Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG MONSTER / BAB 6 Janji Cinta yang Terlarang

Share

BAB 6 Janji Cinta yang Terlarang

Author: Mutia Azwar
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-17 02:33:21

Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.

Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.

Naura Callista Wijaya berdiri di atas podium melingkar.

Hari ini adalah kampanye global untuk House of Valerius, sebuah brand perhiasan mewah asal Italia. Naura mengenakan gaun strapless berbahan sutra organza berwarna suede black yang dirancang khusus oleh seorang desainer ternama. Gaun itu melekat sempurna pada lekuk tubuhnya yang proporsional.

Namun daya tarik utamanya bukanlah gaun itu.

Melainkan apa yang melingkar di leher dan lengannya.

Sebuah koleksi ‘Serpenti Noir’ kalung emas putih berbentuk ular yang dipenuhi berlian hitam dengan dua zamrud kecil sebagai mata.

“Naura, dagu sedikit lebih tinggi. Berikan aku tatapan I can buy your soul!” Fotografer berambut gondrong berteriak dari balik kamera, tangannya tak berhenti menekan shutter.

Naura menarik napas pelan.

Kulitnya yang seputih porselen tampak bersinar di bawah pencahayaan studio, kontras dengan gaun gelap dan batu mulia yang ia kenakan. Wajahnya yang simetris dengan tulang pipi tinggi, hidung mancung, serta bibir penuh yang dipoles lipstik matte berwarna plum membuatnya tampak seperti dewi Yunani yang turun ke bumi dalam wujud modern.

Ia memiringkan kepala sedikit, memberi ekspresi dingin namun memikat.

Matanya yang tajam seolah menembus lensa kamera. Tidak ada yang tahu bahwa di balik tatapan sempurna itu, ia sedang menghitung sisa waktu kebebasannya.

“Luar biasa! Sekarang pose duduk. Tunjukkan kakimu!” ujar fotografer dengan penuh semangat.

Naura duduk di kursi velvet merah. Ia menyingkap sedikit gaunnya, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.

Di balik kain mahal itu, jauh di bagian paha atas yang tak terjangkau mata kamera, sebuah belati keramik masih melekat. Setiap kali ia bergerak, gesekan dingin senjata itu di kulitnya menjadi pengingat bahwa dia bukan sekadar model.

Dia adalah seorang survivor tangguh.

Pemotretan berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan. Naura harus berulang kali berganti pose dengan kalung berlian bernilai miliaran rupiah melingkar di lehernya.

Sebuah beban yang terasa seperti rantai yang mencekik.

****

Di luar studio, di bawah guyuran hujan, sesosok pria berdiri mematung.

Jaketnya sudah basah kuyup. Rambutnya menempel di dahinya, sementara air hujan terus menetes dari ujung dagunya. Ia bahkan tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk tulangnya.

Matanya hanya tertuju pada satu hal.

Pintu keluar studio.

Di sisi lain, Vanessa baru saja keluar untuk mengambil kopi. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang sangat ia kenal berdiri di sana.

“Dion! Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bisa sakit!” Vanessa buru-buru membuka payung dan mendekat.

Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan gelisah, khawatir ada paparazzi yang melihat.

“Aku tidak peduli, Van,” suara Dion parau, nyaris tenggelam oleh suara hujan.

“Aku tahu dia ada di dalam. Aku hanya ingin bicara. Lima menit saja. Tolong bantu aku.” tubuhnya bergetar, entah karena kedinginan atau karena emosi yang ia tahan terlalu lama.

“Naura sedang dalam pemotretan penting, Dion. Ada perwakilan brand internasional di sana. Kamu bisa menghancurkan kariernya kalau membuat keributan sekarang.” bisik Vanessa tegas.

Ia menatap Dion dengan serius.

“Pulanglah,” katanya pelan.

Namun Dion tidak bergerak. Ia tetap berdiri di sana seperti patung kesedihan.

Vanessa menghela napas panjang lalu melangkah lebih dekat.

“Dion, dengarkan aku. Naura sangat tertekan sekarang. Tolong jangan tambah bebannya lagi. Dia butuh waktu untuk sendiri.”

Ia menatap pria itu dengan tatapan memohon.

“Pulang saja, Dion.”

Namun Dion hanya menggeleng keras. Ia tetap kekeh berdiri di sana.

Menunggu.

Hingga waktu terus berjalan dan jarum jam perlahan menunjukkan pukul sembilan malam, saat lampu-lampu studio mulai dipadamkan satu per satu.

****

Naura melangkah menuju ruang ganti pribadinya dengan tubuh yang terasa remuk. Ia hanya ingin melepas perhiasan berat ini dan pulang. Namun ketika ia baru saja menutup pintu ruang ganti, sebuah tangan menahan pintu itu dari luar.

Naura tersentak.

Sebelum ia sempat berteriak, seseorang sudah menerobos masuk dan mengunci pintu dari dalam.

Napasnya memburu.

“Dion?” Naura terpaku.

 “Bagaimana kamu bisa—” kalimatnya terhenti.

