LOGINBAB 2 AKHIRNYA BERTEMU
Akhirnya Alea setuju untuk bertemu langsung dengan Tuan Anmar di kantornya. Seorang wanita bersetelan rapi sudah menunggu Alea di lobby. "Silakan, Nona Alea." Alea diantar hingga ke sebuah pintu besar lalu ditinggalkan sendirian. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia mengetuk. "Masuk." Suara pria dewasa terdengar dari balik pintu besar yang perlahan bergeser terbuka. Ini adalah kali pertama Alea bertemu langsung dengan tuan Anmar. Pria itu segera berdiri dari balik meja kerjanya. Tinggi. Tegap. Rapi. Dan ternyata jauh lebih muda dari yang sering dia lihat di media. Jauh lebih muda daripada yang Alea bayangkan untuk pria berusia empat puluh tahun. "Terima kasih sudah datang." Tuan Anmar berjalan menghampiri Alea sambil tersenyum. Alea tiba-tiba merasa seperti murid baru yang tersesat masuk ke ruangan kepala sekolah. Alea benar-benar merasa kecil. "Silahkan duduk?" Alea di ajak duduk di sofa dekat dinding kaca. Ruangan bernuansa biru tua dan hitam itu terasa tenang sekaligus menekan. Alea berusaha menjaga jarak ketika Tuna Anmar sengaja duduk di depannya. "Kudengar usiamu sembilan belas tahun?" "Ya." Alea mengangguk, kemudian lanjut tertunduk. "Jangan takut padaku." Alea langsung mengangkat kepala. Tuan Anmar hanya tersenyum kecil. "Aku tidak akan menggigit." Entah kenapa candaan itu justru membuat Alea semakin merinding gugup. Tuan Anmar bersandar santai. Sementara Alea duduk kaku seperti sedang mengikuti sidang skripsi. "Kau cantik." Alea hampir tersedak napasnya sendiri. Karena ia tidak menyangka pembicaraan akan mengarah ke sana. "Apa paman dan bibimu sudah menjelaskan semuanya?" Alea cuma kembali mengangguk, karena entah pita suaranya sedang hilang ke mana. Tuan Anmar memperhatikan Alea beberapa saat sebelum kembali bicara dengan nada serius. "Aku akan bicara terus terang." Jantung Alea kembali menegang. "Aku ingin memiliki anak. Satu saja sudah cukup." Kalimat itu juga langsung ditekankan tanpa basa-basi. "Aku tahu sudah terlalu tua untukmu. Tapi kembali lagi kukatakan, aku ingin menikah dengan wanita yang lebih muda karena aku benar-benar hanya ingin istriku masih bisa memberiku keturunan." Tuan Anmar sengaja mengambil jeda sejenak untuk melihat reaksi Alea. "Aku tahu, kau mungkin tidak nyaman." Tuan Anmar menghela napas. "Itulah sebabnya aku ingin kau memahami semuanya sejak awal." Pria itu berhenti sejenak. "Aku tidak akan memaksamu menjadi istri yang harus selalu melayaniku." Alea tidak pernah membayangkan percakapan seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Dua bulan lalu ia masih memikirkan tugas kuliah. Sekarang ia sedang membahas kemungkinan memiliki anak dengan pria yang cukup dewasa untuk menjadi ayahnya. "Pernikahan ini bisa kita rahasiakan. Jika nanti kau sudah memberiku seorang keturunan, aku juga berserah padamu dan aku akan melepaskan mu jika itu yang kau inginkan." Alea masih diam, tapi menyimak "Aku juga akan tetap menjamin kehidupanmu." "Aku akan menyiapkan rumah untukmu. Kau bisa membawa ibumu tinggal bersamamu." Saat itu kepala Alea langsung terangkat. "Aku juga akan menyiapkan perawat buat ibumu." Sejak mata Alea terlihat berbinar hidup. Dan tulus dengan segala rasa terimakasihnya. "Terima kasih, Tuan Anmar." "Kau tidak perlu berterima kasih." Tapi Alea tetap merasa perlu. Karena tidak ada