共有

6. Tamu Tak Terduga

作者: Mastuti Rheny
last update 公開日: 2023-08-29 09:04:29

“Assalamualaikum, Rindu!”

Aku yang sedang duduk berdampingan dengan pria asing yang baru kemarin menjadi suamiku segera mendongak dan mengarahkan tatapan pada asal suara di ambang pintu.

Segera kerikuhan menyergapku terlebih setelah melihat tatapan Mas Bara yang begitu tajam ketika melihat sosok pemuda yang sedang mengulas senyum padaku itu, tamu kami yang tak terduga datang di awal pagi.

Aku berusaha menenangkan diri dengan membalas salamnya.

“Wa’alaikumsalam,” balasku dengan pelan sembari mulai bangkit dari dudukku.

Aku tak bisa segera mendekat pada pria berpenampilan rapi yang masih menyunggingkan senyumnya padaku itu. Tatapan lugas Mas Bara yang membuatku ragu melangkah.

“Siapa dia Rindu?”

Pada akhirnya Mas Bara bertanya dengan tegas meski dia masih bertahan duduk di tempatnya.

Aku tak segera menjawab karena detik berikutnya tatapan Mas Hilman yang merupakan teman baikku itu ikut tertuju pada Mas Bara yang masih menampakkan dominasinya.

Ketika melihat tatapan Mas Hilman yang tampak bingung dan ragu, aku memilih memalingkan wajah ke arah Mas Bara yang sekarang sedang menyergapku dengan sorot matanya yang lugas.

“Dia temanku Mas, putranya Pak Kades, Mas Hilman.”

Aku berusaha memperkenalkan sosok yang selalu menampakkan gurat wajah yang selalu penuh keramahan itu pada suamiku.

Sekarang tatapan Mas Bara kembali terarah pada sosok pemuda yang kedatangannya benar-benar tak aku duga itu.

Karena setahuku Mas Hilman masih berada di kota untuk kuliah di sana.

“Siapa pria ini Rindu?”

Sekarang Mas Hilman yang menyudutkan aku pertanyaannya yang terdengar lugas.

Aku kembali tak bisa menjawab, memilih memandang pada Mas Bara yang sekarang mulai ikut bangkit.

“Aku Bara, suaminya Rindu,” tegas Mas Bara tanpa ragu yang sontak membuat Mas Hilman membeliakkan mata.

Aku sangat yakin Mas Hilman masih tak tahu apa yang terjadi padaku.

Sekarang aku hanya bisa menunduk saat Mas Hilman menegaskan sorot matanya ke arahku. Jelas dia sedang terseret dalam kekagetannya, karena dia pasti tak pernah mengira jika aku akan menikah secepat ini karena sebelumnya aku pernah mengikrarkan keinginanku untuk kuliah dan mewujudkan cita-citaku menjadi guru, sebuah harapan yang terus Mas Hilman dukung selama ini.

Tak aku sangka detik berikutnya Mas Hilman malah mendekat, seakan mengabaikan keberadaan Mas Bara di dekatku yang bahkan baru saja menandaskan tentang posisi dirinya.

“Tangan kamu kenapa Rindu?”

Aku yang sedang menunduk mulai mengangkat wajah ketika menyadari Mas Hilman mulai menyentuh tanganku yang dibalut.

Tapi sentuhan Mas Hilman segera menerbitkan sikap posesif suamiku hingga dia menjadi begitu lugas menghempaskan tangan Mas Hilman yang sempat menyentuhku.

Aku terkesiap kaget, pun dengan Mas Hilman yang kemudian menyorot suamiku dengan lugas.

Tapi dengan cepat tatapan Mas Hilman kembali beralih padaku.

“Aku benar-benar tak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu mendadak menikah?”

Mas Hilman kian terang mengunggah kebingungannya.

Tapi sebelum aku menjawab apapun mendadak ibu muncul dari dalam dan tampak terkejut dengan kedatangan Mas Hilman yang pasti tak diduganya.

“Nak Hilman?!”

Mas Hilman memandang ke arah ibu yang tergopoh-gopoh menghampiri kami.

Tatapan Mas Hilman sangat terang menuntut sebuah penjelasan.

“Kapan pulangnya?”

Ibu bertanya dengan basa-basi sembari sedikit melirik padaku yang sekarang bahkan sudah terkukung oleh pelukan Mas Bara.

Aku hanya bisa diam tak mengatakan apapun.

Tapi sejurus kemudian ibu malah tersenyum lebar.

“Saya baru semalam pulang Bu.”

Mas Hilman menjawab dengan datar.

Tapi ibuku masih saja menyunggingkan senyumnya.

“Oh iya, apa Nak Hilman sudah kenalan dengan suaminya Rindu?”

