LOGINTeruntuk Mas Ditto Yang aku rindukan Mas ... apa kabar? Bagaimana rasanya setelah berjam-jam lamanya berdiri diam tanpa menyapaku? Apakah Mas baik-baik saja dan merasa happy? Tenang ya suasananya karena aku tidak berisik seperti hari biasanya. Mas, aku doakan semoga kamu tidak suka suasana diam ini. Kamu tidak suka suasana sepi yang timbul karena kita yang tak saling bicara ini. Kamu tidak suka pokoknya. Aamiin. Karena, Mas, aku benar-benar tidak suka keadaan ini. Aku tidak suka dianggap tak kasat mata oleh kamu. Aku tidak suka melihat kamu diam dan memandangku dengan dingin. Ini mengganggu dan sangat tidak nyaman. Oke. Karena Mas tidak ingin bicara sama aku, I'm finally writing this letter. How many years have we known each other? Seven years, eh? Aku rasa sekitar itu. Saat aku pertama kali melihat kamu keluar dari rumah dengan kemeja flanel berwarna cokelat sambil membawa helm. Kamu --kakak tinggi itu-- menatapku dengan kesal sambil mengomel soal jangan memberi pen
"Aku tadi nemuin itu di mobil, Ra."Mereka bersitatap. Memandang dengan kecamuk rasa yang sulit diartikan. Rasa bersalah atu benci. Rasa marah atau menyesal. Mereka yang sama-sama tidak mengatakan apapun itu, benar-benar tidak sanggup untuk menegaskan ... sebenarnya kita sekarang apa?Kyra bangkit. Ia meraih benda kecil itu dari tangan Ikri lantas memeluknya erat. Air mata itu --anehnya-- justru semakin deras bercucuran. Padahal barang yang dicari sudah ia temukan. Padahal alasan ia menangis --dan marahnya Ditto-- sudah ia dekap erat-erat."Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih sekali." Di antara isaknya, Kyra mengutarakan terima kasihnya. Ia menggenggam tangan Ikri. Lalu menunduk penuh penyesalan. Matanya menyapu jelas pada cincin yang kini sudah melingkar di jarinya. "Ini cincin yang sangat berarti.""Aku tahu."Kyra mendongak dengan cepat dan mendapati pandangan Ikri yang kini terasa tajam sekali."Itu cincin nikah kamu, kan?"Dan lagi, perempuan itu terhenyak."Bagaimana b
CHAPTER 33Kata orang, regret, like a tail, comes at the end. Dia tidak memberi aba-aba di depan apalagi muncul. Selalu, setelah semunya terjadi, ia baru muncul untuk membuat manusia ingin berteriak kencang, mengutuk pada takdir lalu memohon agar waktu bisa diputar. Penyesalan selalu begitu.Kyra menyesal. Sangat.Ia seharusnya --sejak dulu-- tidak pernah mudah melepas pasang cincinnya. Toh, cincin yang dipakai di jari manis tidak selalu dianggap sebagai cincin pernikahan. Jadi sekalipun ia ingin menyembunyikan status pernikahan, ia tetap bisa dengan bebas memakai cincin itu. Sebab nyatanya, tidak ada satupun --dari temannya-- yang pernah menanyakan cincin yang kadang ia pakai dan kadang tidak itu.Benar. Seharusnya begitu."Mobil Ikri. Iya, mobil." Kyra akhirnya bangkit, mengempaskan penyesalan yang bercokol dan memilih berusaha menemukan benda kecil itu. Yang hilang entah di mana, di dunia seluas ini. "Aku harus telepon Ikri."Kyra bergegas turun dari lantai dua. Sesaat sibuk memang
CHAPTER 32"Mas tunggu sebentar. Aku mau ngomong."Langkahnya kecil, jelas timpang bila mengejar langkah lebar milik Ditto. Ia tersaruk-saruk, mencoba menyamai laki-laki itu. Karena banyak sekali yang ingin ia ucapkan dan jelaskan, tentu saja. Sayangnya, Ditto memilih diam saja sampai akhirnya keduanya sampai di mana mobil Ditto di parkir."Mas." Kyra masih berusaha. Ia menahan lengan Ditto saat laki-laki itu memilih berjalan memutar dan membukakan Kyra pintu. "Aku harus jelasin sesuatu."Ditto masih diam. Ia hanya membuka pintu mobil menjadi lebih lebar, lalu melihat pada Kyra seolah menyuruh perempuan itu masuk tanpa suara. Dan pada akhirnya, dengan berat hati, Kyra menurut.Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Meniti jalan menuju rumah dengan sepi yang menyelubungi keduanya. Baik Ditto maupun Kyra, pada akhirnya tidak ada yang berusaha untuk menjadikan suasana menjadi ramai. Membiarkan saja satu-satunya suara yang ada di dalam mobil hanya alunan lagu Olivia Rodrigo dengan happier-
