LOGIN
"Lalu, apa kewajibanku sebagai istrimu nanti?" tanya Kaia sembari menatap Pria kekar itu.
"Sebagai istriku, satu-satunya kewajibanmu adalah menjalankan peranmu saat kita berada di depan orang lain." "Berarti kewajibanku itu gak berlaku untuk di dalam kamar?" "Kalau kamu bertanya apakah kamu harus berhubungan seks denganku, Nona Indrawari, jawabannya enggak. Aku jamin keperawananmu akan tetap terjaga sampai nanti kontrak kita habis dan kamu bebas meninggalkan rumahku." "Keperawananku? Bagaimana kamu bisa tahu?" "Kamu pikir aku akan memberikan tawaran seperti ini tanpa mengetahui semua hal tentang dirimu?" Pria itu menyilangkan kedua lengannya. "Ini masalah serius. Aku menawarkan kekayaan yang sangat besar untukmu, bukan karena aku ingin menidurimu atau membuatmu mengisap batang-ku." Kata-kata itu langsung membuat pipi Kaia memanas. Rasa panas yang menjalar hingga ke lehernya. "Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersikap seperti istri yang penuh kasih sayang dan tergila-gila padaku sampai Papa mengembuskan napas terakhir." "Papamu bisa saja hidup sampai bertahun-tahun lagi." "Enggak dengan tumor otak, dia gak akan hidup selama itu." Kaia pun mengatupkan bibir saat rasa simpati tiba-tiba muncul. Ia menatap pria itu. "Oh. Aku turut prihatin atas—" "Dia gak punya waktu lebih dari enam bulan. Setelah itu, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau. Tapi, selama kita menikah, kamu harus mematuhi empat aturan utamaku!" "Aturan?" "Satu ... kamu akan tunduk kepadaku. Dua ... kamu akan menghormatiku dan nggak pernah mempertanyakan keputusanku di depan orang lain. Tiga ... kamu gak akan berhubungan seks dengan pria lain atau melakukan apa pun yang bisa merusak pernikahan kita. Terakhir ... kamu gak akan pernah melupakan satu-satunya alasan kamu berjalan di sisiku." "Dan apa alasan itu?" "Untuk terlihat cantik. Itu saja. Gak lebih ... dan gak kurang." Gelombang aneh langsung memenuhi perut Kaia saat membayangkan pria itu menganggapnya cantik. "Jadi apa jawabanmu, Nona Indrawari?" *** (TIGA HARI SEBELUMNYA) "Astaga! Kamu berulah Lagi?!" geram Kairo sembari mengusap dagunya dengan ujung jari, menatap si bodoh di hadapannya dengan tatapan tajam. "Aku nggak punya pilihan. Bajingan itu memegang pisau." Kairo mencondongkan tubuh ke depan dan menopang kedua sikunya di atas meja. "Dan kamu memutuskan untuk menembaknya? Jadi, selain sama bodohnya dengan wajahmu yang jelek itu, kamu juga pengecut, Berengsek!" Edris mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Tatapannya bergerak gelisah ke seluruh penjuru ruang kerja Kairo. Bajingan itu tidak sanggup menatap mata Kairo karena dia tahu dirinya sudah mengacaukan semuanya. "Berapa kali lagi aku harus menyelamatkanmu, Edris?" "Kairo ... Maaf." "Maaf ... Maaf Bulshit!!!" Kairo sontak menghantam meja dengan kedua kepalan tangannya lalu berdiri. Pena dan buku di atas meja pun berterbangan. "Aku sudah muak terus-terusan membereskan kekacauanmu." Edris menggigit sudut bibirnya. Dia tahu tidak seharusnya mengatakan satu kata pun lagi, tetapi kesombongan masih terlihat jelas di wajahnya. Tristan masuk, diikuti Jaguar yang menutup pintu begitu keras. Kalau pintunya terbuat dari kayu murahan, serpihannya pasti sudah beterbangan dari punggung Edris. Tristan berdiri di depan Edris dan memiringkan kepala sambil mengamatinya. "Bajingan ini memang level kebodohannya spesial, ya?" "Menyebutnya bodoh saja sudah terlalu baik, Bro," jawab Kairo tanpa mengalihkan pandangan dari Edris. Edris langsung mengusap dagunya. Janggutnya yang kasar, yang menurut Kairo lebih mirip bulu kemaluan daripada janggut, membuat Kairo semakin kesal. "Kalian berdua nggak bisa bicara seenaknya sama aku!" Edris meluruskan bahunya dan membusungkan dada seperti burung merak. "Kami bisa bicara kepadamu sesuka kami, Edris." Tristan menuangkan bourbon ke dalam gelas, melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa. Beberapa helai rambut hitam menyentuh alisnya. Mata birunya yang menjadi umpan pemikat perempuan tampak lebih berkilau dari biasanya. Kairo mencibir kepada saudaranya. "Aku sudah menunggumu lebih dari satu jam dari club sialanmu!" "Apa yang bisa kukatakan, bro?" Tristan mengangkat bahu dan menyesap minumannya. "Aku