orang tua, Pengadilan mengapresiasi keberanian Saudara Rizky yang akhirnya maju sebagai saksi kunci di menit-menit terakhir. Kesaksiannya mengenai pergerakan mencurigakan mobil-mobil asing di sekitar rumah Intan telah memperkuat pembuktian adanya unsur perencanaan dalam teror ini."​Intan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, lalu memberikan sebuah senyuman tulus dan anggukan pelan ke arah Rizky. Senyuman itu seolah menghapus seluruh beban rasa bersalah yang selama ini menghimpit dada pemuda itu. Ibu Rizky pun langsung memeluk anaknya erat-erat, menangis lega karena meskipun mereka sempat dilingkupi ketakutan, niat tulus anak lakil-lakinya untuk menolong tetangga mereka akhirnya diakui oleh hukum dan dimaafkan dengan lapang dada oleh Intan.Badai hukum yang dahsyat itu akhirnya berlalu, meninggalkan hamparan langit yang bersih di atas klan

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   MEJA HIJAU PEMBALASAN

    Pagi yang berhawa pekat menyelimuti kawasan Segitiga Emas Jakarta. Di dalam auditorium utama Mahardika Tower, kemilau lampu kristal memantulkan ambisi yang meluap-luap. Ratusan lensa kamera dari puluhan awak media bisnis nasional telah bersiap, membidik podium megah tempat logo raksasa Mahardika Group terpampang dengan angkuh. Hari itu adalah hari kemenangan bagi Aryo Mahardika dan putranya, Bagus Mahardika. Mereka menggelar konferensi pers dadakan yang diklaim sebagai 'langkah penyelamatan ekonomi nasional'—sebuah eufemisme dari akuisisi senyap dan pemaksaan atas sisa-sisa aset strategis milik Sukoco Group yang sedang berdarah-darah di lantai bursa.Bagus Mahardika berdiri di depan mikrofon dengan setelan jas bespoke seharga ratusan juta rupiah. Senyumnya simetris, memancarkan aura kontrol yang mutlak. "Langkah strategis yang diambil oleh Mahardika Group hari ini adalah bentuk komitmen nyata kami untuk menjaga stabilitas sektor logistik dan energi nasional, pasca kemelut hukum yang m

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   INSTING SINGA KORPORAT

    ​"Benar, Pak. Secara formal, aset pribadi Prama dan Wandira terkunci total," Baskoro membuka tabletnya, menampilkan grafik kepemilikan saham yang mendadak berubah struktur dalam hitungan jam. "Namun, dua jam yang lalu, muncul dokumen pengalihan mutlak atas sisa saham sekunder yang dipegang oleh Amelia Sukoco dan beberapa anak perusahaan logistik mereka di lini pelayaran domestik. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah."​Dr. Wira mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar tablet tersebut. "Siapa yang berani menyentuh barang panas milik tersangka kriminal di saat penyidikan sedang berjalan?"​"Konsorsium Bisnis Mahardika, Dok," jawab Baskoro tegas. "Itu adalah perusahaan induk milik keluarga Bagus. Mereka menyerahkan dokumen transaksi backdate—tertanggal mundur enam bulan lalu—ke otoritas bursa. Secara hukum, transaksi itu dinyatakan sah karena ditandatangani sebelum Prama Sukoco resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dengan kata lain, Bagus telah mencaplok sisa kekayaan Sukoco Gro

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   RIAK DI AIR KERUH

    50 RIAK DI AIR KERUHUntuk memperjelas situasi, Bagus menyodorkan sebuah tabel analisis struktur aset yang telah dipersiapkan oleh tim analis keuangannya secara rahasia sejak subuh tadiEntitas Anak PerusahaanPorsi Saham Amelia/WandiraStatus Hukum Saat IniRencana Pengalihan Konsortium BagusPT Sukoco Logistik N

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   FAJAR SEBELUM BADAI

    49 Fajar Sebelum Badai"Sebelum Mama menikah dengan ayahmu, Mama dipaksa meninggalkan Aris oleh keluarga besar Shelter karena ayah Aris hanya orang miskin. Mama sakit hati, Bram! Mama ingin Aris juga mendapatkan hak yang sama sebagai anak Mama! Tapi Mama bersumpah... Mama tidak pernah menyuruh Aris untuk membunuhmu! Mama hanya menyuruhnya mengambil alih saham dari tanganmu!""Tapi Anda membiarkan dia meneror istri saya!" bentak Abraham, emosinya akhirnya pecah hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. "Anda membiarkan Aris dan klan Sukoco menyiksa Intan, menghancurkan kandungannya yang dulu, dan membuat hidupnya seperti di neraka! Hanya demi membela anak haram masa lalu Anda?!"Intan hanya bisa menangis di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di dada Ajeng yang terus mendekapnya erat.Dr. Wira melangkah maju, berdiri di samping Abraham dan menatap Novita dengan tatapan jijik seorang hakim. "Nyonya Novita, kasih sayang seorang ibu tidak bisa

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   RUNTUHNYA DINASTI KESERAKAHAN

    48 Runtuhnya dinasti keserakahanMalam harinya di kota Garut, suasana di dalam kamar inap Intan berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Abraham, yang sudah mendapatkan perawatan darurat untuk tulang rusuknya, kini duduk di kursi sebelah ranjang Intan. Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, sorot mata tajam sang CEO telah kembali sepenuhnya.Di ujung ruangan, dr. Wira berdiri mendampingi dua pengacara senior kepercayaannya yang baru saja tiba dari Jakarta. Sementara Baskoro, kepala keamanan Abraham, berdiri tegap di dekat pintu setelah menyerahkan sebuah koper hitam berisi dokumen manifes kapal tanker Sumatra dan rekaman pengakuan Aris."Semua bukti sudah lengkap, Dok, Pak Abraham," ujar salah satu pengacara, seraya merapikan berkas-berkas di atas meja. "Kesaksian Tendi tentang aliran dana dari Prama Sukoco kepada Aris, ditambah bukti manipulasi manifes penyelundupan di Sumatra, sudah lebih dari cukup untuk menjerat Prama Sukoco, Wandira, dan

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 6 Pagi yang Kelabu

    Intan tak bisa tidur sejak semalam. Kakinya yang cacat terasa nyeri pada otot dan linu. Ditambah lagi pikiran yang sedang ruwet karena banyaknya pesanan kerajinan rotan sementara persediaan bahan mentahnya susah didapatkan. Intan belum tahu pasti, kenapa supplier langganannya menghentikan pengiri

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 5 Posesif Sekali

    Rintik hujan semakin lebat bahkan disertai angin kencang yang menghantam kaca jendela kamar Intan. Tinggal di wilayah Kabupaten Garut yang dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah, dengan iklim 9 bulan basah dan 3 bulan kering mau tak mau membuat Intan harus membiasakan diri dengan seri

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 4 Tidak Pada Tempatnya

    Usapan di puncak kepala berubah menjadi belaian disusul dengan ciuman di kening, lalu di pipi sebelum kemudian menuju rahang singgah sebentar di sudut bibir. Sumpah, rasanya sungguh nikmat nafkah batin di pagi hari dari orang terkasih. Belaian dan kecupan Intan yang selalu dirindukan oleh Ab

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 2 Berhenti Meratapi Nasib

    Hampir tiga jam perjalanan dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih saat ia hujan deras mulai turun dan mobil Yudi meninggalkan pekarangan rumah. Mungkin karena sudah mengenal lama pria itu sedikit peduli kepada Intan dengan banyak pertanyaan yang rasanya tak patut orang asing menanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status