Share

Kematian Edris

Author: DityaR
last update publish date: 2026-08-29 12:51:02

"Astaga. Sial!" Edris memaki ketika Kairo menambah tekanan pada kepalanya. "Kairo, kamu nggak bisa melakukan ini."

"Kamu nggak berhak menyuruhku melakukan apa pun, sialan!"

"Aku sepupumu, Anjing!"

"Lagian bukan sepupu sedarah."

"Aku tetap bagian dari keluargamu."

"Karena Paman Daeng memutuskan mengadopsimu setelah anak satu-satunya berubah jadi banci. Dia nggak pernah tahu kalau ternyata kamu bakal jadi orang paling bodoh yang pernah ada."

Jaguar mencengkeram lengan Edris dan menekan tangannya ke meja. Ia memberikan tekanan kuat sampai bajingan itu tidak punya pilihan selain membuka telapak tangan dan merentangkan jari-jarinya.

"Kairo, sialan. Ini nggak lucu." Edris meronta-ronta melawan cengkeraman Jaguar dan Kairo, tetapi percuma. Melawan salah satu dari mereka saja ia tidak punya tenaga, apalagi melawan keduanya.

Namun, karena Kairo suka menjadi orang yang memotong tulang, ia membutuhkan Jaguar untuk menahan sepupunya tetap di tempat. Kairo pun mengulurkan tangan dan meletakkan telapak tangannya di atas guillotine emas itu. Bilah peraknya berkilau di bawah cahaya terang lampu meja. Jaguar pun menekan lebih kuat, sementara Kairo memaksa jari tengah Edris masuk melalui lubang.

"Kairo, apa ini benar-benar perlu?" Tristan berdiri dan menuangkan minuman lagi. "Kamu benar-benar mau mengotori meja seharga 200 juta dengan darah si bodoh ini?"

"Berhenti ... hentikan semua ini sekarang juga!" Air liur Edris menyembur dari mulutnya. Tubuhnya kaku karena ketakutan. "Kairo, tolong berhenti."

"Dengan prinsip apa seorang Adinargo hidup, Edris?"

"Berhenti, sial."

"APA PRINSIPNYA?" teriak Kairo.

"Jangan pernah menunjukkan rasa takut." Suara Edris bergetar, jelas bertolak belakang dengan apa yang baru saja ia katakan.

"Tepat sekali. Jangan. Pernah. Menunjukkan. Rasa. Takut. Tapi lihat dirimu sekarang, hampir saja ngompol."

"Memangnya kamu mau berharap aku bagaimana? Kamu mau memotong jariku, sialan!"

Kairo pun membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Edris. "Bersyukurlah kamu bagian dari keluarga ini. Kalau bukan, yang ada di sini bukan jarimu, tapi kepalamu."

"Kairo, tolong ...."

Kairo menekan alat itu dengan kuat. Pada sepersekian detik ketika ada perlawanan saat bilah itu menghantam tulang Edris, ia memejamkan mata dan mendorongnya ke bawah. Gerakannya sangat sederhana, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya sangatlah parah.

Bunyi retakan tulang ketika jari itu terpisah dari tubuh Edris ditambah jeritan kesakitannya, semuanya terdengar seperti melodi yang menenangkan hasrat Kairo akan darah.

Tak lama, Jaguar dan Kairo melepaskannya, lalu Edris merosot ke lantai sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah. Pemandangan itu begitu menyedihkan, seperti seorang pria yang bahkan tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini.

Kairo mengeluarkan saputangan dari saku jasnya dan membersihkan tetesan merah yang menempel di telapak tangannya. Jari yang terputus itu mengeluarkan darah seperti bajingan, dan Tristan benar. Darah itu mengotori meja sialannya. Namun, bagi Kairo, semuanya sepadan.

"Dasar bajingan!" jerit Edris sembari menangis. Ingus pun mengalir di bibirnya, sementara air mata membasahi wajahnya.

