LOGINRara di fitnah oleh sepupu Devan, lalu dia di usir oleh Devan padahal dia sedang mengandung, setelah pergi dari rumah Devan, Rara berjuang sendiri untuk melahirkan dan membesarkan anaknya, dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan mengubah identitasnya menjadi Rora. Tapi setelah lima tahun Rara memutuskan untuk kembali ke indonesia bersama dua anak kembarnya karena pekerjaan. Saat sampai di bandara dia tidak sengaja bertemu dengan Devan. Karena wajah Keyla yang sangat mirip dengannya dan wajah Rora yang mengingatkan dia dengan Rara. Devan melakukan berbagai cara untuk membuktikan kalau Rara adalah Rora, Keyla dan Kai adalah anak kandungnya dengan melalui berbagai konflik dan usaha agar Rora mau menerima Devan kembali.
View MoreLima tahun telah berlalu, Rora memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena urusan pekerjaan. kota yang lima tahun lalu ia tinggalkan dalam air mata dan keputusasaan.
"Ma, kita sudah sampai?" Keyla bertanya, wajahnya menempel di jendela sebelah Rora. Mata gadis kecil itu berbinar-binar. "Jakarta itu kota besar ya? Kayak di kartun?"
Rora tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Iya, Sayang. Jakarta kota besar."
"Apakah kita akan tinggal di sini?" Kai bertanya dari kursi di sebelahnya.
"Hanya beberapa minggu," Rora menjawab. "Kita kesini untuk kerja. Setelah selesai, kita pulang."
"Tapi aku mau tinggal di sini!" Keyla merengek. "Aku mau lihat Monas."
"Keyla," Kai berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet. "Kita tidak tinggal di sini. Mama sudah bilang."
"Tapi Kakak nggak pernah mau main di luar."
"Karena kamu berisik."
"Kakak jahat."
"Kalian berdua," Rora menegur pelan. "Jangan berantem. Kita sudah sampai."
Pesawat mendarat dengan guncangan ringan. Penumpang mulai berdiri, mengambil tas dari kompartemen atas.
Rora berdiri, membantu Keyla memakai jaket tipis. Jakarta tidak sedingin Paris, tapi AC bandara selalu terlalu dingin untuk anak-anak.
Mereka berjalan keluar dari pesawat, mengikuti arus penumpang menuju terminal kedatangan.
Bandara Soekarno-Hatta siang itu ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper, tas, dan wajah-wajah yang sibuk. Anak-anak berlarian, orang tua memanggil, petugas keamanan berteriak mengatur lalu lintas.
Rora menggenggam tangan Keyla erat-erat. Kai berjalan di sebelahnya, matanya masih terpaku pada tablet, tapi sesekali ia menoleh memastikan adiknya baik-baik saja.
Mereka tiba di area penjemputan. Tapi sebelum ia menemukannya, Keyla tiba-tiba menarik tangannya.
"Ma, aku mau ke sana."
"Jangan, Keyla. Kita harus tunggu."
Tapi Keyla sudah melepaskan genggamannya dan berlari kecil menuju arah toko itu.
"Keyla." Rora panik, mulai berlari mengejar.
Kai yang lebih cepat sudah lebih dulu berlari. "Keyla, berhenti."
Tapi Keyla tidak mendengar. Gadis kecil itu terlalu bersemangat. Ia berlari dengan langkah kecilnya yang cepat, melewati orang-orang yang berdiri di area penjemputan.
Rora berlari sekuat tenaga, jantungnya berdebar kencang. "Keyla, tunggu."
***
Keyla tiba di dekat pagar pembatas. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah toko mainan. Tapi tiba-tiba, seorang pria yang berjalan cepat dari arah berlawanan tidak melihatnya.
Pria itu menabrak Keyla.
Gadis kecil itu terhuyung ke belakang, hampir jatuh. Tapi sebelum ia jatuh, pria itu dengan cepat menangkapnya, menggendongnya agar tidak jatuh ke lantai.
"Hey, hati-hati." Pria itu berkata, suaranya rendah dan tegas.
Keyla mendongak, menatap pria yang menangkapnya. Mata gadis itu membelalak.
Pria itu tinggi, mengenakan setelan jas hitam yang mahal. Rambutnya hitam, sedikit berantakan. Wajahnya tegas, rahangnya mengeras. Matanya gelap dan tajam.
Pria itu adalah Devan Alvero.
Dan Devan sedang menatap Keyla dengan ekspresi yang tidak bisa Rora baca.
