Home / Romansa / ISTRI 48 JAM TUAN CEO / 11. OPERASI BAYANGAN

Share

11. OPERASI BAYANGAN

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2025-08-09 18:18:10
Langkah itu berhenti tepat di ambang pintu. Sosok tinggi dengan rambut sedikit berantakan dan tatapan tajam menatap balik ke arah Zivanna.

“Lama nggak ketemu, Zee,” suara berat itu terdengar, membuat Maureen sedikit memiringkan kepala, matanya menyipit penuh curiga.

Zivanna memutar tubuh sepenuhnya. “Ares?” ucapnya datar.

Pria itu tersenyum tipis, seolah baru saja menangkap mangsa yang sudah lama ia incar.

“Aku nggak nyangka kamu akan sampai di sini secepat ini.” Zivanna sempat melihatn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    203. BENAR TAPI SULIT

    Setelah bayangan Arden menghilang di balik pintu mobil patroli yang menderu menjauh, keheningan kembali menyelimuti teras mansion. Kayvandra melepaskan pelukannya pada Zivanna, namun tetap menggenggam tangan istrinya yang masih gemetar.Ia menatap Ethan yang berdiri terpaku dengan rahang yang mengeras, seolah menuntut penjelasan logis atas ‘keajaiban’ yang terasa seperti pengkhianatan ini."Enam tahun, Pa," suara Ethan pecah, rendah namun tajam. "Bagaimana mungkin?"Kayvandra menghela napas panjang, uap tipis keluar dari mulutnya di udara malam yang dingin. Ia menuntun Zivanna untuk duduk di kursi teras, lalu memberi isyarat agar Ethan dan Bella mendekat."Kecelakaan di sirkuit itu... bukan sekedar kegagalan rem semata," Kayvandra memulai, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Ethan, kau ingat saat kau nekat masuk ke lintasan balap dengan mobil latihanmu hari itu? Kau hampir terhantam pembatas karena tumpahan oli sabotase yang sebenarnya ditujukan untukku."Ethan terkesiap. Ingatan t

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    202. BANGKIT DI WAKTU YANG TEPAT

    Suasana seketika membeku, lebih dingin daripada hujan badai yang baru saja mereda menjadi rintik halus. Sosok yang melangkah keluar dari kegelapan itu bukan sekedar bayangan; itu adalah Kayvandra Dirgantara, pria yang selama enam tahun ini dinyatakan tewas dalam kecelakaan tunggal di sirkuit balap mobil. Zivanna, yang tadinya terduduk lemas di dalam, berlari ke ambang pintu dengan wajah sepucat kapas. Cangkir teh yang masih tersisa di meja marmer mungkin sudah terlupakan, digantikan oleh guncangan realitas yang menghantam fondasi warasnya. "Kay...? K-Kau masih hidup? A-Aku tidak berhalusinasi ‘kan?" suara Zivanna mencekik udara. Kayvandra tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas aspal basah. Di sampingnya, seorang pria sebaya dengannya setia memayunginya—asisten pribadi lama yang juga menghilang bersamanya—menatap Ethan dengan anggukan hormat. Revan. "Enam tahun aku membiarkan kalian percaya pada nisan kosong itu," suara Kayva

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    201. KEHADIRAN SOSOK TAK TERDUGA

    Perjalanan menuju kediaman utama keluarga Dirgantara terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Di dalam mobil yang membelah hujan badai, keheningan menyelimuti Ethan dan Bella. Tangan Ethan tak sedetik pun melepas jemari Bella, seolah jika ia melonggarkan genggamannya, wanita itu akan menguap menjadi kenangan.​Saat pintu jati besar kediaman Dirgantara terbuka, suasana dingin langsung menyergap. Zivanna menyambut kedatangan mereka dengan tenang, menyesap teh seolah-olah ia tidak baru saja mencoba menghancurkan hidup putranya sendiri. Di sudut ruangan, Arden berdiri dengan wajah pucat, tampak seperti tikus yang terpojok setelah rencananya terbongkar.​"Kau masih berani membawa dia ke sini, Ethan?" suara Zivanna tenang, namun tajam. "Setelah semua kekacauan yang kau perbuat di bursa saham hari ini?"​Ethan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dan menghempaskan foto kusam serta surat Margaretha ke atas meja marmer di hadapan ibunya.​"Jelaskan ini, Ma," desak Ethan,

