LOGINCHAPTER 44 . . . "Ini sudah menyala ya, Mas?" "Sudah, ma. Mama bisa langsung ngomong." "Oh ... oke-oke. Tapi mama kelihatan cantik 'kan di video? Nggak pucat atau jelek, kan?" "Nggak, mama sayang." "Soalnya video ini buat Kyra. Mama harus tampil cantik." "Mama cantik kok." "Ya sudah, mama mulai, ya." (Hening sesaat. Mama Mona menunduk, menatap selimut putih yang menutup separuh tubuhnya. Sebentar kemudian, ia mengusap rintik air mata yang tumpah. Meski menunduk, jelas sekali ia sedang menangis). "Mama ... oke?" (Suara khawatir Ditto dari balik kamera). "Oke, oke. Mama oke kok. Mama mulai, ya." (Mama Mona berdehem pelan. Ia tersenyum). "Hai, Kyra. Anakku Kyra sayang. Apa kabarnya? Mama harap, Kyra dalam keadaan baik, sehat, dan bahagia." "Nak, Kyra sayang, waktu terasa lama sekali ya. Lama sekali. Kapan ya terakhir kali mama melihat wajah kamu? Pagi itu, membawakan Kyra garang asem ayam, ya?" (Mama Mona kembali menyeka air matanya sebelum akhirnya
Bagi manusia yang tengah merindu, satu detik itu menjadi lama sekali. Seolah dengan satu detik, kita bahkan bisa membuat kue, membuat nasi uduk, hingga membuat candi. Satu detik yang terasa lama itu, saat ini, tengah mencekik Ditto. Tapi Ditto tidak bisa gegabah. Ia tidak ingin membuat Kyra berlari semakin jauh dan sulit ditemukan lagi. Ia sudah kapok harus mencarinya berbulan-bulan dengan hasil nihil. Oleh karena itu, sekalipun ia sudah mengantongi alamat beserta nomor teleponnya –dengan bantuan Bu Nina– Ditto tidak buru-buru pergi ke sana. Ia masih menimbang, perihal perkataan apa yang akan ia sampaikan pada Kyra agar perempuan itu bisa paham. Bisa mengerti. Bahwa … What happened to Mama Mona was not her fault. Juga yang terjadi malam itu antara dirinya dan Ikri, Ditto tidak menganggap itu sebagai sebuah pengkhianatan. Mereka belum bersepakat saling mencintai saat itu. Dan Kyra jelas menangis malam itu, sampai-sampai meminta dijemput saat itu juga. It already showed that Kyra did
Bus melaju dengan pelan saat sampai di area yang sudah dipenuhi hijau-hijau sepanjang jalan. Hijau-hijau dari daun teh. Lalu sekitar sepuluh menit kemudian, bus memasuki pekarangan villa dan berhenti. Penumpang di dalam bus bersorak riang sekali saat menyadari bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan. Satu persatu turun. Anak-anak yang memakai kaos hitam bertuliskan Gathering Rumah Bahagia itu lantas berbaris di samping bus, mengikuti instruksi dari para kakak yang memakai pakaian serba putih. Mereka berbaris dengan rapi, di mulai yang paling kecil-kecil di depan, dan yang lebih tinggi berdiri di baris paling belakang. Wajah semringah mereka semua sama. Tidak ada yang tidak bahagia. Baik yang balita, sampai yang remaja. Mereka menikmati perjalanan liburan itu dengan perasaan syukur. Sebab bagaimanapun, manusia-manusia malang seperti mereka, yang tumbuh di dalam sebuah panti asuhan, menikmati liburan sampai keluar kota adalah sesuatu yang langka sekali. Ditto dan Gio turun paling te
(Banyakin komennya donggg, udh mau akhir ini gengssss) . . . Awalnya ia berjalan dengan cepat, lalu kemudian berubah menjadi berlari. Ia tergesa-gesa, mengabaikan sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya, juga mengabaikan keheranan sang ayah maupun mata Gio yang sembap dan memicing padanya. Ia sungguh tidak peduli apapun sekarang selain segera mencapai rumah itu. Sebab beberapa saat lalu, tepat setelah doa selesai dan satu persatu pelayat pulang, seseorang menepuk pundak Ditto dan membisikkan sesuatu. “Pakde lihat Kyra, tadi dia berdiri di bawah pohon kamboja. Coba kamu susul ke rumahnya, siapa tahu dia masih ada di sana.” Karena alasan itu, ia sudah berdiri di depan pintu rumah dengan napas terengah-engah. “Ra ….” Entah sudah berapa ribu kali, dalam tiga bulan terakhir ini, ia memanggil nama itu. “Ra ….” Baik saat ia pulang dari mengajar di kampus. Atau saat ia sedang terlelap tidur dan tiba-tiba terbangun. Sesekali bahkan saat ia hanya sekedar duduk di sofa ruang tenga