"Keyla." Rora berteriak, berlari menuju mereka.
Devan menoleh, menatap Rora yang berlari ke arahnya.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti.
Rora berhenti beberapa langkah dari mereka. Dadanya naik turun karena berlari. Matanya bertemu dengan mata Devan.
Devan menatapnya. Tatapan itu... tatapan yang Rora kenal. Tatapan yang ia coba lupakan selama lima tahun. Tatapan yang dulu penuh cinta, tapi malam itu penuh amarah.
"Kau..." Devan memulai, suaranya pelan.
Rora menelan ludah. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya.
"Terima kasih," Rora berkata, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Ia melangkah maju, mengulurkan tangan untuk mengambil Keyla dari gendongan Devan. "Anak saya... terima kasih sudah menangkapnya."
Devan tidak melepaskan Keyla. Ia masih menatap Rora, matanya menyipit.
"Kau..." Devan mengulang. "Aku pernah melihatmu?"
Rora merasa darahnya membeku. Ia memaksakan senyum di wajahnya. "Tidak rasa, Tuan. Saya baru pertama kali di Jakarta."
Devan menatapnya lama. Lalu ia menatap Keyla.
"Om baik," Keyla berkata tiba-tiba. "Om menangkap Keyla."
Devan terdiam. Ia menatap Keyla, lalu menatap Rora lagi.
"Anakmu?" Devan bertanya.
Rora mengangguk. "Iya. Tolong, kembalikan Keyla."
Devan perlahan menurunkan Keyla, membiarkan gadis itu berlari ke arah Rora. Keyla memeluk kaki Rora, menatap Devan dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Om!" Keyla berkata ceria.
Devan tidak menjawab. Ia masih menatap Rora. Tatapannya tajam, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki.
"Siapa namamu?" Devan bertanya.
Rora menelan ludah lagi. "Rora. Rora Anindya."
"Rora," Devan mengulang nama itu. Ia terdiam sejenak. "Rora Anindya."
"Ma, kita pergi yuk," Kai tiba-tiba muncul di samping Rora, menatap Devan dengan tatapan waspada. Anak laki-laki itu berdiri di depan Rora dan Keyla, tubuhnya tegang.
Devan menatap Kai. Matanya menyipit lagi.
"Anakmu juga?" Devan bertanya.
Rora mengangguk. "Iya. Kembar."
Devan terdiam. Ia menatap Kai, lalu Keyla, lalu Rora lagi.
Kembar.
Kemiripan itu..
Ada sesuatu yang familiar. Sesuatu yang membuat Devan merasa aneh.
"Tunggu." Devan berkata tiba-tiba.
Rora berhenti, tapi tidak menoleh.
Devan merogoh saku jasnya, mengeluarkan kartu nama. Ia melangkah maju, menyerahkan kartu itu pada Rora.
"Kalau kau butuh bantuan di Jakarta," Devan berkata. "Hubungi saya."
Rora menatap kartu nama itu. Di atasnya tertulis:
DEVAN ALVERO
CEO, ALVERO GROUP
Tangan Rora gemetar saat ia mengambil kartu itu. "Terima kasih."
"Sama-sama." Devan tersenyum tipis. Senyum yang Rora kenal. Senyum yang dulu selalu membuat hatinya berdebar.
Rora berbalik, menarik anak-anaknya untuk pergi.
"Ma," Keyla bertanya saat mereka berjalan menjauh. "Om itu siapa?"
"Mama tidak tahu." Rora menjawab, suaranya datar.
"Tapi Om itu baik. Wajahnya mirip..." Keyla berhenti, berpikir keras. "Mirip siapa ya?"
Rora tidak menjawab. Ia hanya mempercepat langkahnya.
***
Di belakang mereka, Devan masih berdiri di tempat yang sama, menatap punggung Rora yang semakin menjauh.
Di sampingnya, Raka asistennya yang baru saja tiba bertanya, "Tuan? Mobil sudah siap."
Devan tidak langsung menjawab. Ia masih menatap Rora.
"Raka," Devan berkata pelan. "Cari tahu siapa Rora Anindya."
Raka terkejut. "Tuan?"
Devan menoleh, menatap Raka. "Cari tahu semuanya tentang dia. Dari mana dia berasal, keluarganya, pekerjaannya. Semuanya.”
