LOGINSeraphina Aldric tidak pernah menyangka sebuah kontrak akan mengubah hidupnya. Terlebih ketika kontrak itu ditawarkan oleh seorang iblis. Untuk menyelamatkan dirinya, Seraphina harus menjadi istri Vellorn—makhluk yang telah hidup selama tiga abad dan menyimpan terlalu banyak rahasia. Namun ada satu hal yang tidak tertulis dalam kontrak itu. Mengapa Vellorn memilihnya? Mengapa ia seolah sudah mengenal Seraphina sejak lama? Dan apa sebenarnya harga yang harus dibayar seorang istri iblis? Satu kontrak. Satu pernikahan. Satu iblis yang menyimpan rahasia tentang dirinya. Jika pernikahan ini bukan kebetulan, lalu siapa yang sebenarnya sedang terjebak dalam kontrak itu?
View MorePalu hakim jatuh tiga kali, dan bersamanya, seluruh hidup Seraphina Aldric ikut runtuh.
"Terjual," kata juru lelang, menunjuk lukisan potret kakek buyutnya yang tergantung di ruang tamu sejak ia lahir. Wajah tua di kanvas itu kini menatap orang asing berjas mahal yang baru saja membelinya seharga recehan dibanding nilai sebenarnya. Seraphina berdiri di sudut ruangan, tangannya terkepal erat di balik lipatan gaunnya yang paling sederhana—satu-satunya yang tersisa setelah pelayan menjual sisanya diam-diam minggu lalu. Ia menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Cara ibunya dulu mengajarinya menahan air mata di depan umum. "Berikutnya, lot dua puluh tujuh," juru lelang berseru lagi, "permadani sutra dari Kekaisaran Timur, hadiah pernikahan Tuan dan Nyonya Aldric." Permadani yang sama tempat ia belajar merangkak. Terjual dalam sepuluh detik. Seorang wanita berbisik pada temannya, cukup keras agar Seraphina bisa mendengar. "Kasihan sekali gadis itu. Kudengar tunangannya membatalkan pertunangan begitu tahu keluarganya bangkrut. Pengecut macam apa yang menikahi keturunan Aldric sekarang?" Temannya tertawa kecil di balik kipas. "Siapa yang mau? Mungkin hanya iblis yang mau menikahi wanita tanpa mahar dan tanpa nama baik." Seraphina tidak menoleh. Ia sudah terlalu lelah untuk marah. Malam itu, di ruang kerja mendiang ayahnya yang belum disegel petugas pengadilan, Seraphina duduk sendirian di antara tumpukan surat utang. Lilin terakhir di rumah itu menyala goyah di atas meja, bayangannya menari liar di dinding kosong—dinding yang dulu penuh lukisan keluarga, kini hanya menyisakan bekas paku dan debu berbentuk persegi. Ia membuka laci bawah, tempat ayahnya biasa menyembunyikan hal-hal yang "tidak boleh dilihat anak perempuan." Di sana, terselip di antara akta tanah yang sudah tak berarti, sebuah buku kulit tua tanpa judul. Neneknya pernah memperingatkannya soal buku itu, bertahun-tahun lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Jangan pernah kau buka buku itu, Sera. Beberapa pintu tidak dibuat untuk dibuka dua kali." Seraphina dulu menganggapnya dongeng pengantar tidur. Sekarang, dengan surat penyitaan terakhir tergeletak di sisi buku itu—rumah ini akan diambil alih dalam tiga hari—dongeng terasa seperti satu-satunya pilihan yang tersisa. Jarinya gemetar saat membuka sampul kulit yang dingin, lebih dingin dari udara malam di sekitarnya. Halaman-halaman di dalamnya bukan kertas biasa; teksnya berubah bentuk setiap kali ia mengedipkan mata, seolah tulisan itu hidup dan mengamatinya balik. Ia menemukan satu halaman yang berhenti bergerak. Sebuah diagram lingkaran dengan simbol-simbol asing, dan di bawahnya, satu kalimat yang seakan ditulis khusus untuknya malam itu: Bagi yang tak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan, panggilan