ログインNaura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."
Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertanya ke mana kamu pergi." Ia berhenti. "Dengan siapa kamu bertemu."
Senyumnya perlahan muncul. "Tapi kamu tidak boleh menemui kekasih fotografermu itu secara terang-terangan."
Suasana ruangan mendadak lebih dingin.
"Jika ada foto kalian berdua bocor ke media, aku akan memastikan dia menghilang secara permanen.” lanjut Arka pelan.
Tangan Naura mengepal di bawah meja.
"Kamu tidak bisa mengurungku, Arka!" dengus Naura kesal.
"Aku tidak mengurungmu." potong Arka tenang. "Aku hanya menyelamatkanmu dari kebodohanmu sendiri."
Tatapan mereka terkunci.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang tajam. Naura menarik napas pelan dan mengangguk.
Arka melanjutkan membaca.
"Poin keempat. Kamu akan tinggal di mansionku selama kontrak ini berlangsung."
Ekspresi Naura tidak berubah.
"Kita tidur di kamar terpisah," lanjut Arka santai.
Ia menatap Naura lagi. "Kecuali ada situasi yang mengharuskan kita terlihat tidur bersama."
Naura menyibakkan sebagian rambutnya ke belakang pundaknya. "Dan tidak ada sentuhan fisik.”
Arka berhenti membaca. Tatapannya tertuju langsung pada Naura.
"Kecuali untuk akting di depan publik. Di balik pintu rumah, kamu tidak boleh menyentuhku seujung jari pun." lanjut Naura tegas.
Arka perlahan mencondongkan tubuh ke depan. Jarak mereka menyusut hanya beberapa inci.
"Yakin?" tanyanya pelan. Seringai tipis muncul di wajahnya. "Banyak wanita yang histeris hanya karena aku melirik mereka."
Tatapan Naura tidak bergeser sedikit pun.
"Aku bukan 'banyak wanita', Arka. Aku adalah orang yang akan menaruh pisau di lehermu jika kamu berani melanggar.” suaranya dingin.
Arka terkekeh pelan. "Agresif sekali ya." Ia menulis sesuatu di kontrak itu.
"Poin kelima. Sebagai istri Mahardika, kamu harus menyiapkan sarapan dan makan malam untukku setiap hari jika aku ada di rumah."
Naura menatapnya tajam.
"Aku bukan pembantumu, sialan!" gerutu Naura kesal.
Arka hanya mengangkat bahu. "Kamu istriku dalam kontrak ini."
Ia mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Black card unlimited
Naura melirik kartu itu sinis. Ia gengsi mengakui bahwa jumlah uang di dalamnya mungkin lebih besar dari pendapatannya selama setahun menjadi model internasional.
"Nafkah bulananmu. Anggap saja itu kompensasi untuk memasak." ucap Arka ringan.
Naura menatap kartu itu dengan gengsi. Namun ia tidak mendorongnya kembali. Sebaliknya, ia berkata pelan, "Aku punya satu poin tambahan."
Arka mengangkat alisnya.
"Kamu tidak boleh menyelidiki masa laluku. Atau orang-orang yang mengenalku sebelum aku menjadi model." peringat Naura tegas.
Mata Arka menyipit curiga. "Another secret, hm." Ia mengetuk meja dengan jarinya.
Kamu membuatku semakin penasaran, Naura, batin Arka.
Ia mengangguk setuju. "Baiklah, aku tidak akan menyelidiki masa lalumu… selama masa lalu itu tidak membawa masalah ke depan pintu rumahku."
Perdebatan mereka berlanjut hampir satu jam—tentang jam malam, aturan rumah, bahkan bagaimana mereka harus bersikap di depan keluarga dan media. Setiap poin terasa seperti duel kecil yang penuh percikan, tidak ada yang mau mengalah.
Akhirnya, ketika semua syarat telah disepakati, Arka menutup map itu. Ia mengeluarkan pena perak dan menyodorkannya kepada Naura.
"Sign this, Naura." Senyumnya tipis.
Naura mengambil pena itu. Tangannya sama sekali tidak gemetar. Ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.
Selamat datang di neraka yang indah ini, Naura Callista Wijaya. Arka membatin dengan hati yang menggebu.
"Dua tahun, Arka," bisik Naura.
Ia meletakkan pena kembali di meja. "Setelah itu aku akan memastikan bahwa aku adalah orang terakhir yang ingin kamu lihat seumur hidupmu." Naura menatapnya tajam.
Arka mengambil kembali kontrak itu. Ia meniup tinta tanda tangan hingga kering.