Aku sedikit heran mendapati sikap tenang ibu bahkan bisa dengan sangat santai memperkenalkan Mas Bara sebagai suamiku.

Wajah Mas Hilman kembali masam, meski kemudian aku melihat dia tetap berusaha untuk membalas senyuman ibuku.

Bagaimanapun aku tak akan menyalahkan ibu karena memang pernikahanku dengan Mas Bara sejak awal memang tanpa paksaan. Meski aku sekarang malah merasa jika ibu memang menginginkan aku menikah dengan Mas Bara, terlihat dari sikap ibu yang masih begitu tenang saat mendapati kedatangan Mas Hilman yang tidak terduga.

Nyatanya memang selama ini aku dan Mas Hilman tak pernah menjalin hubungan yang istimewa, setidaknya itulah anggapanku karena pembicaraan kami tak pernah sekalipun menjurus tentang hubungan yang serius apalagi cinta.

“Kami sudah berkenalan tadi, Bu,” jawab Mas Hilman datar.

Pria itu kemudian menarik nafas panjang.

“Saya datang pagi-pagi niatnya ingin mengajak Rindu sekalian ke sawah, biar Pak Slamet bisa naik sepeda nggak harus keberatan membonceng Rindu seperti biasanya.”

Aku termangu ketika mendengar ucapan Mas Hilman. Ada rasa sedih yang menekan dada ketika dia menyebut nama ‘bapak’. Sangat terang kalau Mas Hilman tak tahu juga tentang meninggalnya bapak.

Sekarang sepasang mata ibu sudah tampak berkaca-kaca.

“Maaf Nak, bapaknya Rindu sekarang sudah nggak ada,” gumam ibu sedih.

Ketika akhirnya ibu mulai menceritakan semuanya tentang kecelakaan yang menimpa kami beberapa hari lalu, juga tentang luka patah tangan yang aku alami disamping nyawa bapak yang menjadi terenggut karena kecelakaan itu, Mas Hilman kemudian malah menyergapku dengan tatapan tegas.

Ada kecewa yang kemudian bisa aku tangkap di matanya. Meski aku tetap tak ingin terlalu memperturutkan rasa ingin tahuku.

Walau kemudian setelah itu Mas Hilman mulai menggumamkan ucapan bela sungkawanya.

Tapi Mas Bara malah menanggapi dengan kata-katanya yang tegas.

“Mulai sekarang Rindu tidak lagi bekerja di sawah, dia sudah menjadi istriku dan pastinya Rindu akan menjadi tanggung jawabku,” ucap Mas Bara tegas yang membuat tatapan Mas Hilman menjadi luruh.

“Aku sungguh tidak tahu, maafkan aku Bu, karena tadi aku langsung ke sini tanpa sempat mengobrol dengan ayah,” gumam Mas Hilman lirih.

Mas Hilman masih mengabaikan tatapan Mas Bara yang baru saja menegaskan tentang posisi diriku untuknya.

Pria berpembawaan santun itu malah mengarahkan perhatian pada ibuku.

“Maaf ya Nak Hilman kalau kesannya pernikahan Rindu mendesak, karena memang bapaknya Rindu sendiri yang meminta,” ucap ibu sembari memendam kesedihannya.

Apa yang dikatakan ibu segera menerbitkan penasaran di hatiku. Sebenarnya apa maksud ibu kalau pernikahanku dengan Mas Bara adalah atas permintaan bapak. Bukannya Mas Bara melamarku setelah bapak berpulang?.

Tapi ketika melihat tatapan ibu yang nanar ke arah Mas Hilman membuat hatiku menguntai jawaban sendiri atas rasa penasaranku. Bisa saja ibu berkata seperti itu untuk meleram rasa kecewa Mas Hilman yang saat ini tampak terang disajikan saat mendapati aku menikah dengan pria lain.

“Kalau begitu, sekarang aku pamit Bu.”

Mas Hilman kemudian kembali melirikku.

“Rindu, aku pulang ya, assalamualaikum.”

Setelah Mas Hilman mulai membalikkan badan lalu melangkah pergi sebelum aku sempat menjawab salamnya dan benar-benar mengabaikan keberadaan Mas Bara yang sampai saat ini bahkan masih memeluk pundakku.

Sepeninggal Mas Hilman, ibu lalu mendekati kami.

“Rindu, ayo siapkan sarapan buat suami kamu, masakannya sudah matang.”

Tatapan ibu lalu beralih pada Mas Bara.

“Maaf ya Pak Mandor, kalau hidangannya cuma ala kadarnya saja, maklum di desa.”

Setelah itu ibu kembali ke dalam meninggalkan kami berdua.

