登入Selama bertahun-tahun terakhir, Xiu Jie jarang pulang ke kediaman keluarga Xiu setelah menikah dengan Tian Ming. Akibatnya, perhatian Perdana Menteri Xiu sebagian besar tertuju kepada Xiu Lian. Semua orang di kediaman bahkan hampir menganggap Xiu Lian sebagai satu-satunya nona keluarga Xiu yang tinggal di rumah. Jika Xiu Jie kembali... Maka semuanya akan berubah. Dan perubahan itu bukan sesuatu yang mereka sukai. "Nona, pelankan suaramu." Nyonya Kedua Xiu menarik putrinya menjauh dari jendela. Baru setelah mereka berjalan cukup jauh, wanita itu kembali berbicara. "Kau terlalu panik." "Bagaimana aku tidak panik?" Xiu Lian menghentakkan kaki kecilnya. "Wanita itu adalah putri sah Ayah." Semakin dipikirkan, semakin tidak nyaman perasaannya. Dari kecil hingga sekarang, satu-satunya orang yang selalu membuatnya merasa kalah adalah Xiu Jie. Xiu Jie lebih cantik darinya. Lebih berbakat darinya. Bahkan statusnya jauh lebih tinggi. Putri sah seorang perdana menteri. Sedangka
Sementara itu, di sisi lain ibu kota. Kediaman Perdana Menteri Xiu yang megah dan luas tampak sibuk seperti biasa. Para pelayan berlalu-lalang membawa dokumen, sementara para pejabat bawahan keluar masuk ruang kerja sang perdana menteri untuk melaporkan berbagai urusan pemerintahan. Di ruang baca utama yang dipenuhi rak-rak kayu cendana dan gulungan dokumen berharga, Perdana Menteri Xiu tengah memeriksa laporan resmi dari beberapa wilayah kekaisaran. Pria paruh baya itu dikenal sebagai salah satu pilar utama Kekaisaran Agung. Wajahnya tampak tenang dan berwibawa. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai seorang pengawal kepercayaan memasuki ruangan dengan ekspresi ragu-ragu. "Yang Mulia Perdana Menteri." Perdana Menteri Xiu mengangkat kepala. "Ada apa?" Pengawal itu berlutut. "Hamba menerima kabar dari istana." "Katakan." Pengawal tersebut menelan ludah sebelum melanjutkan. "Persiapan pernikahan antara Jenderal Tian Ming dan Putri Jinghe telah memasuki tahap akhir." S
Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, wajah Xiu Jie kembali bersinar. Ia mengacungkan kedua jempolnya tinggi-tinggi. "Kau benar-benar yang terbaik!" Shen Jin tertawa kecil sambil mengangkat dagunya dengan bangga. "Tentu saja." "Kalau semua ibu mertua di dunia seperti dirimu, jumlah tragedi percintaan pasti berkurang setengahnya." "Hanya setengah?" "Baiklah, mungkin tujuh puluh persen." Mendengar itu, Shen Jin tertawa semakin keras. Sementara Xiu Jie mengangguk penuh keyakinan. Setidaknya, untuk urusan membersihkan harem, Shen Jin memang pantas mendapatkan penghargaan tertinggi. "Kak Shen Jin, untuk masalah putramu..." ucap Xiu Jie tiba-tiba dengan nada lebih serius. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Shen Jin yang melihat perubahan ekspresinya ikut memasang wajah tenang. "Kenapa?" Xiu Jie menundukkan suara, seolah khawatir ada orang lain yang mendengarnya. "Sebaiknya jangan beritahu Kakak Ipar terlebih dahulu." Shen Jin memahami
Xiu Jie dan Shen Jin menghabiskan waktu cukup lama untuk berbincang. Mereka membahas banyak hal, mulai dari kehidupan mereka di dunia modern hingga perjalanan tak terduga yang membawa mereka terlempar ke dunia asing yang penuh misteri ini. Sesekali terdengar tawa ringan di antara keduanya ketika mengenang berbagai kejadian konyol di masa lalu. Namun, semakin jauh percakapan berlangsung, suasana perlahan berubah menjadi lebih serius. "Senior..." panggil Xiu Jie dengan nada ragu. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan ucapannya, Shen Jin langsung mengangkat tangan dan memotong perkataannya. "Mulai sekarang jangan memanggilku senior lagi," ujar Shen Jin sambil tersenyum tipis. "Panggil saja aku kakak." Xiu Jie terkekeh pelan. "Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi." Ia menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat. "Oh iya, Kak Shen Jin. Aku sebenarnya ingin menanyakan sesuatu mengenai putramu." Alis Shen Jin langsung terangkat. "Memangnya kenapa dengan Jinyu?" Nada