Tristan duduk di samping Kairo, menggoyangkan bourbon di dalam gelasnya sambil memperhatikan Edris menangis. "Bagus, Bro. Kamu bukan cuma merusak meja, tapi juga mengotori karpet yang masih bagus."

"Gak usah sok peduli!"

Tristan meringis setelah menenggak bourbon itu sampai habis. "Kamu benar. Aku nggak peduli."

"Kamu bakal bayar untuk ini," ancam Edris dengan gigi terkatup. "Aku bakal mengambil cincin sialanmu itu, mengelap pantatku pakai benda itu, lalu memasukkannya ke tenggorokanmu!"

"Serius, Edris?" Tristan berjongkok di depannya. "Kamu nggak belajar apa pun hari ini?"

"Persetan!" Edris mengalihkan pandangan dari Tristan kepada Kairo. "Dan persetan dengan kamu, bajingan! Kamu pikir karena kamu seorang putra mahkota, kamu lebih baik dariku?"

"Aku nggak berpikir begitu. Aku tahu aku lebih baik!"

Kairo melemparkan saputangan yang terkena darah ke wajah Edris. Edris langsung meludahinya.

"Kamu gak lebih dari seorang anak penjilat." Edris tertawa gila. "Dan ketika papamu akhirnya mati karena tumor otak sebesar bijiku, aku akan menyingkirkan kalian semua, dasar banci. Demi Tuhan, aku bersumpah!!"

Amarah Kairo pun meledak, seperti ledakan nuklir yang mengguncang dan menghancurkan sisa kendali dirinya.

Tristan langsung mengumpat. "Kairo, jangan—"

Kairo lalu menarik pistolnya, mengarahkannya ke dahi Edris, lalu menarik pelatuk seolah itu hanya bagian dari rutinitas malamnya setelah makan malam.

Suara tembakan sekerika memecah udara dengan dentuman keras. Tubuh Edris tersentak akibat benturan, peluru menembus tengkoraknya. Darah pun mengalir dari luka yang terbuka, sementara tubuhnya lemas dan merosot, terkulai dengan posisi tidak beraturan.

"... Lakukan saja." Tristan mengembuskan napas panjang. "Oh, shyiit! Kamu membunuhnya."

"Bajingan itu jelas memohon untuk ditembak." Kairo bahkan tidak berkedip saat menatap tubuh Edris yang tak bernyawa sambil menegakkan bahunya. "Kurasa hari ini aku berhasil melakukan sesuatu."

"Benarkah?" Tristan mengangkat sebelah alis. "Coba jelaskan!"

"Bajingan yang harus dikhawatirkan dunia ini, akhirnya berkurang satu."

"Benar. Tapi sekarang kamu harus mengkhawatirkan perang saudara di keluarga ini ketika semua orang tahu kamu membunuh Edris. Paman Daeng sudah terlalu menyayangi si bodoh itu sejak Finn pergi."

"Finn itu banci sialan dan pergi karena dia nggak punya nyali untuk melakukan apa yang harus dilakukan," geram Kairo. "Kalau ada satu hal yang dikuasai paman kita, itu hanya menciptakan bayi pengecut seperti dia."

"Tapi kalau dia sampai tahu—"

"Nggak akan ada yang tahu," tegas Kairo meyakinkannya sambil merapikan lengan jasnya.

Jaguar menyilangkan kedua lengannya yang penuh tato. "Apa yang akan kamu katakan kepada papamu?"

"Nggak ada. Kita bilang saja, Edris masih hidup."

Tristan mendengus sambil bersandar ke dinding, lalu mengangkat gelas yang sudah diisi ulang ke arah Kairo. "Berapa lama itu, sampai Paman Daeng mulai mencari Edris?"

"Cukup lama untuk Jaguar menyingkirkan tubuhnya dan menghapus semua jejak keberadaan Edris di sini hari ini."