Tiga Bulan Setelahnya . . . Ada banyak hari, dalam tiga bulan itu. Lalu dari seratus hari lebih itu, tidak pernah sekalipun Ditto mampu tidur dengan nyenyak. Atau sekedar bersenda gurau dan menelan makanan bukan hanya karena ia harus makan. Atau merasa riang setiap kali melihat jejak-jejak yang tersisa dari perempuan itu. Tidak sekalipun. Hidupnya berubah menjadi begitu tidak asik. Karena perempuan itu hilang, hingga kini, setelah tiga bulan berlalu. "Kamu sudah lapor polisi, kamu juga sudah mencari sendiri. Kamu sudah mengusahakan segalanya. Kalau kenyataannya hingga kini kamu masih belum bertemu dia ... itu karena memang sudah takdirnya demikian." Malam itu, di ruang depan rumah keluarga Ditto, Papa Shandi berbicara sambil meletakkan secangkir teh di hadapan Ditto. Anak sulungnya itu nampak frustrasi sekali. Papa Shandi lalu menepuk pelan pundaknya. "Aku khawatir sekali." Ditto memijit dahinya yang berdenyut-denyut. Sejak kehilangan Kyra, ia jadi lebih sering sakit kepala
(Sudah mendekati ending, tolong dong diramaikan, bantu dshare-share di menfess dan lain-lain wkwkwkw. Oh iya, vote dan komen yang panjang kalau mau besok update lagi!) . . . . . Malam Insiden, Sebelum Kecelakaan Ditto Bandung yang dingin. Bandung yang terlalu jauh. Bandung yang hanya diisi oleh manusia-manusia jatuh cinta. Bandung yang sedemikian itu, membawa pagut dari truth or dare berlanjut ke sebuah ruang yang hanya ditempati oleh berdua. Karena selain mereka berdua, sisanya asik terlelap karena sekaleng bir atau memang tidak terbiasa dengan suhu Bandung yang dingin. Napas-napas yang terengah, aksi saling pandang dan kemudian kembali bersatu bibir dengan bibir. Kyra --beberapa waktu lalu-- menyadari bahwa dare yang diberikan teman-temannya pada Ikri, jelas mengganggu perasaannya. Dare yang meminta Ikri untuk menciumnya, dan langsung spontan dipenuhi, membuat ia disusupi segunung rasa bersalah. Pada status 'istri' yang dia emban, pada pernikahan yang diam-diam ia sembunyik
Ia mungkin tidak bisa mengamuk di kampus setelah dengan seenaknya didaftarkan pada seleksi tersebut. Bagaimanapun, ia masih ingin merahasiakan pernikahan itu dari siapapun manusia-manusia kampus, terlebih pacarnya, Zikri Ananda. Jadi setidaknya, butuh tiga jam sampai semua mata kuliah selesai dan i
"Hai, i made you breakfast. Kamu hari ini masih belum ke kampus, kan?"Saat itu, ketika Ditto membuka pintu, untuk sesaat ia terpaku. Yang pertama dilakukannya adalah menoleh ke belakang, ke anak-anak tangga menuju lantai dua. Lalu setelah memastikan hal tersebut, Ditto kembali menoleh pada perempu
Matanya masih nyalang, di antara detak-detak jam yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Padahal, sosok yang terlelap di sampingnya --dengan dua guling yang membatasi-- nampak begitu menikmati tidur dengan mimpi di dalamnya. Tidak merasa terganggu sama sekali dengan suara yang ditimbulkan dari geraknya
(Tolong vote dan komen yg banyak ya biar rajin update)***Setelah ujian berlalu, kehidupan kampus berjalan sebagaimana mestinya. Masuk kelas, serius sebentar, sebelum haha-hihi kembali di kantin sambil menikmati camilan dan makan siang. Bercerita soal gebetan seolah pusingnya kemarin menjawab soal