seorang pun yang menawarkan bantuan sebesar itu selama dua bulan terakhir. Tuan Anmar kembali menatap Alea. "Alea, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Dari tadi Alea lebih banyak mengangguk dan kali ini gadis itu juga cuma kembali mengangguk. "Apa kau masih perawan?" Darah langsung naik ke wajah Alea. Ia membeku, sangat malu. "Maaf, kau tidak perlu jawab jika tidak nyaman." Tuan Anmar mengangkat kedua tangannya sedikit ingin meralat. "Aku juga tidak menuntut mu harus perawan." "Aku... belum pernah." jujur Alea. "Aku belum pernah dekat dengan pria manapun.' Tuan Anmar mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba bertanya. "Kudengar kau mengenal Troy." Napas Alea tercekat. "Ya, kami teman kampus. Tapi kami tidak kenal terlalu dekat." Napas tuan Anmar sedikit bergetar karena tiba-tiba teringat putranya. "Aku tahu wanita-wanita seperti apa yang bergaul dengan putraku." Sungguh Alea merasa tidak nyaman ketika membahas Troy. Tiba-tiba Alea menyela, mengalihkan pertanyaan. "Tuan Anmar apa aku sudah boleh pulang?" "Apa kau tadi datang sendiri?" "Ya." "Nanti akan aku antar pulang." Alea langsung menggeleng. "Tidak perlu." Dia menggeleng terlalu cepat. "Kenapa?" "Aku masih ingin singgah ke toko buku." Alea buru-buru berbohong. "Baiklah." Untungnya Tuan Anmar tidak memaksa. Alea langsung berdiri. "Terima kasih atas waktunya, Tuan." Tuan Anmar mendongak. Lalu mengernyit. "Jangan panggil aku seperti itu." Alea nampak bingung. "Lalu saya harus memanggil Anda apa?" Sejenak Tuan Anmar terdiam, seolah belum memikirkan jawaban. Tapi akhirnya dia tersenyum. "Mungkin kita bahas itu di pertemuan berikutnya." Alea belum bereaksi. Belum berani memikirkan selanjutnya. "Bilang pada paman dan bibimu aku akan datang segera." "Akan saya sampaikan." Alea mengangguk hormat kemudian mengundurkan diri. ****** Alea baru beberapa langkah keluar dari lobi ketika sebuah suara memanggil namanya. "Alea!" Tubuhnya langsung menegang. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum sempat menoleh. Troy. Begitu berbalik, Alea mendapati pemuda itu sedang berjalan cepat ke arahnya dengan ekspresi terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?""Aku tidak percaya akan melihat hari seperti ini," tuntut Mike ketika harus menelan kekecewaan pada wanita yang ingin dia genggam hatinya. "Kau pilih menikah dengannya pria yang bahkan baru kau kenal setelah lima tahun kita menjalani komitmen." "Ini bukan pilihan tapi keputusanku." "Kau membuat keputusanmu sendiri, kau sangat tidak masuk akal Alea!" tegas Mike "Aku hampir sinting mencarimu, aku tidak menemukanmu di partemen atau di rumah sakit, tidak ada yang memberitahuku dan ponselmu juga tidak pernah bisa dihubungi. Kemudian lihat apa yang kutemukan sekarang!" Mike mulai mengeraskan suaranya dan Troy sudah tidak tahan untuk berdiri menghampiri mereka. "Biarkan Alea meny
Keluarga Alea di panti asuhan benar-benar sangat luar biasa hingga Tuan Herlambang juga tidak bisa berhenti untuk terus bersyukur karena tahu putrinya dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Berulang kali manusian tidak akan pernah tahu bagaimana cara Tuhan akan membalas amal dan dosa. Mungkin karena kebaikan nyonya serta tuan Herlambang yang juga sangat dermawan maka di manapun putrinya berada dia tetap terjaga dengan baik, dikelilingi orang-orang baik yang selalu menolongnya, dan dipertemukan dengan jodoh yang baik. Kadang buah dari keikhlasan yang ditabur orang tua juga bisa mengalir sebagai rizki untuk anak-anaknya kelak, karena mereka juga termasuk kebahagiaan dan ladang amal orang tuanya yang tidak akan terputus. Bagi Tuan Herlambang menyaksikan dua anak perempuannya yang tiba-tiba sudah tumbuh dewasa dan saling menyayangi adalah berkah yang luar biasa. Mereka juga a
