Mag-log inHujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.
Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.
Naura Callista Wijaya berdiri di atas podium melingkar.
Hari ini adalah kampanye global untuk House of Valerius, sebuah brand perhiasan mewah asal Italia. Naura mengenakan gaun strapless berbahan sutra organza berwarna suede black yang dirancang khusus oleh seorang desainer ternama. Gaun itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya yang proporsional.
Namun daya tarik utamanya bukanlah gaun itu.
Melainkan apa yang melingkar di leher dan lengannya.
Sebuah koleksi ‘Serpenti Noir’ kalung emas putih berbentuk ular yang dipenuhi berlian hitam dengan dua zamrud kecil sebagai mata.
“Naura, dagu sedikit lebih tinggi. Berikan aku tatapan I can buy your soul!” Fotografer berambut gondrong berteriak dari balik kamera, tangannya tak berhenti menekan shutter.
Naura menarik napas pelan.
Kulitnya yang seputih porselen tampak bersinar di bawah pencahayaan studio, kontras dengan gaun gelap dan batu mulia yang ia kenakan. Wajahnya yang simetris dengan tulang pipi tinggi, hidung mancung, serta bibir penuh yang dipoles lipstik matte berwarna plum membuatnya tampak seperti dewi Yunani yang turun ke bumi dalam wujud modern.
Ia memiringkan kepala sedikit, memberi ekspresi dingin namun memikat.
Matanya yang tajam seolah menembus lensa kamera. Tidak ada yang tahu bahwa di balik tatapan sempurna itu, ia sedang menghitung sisa waktu kebebasannya.
“Luar biasa! Sekarang pose duduk. Tunjukkan kakimu!” ujar fotografer dengan penuh semangat.
Naura duduk di kursi velvet merah. Ia menyingkap sedikit gaunnya, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.
Di balik kain mahal itu, jauh di bagian paha atas yang tak terjangkau mata kamera, sebuah belati keramik masih melekat. Setiap kali ia bergerak, gesekan dingin senjata itu di kulitnya menjadi pengingat bahwa dia bukan sekadar model.
Dia adalah seorang survivor tangguh.
Pemotretan berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan. Naura harus berulang kali berganti pose dengan kalung berlian bernilai miliaran rupiah melingkar di lehernya.
Sebuah beban yang terasa seperti rantai yang mencekik.
****
Di luar studio, di bawah guyuran hujan, sesosok pria berdiri mematung.
Jaketnya sudah basah kuyup. Rambutnya menempel di dahinya, sementara air hujan terus menetes dari ujung dagunya. Ia bahkan tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk tulangnya.
Matanya hanya tertuju pada satu hal.
Pintu keluar studio.
Di sisi lain, Vanessa baru saja keluar untuk mengambil kopi. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang sangat ia kenal berdiri di sana.
“Dion! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bisa sakit!” Vanessa buru-buru membuka payung dan mendekat.
Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan gelisah, khawatir ada paparazzi yang melihat.
“Aku tidak peduli, Van,” suara Dion parau, nyaris tenggelam oleh suara hujan.
“Aku tahu dia ada di dalam. Aku hanya ingin bicara. Lima menit saja. Tolong bantu aku.” tubuhnya bergetar, entah karena kedinginan atau karena emosi yang ia tahan terlalu lama.
“Naura sedang dalam pemotretan penting, Dion. Ada perwakilan brand internasional di sana. Kamu bisa menghancurkan kariernya kalau membuat keributan sekarang.” bisik Vanessa tegas.
Ia menatap Dion dengan serius.
“Pulanglah,” katanya pelan.
Namun Dion tidak bergerak. Ia tetap berdiri di sana seperti patung kesedihan.
Vanessa menghela napas panjang lalu melangkah lebih dekat.
“Dion, dengarkan aku. Naura sangat tertekan sekarang. Tolong jangan tambah bebannya lagi. Dia butuh waktu untuk sendiri.”
Ia menatap pria itu dengan tatapan memohon.
“Pulang saja, Dion.”
Namun Dion hanya menggeleng keras. Ia tetap kekeh berdiri di sana.
Menunggu.
Hingga waktu terus berjalan dan jarum jam perlahan menunjukkan pukul sembilan malam, saat lampu-lampu studio mulai dipadamkan satu per satu.
****
Naura melangkah menuju ruang ganti pribadinya dengan tubuh yang terasa remuk. Ia hanya ingin melepas perhiasan berat ini dan pulang. Namun ketika ia baru saja menutup pintu ruang ganti, sebuah tangan menahan pintu itu dari luar.
Naura tersentak.
Sebelum ia sempat berteriak, seseorang sudah menerobos masuk dan mengunci pintu dari dalam.
Napasnya memburu.
“Dion?” Naura terpaku.
“Bagaimana kamu bisa—” kalimatnya terhenti.
