ANMELDENDukung aku terus ya guys, biar tetap semangat post cerita ini setiap harinya. jangan lupa follow dan kasih vote untuk cerita ini. terimakasih :)
Arka membeku di depan pintu. Isak tangis yang terdengar samar dari balik pintu membuat senyum tipis di wajahnya lenyap seketika. Jemarinya yang menggenggam nampan kayu mengencang hingga ruas-ruas jarinya memutih.Itu suara Naura. Meski berusaha ditahan, ia tetap mengenali suara lirih itu. Jantung Arka berdegup sedikit lebih cepat. Dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya. Apa rasa mual itu kembali menyerang? Apa obat yang diresepkan Dokter Han belum sempat diminum? Atau... kondisinya justru memburuk setelah ia meninggalkannya beberapa jam yang lalu?Tanpa berpikir panjang, Arka segera memutar gagang pintu.Cklek.Daun pintu terbuka sedikit. Suara tangisan yang tadi terdengar jelas mendadak berhenti. Pandangan Arka langsung menemukan sosok Naura yang masih terduduk di atas ranjang. Wanita itu tampak buru-buru mengusap kedua pipinya menggunakan punggung tangan, lalu memalingkan wajah ke arah jendela seolah tidak ingin terlihat.Sayangnya semua sudah terlambat.
Sinar matahari sore menembus celah tirai tipis, memantulkan semburat keemasan ke lantai kamar. Keheningan menyelimuti ruangan hingga bulu mata Naura bergerak perlahan sebelum akhirnya kedua matanya terbuka.Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya masih terasa berat, meski tidak lagi separah siang tadi. Rasa mual di lambungnya pun mulai mereda, hanya menyisakan tubuh yang masih lemas dan tenggorokan yang sedikit pahit.Pelan-pelan ia bangkit, menyandarkan tubuh pada headboard ranjang. Pandangannya berkeliling menyapu kamar yang lengang. Arka tidak terlihat. Hanya segelas air hangat di atas nakas serta beberapa obat yang masih tersusun rapi dan belum tersentuh.Tatapan Naura kemudian beralih ke ponsel yang tergeletak di samping gelas. Begitu layar menyala, notifikasi langsung bermunculan tanpa henti. Belasan panggilan tak terjawab. Beberapa pesan suara. Puluhan chat yang sebagian besar berasal dari Vanessa. Namun, satu nama membuat jemarinya seketika membeku.Dion.Belum sempat Na
Sepeninggal Dokter Han, lorong lantai dua presidential villa kembali tenggelam dalam kesunyian. Arka masih berdiri di depan pintu kamar Naura. Resep obat yang baru saja diberikan dokter itu masih berada di tangannya. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram kertas itu sedikit lebih kuat hingga sudutnya mulai terlipat.Angin dari balkon yang terbuka bergerak lembut melewati lorong, membuat ujung jas hitam yang dikenakannya sejak sesi pemotretan pagi tadi berkibar pelan. Tetapi pria itu sama sekali tidak bergeming. Pandagannya kosong, seolah sedang memandangi pintu di hadapannya, padahal pikirannya telah melayang jauh ke tempat lain."Melihat gejala mual, pusing, sensitif terhadap bau menyengat, ditambah siklus menstruasi yang terlambat... ada kemungkinan Nona saat ini sedang hamil, Tuan."Suara Dokter Han kembali terngiang-ngiang di benaknya.Arka memejamkan mata sejenak. "Hamil?"Kata itu terdengar asing ketika keluar begitu pelan dari bibirnya sendiri. Ia menghembuskan napas kasar."Tidak
Di sudut area istirahat kru, Crystal yang telah berganti pakaian dengan penyamaran yang tak dikenali siapa pun, membaur sebagai salah satu staf pendukung dari Indonesia. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia melangkah mendekati kerumunan kru dan para asisten lokal yang sedang berbisik-bisik."Duh, Nona Naura kenapa ya tiba-tiba mual seperti itu? Pucat sekali wajahnya," cletuk Crystal, memancing percakapan dengan nada khawatir yang dibuat-buat."Iya ya, tadi saat berlari kelihatannya lemas sekali," sahut salah satu asisten wardrobe.Crystal merapatkan jarak, lalu menurunkan suaranya seolah hendak membagikan sebuah rahasia. "Jangan-jangan... Nona Naura sedang hamil lagi? Mual-mual di pagi menuju siang kan biasanya morning sickness."Mata para staf langsung melebar kaget. "Wah... masa sih? Tapi masuk akal juga ya!""Walah, pantas saja Tuan Arka sangat protektif sejak kemarin!" timpal salah seorang kru."Eh, bisa jadi sih..." wanita dengan name tag bertuliskan Rini itu mengangguk pelan.
"Perfect. Very beautiful!"Suara fotografer asal Korea itu terdengar penuh kepuasan sambil terus menekan tombol shutter kameranya.Klik. Klik. Klik.Di bawah langit Jeju yang cerah, hamparan tebing hijau berpadu dengan birunya samudra menciptakan latar yang nyaris tidak nyata. Angin laut berhembus lembut, memainkan ujung veil panjang yang menjuntai dari kepala Naura. Gaun putih rancangan Julian bergerak mengikuti arah angin memancarkan kesan mewah yang elegan.Di sisinya, Arka berdiri dalam balutan tuxedo hitam dengan bow tie senada. Pria itu bahkan tidak perlu banyak diarahkan. Posturnya yang tinggi dan kharisma dinginnya membuat setiap jepretan tampak layaknya sampul majalah internasional.Sang fotografer sampai berdecak kagum. "Seriously... kalian pasangan yang sangat fotogenik. Saya hampir tidak perlu mengarahkan apa pun."Beberapa anggota tim ikut mengangguk setuju."Chemistry mereka luar biasa ya.""Seperti benar-benar pasangan yang sedang jatuh cinta. Natural sekali...."Rangkai
Mentari pagi baru saja menyentuh garis cakrawala ketika kawasan private cliff resort yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik mulai dipenuhi kesibukan. Cahaya keemasan perlahan menyelimuti tebing-tebing hijau Pulau Jeju, sementara angin laut berembus lembut, menggerakkan hamparan ilalang yang tumbuh di sepanjang sisi jurang.Suara debur ombak yang menghantam bebatuan di bawah sana berpadu dengan hiruk-pikuk langkah para kru yang tengah mempersiapkan sesi pemotretan pertama. Puluhan orang bergerak cepat sesuai tanggung jawab masing-masing.Tim lighting sibuk mengatur posisi reflektor besar untuk menangkap cahaya alami matahari pagi. Operator drone melakukan pengecekan terakhir sebelum kamera udara diterbangkan mengelilingi area resort. Di sisi lain, para stylist mondar-mandir membawa koper pakaian, kotak aksesori, serta perlengkapan wardrobe eksklusif yang nilainya bahkan mampu menyamai sebuah rumah mewah.Di tengah kesibukan itu, pintu utama presidential villa perlahan terbuka. Naur
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