"Dua tahun adalah waktu yang lama, Naura. Banyak hal bisa berubah." katanya pelan.
Ia berdiri dari kursinya. "Kontrak bisa dilanggar."
Arka berjalan mengitari meja. "Perasaan bisa dikhianati." Ia berhenti tepat di belakang Naura, lalu membungkuk sedikit.
Aroma maskulinnya kembali menyerang indera penciuman Naura. Napasnya hangat di dekat telinganya.
"Dan monster… Jarang melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya dengan mudah." suaranya hampir seperti bisikan.
Arka mundur selangkah.
"Malam ini tidurlah yang nyenyak di rumah ayahmu. Karena mulai besok, hidupmu bukan lagi milikmu." tatapannya menggelap.
Naura berdiri. Ia berbalik menghadap Arka dengan kepala tegak.
"Jangan terlalu percaya diri, Arka Rajendra Mahardika." rahangnya mengeras.
"Kamu mungkin mengira telah membeliku."
Ia melangkah mendekat dan menarik kerah kemeja Arka dengan sensual. Lalu berbisik tepat di telinga Arka.
"Tapi ternyata kamu baru saja membawa musuh paling berbahaya ke dalam rumahmu sendiri."
Naura tersenyum puas melihat lelaki itu menggertakkan giginya. Dengan cepat Naura melepaskan genggaman tangannya di kerah kemeja Arka. Lalu mengedipkan sebelah matanya mengejek. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Langkahnya mantap. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Ruangan itu kembali sunyi.
Arka berdiri sendirian di samping meja kerjanya.
Ia menyesap sisa sampanye di gelasnya, menatap pintu yang baru saja ditinggalkan Naura. Rahangnya mengeras. Matanya berkilat dengan sesuatu yang jauh lebih gelap.
Obsesi.
"Kita lihat saja, Naura," ucapnya pelan.
"Apakah kamu akan membunuhku…" matanya gelap, hampir gila dengan seringai ganas yang melengkung di bibirnya.
"Atau... kamu akan memohon padaku untuk tidak pernah melepaskanmu."
Tawa Arka terdengar rendah di ruangan yang gelap itu. Jenis tawa yang tajam dan tanpa humor.
Di kabin utama, Naura masih menyandarkan kepala ke kaca jendela, mencoba menetralkan pipinya yang merona akibat godaan Arka. Suara gesekan halus pintu kabin membuat Naura kembali menoleh.Crystal berjalan mendekat dengan keanggunan yang dibuat-buat. "Permisi, Tuan Arka. Ini teh chamomile hangat dengan madu pesanan Anda. Saya sengaja membuatnya tidak terlalu panas agar bisa langsung diminum.” katanya lembut. “Dan untuk Nona Naura, ini air mineral steril yang baru."Crystal meletakkan cangkir porselen berisi cairan perangsang itu tepat di sebelah laptop Arka, lalu menyajikan botol air mineral baru di depan Naura.Arka hanya mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Letakkan saja di situ.""Baik, Tuan. Jika Anda membutuhkan pijatan ringan untuk meredakan pegal di bahu—""Tidak perlu," potong Arka dingin."Baik, Tuan," ujar Crystal halus. Matanya melirik cangkir itu dengan penuh harap, menunggu jemari Arka menyentuhnya.Insting Naura seketika terusik. Ia merasa a
Di dalam kabin first class yang didominasi interior kayu mahoni dan kulit krem, suasana begitu tenang. Cahaya sore keemasan menembus jendela kaca oval, membiaskan bayangan lembut di pangkuan Naura.Naura bersandar malas di kursinya yang empuk. Di sampingnya, Arka duduk tegap dengan laptop terbuka di atas meja lipat. Jemari pria itu menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan beberapa dokumen penting yang tertunda karena perubahan rute mendadak ke Seoul."Arka, masih lama ya sampai Seoul?" tanya Naura, memecah keheningan sembari memilin ujung rambutnya.Arka menoleh tanpa menghentikan ketukan jarinya. "Sekitar empat puluh lima menit lagi. Kamu merasa pusing?""Tidak, cuma haus sih," gumam Naura. Tenggorokannya memang terasa sedikit kering setelah menyantap daging panggang di Jeju tadi. "Pokoknya nanti begitu mendarat di Gimpo, kita langsung drop koper di penthouse, terus ke Namsan Tower. Setelah itu kita harus jalan-jalan menyusuri Myeongdong. Aku mau beli hottok gula merah yang mele
Pelayan mulai membalik potongan daging yang permukaannya telah berubah cokelat keemasan, kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian dengan gunting khusus. Naura sudah tidak sabar. Begitu pelayan membungkuk dan pamit keluar ruangan, ia segera menyambar sumpitnya. Selembar daun selada diambil, kemudian diisi sedikit nasi hangat, sepotong daging yang renyah di luar tetapi tetap juicy di dalam, lalu dicelupkan ke dalam saus Mel jeot yang hangat. Sebagai pelengkap, Naura menambahkan sepotong kimchi sawi di atasnya.Dengan telaten, ia menggulung daun selada itu hingga membentuk bulatan rapi. Namun, bukannya memasukkannya ke mulut sendiri, Naura justru mengarahkannya tepat ke depan bibir Arka."Buka mulutmu, Arka! Aaa..." suruh Naura dengan senyum manis.Arka memicingkan mata curiga, menahan tangan Naura. "Ini tidak ada cabe atau bawang putih mentah di dalamnya, kan?""Tidak ada, Arka. Ya ampun, dasar penakut! Cepat makan sebelum tanganku pegal!" cibir Naura menghentak-hentakkan sumpitnya.