Penampilan Dion yang berantakan, basah kuyup, dan matanya yang merah membuat dada Naura terasa nyeri.

“Kamu basah kuyup… kamu bisa sakit, Dion,” ucapnya pelan.

Nada suaranya yang semula penuh kemarahan mendadak berubah lembut.

“Kenapa, Ra?” suara Dion naik satu oktaf. “Katakan padaku kenapa kamu memilihnya!” Dion melangkah mendekat, tatapannya berubah gelap.

“Berita itu… pengumuman pernikahan itu… kamu menjual dirimu pada Mahardika demi perusahaan ayahmu, begitu?” teriak Dion penuh rasa sakit.

Naura membuang muka sambil mencoba melepas anting mahal di telinganya dengan tangan gemetar.

“Kamu tidak akan mengerti, Dion. Ini satu-satunya cara.” bisiknya.

Air mata mulai menggenang di mata Naura, merusak riasan mahal yang masih menempel di wajahnya.

“Aku tidak perlu mengerti tentang bisnis keluargamu yang busuk itu, Ra!” Dion mencengkeram bahu Naura dan memaksanya menatapnya.

“Aku hanya ingin satu hal darimu.” suaranya rendah.  “Satu janji.”

Naura menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Janji apa?” bisiknya tercekat.

“Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan pernah memberikan hatimu padanya.” Suara Dion bergetar.

“Berjanjilah bahwa kamu hanya akan mencintaiku, Ra.”

Dada Naura terasa sesak. Ia melihat keputusasaan di mata Dion. Pria yang selama ini menjadi rumahnya. Dengan isakan yang pecah, Naura mengangguk.

“Aku janji, Dion,” bisiknya. “Aku hanya mencintaimu.”

“Hanya kamu.” Ia mengulanginya, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Ruangan itu mendadak menjadi sunyi. Yang terdengar hanya detak jantung mereka yang memburu. Dion mendorong Naura hingga tubuhnya menempel pada meja rias. Tubuh pria itu mengurungnya. Satu tangannya mengangkat dagu Naura, memaksanya menatap langsung ke matanya.

Tubuh mereka begitu dekat hingga Dion bisa merasakan napas hangat Naura menerpa kulitnya. Tatapannya gelap. Intens. Penuh emosi yang selama ini ia tahan.

“Say it again, Ra.” Suara seraknya membuat tubuh Naura mematung.

Bibir mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Hampir cukup dekat untuk disentuh.

“H-hanya kamu.” ucap Naura terbata.

Seolah kehilangan kendali, Dion menarik tengkuk Naura dan…

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
brynola. gr
anjirr malah bersambung dibagian cipokan......🫵 nyebelin bgt asem......
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 114 Jerat Sang Sekretaris

    Leon tersenyum miring. Ia mengecup pipi Crystal lantas berbisik gemas, "Aku tidak akan membiarkan kamu klimaks sendirian tanpa aku masuki, Sayang."Sensasi dingin dari pendingin udara jet pribadi yang menerpa kulit telanjangnya beradu tajam dengan kehangatan membakar dari telapak tangan Leon. Crystal merinding hebat. Setiap inci saraf di tubuhnya seperti berteriak menuntut pelepasan dari siksaan racun pemicu gairah yang mengamuk di dalam darahnya.Leon mengangkat tubuh ramping Crystal dengan satu gerakan mantap, memposisikan wanita itu tepat di atas pangkuannya. Alis tebal sang sekretaris berkerut dalam, menahan gejolak liar yang nyaris meruntuhkan seluruh kontrol rasionalnya. Saat bagian inti mereka saling bersentuhan tanpa pembatas, erangan pelan terlepas serentak dari tenggorokan keduanya.Namun, bukannya langsung menerobos masuk, Leon justru menahan diri. Ada sisa ragu dan kepanikan yang terpancar samar dari iris mata Crystal yang sayu. Leon menyunggingkan senyum miring yang sarat

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 113 Mouse in The Trap

    Pria dingin itu menegakkan tubuh Crystal. Tangannya masih menahan pinggang wanita itu agar tidak jatuh. Wajah sekretaris kepercayaan Arka itu tetap datar seperti manekin."Kamu tidak apa-apa?" tanya Leon dengan bariton yang dingin."S-saya cuma sedikit pusing, Tuan," bisik Crystal dengan suara serak.Jarak mereka cukup dekat. Leon mengangkat sebelah alisnya, mengamati wajah Crystal yang kemerahan, peluh yang membanjiri pelipis dan leher wanita itu, serta ritme dadanya yang naik turun begitu cepat. Insting Leon menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita ini.BUKKK!Tiba-tiba, pesawat dihantam turbulensi. Lampu indikator menyala merah. Cengkeraman Leon di pinggang Crystal dipererat untuk menyeimbangkan posisi mereka. Namun, dorongan turbulensi kedua yang lebih kuat melempar tubuh mereka berdua ke dinding lorong yang sempit.BRUKK!Dada bidang Leon menekan tubuh ramping Crystal ke dinding. Sentuhan dari tangan Leon di pinggangnya memicu ledakan gairah yang tak sanggup lagi ia b