Rora berjalan cepat menyusuri lorong backstage, tangan kanan menggenggam Keyla, tangan kiri menarik koper roda berisi sampel koleksi. Kai berjalan di sebelahnya, tablet sudah masuk ke dalam tas, matanya waspada memindai sekitar."Ma, kenapa kita buru-buru?" Keyla bertanya, hampir berlari untuk mengimbangi langkah Rora."Tante Sari sudah menunggu di mobil," Rora menjawab tanpa menoleh. "Kita harus segera ke hotel.""Tapi Mama janji mau foto-foto.""Nanti, Sayang. Nanti ya."Mereka tiba di pintu keluar backstage. Rora mendorong pintu, dan langsung berhenti.Devan berdiri di sana.Pria itu bersandar di dinding, tangan bersilang di dada, jas hitamnya terlihat sempurna seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya. Matanya menatap Rora dengan intensitas yang membuat Rora ingin berlari."Raka menunggu mobil di parkiran bawah," Devan berkata, suaranya datar. "Dia bisa membawa anak-anak ke hotel. Aku ingin berbicara denganmu. Berdua."Rora merasakan jantungnya berhenti sejenak. I
"Informasi apa lagi yang kamu dapatkan?""Tuan. Saya sudah cek. Di akta kelahiran anak-anaknya, kolom ayah kosong. Tertulis 'tidak diketahui'."Devan menutup matanya.Tidak diketahui.Dua anak dan Ayah tidak diketahui. Salah satu anak itu sangat mirip Devan."Raka," Devan membuka matanya, menatap asistennya. "Aku butuh kau melakukan satu hal.""Tuan?""Cari tahu apakah Rara Anindya pernah hamil lima tahun yang lalu. Cek semua rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya. Cek semua klinik. Cek semua catatan medis yang bisa kamu akses, dan satu lagi. Cari tahu jadwal Rora Anindya selama dia di Jakarta. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu setiap langkahnya."Raka menatap Devan, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."Raka keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya.Devan sendirian di kantornya yang besar dan sunyi. Ia berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan menatap kedua foto di depannya."Siapa kamu sebenarnya, apa kamu benar-benar Rara."Di lantai 3
Lantai 30 gedung Alvero Group, Devan duduk di kursinya, menatap layar komputer.Di layar, ada laporan dari Raka. Laporan tentang Rora Anindya."Rora Anindya. Usia 28 tahun. Pemilik Butik Anindya di Paris. Tidak ada riwayat pendidikan formal yang tercatat. Tidak ada informasi tentang keluarga. jejak digital hampir tidak ada."Devan menatap laporan itu.Jejak digital hampir tidak ada."Itu mencurigakan, sangat mencurigakan."Devan membuka laci mejanya. Di dalamnya, ada selembar foto lama. Foto Rara. Foto yang disimpan selama lima tahun."Cara mereka tersenyum sama persis."Devan merasa napasnya terhenti.Dia mengambil ponselnya, menekan nomor Raka."Raka," Devan berkata, suaranya parau. "Cari tahu satu hal lagi tentang Rora Anindya.""Apa, Tuan?" Suara Raka terdengar dari seberang sana.Devan menatap kedua foto itu."Cari tahu apakah Rora Anindya punya sahabat bernama Sari."Hening di seberang sana."Tuan... kenapa?""Lakukan, Raka." Devan menutup telepon, menatap kedua foto itu. "Dan c
Rekaman itu hitam putih, tapi cukup jelas. Terlihat kerumunan orang berjalan di terminal kedatangan. Anak-anak berlarian."Percepat." Devan memerintahkan.Rekaman itu dipercepat, orang-orang bergerak seperti dalam film bisu."Berhenti di sana," Devan menunjuk layar. "Di dekat pagar."Rekaman itu berhenti. Terlihat seorang gadis kecil berlari ke arah toko mainan. Di belakangnya, seorang wanita dan seorang anak laki-laki mengejarnya."Perbesar." Devan memerintahkan.Layar memperbesar area itu. Sekarang mereka bisa melihat wajah Keyla dengan jelas.Devan menatap layar itu. Jantungnya berdebar lebih cepat.Gadis kecil itu. Kemiripannya..."Lanjutkan." Devan berkata.Rekaman dilanjutkan.Terlihat Keyla berhenti di dekat pagar, lalu Devan berjalan cepat dari arah berlawanan dan menabraknya. Gadis kecil itu hampir jatuh, tapi Devan menangkapnya."Berhenti di sana,” Devan memerintahkan.Rekaman berhenti.Devan menatap layar, melihat dirinya sendiri menggendong Keyla. Gadis kecil itu menatapny
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.