Menanti seseorang itu sama seperti sedang berjalan di atas batu-batu kecil jalanan dengan bertelanjang kaki. Kulit bertemu permukaan kasar itu secara langsung. Rasanya tidak nyaman sekali.Ditto sedang berada dikeadaan itu detik ini. Dalam keadaan yang bercampur antara gelisah dan rasa was-was, sudah berulang kali ia melihat jam di dinding kafe dan pergelangan tangannya. Memastikan --sekali lagi-- bahwa jam tersebut sama.Sama-sama menunjukkan bahwa ia sudah empat jam lamanya menunggu. Sama-sama menunjukkan bahwa ia sudah menghabiskan dua gelas americano.Sama-sama menunjukkan bahwa Ditto sudah menyelesaikan tiga komik selama kurun waktu tersebut.Sekali lagi, ia menengok ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman dan gerbang depan kafe. Di mana orang-orang yang datang dan keluar bisa dilihat dengan jelas. Mereka yang mengenakan kemeja, atau berambut panjang, atau tas berwarna pink.Dari sekian banyak itu, tidak ada satu di antaranya sosok itu adalah Kyra Aruma Wahid. Ia lalu me
Hari yang mendebarkan itu datang lebih cepat dari dugaannya. Tahu-tahu, ia sudah berada di panggung sambil memegang gitar bersama dengan Nindy --yang menyanyi-- dan menampilkan perpaduan yang menarik antara musik dan rupawan yang enak dipandang. Keduanya berhasil membawakan dua lagu dan menyeret penonton dalam euforia. Apalagi di lagu terahir itu, mereka berdua berduet dengan Sheila on 7 yang semakin memeriahkan suasana.Semua berjingkrak, mengikuti hentak-hentak musik.Semuanya bergembira dan menyanyi.Semuanya, kecuali Ditto. Yang hanya berdiri sambil terus memandang ke arah Kyra dengan lengkungan senyuman yang tak pernah surut. Seolah, hiruk pikuk di sekelilingnya hanya desau angin. Tidak mengganggunya untuk terus menjadikan Kyra satu-satunya objek mata.Mungkin karena Kyra dengan rambut terurai, sedikit keringat yang meremang, dan memetik gitar adalah perpaduan yang sangat seksi. Atau mungkin karena --sesekali-- perempuan itu juga menatapnya. Dan tersenyum.Ah, entahlah. Ditto ti
Sebelum Kecelakaan, Bandung, Malam BarbequeMenyenangkan sekali menghabiskan waktu dengan teman. Melakukan banyak game sampai hanya berbicara santai dan berseloroh bodoh. Sesekali, mereka juga membicarakan masa depan dan setelahnya --yang semula ceria-- atmosfer berubah menjadi muram karena mereka
Kata pepatah, sebaik-baiknya menyimpan bangkai, lama kelamaan pasti akan tercium juga. Sebaik-baiknya ia menyimpan sesuatu, pasti akan datang hari di mana --mau tidak mau-- itu terungkap juga.Hari ini --hari yang tidak pernah disangka-sangka oleh Kyra-- datang tanpa pemberitahuan. Hari di mana sat
CHAPTER 23 Enam Bulan Sebelum Kejadian, Kelulusan SMP Laki-laki paruh baya dengan tubuh tambun itu berjalan cepat. Ia mengejar, napasnya bahkan sampai ngos-ngosan. Ia sudah memanggil, lebih dari tiga kali. Sayangnya, telinga laki-laki muda dengan kemeja flanel cokelat itu tertutupi headphone. Sep
"Aku nggak apa-apa, Ra. Aku masih hidup." Sebaris kalimat yang terasa ringan itu keluar dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya. Padahal, mata sembab Kyra saja bisa melihat. Tidak ada yang baik-baik saja di diri laki-laki itu. Luka-luka, ruang operasi, juga kaki dengan gips. Sisi mana yang b