Jaguar pun mengangguk, lalu Kairo menyerahkan pistolnya.

"Singkirkan pistol ini dan belikan aku yang baru." Kairo menatap tubuh itu. "Astaga. Edris sialan," gumamnya.

Paman Daeng, kakak laki-laki ibunya, mengadopsi Edris setelah ayah Edris menembak mati ibunya karena dugaan perselingkuhan yang dilakukan wanita itu, lalu mengarahkan pistol tersebut kepada dirinya sendiri.

Dari situ lah Kairo harus merawat Edris dan sialnya Edris selalu menjadi orang yang terus menyusahkan. Dan apa sebenarnya yang dia pikirkan sampai berani mengingatkan Kairo tentang kode etik keluarga mereka?

Menjadi seorang Adinargo sudah terukir dalam darah, keringat, dan air matanya. Semua yang Kairo lakukan adalah demi keluarga ini, dan Edris menandatangani hukuman matinya sendiri saat mengancam akan merampas keluarga itu darinya.

Begitulah nasib siapa pun yang berani mengusik Kairo dan posisinya dalam keluarga. Kairo adalah putra sulung ayahnya, pewaris dinasti Mafia The Velvet Monarch, dan tidak ada satu pun hal yang tidak akan ia lakukan untuk melindungi warisannya.

Kairo tidak akan tinggal di sana, karena ia tahu Jaguar akan mengurus semua kekacauan ini. Ada alasan mengapa Jaguar menjadi eksekutor keluarga, orang yang menangani segala sesuatu yang berpotensi membahayakan mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Warmindo

    Di tempat lain ....Hanya lega yang Kaia rasakan saat menatap makam ibunya. Kaia seharusnya merindukannya, menangisinya, berduka untuknya. Namun, ia tidak merasakan semua itu. Kepergian ibunya justru memberinya jeda setelah bertahun-tahun memikul tanggung jawab yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak.Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaia tidak perlu lagi merawatnya. Sekarang ibunya menjadi urusan iblis. Bahkan sejak mengembuskan napas terakhir beberapa minggu lalu, wanita itu sudah menjadi urusan iblis.Alih-alih mengunjungi makam untuk merasa lebih dekat dengannya, Kaia datang untuk mengingatkan dirinya bahwa ibunya benar-benar sudah pergi. Ia ingin memastikan kematian itu bukan sekadar mimpi atau ilusi yang ia ciptakan karena putus asa ingin terbebas darinya.Kaia memejamkan mata, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Ibunya mungkin sudah mati, tetapi hantu wanita itu masih menghantuinya. Dan mungkin akan selalu begitu.Matahari mulai terbit. Kaia merapatkan jake

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Dead Line

    Rasa ingin melawan membakar tenggorokan Kairo, tetapi ia menahan lidahnya. Saat ini, pria di hadapannya bukan ayahnya. Ia adalah Raja Velvet Monarch yang menuntut rasa hormat setiap saat.Dan ketika tatapan Petrus menekannya dari seberang meja, ia tidak sedang memandang putranya. Ia sedang memandang apa yang Kairo wakili. Masa depan Velvet Monarch.Suasana tenang itu menghilang begitu ayahnya menegakkan tubuh di kursi dan meletakkan kedua siku di atas meja."Ini harus dilakukan, Kairo. Kamu nggak punya pilihan.""Tentu saja aku punya pilihan.""Dulu Papa dan Mama nggak punya pilihan, dan kamu juga nggak.""Situasinya berbeda dengan papa. Pernikahan papa melahirkan aliansi yang lebih kuat.""Dan pernikahanmu akan melahirkan posisi yang lebih berkuasa sebagai pemimpin.""Itu omong kosong," cibir Kairo. "Hari ketika aku duduk di meja itu, aku akan menjadi pemimpin. Dan aku nggak membutuhkan istri untuk itu!""Sayangnya, kamu membutuhkannya." Ayahnya memiringkan kepala. "Coba bilang ke Pa