Ekspresinya terlihat santai. Terlalu santai, bahkan. Di sampingnya berdiri beberapa pelayan yang berusaha mati-matian menahan tawa. “Yang Mulia Kaisar Agung,” panggil seorang pelayan dengan hati-hati. “Ikan yang satu itu sepertinya sudah matang.” “Aku tahu!” Jawaban Bai Li Yuan terdengar kesal. “Kalau tahu kenapa masih dibakar sampai gosong?” sahut Shen Jin tanpa mengangkat kepala. Bai Li Yuan langsung membeku. Para pelayan buru-buru menundukkan kepala, takut tertawa di hadapan mantan penguasa nomor satu di dunia itu. Xiu Jie dan Kaisar Jinyulong saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak menyangka akan disambut pemandangan seperti ini. “Ayah...” panggil Kaisar Jinyulong perlahan. Bai Li Yuan menoleh. Begitu melihat kedatangan mereka, matanya langsung berbinar seolah menemukan penyelamat. “Jinyulong! Xiu Jie! Kalian datang tepat waktu!” Namun sebelum sempat melangkah mendekat, suara Shen Jin kembali terdengar. “Berani melangkah satu langkah dari dapur itu, hukumanny
“Tidak apa-apa.” Xiu Jie tersenyum tipis, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai bentuk penghormatan. “Jika Yang Mulia sudah mempertimbangkan dan menyetujui tawaranku tadi, jangan lupa untuk menghubungiku. Baiklah, kalau begitu hamba mohon undur diri.” Ia hendak berbalik pergi, tetapi sebuah suara segera menghentikan langkahnya. “Tunggu!” Xiu Jie menoleh kembali. Sorot matanya tenang, seolah sudah menduga bahwa sang kaisar masih memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. “Ada apa, Yang Mulia?” Kaisar Jinyulong tampak ragu-ragu. Untuk sesaat, pria yang biasanya tegas dan berwibawa itu justru terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang sulit diucapkan. “Setelah ini, kau akan pergi ke mana?” “Aku ingin menemui kakak senior. Ada beberapa hal yang perlu kudiskusikan dengannya.” Mata Kaisar Jinyulong sedikit berbinar. “Kebetulan sekali. Aku juga berencana mengunjungi kediaman ibunda. Apa kau mau ikut bersamaku ke sana?” Xiu Jie terdiam sejenak sebelum akhir
Langkah kaki Xiu Jie terdengar ringan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Begitu pintu kayu itu terbuka, ia menoleh ke belakang, menatap Tian Ming yang mengikutinya sejak dari aula utama."Ada apa kau mengajakku kemari?" tanyanya datar, sembari menutup pintu perlahan.Tian Ming berdiri di amb
Aroma dupa kayu manis dari aula istana masih melekat di udara ketika Xiu Jie melangkah keluar. Langkahnya berat dan sedikit terhentak, seolah ingin meluapkan kekesalan yang ia tahan sejak pertemuan itu. Baru saja ia menginjak batu marmer di teras luar, tangan hangat menarik lengannya—erat, tergesa.
Semua orang telah meninggalkan aula istana. Yang tersisa hanyalah Xiu Jie dan Kaisar Jinyulong. Suasana berubah sunyi, menekan. Xiu Jie menunduk, tak berani mengangkat wajahnya. Matanya terpaku pada lantai marmer yang dingin."Kenapa aku masih di sini?" pikirnya gelisah. Ia bahkan tak sadar saat Ka
Langit sore menggantung kelabu di atas paviliun utama kediaman Jenderal Tian. Angin membawa aroma bunga plum yang gugur, namun suasana di dalam ruangan jauh dari damai. Suara lantang Tian Ming memecah keheningan, tapi justru dibalas dengan ketenangan yang menusuk. “Tian Ming, kenapa kau berteriak