ini akan dijawab. Seraphina menutup buku itu keras-keras. Jantungnya berdebar seperti hendak melompat keluar. Ini gila. Ini benar-benar gila. Namun, gadis itu membukanya lagi. Ia tidak ingat persis kapan ia mulai mengucapkan kata-kata itu. Mungkin karena putus asa yang sudah terlalu penuh untuk berpikir jernih. Mungkin karena bayangan wajah ayahnya yang menua sepuluh tahun dalam semalam sejak berita kebangkrutan tersebar. Mungkin hanya karena tak ada lagi yang bisa hilang. Kata-kata dalam bahasa yang tak ia kenal keluar dari bibirnya seolah sudah lama menunggu untuk diucapkan. Lilin di meja padam seketika, bukan ditiup angin—tidak ada angin malam itu, jendela tertutup rapat—tapi seperti ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat. Kegelapan menyelimuti ruangan sepenuhnya. Lalu, suhu ruangan turun drastis. Napas Seraphina mengepul putih di udara yang tiba-tiba sedingin puncak musim dingin. Ia mundur dari meja, punggungnya membentur rak buku, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin bisa didengar seisi rumah. Sebuah bayangan bergerak di sudut ruangan tempat tak ada cahaya seharusnya bisa menciptakan bayangan. "Sudah tiga ratus tahun," sebuah suara berkata—dalam, tenang, dan entah bagaimana terdengar seperti sedang tersenyum meski Seraphina belum bisa melihat wajah apa pun, "sejak terakhir kali ada keturunan Aldric cukup nekat untuk membuka buku itu." Seraphina meraih apa saja yang ada di dekatnya—sebuah pemotong kertas dari perak, satu-satunya benda tajam yang tersisa di ruangan itu. "Siapa kau?" Bayangan itu melangkah maju, dan cahaya bulan dari celah tirai perlahan menyingkap sosoknya: seorang pria berjas hitam sempurna, seolah baru saja keluar dari pesta dansa alih-alih dari kegelapan itu sendiri. Matanya berwarna emas pekat, tidak seperti mata manusia mana pun yang pernah Seraphina lihat. "Namaku Vellorn," katanya, membungkuk sedikit dengan sopan santun yang terasa mengejek. "Dan aku sudah menunggu keluargamu memanggilku kembali yang ternyata lebih lama dari yang bisa kau bayangkan, Nona Aldric." Ia mengangkat satu tangan, dan di antara jarinya muncul selembar perkamen yang tak ada sebelumnya, tergulung rapi dengan pita merah darah. "Aku dengar keluargamu butuh keajaiban," lanjutnya, senyumnya melebar sedikit terlalu tajam untuk terlihat ramah. "Kebetulan sekali, aku punya satu penawaran. Tapi peringatkan aku dulu—" ia memiringkan kepala, menatap lurus ke mata Seraphina seolah bisa membaca setiap ketakutan yang mengendap di sana, "—apakah kau benar-benar ingin tahu harga yang harus kau bayar untuk menyelamatkan nama keluargamu?" Di luar, lonceng menara kota berdentang tengah malam. Dan Seraphina Aldric baru saja menyadari, terlalu terlambat, bahwa nama "Vellorn" bukanlah nama yang asing baginya. Nama itu ada di halaman terakhir arsip keluarganya, di bagian yang selalu dirobek habis setiap kali ia mencoba membacanya.Cahaya hijau itu berhenti tiga langkah dari rak tempatnya bersembunyi.Seraphina menahan napas sampai dadanya terasa seperti akan pecah. Ia bisa mendengar kain jubah berkibas pelan di balik deretan buku, langkah yang ragu-ragu—bukan langkah seseorang yang yakin mangsanya sudah terpojok, melainkan langkah seseorang yang justru sedang menimbang, apakah harus mendekat atau mundur."Aku tahu kau ada di sana," bisikan itu terdengar, lembut, hampir seperti permintaan maaf, dalam bahasa yang sama sekali berbeda dari gumaman asing tadi. "Aku tidak datang untuk menyakitimu, Nona Aldric."Seraphina tidak menjawab. Tangannya mencengkeram tepi rak begitu erat hingga buku-buku bergetar, dan sapu tangan yang masih membalut jarinya yang terluka basah oleh keringat dingin."Kau akan menemukan ini berguna," sosok itu melanjutkan, dan cahaya hijau bergeser—bukan mendekat, melainkan menjauh, merambat ke arah meja baca tua di tengah ruangan. Sesuatu diletakkan di sana, ringan, nyaris tanpa suara. "Sebelu
