LOGINKyra yang malang itu kehilangan orang tuanya dalam sebuah tragedi perampokan saat berusia 16 tahun. Ia menjadi yatim piatu, tanpa memiliki satu kerabat pun yang mampu merangkulnya dari rasa sedih dan keinginan dari mengakhiri hidup. Tidak ada satu pun. Sampai ia menyadari, satu keluarga baik hati yang tinggal di depan rumahnya lah yang selalu memeluknya, merawatnya, membantunya tumbuh dan sembuh. Menyayanginya selayaknya Kyra adalah bagian dari keluarga tersebut. Sayangnya, itu tidak gratis. Saat Kyra berusia genap 20, Mama Mona meminta bayarannya merawat Kyra. Meminta perempuan muda itu untuk menikah dengan anak sulungnya --Ersya Jean Arditto-- yang merupakan seorang dosen muda di kampusnya, yang terpaut 10 tahun usianya dengan Kyra. Dan hutang budi itu memaksa Kyra menerima keputusan itu sekalipun aik dirinya maupun Ditto tidak tertarik satu sama lain. Lebih gilanya lagi, Ditto lah yang menyarankan pada Kyra untuk melakukan pernikahan sandiwara dan menyembunyikan status mereka di mata semua orang.
View MoreCHAPTER 44 . . . "Ini sudah menyala ya, Mas?" "Sudah, ma. Mama bisa langsung ngomong." "Oh ... oke-oke. Tapi mama kelihatan cantik 'kan di video? Nggak pucat atau jelek, kan?" "Nggak, mama sayang." "Soalnya video ini buat Kyra. Mama harus tampil cantik." "Mama cantik kok." "Ya sudah, mama mulai, ya." (Hening sesaat. Mama Mona menunduk, menatap selimut putih yang menutup separuh tubuhnya. Sebentar kemudian, ia mengusap rintik air mata yang tumpah. Meski menunduk, jelas sekali ia sedang menangis). "Mama ... oke?" (Suara khawatir Ditto dari balik kamera). "Oke, oke. Mama oke kok. Mama mulai, ya." (Mama Mona berdehem pelan. Ia tersenyum). "Hai, Kyra. Anakku Kyra sayang. Apa kabarnya? Mama harap, Kyra dalam keadaan baik, sehat, dan bahagia." "Nak, Kyra sayang, waktu terasa lama sekali ya. Lama sekali. Kapan ya terakhir kali mama melihat wajah kamu? Pagi itu, membawakan Kyra garang asem ayam, ya?" (Mama Mona kembali menyeka air matanya sebelum akhirnya
Bagi manusia yang tengah merindu, satu detik itu menjadi lama sekali. Seolah dengan satu detik, kita bahkan bisa membuat kue, membuat nasi uduk, hingga membuat candi. Satu detik yang terasa lama itu, saat ini, tengah mencekik Ditto. Tapi Ditto tidak bisa gegabah. Ia tidak ingin membuat Kyra berlari semakin jauh dan sulit ditemukan lagi. Ia sudah kapok harus mencarinya berbulan-bulan dengan hasil nihil. Oleh karena itu, sekalipun ia sudah mengantongi alamat beserta nomor teleponnya –dengan bantuan Bu Nina– Ditto tidak buru-buru pergi ke sana. Ia masih menimbang, perihal perkataan apa yang akan ia sampaikan pada Kyra agar perempuan itu bisa paham. Bisa mengerti. Bahwa … What happened to Mama Mona was not her fault. Juga yang terjadi malam itu antara dirinya dan Ikri, Ditto tidak menganggap itu sebagai sebuah pengkhianatan. Mereka belum bersepakat saling mencintai saat itu. Dan Kyra jelas menangis malam itu, sampai-sampai meminta dijemput saat itu juga. It already showed that Kyra did
Bus melaju dengan pelan saat sampai di area yang sudah dipenuhi hijau-hijau sepanjang jalan. Hijau-hijau dari daun teh. Lalu sekitar sepuluh menit kemudian, bus memasuki pekarangan villa dan berhenti. Penumpang di dalam bus bersorak riang sekali saat menyadari bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan. Satu persatu turun. Anak-anak yang memakai kaos hitam bertuliskan Gathering Rumah Bahagia itu lantas berbaris di samping bus, mengikuti instruksi dari para kakak yang memakai pakaian serba putih. Mereka berbaris dengan rapi, di mulai yang paling kecil-kecil di depan, dan yang lebih tinggi berdiri di baris paling belakang. Wajah semringah mereka semua sama. Tidak ada yang tidak bahagia. Baik yang balita, sampai yang remaja. Mereka menikmati perjalanan liburan itu dengan perasaan syukur. Sebab bagaimanapun, manusia-manusia malang seperti mereka, yang tumbuh di dalam sebuah panti asuhan, menikmati liburan sampai keluar kota adalah sesuatu yang langka sekali. Ditto dan Gio turun paling te
(Banyakin komennya donggg, udh mau akhir ini gengssss) . . . Awalnya ia berjalan dengan cepat, lalu kemudian berubah menjadi berlari. Ia tergesa-gesa, mengabaikan sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya, juga mengabaikan keheranan sang ayah maupun mata Gio yang sembap dan memicing padanya. Ia sungguh tidak peduli apapun sekarang selain segera mencapai rumah itu. Sebab beberapa saat lalu, tepat setelah doa selesai dan satu persatu pelayat pulang, seseorang menepuk pundak Ditto dan membisikkan sesuatu. “Pakde lihat Kyra, tadi dia berdiri di bawah pohon kamboja. Coba kamu susul ke rumahnya, siapa tahu dia masih ada di sana.” Karena alasan itu, ia sudah berdiri di depan pintu rumah dengan napas terengah-engah. “Ra ….” Entah sudah berapa ribu kali, dalam tiga bulan terakhir ini, ia memanggil nama itu. “Ra ….” Baik saat ia pulang dari mengajar di kampus. Atau saat ia sedang terlelap tidur dan tiba-tiba terbangun. Sesekali bahkan saat ia hanya sekedar duduk di sofa ruang tenga
CHAPTER 33Kata orang, regret, like a tail, comes at the end. Dia tidak memberi aba-aba di depan apalagi muncul. Selalu, setelah semunya terjadi, ia baru muncul untuk membuat manusia ingin berteriak kencang, mengutuk pada takdir lalu memohon agar waktu bisa diputar. Penyesalan selalu begitu.Kyra m
CHAPTER 32"Mas tunggu sebentar. Aku mau ngomong."Langkahnya kecil, jelas timpang bila mengejar langkah lebar milik Ditto. Ia tersaruk-saruk, mencoba menyamai laki-laki itu. Karena banyak sekali yang ingin ia ucapkan dan jelaskan, tentu saja. Sayangnya, Ditto memilih diam saja sampai akhirnya kedu
Menanti seseorang itu sama seperti sedang berjalan di atas batu-batu kecil jalanan dengan bertelanjang kaki. Kulit bertemu permukaan kasar itu secara langsung. Rasanya tidak nyaman sekali.Ditto sedang berada dikeadaan itu detik ini. Dalam keadaan yang bercampur antara gelisah dan rasa was-was, sud
Hari yang mendebarkan itu datang lebih cepat dari dugaannya. Tahu-tahu, ia sudah berada di panggung sambil memegang gitar bersama dengan Nindy --yang menyanyi-- dan menampilkan perpaduan yang menarik antara musik dan rupawan yang enak dipandang. Keduanya berhasil membawakan dua lagu dan menyeret pe






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore