MasukKaisar Jinyulong bangkit dari jongkoknya dengan bantuan Xiu Jie, lalu didudukkan di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Kaisar itu menghela napas panjang agar tubuhnya kembali rileks."Xiu Jie... jangan lakukan hal konyol seperti tadi lagi. Aku tidak ingin dikasihani oleh siapa pun," ucap Kaisar dengan nada ketus."Cih. Memangnya siapa yang kasihan sama Yang Mulia? Justru aku yang harus dikasihani," gerutu Xiu Jie kesal, sambil menatap telapak tangannya yang sempat ia sayat tadi.Sementara itu, di luar kamar, Kasim Han dan para pelayan merasa lega karena tidak lagi mendengar kegaduhan di dalam."Sepertinya Nona Xiu Jie berhasil menenangkan Yang Mulia," gumam Kasim Han pelan seraya menatap ke arah pintu kamar kaisar.Kaisar Jinyulong menatap tajam ke arah telapak tangan Xiu Jie. Darah segar masih merembes dari luka sayatan yang dibuat gadis itu beberapa saat lalu. Tanpa banyak bicara, kaisar meraih pergelangan tangan Xiu Jie."Yang Mulia, apa yang Anda lakukan?" tanya Xiu Jie se
Xiu Jie melangkah sangat pelan, nyaris tanpa suara. Wajah polosnya menoleh ke sana-kemari, memastikan keadaan sekitar aman."Jujur saja, nyaliku sebenarnya tidak seberapa," bisik Xiu Jie pada diri sendiri. Dia terus mengendap-endap sampai tirai tempat tidur kaisar mulai terlihat."Yang Mulia, Anda di mana?" Suaranya terdengar parau. Meski rasa takut mulai menjalar, dia tetap memaksakan diri maju demi melihat kondisi Kaisar Jinyulong."Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya lagi. Xiu Jie terus mencari-cari, namun sosok kaisar tak kunjung terlihat. "Aneh sekali, kenapa sepi sekali di sini?""Kata Tuan Bai, Kaisar sedang dalam bahaya. Tapi sepertinya semua baik-baik saja," gumamnya heran. Xiu Jie berdiri mematung sambil mengamati setiap sudut kamar yang sangat luas itu."Tidak kusangka, kamar kaisar tiran ini megah juga. Tapi sayang, rasanya mati dan tidak ada kehidupan. Ah, sudahlah, lebih baik aku kembali saja. Si tiran itu juga entah ke mana," gerutunya.Namun, tepat saat Xiu
Begitu sampai di kamar, Xiu Jie langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya penat sekali; bukan cuma karena perjalanan jauh yang ia tempuh, tapi juga karena muak harus menonton drama antara Jenderal Tian Ming dan Ye Jinjing."Hari ini benar-benar bikin kepalaku mau pecah. Baru juga sampai, sudah harus melihat tingkah konyol Ye Jinjing," keluh Xiu Jie sambil menghela napas panjang. Ia berbaring telentang dengan mata terpejam rapat."Wanita itu memang keterlaluan, beraninya membuat Nona kesal," sahut Lie Mei, tak kalah geram."Oh iya, Lie Mei. Kalau ada yang mencariku, bilang saja aku sedang istirahat. Aku mau tidur dan tidak mau diganggu sama sekali," gumam Xiu Jie tanpa membuka mata."Baik, Nona!" jawab Lie Mei patuh. Tak butuh waktu lama, napas Xiu Jie sudah terdengar teratur; ia telah terlelap.Langit mulai menggelap. Di kediaman Kaisar Jinyulong, suasana mendadak mencekam. Para pelayan tampak tegang melihat aura sang Kaisar yang begitu menyeramkan. Tepat saat bulan pur
Di kediaman Jenderal Tian Ming, Ye Jinjing tampak duduk di depan cermin sambil merias diri. Tak seperti biasanya, kali ini riasannya sangat tipis, dipadukan dengan pakaian sederhana layaknya rakyat jelata."Xiao Bo, bagaimana penampilanku? Apa aku sudah terlihat seperti orang yang tertindas?"Xiao Bo yang berdiri di belakangnya segera mendekat dengan mata berbinar. "Penampilan Nona sudah sempurna. Wanita itu pasti akan berpihak pada Anda," bisiknya.Keduanya tertawa kecil. Namun sedetik kemudian, raut wajah Ye Jinjing berubah sinis saat membayangkan rencana licik yang telah ia susun.Sementara itu, rombongan kereta Xiu Jie dan Jenderal Tian Ming telah tiba di wilayah Kerajaan Bai Li Yuan. Seorang prajurit pengintai segera berlari menuju istana untuk melapor kepada Kaisar."Lapor Yang Mulia! Rombongan kereta Selir Xie Yue telah memasuki gerbang istana!"Kaisar Jin Yulong hanya menanggapi dengan tatapan dingin dan anggukan pelan. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dari singgasananya. D
Langkah kaki Tian Ming dan Xiu Jie terdengar pelan namun mantap saat mereka memasuki bangunan mewah di jantung kota. Pilar-pilar tinggi menjulang, lampu gantung berkilau di langit-langit, dan aroma dupa halus menyambut mereka begitu pintu utama terbuka.Di lantai dua, tersembunyi di balik tirai tipis, seorang wanita cantik berdiri diam. Matanya tajam mengamati dua pria yang baru saja masuk. Wajahnya muram, seperti menyimpan badai yang siap meledak kapan saja."Sepertinya, wanita itu yang dikatakan oleh mata-mataku," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar menahan emosi. Tangannya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih.Di lantai bawah, seorang prajurit berpakaian biasa menghampiri Tian Ming dan Xiu Jie. Ia menunduk hormat, menunggu perintah."Beritahu Selir Xiyue, kami berdua ingin bertemu dengannya," ucap Tian Ming tenang, namun tegas.Prajurit itu mengangguk cepat, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju lorong di sisi kanan ruangan.Sementara itu, di balik
Langkah kaki Xiu Jie terdengar ringan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Begitu pintu kayu itu terbuka, ia menoleh ke belakang, menatap Tian Ming yang mengikutinya sejak dari aula utama."Ada apa kau mengajakku kemari?" tanyanya datar, sembari menutup pintu perlahan.Tian Ming berdiri di ambang pintu, ragu-ragu. Tatapannya tidak setegas biasanya. "Aku ingin mengajakmu untuk menjemput Selir Xiyue," ucapnya akhirnya.Namun, Xiu Jie menangkap sesuatu yang janggal dari raut wajah sang jenderal. Ada kegelisahan yang tak biasa."Tapi... aku takut Selir Xiyue tidak mau ikut kita ke istana," lanjut Tian Ming, suaranya nyaris seperti bisikan.Xiu Jie mengangkat alis, lalu berjalan santai ke meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah apel merah, mengelapnya sekilas dengan lengan bajunya, lalu duduk di atas tempat tidur."Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" tanyanya sambil menggigit apel. "Memangnya Selir Xiyue memberikan perintah khusus padamu?"Tian Ming menghela napas, lalu
Semua orang telah meninggalkan aula istana. Yang tersisa hanyalah Xiu Jie dan Kaisar Jinyulong. Suasana berubah sunyi, menekan. Xiu Jie menunduk, tak berani mengangkat wajahnya. Matanya terpaku pada lantai marmer yang dingin."Kenapa aku masih di sini?" pikirnya gelisah. Ia bahkan tak sadar saat Ka
Langit sore menggantung kelabu di atas paviliun utama kediaman Jenderal Tian. Angin membawa aroma bunga plum yang gugur, namun suasana di dalam ruangan jauh dari damai. Suara lantang Tian Ming memecah keheningan, tapi justru dibalas dengan ketenangan yang menusuk. “Tian Ming, kenapa kau berteriak
Beberapa tahun kemudian. Kepemimpinan kerajaan Bai Li Yuan, kini di gantikan oleh Jinyulong sebagai kaisar muda. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Kerajaan Bai Li Yuan hidup makmur dan wilayahnya semakin meluas. Namun, meskipun dia menjadi kaisar yang tangguh dan tak tertandingi, namun ada kekosonga
Pria gempal itu, dengan mata berbinar-binar, segera menyambar kantong koin itu. Ia bahkan tak sempat menghitungnya, terlalu sibuk dengan kegembiraannya. Dengan tergesa-gesa, ia membungkuk hormat, kemudian bergegas pergi, tak berani menatap Shen Jin lagi.Perasaan Budak Wanita dan Perintah Shen Jin