Buku itu menggigit jarinya sebelum ia sempat membuka sampulnya. Seraphina menarik tangan cepat, mengisap luka kecil di ujung jari telunjuknya—setipis sayatan kertas, tapi cukup untuk membuatnya melompat mundur dari rak arsip yang tersembunyi di ruang bawah tanah kastil. Setetes darahnya jatuh ke lantai batu, dan buku berjilid kulit gelap di hadapannya bergetar sekali, seolah baru saja mengenali sesuatu dalam darah itu. Ia sudah menyelinap ke ruang bawah tanah sejak Vellorn berangkat pagi ini, mengurus "persiapan" untuk pertemuan tiga hari lagi—pertemuan dengan nama misterius yang tulisan tangannya masih terus terngiang di kepala Seraphina, sama persis dengan halaman robek di arsip keluarganya sendiri. Ia tidak akan lagi menunggu Vellorn memutuskan sendiri apa yang boleh dan tidak boleh ia ketahui. Ruangan ini penuh rak-rak berdebu yang menjulang hingga langit-langit, diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang sendiri tanpa sumbu, seolah kastil ini punya caranya sendiri untuk m
Tangan Vellorn masih melayang di udara, sejengkal dari pipinya, ketika Seraphina memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Jangan," katanya, menahan tangan itu di udara dengan telapaknya sendiri—bukan menepis, hanya menghentikan. Kulit Vellorn terasa lebih dingin dari yang ia duga, seperti menyentuh marmer yang baru saja disentuh embun malam. "Jangan sentuh aku sampai kau menjawab semua pertanyaanku. Semuanya, Vellorn. Bukan potongan-potongan yang kau anggap cukup untukku."Rahang Vellorn mengeras. Untuk sesaat, Seraphina pikir ia akan menarik tangannya dan pergi seperti biasa—menghindar di balik topeng dingin yang selalu menjadi perisainya. Tapi kali ini, entah karena lukisan Isolde yang masih menatap mereka berdua dari dinding, atau karena sesuatu di matanya sendiri yang menolak untuk berbohong lagi malam ini, ia justru menghela napas panjang dan duduk di bangku kayu tua dekat jendela galeri."Duduklah," katanya. "
Gelas anggur pecah di lantai marmer, dan seluruh ruangan menoleh ke arah Seraphina seolah dialah yang menjatuhkannya. "Maaf," desis seorang wanita tua berkalung berlian, mundur seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan, meski jelas dialah yang menyenggol gelas dari tangan Seraphina. "Aku hanya... terkejut. Kupikir kau akan tampak lebih—" ia menjeda, matanya menyapu gaun Seraphina dari atas ke bawah, "—layak untuk berdiri di aula ini." Tawa kecil tersebar di sekelilingnya, tertahan di balik kipas-kipas sutra. Seraphina merasakan panas menjalar ke wajahnya, tapi ia sudah berlatih seumur hidup untuk tidak membiarkan itu terlihat. Ia menegakkan dagunya, tersenyum tipis, dan membungkuk sopan seolah baru saja menerima pujian, bukan hinaan. "Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya Renfield. Aku akan mengingatnya." Ia melangkah pergi sebelum wanita itu sempat membalas, jantungnya berdebar keras di balik topeng tenangnya. Aula istana malam itu dipenuhi ratusan bangsawan yang datan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.