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    200. YANG TIDAK TERLAHIR DARI RAHIMNYA

    Suara langkah kaki Ethan yang menjauh dari pintu kamar terdengar seperti dentuman lonceng kematian di telinga Bella. Ia tahu Ethan telah berubah. Pria yang biasanya menatapnya dengan kehangatan mentari, kini telah membiarkan kegelapan gerhana mengambil alih jiwanya.​Dengan tangan gemetar, Bella merobek ujung amplop coklat milik ibunya. Ia mengharapkan kata-kata perpisahan yang manis, namun yang ia temukan adalah tumpukan kertas kusam dan sebuah foto lama yang sudah menguning di bagian sudutnya.​Mata Bella membelalak. Di foto itu, Margaretha muda berdiri bersanding dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Orang itu adalah Zivanna dan Kay Dirgantara, mendiang ayah Ethan. Mereka tidak hanya berdiri bersanding; tangan Kay memeluk protektif balita berusia kurang lebih satu tahun. Sedangkan ibunya Margaretha berdiri di samping Zivanna dengan latar belakang sebuah panti asuhan tua.​Di balik foto itu tertulis sebuah pesan singkat dengan tulisan tangan Margaretha yang rapi:​"Putriku Isabel

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    199. PUING YANG TERSISA

    Suasana di pemakaman Criest Fields kini bukan lagi sekadar duka, melainkan medan perang yang hangus. Kata-kata Zivanna meninggalkan residu beracun yang lebih menyesakkan daripada aroma tanah basah.Ethan berlutut di samping Bella, mencoba meraih bahu wanita itu, namun Bella beringsut menjauh. Penolakan halus itu terasa lebih menyakitkan bagi Ethan daripada ancaman pemecatan dari Dewan Direksi."Bella... jangan dengarkan dia," bisik Ethan, suaranya parau oleh perpaduan antara kesedihan dan murka yang tertahan. "Mama... dia hanya mencoba memanipulasimu. Dia tidak tahu apa yang dia katakan."Bella mendongak. Matanya yang sembab kini menatap Ethan dengan pandangan yang asing. Sebuah tatapan yang kosong, seolah jiwanya telah ikut terkubur bersama peti mati Margaretha—ibunya."Tapi dia benar, ‘kan?" suara Bella terdengar datar, nyaris seperti bisikan angin. "Dokumen itu... penyitaan itu... semua terjadi karena aku bersamamu. Jika aku tidak pernah muncul di hidupmu, Mama masih akan duduk di

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    198. MAWAR MERAH BERDARAH

    Suasana di dalam ruang operasi itu terasa berkali-kali lipat lebih dingin daripada koridor di luar. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Ethan, seolah mempertegas batas antara kehidupan dan kematian yang baru saja terjadi di ruangan ini.Dokter Martin menghentikan langkahnya di samping meja operasi yang kini tertutup kain putih seluruhnya. Ia tidak segera berbicara, hanya menatap kain itu dengan binar mata yang redup—sebuah tatapan yang sudah sangat dipahami oleh Ethan sebagai pertanda buruk.“Tuan Ethan,” suara Dokter Martin rendah, bergetar oleh keletihan yang mendalam. “Kami telah melakukan segalanya. Tim bedah kardiovaskular terbaik sudah dikerahkan, namun beban di jantungnya terlalu besar. Tekanan darah yang melonjak drastis itu memicu pecahnya pembuluh darah utama.”Ethan mematung. Rahangnya mengeras, namun matanya memerah menahan badai emosi. “Maksud Anda... dia… Mama Margaretha… tidak bertahan?”Dokter Martin menggeleng perlahan. “Pukul 14.22 siang ini, Nyonya Mar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status