LOGINTiga Bulan Setelahnya . . . Ada banyak hari, dalam tiga bulan itu. Lalu dari seratus hari lebih itu, tidak pernah sekalipun Ditto mampu tidur dengan nyenyak. Atau sekedar bersenda gurau dan menelan makanan bukan hanya karena ia harus makan. Atau merasa riang setiap kali melihat jejak-jejak yang tersisa dari perempuan itu. Tidak sekalipun. Hidupnya berubah menjadi begitu tidak asik. Karena perempuan itu hilang, hingga kini, setelah tiga bulan berlalu. "Kamu sudah lapor polisi, kamu juga sudah mencari sendiri. Kamu sudah mengusahakan segalanya. Kalau kenyataannya hingga kini kamu masih belum bertemu dia ... itu karena memang sudah takdirnya demikian." Malam itu, di ruang depan rumah keluarga Ditto, Papa Shandi berbicara sambil meletakkan secangkir teh di hadapan Ditto. Anak sulungnya itu nampak frustrasi sekali. Papa Shandi lalu menepuk pelan pundaknya. "Aku khawatir sekali." Ditto memijit dahinya yang berdenyut-denyut. Sejak kehilangan Kyra, ia jadi lebih sering sakit kepala
(Sudah mendekati ending, tolong dong diramaikan, bantu dshare-share di menfess dan lain-lain wkwkwkw. Oh iya, vote dan komen yang panjang kalau mau besok update lagi!) . . . . . Malam Insiden, Sebelum Kecelakaan Ditto Bandung yang dingin. Bandung yang terlalu jauh. Bandung yang hanya diisi oleh manusia-manusia jatuh cinta. Bandung yang sedemikian itu, membawa pagut dari truth or dare berlanjut ke sebuah ruang yang hanya ditempati oleh berdua. Karena selain mereka berdua, sisanya asik terlelap karena sekaleng bir atau memang tidak terbiasa dengan suhu Bandung yang dingin. Napas-napas yang terengah, aksi saling pandang dan kemudian kembali bersatu bibir dengan bibir. Kyra --beberapa waktu lalu-- menyadari bahwa dare yang diberikan teman-temannya pada Ikri, jelas mengganggu perasaannya. Dare yang meminta Ikri untuk menciumnya, dan langsung spontan dipenuhi, membuat ia disusupi segunung rasa bersalah. Pada status 'istri' yang dia emban, pada pernikahan yang diam-diam ia sembunyik
Suara ketukan pintu itu menerobos masuk, bersahut-sahutan dengan pelantang suara di masjid dekat rumah. Saat ini, pukul lima pagi dan cahaya matahari masih terlalu lelap untuk menemani manusia-manusia yang panik. Lagi, suara ketukan --yang lebih cocok dibilang menggedor-- itu terdengar. Membuat dua manusia yang sedang sibuk di pantry itu akhirnya berderap-derap menuju ruang tamu hanya untuk menemukan wajah Gio yang panik. "Mas ... Mama." Gio mendekat pada sang kakak, meraih lengannya dan menggoyang-goyangkannya dengan kencang. "Mama." Ditto menghentikan kegiatan sang adik. Ia meraih bahu adik laki-lakinya itu untuk kemudian mencoba menenangkannya. "Tenang, Gio. Bicara yang jelas." "Mama sakit. Mama sekarang -- ayo Mas." Ditto mengangguk. Sejenak mengalihkan pandangannya pada Kyra untuk kemudian berlalu mengikuti langkah Gio dengan tergesa menuju rumah di seberang jalan. Kyra yang semula berdiri sekitar sepuluh meter dari pintu masuk, dengan cepat berlari kembali ke pantry untuk me
Laki-laki itu mengusap punggung Kyra dan mendengarkan tangisan itu hampir setengah jam lamanya. Ia membiarkan perempuan itu melepaskan uneg-unegnya, jutaan rasa bersalahnya atas laki-laki lain. Ia menahan diri untuk tak cemburu. Sebab bagaimanapun, wajar bila Kyra merasa demikian. Ia memaklumi. Mereka berpacaran lebih dari satu tahun. Mereka --mungkin-- menghabiskan banyak waktu, suka dan duka bersama. Tiba-tiba menjadi pengkhianat --karena dijodohkan-- dan menjadi yang dikhianati --karena ditinggalkan-- pastilah tidak mudah. Ditto mungkin seharusnya memang menemui laki-laki itu juga untuk berbicara antar lelaki. Meminta maaf karena telah menikahi kekasihnya, meminta laki-laki itu melepaskan Kyra dengan lapang dada lalu ia berjanji akan membahagiakan perempuan itu. Seharusnya mungkin begitu. Tapi saat ini, yang dibutuhkan laki-laki itu mungkin bukanlah bertemu dengan Ditto. Atau dia akan meledak dan keduanya bisa berakhir saling memukul. Tidak. Ia akan menemui laki-laki itu saat