“Mas, mau makan sekarang?” tanyaku memastikan karena aku tahu tadi Mas Bara sudah menghabiskan segelas sereal yang tadi sudah aku hidangkan.

“Aku biasanya tak pernah makan berat di awal pagi, tapi mungkin aku akan makan sedikit saja untuk menghormati ibumu yang sudah bersusah payah memasak.”

“Kalau begitu ayo sekarang kita ke ruang tengah,” ajakku pelan.

Mas Bara kemudian malah tak langsung beranjak, sedikit mencekal pundakku untuk menahan langkahku.

“Tapi nanti setelah sarapan, kamu harus menemaniku melakukan sesuatu.”

Aku langsung memandangnya sembari mengernyit penasaran.

“Melakukan apa Mas?”

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   277. Bahagia Selamanya

    “Diam, atau aku akan menembakmu seperti yang sudah aku lakukan pada Richard!” Aku terperangah saat mendengar pengakuan lelaki berwajah oriental itu. Pengakuannya jelas sangat mengagetkan aku. “Jadi kamu yang sudah menembak suamiku?!” sergahku tandas. Raymond malah tersenyum sarkas menanggapi. “Dia sendiri yang sudah memaksaku melakukan semua ini karena dia terlalu serakah,” tukas Raymond sengit. “Kamu gila!” Aku kembali memakinya dengan suara yang semakin kuat. “Tolong, tolong ....” Aku mulai berteriak ketika Raymond semakin kewalahan dan tak mampu lagi menutup mulutku. Pergerakan di pintu itu semakin intens bersamaan aku mendengar suara gebrakan yang sangat kuat beberapa kali. Raymond yang sedang menggila ini sudah menutup pintu dari dalam hingga sulit untuk dibuka. Pastinya orang-orang di luar ruangan sedang berusaha untuk mendobrak pintu itu. Sementara aku sendiri masih berjuang untuk membebaskan diri dari sergapan Raymond. Tapi beberapa detik kemudian kami malah dikejut

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   276. Di Bawah Ancaman Raymond

    Aku menjadi terlalu kaget mendapati kedatangan Raymond yang sangat tak terduga.Tapi aku malah tak kuasa untuk menghalaunya yang membuat sosok itu terus mendekat dengan penuh rasa percaya diri.“Aku tak menyangka kalau dia mampu bertahan sampai sejauh ini setelah apa yang sudah dia alami,” ungkap lelaki itu sembari mengarahkan pandangannya pada Mas Bara yang sekarang hanya bisa terbaring tanpa kesadaran di atas brankar.Gelisah mulai menerjangku ketika aku mulai melihat tatapan adik dari suamiku yang kini malah memindaiku dengan sangat intens.Aku segera bangkit dan memasang sikap waspada.Setelah kemarin aku melihat sikap Raymond yang tampak berbeda begitu rapuh dan sedih tapi sekarang dia kembali menjadi sosoknya yang dulu, yang terasa licik menakutkan.“Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam ruangan ini?”Selama ini mami melarang orang lain masuk menemui Mas Bara. Tak sembarangan orang boleh menemani Mas Bara. Hanya aku, oma dan mami yang memiliki akses untuk bisa memasuki ruangan. Kar

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   275. Sikap Dingin Mami Sally

    “Sekarang katakan saja apa kamu yang sudah membuat Richard seperti ini?” Abe malah melontarkan tuduhannya dengan terlalu lugas.Aku tak pernah menyangka jika sahabat terdekat suamiku itu akan mengungkapkan tuduhannya dengan sangat lugas pada Lina yang sebelumnya sempat kami bicarakan dan kami curigai.Lina membeliakkan mata, mengunggah kekagetannya yang terlalu ketara.Sejenak aku tak bisa mengartikan tentang ekspresi kekagetannya yang seperti itu.“Apa kamu yang sudah menembak Richard?”Abe kian menegaskan tuduhannya.Lina malah menanggapi dengan tenang hingga kemudian malah mencebik sarkas.“Jadi kalian sekarang mencurigaiku?”Aku dan Abe tak menjawab meski masih saja memberikan tatapan yang sangat lugas pada wanita yang sering mengunggah ekspresi sinisnya itu.“Aku merasa tak perlu untuk memberikan penjelasan apapun pada kalian,” pungkas wanita itu sembari langsung bangkit dari duduknya.Tapi sebelum melangkah wanita itu melemparkan pandangannya pada Abe yang sedang mengikuti perg

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   274. Dikepung Rasa Curiga