suka perempuan, dan perempuan juga suka sama aku." "Matahari bahkan belum terbenam." "Kamu nggak bisa menjadwalkan kesenangan, Kairo." Tristan pun menyalakan cerutu. Asapnya melayang menuju langit-langit, sementara aroma tembakau dan rempah langsung memenuhi ruangan. "Dengar," kata Edris. "Aku masih punya urusan. Jadi, kalau kita bisa menyelesaikan ini, itu bakal bagus." "Kamu nggak akan pergi ke mana-mana!" Kairo kembali memusatkan perhatian kepada Edris. Yang dia rasakan hanya rasa jijik. Dengan jaket kulit murahan dan celana jeans yang robek di bagian lutut, Edris lebih mirip berandal jalanan daripada anggota keluarga Adinargo. Kairo berjalan mengitari meja sambil mengancingkan jas abu-abu gelapnya, lalu memberi isyarat kecil kepada Jaguar. Jaguar adalah bajingan bertubuh besar. Dia berdiri menjulang di belakang Edris. "Suruh anjingmu mundur." Wajah Edris tetap keras dan tanpa gentar, tetapi Kairo bisa melihatnya dari mata Edris yang berwarna kusam. Ada sedikit rasa takut di sana. Kedutan kecil di alisnya menjadi tanda jelas bahwa dia mulai gugup. Kairo memutar cincin emas di jari tengahnya dan merasakan simbol VM pada pelat hitam cincin itu. "Kamu tahu kenapa sampai sekarang kamu belum mendapatkan cincinmu, Edris?" "Karena aku nggak mau menjilat pantat Papamu." "Nah, di situlah kamu salah." Kairo langsung merapikan kerah jasnya. "Cincin The Velvet Monarch harus diperoleh dari pertempuran. Siapa pun papamu, itu nggak penting. Dan kamu tetap nggak akan mendapatkan cincin kalau kamu belum mendapatkannya dengan darah." Edris pun mengatupkan bibir. "Itulah kenapa kita ada di sini sekarang, ingat? Karena aku nggak punya masalah dengan menumpahkan darah." Kairo mencibir melihat kebodohan Edris. Pikiran kecil Edris tidak mampu memahami bahwa tempat di Velvet Monarch bukan warisan yang didapat sejak lahir. Bukan sesuatu yang bisa diperoleh hanya karena membawa nama Adinargo. Seseorang harus layak mendapatkannya, dan Edris jelas sama sekali tidak layak. "Sejak hari pertama papa bilang kamu akan ikut terjun ke bisnis keluarga, aku sudah tahu kalau kamu cuma bakal jadi masalah!" "Aku nggak peduli dengan apa yang kamu pikirkan, Kairo." Ia mendekat dan menegakkan bahunya, seolah bisa mengintimidasi Kairo, padahal yang dilakukannya hanya membuat Kairo benar-benar kesal. "Lakukan saja apa yang memang seharusnya kamu lakukan." Lubang hidung Kairo pun mengembang. "Dan apa itu?" Senyum usil muncul di bibirnya. "Bereskan kekacauanku." "Astaga," gumam Tristan dari belakang. "Kairo, jangan—" Kairo mencengkeram lengan Edris, melemparkannya ke samping, lalu menghujamkan jari-jarinya ke tengkuk Edris sebelum membenturkan wajah pria itu ke meja. "... Lakukan itu," Tristan menyelesaikan ucapannya sambil menelan sisa minumannya. "Kamu pikir kamu ini siapa?" Kairo mendidih sambil menekan pipi Edris lebih keras ke permukaan meja. "Aku akan mencabut tulang belakangmu dari mulutmu dan membiarkannya jadi santapan burung gagak." "Kamu nggak bisa membunuhku, Kairo, dan kamu tahu itu." Bibir Edris mengerucut saat Kairo menekan lebih kuat, menancapkan jari-jarinya semakin dalam di sisi leher Edris. "Aku bagian dari keluarga, dan menyentuhku saja sudah melanggar kode etik kita." "Dan kamu juga membawa malu bagi keluarga ini." Kairo melirik ke belakang. "Jaguar." Jaguar pun langsung datang, membawa mainan kesayangan Kairo saat berurusan dengan bajingan seperti Edris, lalu meletakkannya di atas meja.Di tempat lain ....Hanya lega yang Kaia rasakan saat menatap makam ibunya. Kaia seharusnya merindukannya, menangisinya, berduka untuknya. Namun, ia tidak merasakan semua itu. Kepergian ibunya justru memberinya jeda setelah bertahun-tahun memikul tanggung jawab yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak.Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaia tidak perlu lagi merawatnya. Sekarang ibunya menjadi urusan iblis. Bahkan sejak mengembuskan napas terakhir beberapa minggu lalu, wanita itu sudah menjadi urusan iblis.Alih-alih mengunjungi makam untuk merasa lebih dekat dengannya, Kaia datang untuk mengingatkan dirinya bahwa ibunya benar-benar sudah pergi. Ia ingin memastikan kematian itu bukan sekadar mimpi atau ilusi yang ia ciptakan karena putus asa ingin terbebas darinya.Kaia memejamkan mata, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Ibunya mungkin sudah mati, tetapi hantu wanita itu masih menghantuinya. Dan mungkin akan selalu begitu.Matahari mulai terbit. Kaia merapatkan jake
