Istri sang Iblis

Istri sang Iblis

last updateLast Updated : 2026-08-25
By:  GiameliaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
24views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Seraphina Aldric tidak pernah menyangka sebuah kontrak akan mengubah hidupnya. Terlebih ketika kontrak itu ditawarkan oleh seorang iblis. Untuk menyelamatkan dirinya, Seraphina harus menjadi istri Vellorn—makhluk yang telah hidup selama tiga abad dan menyimpan terlalu banyak rahasia. Namun ada satu hal yang tidak tertulis dalam kontrak itu. Mengapa Vellorn memilihnya? Mengapa ia seolah sudah mengenal Seraphina sejak lama? Dan apa sebenarnya harga yang harus dibayar seorang istri iblis? Satu kontrak. Satu pernikahan. Satu iblis yang menyimpan rahasia tentang dirinya. Jika pernikahan ini bukan kebetulan, lalu siapa yang sebenarnya sedang terjebak dalam kontrak itu?

View More

Chapter 1

1. Lelang Terakhir

Palu hakim jatuh tiga kali, dan bersamanya, seluruh hidup Seraphina Aldric ikut runtuh.

"Terjual," kata juru lelang, menunjuk lukisan potret kakek buyutnya yang tergantung di ruang tamu sejak ia lahir. Wajah tua di kanvas itu kini menatap orang asing berjas mahal yang baru saja membelinya seharga recehan dibanding nilai sebenarnya.

Seraphina berdiri di sudut ruangan, tangannya terkepal erat di balik lipatan gaunnya yang paling sederhana—satu-satunya yang tersisa setelah pelayan menjual sisanya diam-diam minggu lalu. Ia menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Cara ibunya dulu mengajarinya menahan air mata di depan umum.

"Berikutnya, lot dua puluh tujuh," juru lelang berseru lagi, "permadani sutra dari Kekaisaran Timur, hadiah pernikahan Tuan dan Nyonya Aldric."

Permadani yang sama tempat ia belajar merangkak. Terjual dalam sepuluh detik.

Seorang wanita berbisik pada temannya, cukup keras agar Seraphina bisa mendengar. "Kasihan sekali gadis itu. Kudengar tunangannya membatalkan pertunangan begitu tahu keluarganya bangkrut. Pengecut macam apa yang menikahi keturunan Aldric sekarang?"

Temannya tertawa kecil di balik kipas. "Siapa yang mau? Mungkin hanya iblis yang mau menikahi wanita tanpa mahar dan tanpa nama baik." Seraphina tidak menoleh. Ia sudah terlalu lelah untuk marah.

Malam itu, di ruang kerja mendiang ayahnya yang belum disegel petugas pengadilan, Seraphina duduk sendirian di antara tumpukan surat utang. Lilin terakhir di rumah itu menyala goyah di atas meja, bayangannya menari liar di dinding kosong—dinding yang dulu penuh lukisan keluarga, kini hanya menyisakan bekas paku dan debu berbentuk persegi.

Ia membuka laci bawah, tempat ayahnya biasa menyembunyikan hal-hal yang "tidak boleh dilihat anak perempuan." Di sana, terselip di antara akta tanah yang sudah tak berarti, sebuah buku kulit tua tanpa judul. Neneknya pernah memperingatkannya soal buku itu, bertahun-tahun lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Jangan pernah kau buka buku itu, Sera. Beberapa pintu tidak dibuat untuk dibuka dua kali."

Seraphina dulu menganggapnya dongeng pengantar tidur.

Sekarang, dengan surat penyitaan terakhir tergeletak di sisi buku itu—rumah ini akan diambil alih dalam tiga hari—dongeng terasa seperti satu-satunya pilihan yang tersisa.

Jarinya gemetar saat membuka sampul kulit yang dingin, lebih dingin dari udara malam di sekitarnya. Halaman-halaman di dalamnya bukan kertas biasa; teksnya berubah bentuk setiap kali ia mengedipkan mata, seolah tulisan itu hidup dan mengamatinya balik.

Ia menemukan satu halaman yang berhenti bergerak. Sebuah diagram lingkaran dengan simbol-simbol asing, dan di bawahnya, satu kalimat yang seakan ditulis khusus untuknya malam itu: Bagi yang tak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan, panggilan ini akan dijawab. Seraphina menutup buku itu keras-keras. Jantungnya berdebar seperti hendak melompat keluar. Ini gila. Ini benar-benar gila.

Namun, gadis itu membukanya lagi. Ia tidak ingat persis kapan ia mulai mengucapkan kata-kata itu. Mungkin karena putus asa yang sudah terlalu penuh untuk berpikir jernih. Mungkin karena bayangan wajah ayahnya yang menua sepuluh tahun dalam semalam sejak berita kebangkrutan tersebar. Mungkin hanya karena tak ada lagi yang bisa hilang.

Kata-kata dalam bahasa yang tak ia kenal keluar dari bibirnya seolah sudah lama menunggu untuk diucapkan. Lilin di meja padam seketika, bukan ditiup angin—tidak ada angin malam itu, jendela tertutup rapat—tapi seperti ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Kegelapan menyelimuti ruangan sepenuhnya. Lalu, suhu ruangan turun drastis. Napas Seraphina mengepul putih di udara yang tiba-tiba sedingin puncak musim dingin. Ia mundur dari meja, punggungnya membentur rak buku, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin bisa didengar seisi rumah. Sebuah bayangan bergerak di sudut ruangan tempat tak ada cahaya seharusnya bisa menciptakan bayangan.

"Sudah tiga ratus tahun," sebuah suara berkata—dalam, tenang, dan entah bagaimana terdengar seperti sedang tersenyum meski Seraphina belum bisa melihat wajah apa pun, "sejak terakhir kali ada keturunan Aldric cukup nekat untuk membuka buku itu."

Seraphina meraih apa saja yang ada di dekatnya—sebuah pemotong kertas dari perak, satu-satunya benda tajam yang tersisa di ruangan itu. "Siapa kau?"

Bayangan itu melangkah maju, dan cahaya bulan dari celah tirai perlahan menyingkap sosoknya: seorang pria berjas hitam sempurna, seolah baru saja keluar dari pesta dansa alih-alih dari kegelapan itu sendiri. Matanya berwarna emas pekat, tidak seperti mata manusia mana pun yang pernah Seraphina lihat.

"Namaku Vellorn," katanya, membungkuk sedikit dengan sopan santun yang terasa mengejek. "Dan aku sudah menunggu keluargamu memanggilku kembali yang ternyata lebih lama dari yang bisa kau bayangkan, Nona Aldric." Ia mengangkat satu tangan, dan di antara jarinya muncul selembar perkamen yang tak ada sebelumnya, tergulung rapi dengan pita merah darah.

"Aku dengar keluargamu butuh keajaiban," lanjutnya, senyumnya melebar sedikit terlalu tajam untuk terlihat ramah. "Kebetulan sekali, aku punya satu penawaran. Tapi peringatkan aku dulu—" ia memiringkan kepala, menatap lurus ke mata Seraphina seolah bisa membaca setiap ketakutan yang mengendap di sana, "—apakah kau benar-benar ingin tahu harga yang harus kau bayar untuk menyelamatkan nama keluargamu?"

Di luar, lonceng menara kota berdentang tengah malam. Dan Seraphina Aldric baru saja menyadari, terlalu terlambat, bahwa nama "Vellorn" bukanlah nama yang asing baginya. Nama itu ada di halaman terakhir arsip keluarganya, di bagian yang selalu dirobek habis setiap kali ia mencoba membacanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status