    “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Segera aku menoleh ke ambang pintu dan menjadi sangat kaget ketika melihat sosok yang sedang kami bicarakan telah berdiri di sana dengan memberikan tatapan yang terlalu tajam.Sempat aku merasa kalau dia sempat mendengar pembicaraanku bersama Abe tadi, yang kemudian menelusupkan rasa gelisah di dalam dada.“Kalian berdua terlihat terlalu dekat, dan aku yakin jika Richard melihat kedekatan kalian, dia tidak akan bisa menerima ini,” sindir wanita berbaju merah itu sangat sarkas.Dengan tatapan yang sama tajamnya aku mulai menentang sorot matanya. Enggan menampakkan ketundukan atas sikapnya yang selalu saja mengintimidasi.Sejak dulu Lina selalu mengunggah keangkuhannya terutama di hadapanku yang pastinya dia anggap sebagai saingan terbesarnya karena nyatanya memang hanya aku yang bisa mendapatkan hati Mas Bara sepenuhnya, sesuatu yang kini membawa kesadaranku kembali atas apa yang sudah aku dapatkan selama ini. Nyatanya memang tak ada yang paling ber

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   273. Mulai Mencurigai Lina

    “Katakan padaku apa yang kamu ketahui tentang suamiku?”Aku segera mencecarnya dengan tak sabar, karena saat ini sekecil apapun informasi yang beredar sangat aku butuhkan karena aku benar-benar ingin menguak tabir misteri tentang penembakan suamiku yang sampai saat ini belum juga terungkap.Abe tampak memindaiku lebih lekat dan aku dengan tegas menentangnya tanpa keraguan.Lelaki bermata tajam itu kemudian menarik nafasnya sejenak sembari menautkan kedua tangannya di depan wajahnya yang lumayan good looking itu.“Sebenarnya sehari sebelum hari naas itu, aku dan Richard sempat bertemu di ruangan ini. Kami membicarakan banyak hal, terutama tentang dirimu dan segala penyesalannya.”Abe sengaja menghentikan kalimatnya kian intens memindaiku seakan ingin menebak apa yang ada di dalam pikiranku saat ini.Tapi aku memutuskan untuk membisu menunggunya melan

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   272. Jatuh Koma

    Sudah nyaris sebulan Mas Bara terbaring koma. Selama itu aku bertahan untuk tetap mendampingi walau keadaanku masih sering diserang mual dan rasa tak nyaman di perut.Tak ada alasan bagiku untuk menyerah karena saat ini prioritas utamaku tetap Mas Bara yang selalu aku yakini tetap bisa mendengar setiap kata yang aku ucapkan di telinganya.Bahkan setiap kali aku datang aku selalu membacakan ayat-ayat Ilahi, sebelum aku mulai mengajaknya mengobrol.“Mas, hari ini aku bawakan lavender, aromanya harum sekali. Kamu bisa menciumnya kan Mas?” tanyaku sembari mendekatkan bunga yang aku bawa di hidungnya.Aku selalu yakin jika Mas Bara selalu bisa merasakan apapun yang aku lakukan walau dia tak memberikan respon apapun. Bahkan tidak dengan kedipan mata, karena mata itu selalu terkatup rapat.Saat melihatnya tetap diam dan beku, hati ini mulai dirasuki kesedihan yang kian pekat

  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   34. Sama-sama Orang Susah

    Aku tak bisa menahan rasa takjubku saat menyaksikan kemegahan Mall terbesar di kota ini. Ada begitu banyak gerai yang terlihat tampak sangat mewah dengan barang-barang pajangannya yang juga terlihat luar biasa.Ekspresiku yang terlalu lugas seperti ini malah memanc

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   23. Tak Bisa Bersenang-Senang Bersama

    Jelas aku mendengar Mas Bara menyebut nama ‘Lina’ sembari terus berlalu pergi hanya demi bisa menerima panggilan itu secara lebih pribadi.Aku yakin aku tidak salah dengar, bukan Rina tapi Lina karena saat ini asisten pribadi yang ditunjuk Mas Bara untuk melayani se

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   9. Rasa Ingin Tahu Rindu

    Aku semakin gusar kian terseret dalam sikap yang serba salah saat Mas Hilman terang-terangan mengajakku untuk mengobrol dan saling bercerita seperti dulu.Bahkan tatapan Mas Bara sudah terlihat nyalang sekarang. Pastinya Mas Bara sudah terlihat tersinggung sekarang karena ajaka

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • ISTRI LUGU MANDOR TAMPAN   14. Mengulik Warisan Bapak

    Sebelum pergi Mas Bara mewanti-wanti aku untuk tinggal di rumah ibu saja, dan tidak sembarangan keluar rumah.Jelas aku sedih sekarang karena harus berjauhan dengan Mas Bara, pria asing yang sekarang mulai mengambil perhatian dariku.Selama sebul

    last update最終更新日 : 2026-03-17
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status