Rasa ingin melawan membakar tenggorokan Kairo, tetapi ia menahan lidahnya. Saat ini, pria di hadapannya bukan ayahnya. Ia adalah Raja Velvet Monarch yang menuntut rasa hormat setiap saat.Dan ketika tatapan Petrus menekannya dari seberang meja, ia tidak sedang memandang putranya. Ia sedang memandang apa yang Kairo wakili. Masa depan Velvet Monarch.Suasana tenang itu menghilang begitu ayahnya menegakkan tubuh di kursi dan meletakkan kedua siku di atas meja."Ini harus dilakukan, Kairo. Kamu nggak punya pilihan.""Tentu saja aku punya pilihan.""Dulu Papa dan Mama nggak punya pilihan, dan kamu juga nggak.""Situasinya berbeda dengan papa. Pernikahan papa melahirkan aliansi yang lebih kuat.""Dan pernikahanmu akan melahirkan posisi yang lebih berkuasa sebagai pemimpin.""Itu omong kosong," cibir Kairo. "Hari ketika aku duduk di meja itu, aku akan menjadi pemimpin. Dan aku nggak membutuhkan istri untuk itu!""Sayangnya, kamu membutuhkannya." Ayahnya memiringkan kepala. "Coba bilang ke Pa
Ayah Kairo memiliki empat anak kandung, tetapi selalu menganggap Jaguar sebagai anak kelima. Sementara saudara perempuan Jaguar, Eva, sudah di anggap sebagai putri kesayangan ayah Kairo.Waktu itu Jaguar berusia sepuluh tahun dan adiknya baru empat tahun ketika mereka menjadi bagian dari keluarga ini. Kalau bukan karena ayah Kairo yang menyelamatkan mereka pada malam ketika orang tua dan saudara laki-laki mereka dibunuh, mereka pasti sudah dikuburkan di samping keluarganya.Rasa terima kasih Jaguar atas utang nyawanya, membuat kesetiaannya tidak tergoyahkan. Sedangkan Eva, dia praktis satu-satunya cahaya di tempat ini. Kairo tidak pernah mengerti bagaimana dosa-dosa keluarga ini tidak ikut merusaknya setelah ia tumbuh di tengah-tengah semua itu.Zion berjalan menyusuri lorong, tampak muram seperti biasa. Kadang-kadang Kairo merasa adik laki-lakinya itu seperti mayat berjalan, murung, dan membenci segala sesuatu."Tebak!" Tristan tersenyum ketika mereka berjalan menghampiri Zion. "Kair
"Astaga. Sial!" Edris memaki ketika Kairo menambah tekanan pada kepalanya. "Kairo, kamu nggak bisa melakukan ini.""Kamu nggak berhak menyuruhku melakukan apa pun, sialan!""Aku sepupumu, Anjing!""Lagian bukan sepupu sedarah.""Aku tetap bagian dari keluargamu.""Karena Paman Daeng memutuskan mengadopsimu setelah anak satu-satunya berubah jadi banci. Dia nggak pernah tahu kalau ternyata kamu bakal jadi orang paling bodoh yang pernah ada."Jaguar mencengkeram lengan Edris dan menekan tangannya ke meja. Ia memberikan tekanan kuat sampai bajingan itu tidak punya pilihan selain membuka telapak tangan dan merentangkan jari-jarinya."Kairo, sialan. Ini nggak lucu." Edris meronta-ronta melawan cengkeraman Jaguar dan Kairo, tetapi percuma. Melawan salah satu dari mereka saja ia tidak punya tenaga, apalagi melawan keduanya.Namun, karena Kairo suka menjadi orang yang memotong tulang, ia membutuhkan Jaguar untuk menahan sepupunya tetap di tempat. Kairo pun mengulurkan tangan dan meletakkan tel
"Lalu, apa kewajibanku sebagai istrimu nanti?" tanya Kaia sembari menatap Pria kekar itu."Sebagai istriku, satu-satunya kewajibanmu adalah menjalankan peranmu saat kita berada di depan orang lain.""Berarti kewajibanku itu gak berlaku untuk di dalam kamar?""Kalau kamu bertanya apakah kamu harus berhubungan seks denganku, Nona Indrawari, jawabannya enggak. Aku jamin keperawananmu akan tetap terjaga sampai nanti kontrak kita habis dan kamu bebas meninggalkan rumahku.""Keperawananku? Bagaimana kamu bisa tahu?""Kamu pikir aku akan memberikan tawaran seperti ini tanpa mengetahui semua hal tentang dirimu?" Pria itu menyilangkan kedua lengannya. "Ini masalah serius. Aku menawarkan kekayaan yang sangat besar untukmu, bukan karena aku ingin menidurimu atau membuatmu mengisap batang-ku."Kata-kata itu langsung membuat pipi Kaia memanas. Rasa panas yang menjalar hingga ke lehernya."Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersikap seperti istri yang penuh kasih sayang dan tergila-gila padaku sampai







