Mag-log inIsabella tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Alex. Bukti adanya kecurangan anggaran di istana Rose sudah berada di tangannya. Pelaku utamanya adalah Klan Moreau. Alat yang mereka gunakan adalah Helena. Lalu … sekarang Helena mengkambinghitamkan bawahannya, Gaston. ‘Wanita itu tidak berjalan sendiri. Dia adalah tangan kanan Klan Moreau. Dan, Klan Moreau sangat berjasa pada Ashmond. Alex tidak bodoh. Ia sedang berusaha mengambil keputusan yang tidak membahayakan posisi dirinya sebagai calon raja Ashmond.’“Alex, seperti yang kau tahu, aku sudah mengaudit laporan keuangan. Jika terjadi kecurangan di istana Rose. Orang yang paling bertanggung jawab adalah istri pertamamu, Putri Helena Moreau. Tapi … kita juga tidak bisa gegabah mengambil keputusan, sebelum bukti dan saksi terkumpul secara sempurna.” Isabella berkata dengan tenang. Sementara itu, Alex hanya terdiam dengan pikiran yang berisik. Beberapa kali ia memijit pangkal hidungnya. …Malam itu, Distrik Bangsawan yang biasanya ten
Isabella tersenyum miring tatkala melihat bayangan Helena Moreau yang berada di balik rak kitab di perpustakaan. Dari celah salah satu lemari, ia bisa melihat siluet Helena yang tengah terdiam dengan pundak yang berguncang.Ia bahkan sengaja membuat suara desahannya diperkeras agar terdengar olehnya. Dan, ia berhasil membuat Helena pergi dengan menghentakkan kakinya kesal. “Alex, cukup,” bisik Isabella merasa puas. Ia mendorong dada suaminya yang bidang dengan cukup keras. Kepala pria itu masih berlabuh di ceruk lehernya, mengecup titik-titik sensitif di tubuhnya. “Kau mirip vampire, Alex.”Alex mendengus kesal. Wajah pria itu memerah dengan tatapan sayu seperti tengah menahan sesuatu. “Kalau begitu kita lanjutkan di paviliun,” jawabnya dengan suara yang serak. Ia menurunkan tatapannya pada bagian bawah tubuhnya. Sesuatu telah mengeras di bawah sana. Ia sudah tidak tahan lagi. Isabella melotot mendengarnya. Alex memang maniak. Ia tidak pernah menyangka jika suaminya yang terkenal di
Sore itu, halaman istana terasa lebih hidup. Alex Harrington, yang biasanya tampak kaku dan dibebani urusan kerajaan, tampak berbeda saat ia menuntun kuda Apollo miliknya. Ia akan mengajak istrinya itu berkeliling area taman istana hingga ke perbatasan hutan pinus. Tidak ada pembahasan soal batu bara, tidak ada intrik politik Moreau. Hanya ada mereka berdua, sepasang suami istri yang tengah menikmati hari-hari yang indah dan romantis. Boleh lah mereka menikmati setitik ketenangan dan hiburan untuk sejenak. Alex tersenyum ketika menarik tali kekang kuda. Ingatan semalam berputar mirip gangsing. Meskipun Isabella dalam kondisi mabuk, tetapi malam itu terasa nyata. Wanita itu begitu liar menggodanya. Dia membuatnya melayang menuju nirwana. “Pangeran Alex,” panggil Isabella menatap suaminya yang sudah memerah wajahnya seperti tomat busuk. “Kau kenapa? Wajahmu merah? Kau alergi?”“Argh, tidak apa-apa. Ayo! Kita berkuda!” katanya terdengar ceria. Ingatan semalam membuatnya kurang fokus
Gaston membeku. Gelas anggur di tangannya bergetar, hingga cairan merah itu tumpah membasahi meja kayu yang lengket. Matanya terpaku pada pintu masuk rumah bordil itu.Tiga orang pria berseragam prajurit istana masuk dengan langkah arogan. Namun, alih-alih memasang wajah serius layaknya pengawal kerajaan yang sedang menjalankan tugas penangkapan, mereka justru tertawa terbahak-bahak sambil merangkul dua wanita penghibur di kiri dan kanan mereka.“Dengar, malam ini kita rayakan kemenangan!” seru salah satu prajurit itu dengan suara yang sudah serak karena alkohol. “Siapa peduli soal surat perintah penangkapan? Kita di sini untuk bersenang-senang sampai fajar!”Gaston mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lega. Ia hampir saja melompat keluar dari jendela belakang. Ia mengira para prajurit itu adalah prajurit yang akan menangkapnya, mengingat baru saja ia mendapatkan surat dari Helena. Ternyata, jauh panggang dari api, mereka memang datang ke sana untuk bersenang-senang seperti hal
Helena terdiam sepeninggal Alex dari paviliun. Tubuhnya merosot ke lantai. Air matanya sudah surut, tetapi amarahnya masih bergejolak dalam batinnya. “Isabella keparat!” gumamnya dengan menahan sesak di dada. Sungguh, demi apapun, ia merasa sangat menyesal karena telah memungut madunya sendiri.Mengingat saat Alex berbicara padanya tadi, rasanya dunianya runtuh. Pria itu lebih mempercayai Isabella dan membelanya, mengabaikan dirinya. “Kau sudah mengabaikan aku, Alex. Sehina itukah aku di matamu? Bahkan kau melihatku dengan sorot mata yang jijik? Hanya karena kesalahan itu lantas kau melupakanku begitu saja? Wanita yang sangat mencintaimu dan benar-benar peduli padamu?” suaranya melemah, tubuhnya terkulai di atas lantai. Ia berbaring dengan posisi meringkuk seperti seekor kucing gelandangan. Para pelayan tidak ada yang berani mendekatinya. Mereka sadar, jika kemarahan Helena lebih buruk dari apapun. Setiap marah maka ia akan melampiaskannya dengan menghancurkan barang apapun yang be
Helena menatap pantulan dirinya di cermin perunggu paviliun yang lembap. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini sedikit berantakan, meski tak bisa ditampik matanya berbinar penuh antusias. Anne baru saja berbisik di balik pintu bahwa Duke Ronald dan keluarga besar Moreau telah berdiri di halaman istana, menuntut pembebasannya. Tentu saja, ini adalah kabar bahagia yang paling ditunggu oleh Helena. “Mereka tidak akan membiarkan Pangeran Alex mengurungku lebih lama lagi,” bisik Helena, bibirnya melengkung membentuk senyum kemenangan yang kejam.Ia membayangkan wajah Isabella, betapa hancurnya wanita itu nanti saat melihat dukungannya tersingkir, saat melihat bahwa di istana ini, gelar dan darah lebih berkuasa daripada ketulusan. “Klan Moreau adalah fondasi kerajaan ini. Jika mereka menghentikan pasokan, istana akan lumpuh dalam hitungan hari. Alex tidak akan punya pilihan lain selain berlutut dan membuka pintu ini untukku.”Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit, jema
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella terman







