Helena membawa nampan berisi teh herbal seolah-olah ingin menyambut adik madunya dengan tangan terbuka.“Aku sangat cemas, Isabella,” suara Helena mendayu, matanya melirik ranjang yang tampak berantakan. Pintu kamar itu memang tidak tertutup sempurna. “Semalam Alex tiba-tiba pergi dari istana Rose. Kupikir dia akan pergi ke ruangannya karena sedang banyak pikiran urusan perang, tapi …” ia menjeda kalimatnya. Tatapannya menyisir wajah Isabella, lalu turun ke leher lalu ke bagian tulang selangkanya yang terekspos. Senyum samar terbit di bibirnya. Tidak ada tanda-tanda kepemilikan Alex di tubuh gadis itu. “Ternyata ia berakhir di sini,”“Pangeran Alex hanya ingin memastikan keamananku, Nyonya Helena,” jawab Isabella tenang.“Begitukah? Kau pasti sangat lelah, Isabella. Mengingat kau harus melakukan banyak cara untuk membuat Alex menginap di sini semalam,” sindir Helena tetapi dengan nada prihatin yang dibuat-buat. “Maksudmu memaksa Pangeran untuk bermalam di sini?” Ulang Isabella, menga
더 보기