LOGIN"Dia adalah suami saya!" pukasnya tegas penuh penegasan hak milik.Arunika pura-pura tersentak kaget. Wajahnya seketika berubah kaku dan tidak enak hati."O-oh... iya Mbak! Maaf sekali!" ujar Arunika dengan vokal yang diatur penuh panik seraya menangkupkan kedua tangannya."Maaf sekali, Mbak... Foto ini mungkin terlihat tidak etis di mata Mbak sebagai istrinya. Tapi serius, Mbak... Kejadiannya sama sekali tidak seperti yang terlihat di foto ini!"Arunika menyusun penjelasannya persis seperti skenario yang diarahkan Altair."Waktu itu saya sedang berdebat sengit dengan seseorang di pinggir jalan... Lalu tiba-tiba orang itu mendorong saya dengan kasar ke belakang. Nah... Bapak ini tiba-tiba melompat dan menolong saya supaya saya tidak menghantam aspal."Penjelasan runtut dari Arunika benar-benar klop dan cocok seratus persen dengan cerita yang disampaikan Altair di dalam mobil waktu itu!Alice menopang dagunya."Jadi... kamu benar-benar baru pertama kali itu bertemu dengan suami s
Sinar matahari pagi menyiram hangat pelataran rumah sakit swasta terkemuka di pusat kota. Di ruang tunggu dokter spesialis anak, suasana begitu tenang. Imunisasi Bintang berjalan dengan sangat lancar. Bayi mungil itu hanya sempat menangis sebentar saat jarum suntik menembus paha gempalnya, lalu kembali tenang dan anteng begitu Arunika mendekapnya penuh kehangatan. Usai menyuarakan ucapan terima kasih pada dokter spesialis anak, Arunika melangkah keluar menyusuri koridor rumah sakit menuju area parkir VIP. Di sampingnya, Mira berjalan riang seraya menggendong Bintang yang tertidur lelap beralaskan selimut bayi bermotif lembut, sementara Boy melangkah siaga beberapa tapak di belakang mereka. Namun, tepat saat mereka keluar melintasi pintu kaca utama rumah sakit dan menuju ke arah Alphard hitam, langkah Arunika mendadak terhenti. Seorang wanita tampak berdiri tegap, bersedekap dada di dekat kendaraan mereka. Wanita itu memiliki postur tubuh yang tinggi, langsing, nan anggun bagaikan s
Waktu berjalan begitu cepat bagaikan aliran air yang tenang. Hari-hari yang dilalui Arunika di rumah 'Aman' perlahan mengubah seluruh auranya. Luka, tekanan batin, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam bersama keluarga Gantara berangsur-angsur sirna tanpa sisa. Paras Arunika kini tampak jauh lebih segar, bersih, dan memancarkan ketenangan yang teramat anggun.Pagi itu, pendar sinar matahari hangat menembus kaca ruang tamu. Arunika duduk berselonjor di atas karpet bulu yang empuk, sedang asyik bermain bersama Bintang. Bayi mungil berumur dua bulan lebih satu minggu itu kini bertambah gempal, menggemaskan, dan makin pintar melontarkan celotehan polos yang memanjakan telinga.Di sudut lain ruang tamu, Bu Tami berdiri diam-diam memegang ponselnya, mengabadikan momen manis antara ibu dan anak itu dari jarak jauh untuk dikirimkan secara berkala kepada Altair.Srettt.Mira yang mendadak muncul dari balik lorong dapur menyenggol pelan bahu Bu Tami. Matanya melirik layar ponsel sang asisten r
Langkah kaki Gantara dan Steffi terdengar terburu-buru menelusuri lorong berkarpet tebal di salah satu hotel bintang empat. Tubuh David yang sudah berada dalam kondisi tidak sadarkan diri diangkut dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan kecurigaan staf hotel. Dengan cekatan, Gantara menempelkan kartu akses kamar yang telah dipesan sebelumnya, menyibak pintu, lalu menyeret tubuh tegap David masuk ke dalam.Tanpa membuang waktu, Gantara melucuti kemeja dan pakaian David, menyisakan kondisi yang sangat kompromistis. Ia kemudian membopong tubuh David dan membaringkannya di atas ranjang berseprai putih.Setelah situasi kamar siap, Steffi memberi isyarat kepada seorang wanita sewaan yang sudah menunggu di luar untuk segera masuk. Wanita bayaran itu diminta menanggalkan pakaian luarnya, menyisakan posisi di mana bahu mulusnya terekspos sempurna di atas selimut tebal, memberi kesan kuat seolah-olah ia baru saja menghabiskan malam intim bersama David."Ganti posisimu, tempelkan badan
Suasana malam di kamar utama rumah 'Aman' terasa amat tenang. Namun, raut wajah Arunika tampak teramat serius saat menempelkan ponselnya ke telinga. Suara bariton nan dingin milik Altair terdengar dari seberang sambungan internasional. "Arunika... dengarkan saya baik-baik," pukas Altair dengan nada tegas yang begitu berhati-hati. "Jika suatu hari nanti di saat saya belum kembali, Alice secara tidak terduga berhasil menemukan kamu dan bertanya apakah kamu mengenal saya... kamu cukup menjawab tidak kenal." Arunika menggenggam ponselnya makin erat, mendengarkan setiap instruksi dengan saksama. "Jika dia sampai menunjukkan foto saya kepada kamu... kamu cukup menjawab, 'Oh, saya pernah bertemu dengan pria ini satu kali. Waktu itu beliau menolong saya saat saya hampir jatuh di pinggir jalan.' Hanya itu. Jangan tambahkan informasi apa pun lagi," lanjut Altair memberikan arahan yang amat presisi. Arunika menghembuskan napas pelan. "Baik, Pak Al... Saya mengerti." "Semua instruksi ini s
Beberapa hari sebelum hari kebebasan Arunika...Suasana ruang kerja Altair di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota terasa amat hening dan serius. Cahaya matahari sore memantul dari kaca jendela besar, menyinari meja mahoni tempat sang CEO sedang mencermati beberapa lembar dokumen.TOK! TOK!Pintu ruangan terketuk. Arjuna melangkah masuk membawa sebuah folder cokelat tebal dan sebuah tablet digital di tangannya. Wajah asisten kepercayaan Altair itu tampak amat tegang, memendam informasi penting yang siap digulirkan."Bos... saya sudah mendapatkan bukti dari penyelidikan yang Bos minta terkait istri dari Tuan David Albara," ujar Arjuna seraya mengulurkan folder cokelat tersebut dan menyiapkan rekaman video di layar tabletnya.Altair menerima berkas itu, menyingkap lembar demi lembar foto berresolusi tinggi di dalamnya. Matanya memicing tajam. Rekaman video di tablet yang kemudian diputar Arjuna memang bukanlah video intim tingkat ekstrem yang melanggar hukum, tidak sejauh itu.