Penampilan Dion yang berantakan, basah kuyup, dan matanya yang merah membuat dada Naura terasa nyeri.
“Kamu basah kuyup… kamu bisa sakit, Dion,” ucapnya pelan.
Nada suaranya yang semula penuh kemarahan mendadak berubah lembut.
“Kenapa, Ra?” suara Dion naik satu oktaf. “Katakan padaku kenapa kamu memilihnya!” Dion melangkah mendekat, tatapannya berubah gelap.
“Berita itu… pengumuman pernikahan itu… kamu menjual dirimu pada Mahardika demi perusahaan ayahmu, begitu?” teriak Dion penuh rasa sakit.
Naura membuang muka sambil mencoba melepas anting mahal di telinganya dengan tangan gemetar.
“Kamu tidak akan mengerti, Dion. Ini satu-satunya cara.” bisiknya.
Air mata mulai menggenang di mata Naura, merusak riasan mahal yang masih menempel di wajahnya.
“Aku tidak perlu mengerti tentang bisnis keluargamu yang busuk itu, Ra!” Dion mencengkeram bahu Naura dan memaksanya menatapnya.
“Aku hanya ingin satu hal darimu.” suaranya rendah. “Satu janji.”
Naura menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Janji apa?” bisiknya tercekat.
“Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan pernah memberikan hatimu padanya.” Suara Dion bergetar.
“Berjanjilah bahwa kamu hanya akan mencintaiku, Ra.”
Dada Naura terasa sesak. Ia melihat keputusasaan di mata Dion. Pria yang selama ini menjadi rumahnya. Dengan isakan yang pecah, Naura mengangguk.
“Aku janji, Dion,” bisiknya. “Aku hanya mencintaimu.”
“Hanya kamu.” Ia mengulanginya, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Ruangan itu mendadak menjadi sunyi. Yang terdengar hanya detak jantung mereka yang memburu. Dion mendorong Naura hingga tubuhnya menempel pada meja rias. Tubuh pria itu mengurungnya. Satu tangannya mengangkat dagu Naura, memaksanya menatap langsung ke matanya.
Tubuh mereka begitu dekat hingga Dion bisa merasakan napas hangat Naura menerpa kulitnya. Tatapannya gelap. Intens. Penuh emosi yang selama ini ia tahan.
“Say it again, Ra.” Suara seraknya membuat tubuh Naura mematung.
Bibir mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Hampir cukup dekat untuk disentuh.
“H-hanya kamu.” ucap Naura terbata.
Seolah kehilangan kendali, Dion menarik tengkuk Naura dan…
Pintu kamar utama di lantai teratas Hotel Grand Mahardika tertutup rapat, menyisakan kesunyian setelah pesta pernikahan akhirnya berakhir.Naura langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar. Gaun malam yang dikenakannya sudah ia lepaskan dan diganti dengan lingerie hitam.“Aduh... pegal banget, rasanya mau pingsan,” keluh Naura sambil memejamkan mata dan memijat pergelangan kakinya sendiri.Arka yang baru saja melepaskan kemejanya berjalan mendekat. Pria itu berlutut di tepi kasur, kemudian menarik kedua kaki Naura dengan lembut hingga berada di atas pangkuannya.“Sini, aku pijitin,” ucap Arka. Jemarinya mulai memijat betis dan telapak kaki Naura. Sentuhan hangat tersebut membuat sang istri menghela napas lega. Namun, semakin lama, gerakan Arka justru mulai naik mendekati paha wanita itu.Naura cepat-cepat menepis tangan Arka dan memelototinya. “Arka! Yang di pijat itu kaki aku. Kenapa tangan kamu makin lama makin naik ke atas, hah?”Arka tersenyum tanpa dosa. “Sengaja. L
Malam yang menyelimuti area luar Grand Hotel Mahardika semakin pekat. Setelah serangkaian acara pernikahan yang melelahkan sejak pagi hingga sore hari, suasana pun berganti total. Acara after party yang dikhususkan bagi para sahabat serta rekan-rekan Arka dan Naura dipindahkan ke Executive Lounge & Bar VIP yang terletak di lantai atas hotel.Suasana di dalam lounge terasa sangat hangat. Pencahayaan remang menciptakan kesan cozy dan santai. Musik jazz mengalun lembut dari sudut ruangan, berpadu dengan denting gelas kristal dan dentuman musik dari panggung kecil di tengah lounge. Pakaian para tamu pun tidak lagi seformal tadi siang.Malam itu, Naura tampil sangat anggun dalam balutan gaun malam silk satin berwarna champagne. Potongan gaun tersebut membingkai tubuhnya dengan indah, sedikit terbuka di bagian dada dan memperlihatkan punggung mulusnya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah cantiknya.Di sisinya, Arka berdiri begitu tampan dalam ja