In a sea of people, my eyes will always search for you. Begitu katanya, kalau orang sedang jatuh cinta. Mudah menemukan si dia ketika ia bahkan berada di lautan manusia. Dan itu juga, ternyata, berlaku pada Ditto. Di kantin yang penuh dengan manusia-manusia kelaparan itu, matanya dengan mudah menemukan sosok Kyra Aruma Wahid di sana. Lalu langkah kaki tergesa itu, membawa tubuhnya pergi mendekat pada ramai orang-orang, meminta maaf ketika tanpa sengaja menyenggol, lalu dengan terengah-engah ia sudah sampai di sisi perempuan itu. Dan memeluknya. Erat. "Wow!" Edo yang pertama kali bersuara. Di sisinya, Sesil dan Kinara, tercekat dan hanya memandang dengan mata membulat sempurna. Melihat apa yang terjadi di depan matanya --secara tiba-tiba-- membuat mereka semua untuk sesaat tidak bisa bersuara. Dan hanya saling memandang. "Mas." Kyra --tentu saja-- menjadi bagian orang-orang yang terkejut itu juga. Di kepalanya, tidak pernah terlintas bahwa ia akan dipeluk di depan umum, dengan
Teruntuk Mas Ditto Yang aku rindukan Mas ... apa kabar? Bagaimana rasanya setelah berjam-jam lamanya berdiri diam tanpa menyapaku? Apakah Mas baik-baik saja dan merasa happy? Tenang ya suasananya karena aku tidak berisik seperti hari biasanya. Mas, aku doakan semoga kamu tidak suka suasana diam ini. Kamu tidak suka suasana sepi yang timbul karena kita yang tak saling bicara ini. Kamu tidak suka pokoknya. Aamiin. Karena, Mas, aku benar-benar tidak suka keadaan ini. Aku tidak suka dianggap tak kasat mata oleh kamu. Aku tidak suka melihat kamu diam dan memandangku dengan dingin. Ini mengganggu dan sangat tidak nyaman. Oke. Karena Mas tidak ingin bicara sama aku, I'm finally writing this letter. How many years have we known each other? Seven years, eh? Aku rasa sekitar itu. Saat aku pertama kali melihat kamu keluar dari rumah dengan kemeja flanel berwarna cokelat sambil membawa helm. Kamu --kakak tinggi itu-- menatapku dengan kesal sambil mengomel soal jangan memberi pen
Sebelum Kecelakaan, Bandung, Malam BarbequeMenyenangkan sekali menghabiskan waktu dengan teman. Melakukan banyak game sampai hanya berbicara santai dan berseloroh bodoh. Sesekali, mereka juga membicarakan masa depan dan setelahnya --yang semula ceria-- atmosfer berubah menjadi muram karena mereka
Kata pepatah, sebaik-baiknya menyimpan bangkai, lama kelamaan pasti akan tercium juga. Sebaik-baiknya ia menyimpan sesuatu, pasti akan datang hari di mana --mau tidak mau-- itu terungkap juga.Hari ini --hari yang tidak pernah disangka-sangka oleh Kyra-- datang tanpa pemberitahuan. Hari di mana sat
CHAPTER 23 Enam Bulan Sebelum Kejadian, Kelulusan SMP Laki-laki paruh baya dengan tubuh tambun itu berjalan cepat. Ia mengejar, napasnya bahkan sampai ngos-ngosan. Ia sudah memanggil, lebih dari tiga kali. Sayangnya, telinga laki-laki muda dengan kemeja flanel cokelat itu tertutupi headphone. Sep
"Aku nggak apa-apa, Ra. Aku masih hidup." Sebaris kalimat yang terasa ringan itu keluar dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya. Padahal, mata sembab Kyra saja bisa melihat. Tidak ada yang baik-baik saja di diri laki-laki itu. Luka-luka, ruang operasi, juga kaki dengan gips. Sisi mana yang b