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   The Velvet Monarch

    Ayah Kairo memiliki empat anak kandung, tetapi selalu menganggap Jaguar sebagai anak kelima. Sementara saudara perempuan Jaguar, Eva, sudah di anggap sebagai putri kesayangan ayah Kairo.Waktu itu Jaguar berusia sepuluh tahun dan adiknya baru empat tahun ketika mereka menjadi bagian dari keluarga ini. Kalau bukan karena ayah Kairo yang menyelamatkan mereka pada malam ketika orang tua dan saudara laki-laki mereka dibunuh, mereka pasti sudah dikuburkan di samping keluarganya.Rasa terima kasih Jaguar atas utang nyawanya, membuat kesetiaannya tidak tergoyahkan. Sedangkan Eva, dia praktis satu-satunya cahaya di tempat ini. Kairo tidak pernah mengerti bagaimana dosa-dosa keluarga ini tidak ikut merusaknya setelah ia tumbuh di tengah-tengah semua itu.Zion berjalan menyusuri lorong, tampak muram seperti biasa. Kadang-kadang Kairo merasa adik laki-lakinya itu seperti mayat berjalan, murung, dan membenci segala sesuatu."Tebak!" Tristan tersenyum ketika mereka berjalan menghampiri Zion. "Kair

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Kematian Edris

    "Astaga. Sial!" Edris memaki ketika Kairo menambah tekanan pada kepalanya. "Kairo, kamu nggak bisa melakukan ini.""Kamu nggak berhak menyuruhku melakukan apa pun, sialan!""Aku sepupumu, Anjing!""Lagian bukan sepupu sedarah.""Aku tetap bagian dari keluargamu.""Karena Paman Daeng memutuskan mengadopsimu setelah anak satu-satunya berubah jadi banci. Dia nggak pernah tahu kalau ternyata kamu bakal jadi orang paling bodoh yang pernah ada."Jaguar mencengkeram lengan Edris dan menekan tangannya ke meja. Ia memberikan tekanan kuat sampai bajingan itu tidak punya pilihan selain membuka telapak tangan dan merentangkan jari-jarinya."Kairo, sialan. Ini nggak lucu." Edris meronta-ronta melawan cengkeraman Jaguar dan Kairo, tetapi percuma. Melawan salah satu dari mereka saja ia tidak punya tenaga, apalagi melawan keduanya.Namun, karena Kairo suka menjadi orang yang memotong tulang, ia membutuhkan Jaguar untuk menahan sepupunya tetap di tempat. Kairo pun mengulurkan tangan dan meletakkan tel

  • ISTRI DADAKAN SANG MAFIA   Edris Si Pembawa Sial

    "Lalu, apa kewajibanku sebagai istrimu nanti?" tanya Kaia sembari menatap Pria kekar itu."Sebagai istriku, satu-satunya kewajibanmu adalah menjalankan peranmu saat kita berada di depan orang lain.""Berarti kewajibanku itu gak berlaku untuk di dalam kamar?""Kalau kamu bertanya apakah kamu harus berhubungan seks denganku, Nona Indrawari, jawabannya enggak. Aku jamin keperawananmu akan tetap terjaga sampai nanti kontrak kita habis dan kamu bebas meninggalkan rumahku.""Keperawananku? Bagaimana kamu bisa tahu?""Kamu pikir aku akan memberikan tawaran seperti ini tanpa mengetahui semua hal tentang dirimu?" Pria itu menyilangkan kedua lengannya. "Ini masalah serius. Aku menawarkan kekayaan yang sangat besar untukmu, bukan karena aku ingin menidurimu atau membuatmu mengisap batang-ku."Kata-kata itu langsung membuat pipi Kaia memanas. Rasa panas yang menjalar hingga ke lehernya."Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersikap seperti istri yang penuh kasih sayang dan tergila-gila padaku sampai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status