Pagi itu, Hotel Grand Mahardika berubah menjadi salah satu tempat paling ramai di Jakarta. Kendaraan-kendaraan mewah berdatangan melalui akses khusus yang dijaga ketat. Puluhan petugas keamanan berjaga di setiap pintu masuk, sementara para staf hotel bergerak tanpa henti memastikan seluruh persiapan pernikahan berjalan sempurna.Tidak ada satu pun sudut hotel yang dibiarkan kosong. Ribuan tangkai mawar putih dan hydrangea pastel menghiasi sepanjang lobi utama, berpadu dengan kilau chandelier kristal yang menyebarkan cahaya hangat. Sementara karpet merah membentang hingga menuju ballroom utama. Beberapa layar besar menampilkan inisial kedua mempelai yang dirancang dengan elegan.A & N.Arka Rajendra Mahardika dan Naura Callista Wijaya.Pernikahan mereka telah menjadi pembicaraan selama beberapa hari terakhir. Bukan hanya karena dua keluarga besar yang berdiri di belakang pasangan tersebut, tetapi juga karena daftar tamunya. Para pengusaha papan atas, pejabat negara, tokoh publik, model
Naura menyapu air matanya, mengamati gerakan Dion dengan dahi berkerut. "Itu... itu apa, Dion?"Dion menunjuk layar monitor yang menampilkan dokumen tebal berisi ratusan baris data, grafik, dan manifes logistik. "Ini file rahasia Mahardika Group di jalur Selatan. Ini bisa jadi senjata utama kita untuk mengancam Arka agar membatalkan pernikahan kalian!"Mata Naura melotot lebar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lega, melainkan oleh rasa takut yang seketika memenuhi dadanya. Perasaannya mendadak tidak enak."Dion, jangan gila!" bisik Naura panik, menahan tangan Dion di atas keyboard. "Dapat dari mana kamu file ini?""Pengirim anonim lewat email terenkripsi tadi pagi—""Jangan aneh-aneh, Dion!" potong Naura cepat dengan raut penuh kecemasan. "Selama aku bersama Arka, aku tahu betul betapa mengerikannya dunia bisnis mereka. Musuh Arka itu banyak sekali. Ini bisa jadi jebakan!"Naura mencengkeram lengan Dion erat-erat. "Bagaimana kalau ada orang yang sengaja memanfaatkan kamu? Kam
Munich, 2010Udara dingin kota Munich menusuk hingga ke tulang. Di sudut sebuah halte bus tua beratap kayu yang catnya mulai mengelupas, Naura berjalan setengah berlari. Jaket tebal baby pink berpola bunga-bunga kecil yang dikenakannya berkibar diterpa angin. Napasnya mengembun menjadi kabut tipis."Huh... akhirnya bebas juga!" seru Naura kegirangan sembari menepuk-nepuk saku jaketnya. "Lagian, siapa suruh mengurungku terus di rumah Grandma? Aku mau jalan-jalan, bukan mau jadi tahanan rumah, huh!"Naura tersenyum puas. Di dalam sakunya ada beberapa lembar uang Euro hasil nekat merogoh dompet Mamanya saat Jesslyn sedang lengah di meja rias. Namun, langkah Naura mendadak terhenti ketika melewati dinding samping halte. Suara bentakan keras dalam bahasa Jerman terdengar bersahut-sahutan."Schau dir diesen Abschaum an! Du gehörst nicht hierher!" maki seorang remaja laki-laki lokal bertubuh jangkung sembari menoyor kepala seseorang.Dua remaja lainnya tertawa terbahak-bahak. Di hadapan mere
Di salah satu sudut apartemen pribadinya, ada sebuah ruangan khusus kedap cahaya bermandikan pendar lampu neon berwarna merah tua. Redroom. Ruang cuci cetak foto manual itu terasa sunyi, hanya menyisakan bunyi tetesan air dari wastafel pembilasan. Udara di dalam sana pekat oleh aroma menyengat cairan kimia developer dan fixer.Dion berdiri diam di tengah ruangan. Kedua tangannya bertumpu pada tepian meja, sementara kepalanya tertunduk menatap deretan lembar foto yang tergantung rapi pada seutas tali jemuran.Semua foto itu hanya menampilkan satu objek: Naura.Ada foto Naura yang sedang tertawa lepas dengan rambut acak-acakan di kantin kampus, foto Naura yang sedang fokus mencoret-coret buku sketsa fashion design-nya, hingga selembar foto berukuran besar yang tergantung tepat di tengah.Foto prewedding mereka yang sempat mereka abadikan dulu. Foto yang merekam binar kebahagiaan murni di mata Naura saat jemari lentiknya bertaut dengan jemari Dion.Dion mengulurkan tangan, menyentuh permu
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da