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 112 Salah Sasaran

    Di kabin utama, Naura masih menyandarkan kepala ke kaca jendela, mencoba menetralkan pipinya yang merona akibat godaan Arka. Suara gesekan halus pintu kabin membuat Naura kembali menoleh.Crystal berjalan mendekat dengan keanggunan yang dibuat-buat. "Permisi, Tuan Arka. Ini teh chamomile hangat dengan madu pesanan Anda. Saya sengaja membuatnya tidak terlalu panas agar bisa langsung diminum.” katanya lembut. “Dan untuk Nona Naura, ini air mineral steril yang baru."Crystal meletakkan cangkir porselen berisi cairan perangsang itu tepat di sebelah laptop Arka, lalu menyajikan botol air mineral baru di depan Naura.Arka hanya mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Letakkan saja di situ.""Baik, Tuan. Jika Anda membutuhkan pijatan ringan untuk meredakan pegal di bahu—""Tidak perlu," potong Arka dingin."Baik, Tuan," ujar Crystal halus. Matanya melirik cangkir itu dengan penuh harap, menunggu jemari Arka menyentuhnya.Insting Naura seketika terusik. Ia merasa a

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 111 Misi Yang Gagal

    Di dalam kabin first class yang didominasi interior kayu mahoni dan kulit krem, suasana begitu tenang. Cahaya sore keemasan menembus jendela kaca oval, membiaskan bayangan lembut di pangkuan Naura.Naura bersandar malas di kursinya yang empuk. Di sampingnya, Arka duduk tegap dengan laptop terbuka di atas meja lipat. Jemari pria itu menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan beberapa dokumen penting yang tertunda karena perubahan rute mendadak ke Seoul."Arka, masih lama ya sampai Seoul?" tanya Naura, memecah keheningan sembari memilin ujung rambutnya.Arka menoleh tanpa menghentikan ketukan jarinya. "Sekitar empat puluh lima menit lagi. Kamu merasa pusing?""Tidak, cuma haus sih," gumam Naura. Tenggorokannya memang terasa sedikit kering setelah menyantap daging panggang di Jeju tadi. "Pokoknya nanti begitu mendarat di Gimpo, kita langsung drop koper di penthouse, terus ke Namsan Tower. Setelah itu kita harus jalan-jalan menyusuri Myeongdong. Aku mau beli hottok gula merah yang mele

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 110 Kiss for A Gift

    Pelayan mulai membalik potongan daging yang permukaannya telah berubah cokelat keemasan, kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian dengan gunting khusus. Naura sudah tidak sabar. Begitu pelayan membungkuk dan pamit keluar ruangan, ia segera menyambar sumpitnya. Selembar daun selada diambil, kemudian diisi sedikit nasi hangat, sepotong daging yang renyah di luar tetapi tetap juicy di dalam, lalu dicelupkan ke dalam saus Mel jeot yang hangat. Sebagai pelengkap, Naura menambahkan sepotong kimchi sawi di atasnya.Dengan telaten, ia menggulung daun selada itu hingga membentuk bulatan rapi. Namun, bukannya memasukkannya ke mulut sendiri, Naura justru mengarahkannya tepat ke depan bibir Arka."Buka mulutmu, Arka! Aaa..." suruh Naura dengan senyum manis.Arka memicingkan mata curiga, menahan tangan Naura. "Ini tidak ada cabe atau bawang putih mentah di dalamnya, kan?""Tidak ada, Arka. Ya ampun, dasar penakut! Cepat makan sebelum tanganku pegal!" cibir Naura menghentak-hentakkan sumpitnya.

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 109 Sehari Bersama Monster

    Dua hari berlalu dengan cepat. Kondisi Naura membaik secara signifikan. Rona sehat kembali menghiasi kedua pipinya, sementara tenaga wanita itu pun telah pulih sepenuhnya. Sesuai jadwal awal, jet pribadi Arka seharusnya lepas landas menuju Jakarta tepat pukul dua siang. Namun, rencana itu mendadak berantakan begitu Naura menyampaikan keinginannya di dalam suite resort tempat mereka tengah mengemasi barang."Tidak mau! Pokoknya penerbangannya dimundurkan saja jadi jam empat sore!" seru Naura mantap sembari bersedekap di depan koper besarnya yang masih terbuka.Arka yang sedang memasang jam tangan mewahnya menoleh kaku. "Naura, kita berangkat jam dua. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu cukup lama dan aku tidak mau kamu kecapekan di jalan.""Aku sudah sembuh, Arka!" protes Naura kesal. "Masa kita sudah jauh-jauh ke Jeju tapi aku tidak membawa oleh-oleh sama sekali sih? Aku belum membelikan apa-apa untuk sahabatku, untuk keluargaku, bahkan untuk Mami!""Biar Leon nanti yang menyuruh oran

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 5 Air Mata Sang Angel of the Catwalk

    Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 4 Kontrak Dengan Iblis

    Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 3 Cinta Palsu di Depan Dunia

    Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 2 Ancaman Pertama Sang Monster

    “Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status