Dua hari berlalu dengan cepat. Kondisi Naura membaik secara signifikan. Rona sehat kembali menghiasi kedua pipinya, sementara tenaga wanita itu pun telah pulih sepenuhnya. Sesuai jadwal awal, jet pribadi Arka seharusnya lepas landas menuju Jakarta tepat pukul dua siang. Namun, rencana itu mendadak berantakan begitu Naura menyampaikan keinginannya di dalam suite resort tempat mereka tengah mengemasi barang."Tidak mau! Pokoknya penerbangannya dimundurkan saja jadi jam empat sore!" seru Naura mantap sembari bersedekap di depan koper besarnya yang masih terbuka.Arka yang sedang memasang jam tangan mewahnya menoleh kaku. "Naura, kita berangkat jam dua. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu cukup lama dan aku tidak mau kamu kecapekan di jalan.""Aku sudah sembuh, Arka!" protes Naura kesal. "Masa kita sudah jauh-jauh ke Jeju tapi aku tidak membawa oleh-oleh sama sekali sih? Aku belum membelikan apa-apa untuk sahabatku, untuk keluargaku, bahkan untuk Mami!""Biar Leon nanti yang menyuruh oran
Naura menelan ludahnya susah payah. “B-bukan begitu maksudnya, Arka. Aku cuma—"“Cuma apa?” potong Arka. Nada suaranya masih dingin. “Kamu baru saja keluar dari kondisi kritis, masih terpasang infus, dan dokter sudah memperingatkanmu untuk tidak makan makanan seperti ini. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah diam-diam menyuruh Dimas membelikannya untukmu. Are you insane?""Aku bosan makan bubur terus! Aku hanya ingin makan sesuatu yang aku suka. Kenapa kamu memperlakukanku seperti tahanan?" rengek Naura. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara bibirnya mengerucut seperti menahan tangis.Tatapan Arka masih tertancap padanya. Tidak ada sedikit pun kehangatan yang tadi pagi memenuhi sorot mata pria itu ketika ia menggenggam tangan Naura dan mengatakan betapa berharganya melihat mata wanita itu kembali terbuka. Kini, yang tersisa hanya rahang yang mengeras, urat leher yang menegang, dan sepasang mata hazel yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemarahan.“Kamu sela
Dimas berjalan menyusuri koridor resort dengan langkah cepat, tetapi wajahnya dibuat setenang mungkin. Dua paper bag berukuran cukup besar menggantung di kedua tangannya, sementara aroma khas makanan Korea yang masih hangat merembes keluar dari sela-sela kemasan.Ia membeli teokbokki, bibimbap, dan kimchi. Bahkan ia menambahkan gimbap dan mandu karena uang yang diberikan Naura masih tersisa cukup banyak. Senyum puas mengembang di wajahnya."Kalau Nona Naura tahu aku beli makanan sebanyak ini, dia pasti senang," gumam Dimas sembari melirik isi kantongnya.Namun, langkahnya mendadak melambat ketika sebuah sosok muncul dari ujung koridor. Pria itu adalah Kevin. Dimas langsung menegakkan tubuhnya. Senyumnya lenyap."Aish, shiball..."Kevin berjalan mendekat dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tatapannya jatuh pada dua paper bag di tangan Dimas, lalu beralih ke wajah pria itu."Kamu dari mana?" tanyanya datar.Dimas tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Ah… itu tadi aku habis dari r
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is