Anmar menarik Alea lebih merapat untuk dia cium dengan intens dan dia raba perutnya. Dunianya sedang sangat bahagia, Anmar sudah tidak sabar untuk menunggu kehadiran buah cinta mereka. Miliknya yang sedang tumbuh di dalam tubuh Alea, wanita yang rasanya memang sudah dia tunggu untuk kembali menjadi miliknya. Wanita yang selalu ada dalam setiap doa-doanya dan wanita yang telah berjuang menjaga diri untuknya. Kadang rasanya memang seperti ujung dari perjuangan dan perjalanan panjang, perjuangan dari kesabaran dan doa. "Sungguh aku tidak pernah berpikir jika akan ada hari seperti ini." "Jangan gugup, aku yakin mereka juga akan sangat menyukaimu sepertiku." Anmar kembali menciumi Alea, walaupun alasannya untuk menenangkan Alea tapi sebenarnya Anmar memang suka melakukannya, dia suka menciumi Alea seperti itu jika sedang tidak
Kondisi Nyonya Camila sudah jauh membaik dan mulai beraktifitas normal paska serangan terakhirnya kemarin tapi kali ini nyonya Camila mulai rewel untuk makan. Nyonya Camila masih ingat seperti apa rasanya ketika mengira dirinya telah kehilangan seorang putra. Meski sekarang Nyonya Camila menyesal dengan semua sikapnya kemarin tapi sepertinya tidak akan mudah untuk membuat anak-anak kembali terutama Anmar dan keteguhannya. Hidup kesepian di hari tua sepertinya memang akan menjadi hukuman yang layak baginya. Celina akan datang setiap siang untuk mengontrol obatnya yang harus diminum rutin dan membujuk Nyonya Camila agar mau makan. Memiliki dua anak laki-laki ternyata membuatnya kesepian, Troy yang suka bepergian sesuka hati dan Anmar yang pilih menjaga jarak membuatnya semakin sedih sebagai seorang ibu. Walaupun sudah terlalu tua untuk merajuk dan mencari perhatian dari putra-putranya tap
Dokter Alea langsung menunjukkan foto yang kemarin dia ambil bersama saudarinya. "Sepertinya Papa dan Mama memiliki putri yang lain." "Apa maksudmu?" tanya Tuan Herlambang masih bingung ketika memperhatikan foto di layar ponsel putrinya. "Sepertinya ada yang menukar kami saat masih bayi itulah kenapa aku dan Lisa tidak pernah mirip dan justru ada Alea yang lain di luar sana." "Alea!" kutip Nyonya Herlambang dengan manik mata membulat. "Ya, nama panjang kami juga sama persis." "Mustahil." Kali ini kedua orang tua Dokter Alea sama-sama terkejut. "Dia istri dari kakak laki-laki
"Seorang kekasih?" tanya Troy. "Ya, kami sudah bersama selama lima tahun." "Aku bisa melamarmu dan memberi cincin yang lebih pas untuk jari manismu." Dokter Alea langsung berjengit mendengar ucapan Troy yang bisa begitu enteng membicarakan lamaran seperti lelucon. "Kau tidak bia seperti itu." "Aku bisa, aku bisa menikahimu!" "Aku sudah lima tahun menjalin hubungan yang stabil." Dokter Alea ingin Troy berhenti mengajaknya bercanda. "Masih ada banyak tahun lagi ke depan, lima tahun tidak akan ada apa-apanya!" keras Troy. "Aku tidak bisa seperti itu!" tegas Dokter Alea begitu s







